Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
125


__ADS_3

"Fajri?" ucap Dila.


Fajri tersenyum, Nuri yang sedang hamil tua datang dengan mengusap perutnya. Dia juga tersenyum menatap Dila.


"Kok pulang ke sini?" tanya Nuri.


"Aku yang harusnya nanya, kenapa kalian ada di rumah ini?" tanya Dila kesal.


Dia merogoh ponselnya dan menelpon kakaknya Vero.


"Kemana lagi ini, tadi diangkat!" ucap Dila kesal.


Vero melihat ponselnya yang berdering dan tertera nama Dila yang memanggil. Dia menelan ludahnya, sudah tahu Dila akan marah karena Fajri dan Nuri menempati rumah itu.


"Aku sudah bilang sama Nuri, Dila pasti marah. Dia ngeyel sih, kalo nggak hamil udah aku cubit tuh anak. Biar tahu rasa dia, belajar tanggung jawab sama kengeyelannya sendiri. Lagian kenapa Dila nggak pulang ke sini sih" keluh Vero.


Arumi yang tertidur di pangkuannya hanya mendonga sebentar kemudian menutup matanya lagi.


"Bentar lagi kok, rumahnya hampir selesai. Lagian daripada nggak dipakai mending diisi mereka biar terawat. Kalo masalah Dila, kejauhan kali, cape!" gumam Arumi.


Vero mengusap kepala Arumi agar tertidur lagi. Sementara itu Dila masih berusaha menelponnya.


"Aku udah izin sama Arumi, dia bilang daripada kosong ya mending di isi aku sama Fajri sambil menunggu rumah kami jadi" jelas Nuri yang melihat Dila menelpon Vero.


"Loh kenapa izinnya sama Arumi? ini kan rumah aku!" Dila semakin kesal mendengar penjelasan Nuri.


Fajri mendekat dan meraih tas Dila.


"Udah, masuk dulu. Udah malem juga, kan sekarang kamarnya ada dua. Tinggal tidur, udah dirapihkan semuanya kok!" ucap Fajri melerai.


Dila menatap ponselnya, dia kesal Kakaknya tak menjawab. Dia juga tak bisa marah-marah dengan begitu leluasanya setelah melirik perut Nuri yang sudah terlihat besar.


"Maaf!" ucap Nuri saat Dila menatap melewatinya.


Dila mengangguk sambil menyentuh lengan dan perut Nuri dan sentuhan itu membuat Nuri tersenyum. Dia merasa Dila sudah tak marah.


Fajri meletakkan koper Dila di sisi lemari. Dila menatap lemari yang isinya adalah baju Yudi yang ditinggalkannya dulu.


"Mau langsung istirahat?" tanya Fajri.


"Ini rumah ku, aku perlu nggak izin apa-apa kan?" ucap Dila datar.


Fajri melipat bibirnya, dia mengangguk kemudian pergi keluar. Dila duduk di ranjang yang dirabanya sudah bersih dan lembut. Dila menaruh tasnya dan berbaring.


"Aku kira tadi Yudi" gumam Dila dengan menghela sangat keras.


Malam pertama kembali dari Amerika, Dila mendapati sepasang suami istri di rumah idamannya. Dia kesal bercampur bingung. Mau mengusir tak tega karena sedang hamil tua. Tapi dia tak bisa membiarkan Nuri tinggal selamanya di sana.


###


Dini hari pukul 03.00, Rania sudah siap dengan bahan makanan yang sudah disediakan pegawainya. Bu Vera juga sudah rapi duduk di meja untuk mengatur masakan yang sudah jadi.


Rania meminta beberapa pegawai untuk bangun dan bersiap lebih pagi. Karena pesanan yang dia dapat untuk satu bulan ke depan adalah sarapan untuk para santri yang sedang kunjungan belajar di pondok pesantren yang baru dibuka. Dengan cepat, Rania juga membantu yang lainnya untuk menyiapkan.


Waktu berlalu dengan cepat, matahari muncul dengan indah di ufuk timur. Cahayanya menyinari wajah Rania yang sedang membuka pintu mobil boxnya dan hendak mengeluarkan semua kotak makanan.


Tanpa sengaja dia menabrak seorang pria berjas hitam dengan langkahnya yang terburu-buru.

__ADS_1


"Maaf Pak! Maaf, saya benar-benar nggak sengaja" ucap Rania tanpa melihat wajahnya.


Pria itu diam dan menatap wajah Rania. Dia tak beranjak dari hadapan Rania yang ingin lewat. Kemudian Rania mendonga ke wajah pria yang tinggi itu dan terdiam.


"Kamu!" ucap Rania pelan.


Bondan tersenyum, dia menunduk sebentar dan kembali menatap Rania yang masih menganga.


"Hi, maaf tadi aku lagi periksa pesan di ponsel" jawab Bondan.


Rania mengedipkan matanya dan mengalihkannya. Dia masih ingin menatap wajah pria yang sudah dua tahun tak dia lihat. Tapi berusaha mengendalikan diri.


Bondan melihat mobil box Vera's catering. Dia mengangguk dan hendak menanyakan sesuatu. Namun seorang wanita cantik berpakaian glamor keluar dari mobil yang berhenti di depan mereka.


"Bondan!" seru wanita itu.


Rania dan Bondan menoleh, mereka menatap wanita itu. Rania mengalihkan pandangannya pada Bondan. Dia memanggil namanya dengan akrab.


"Aku kira kamu nunggu di sebelah sana, ehhh malah lihat di sini" ucap wanita itu sambil menatap Rania dan tersenyum.


Dia melihat mobil box Vera's Catering dan menatap Rania lagi.


"Catering ya, boleh minta kartu namanya? Aku lagi perlu soalnya, pabrik baru aku lagi nyari catering yang enak dan harganya bisa ditawar" ucap Wanita itu dengan cerewet.


Rania bangun dari lamunannya dan merogoh tasnya mengambil kartu nama.


"Ini, Vera's Catering. Semua makanannya enak. Untuk harga, anda pasti tak bisa menolak setelah tahu rasanya" jelas Rania mempromosikan dengan senyuman manisnya.


Bondan tersenyum karena senang bisa melihat Rania lagi dengan senyuman manisnya. Wanita itu melihat respon Bondan saat Rania bicara.


"Rania, panggil saja Nia" jawab Rania menyambut tawaran jabat tangannya.


Clara mengalihkan pandangannya pada Bondan yang masih diam menatap Rania.


"Hei, aku kan suruh kamu nunggu di sana, kenapa bisa sampai sini?..." Clara terus bicara sambil menarik Bondan menjauh.


Rania melihat Clara memberikan kartu namanya pada Bondan. Dan terus bicara hingga mereka masuk ke mobil. Bondan menatap Rania lagi sebelum benar-benar masuk ke mobil. Rania hanya tersenyum, Bondan melambaikan tangannya dan pergi.


Rania menatap gedung yang ada di hadapannya. Matanya membulat dan melihat sekitar tempat dia berdiri. Ini adalah tempat pertama kali mereka bertemu. Saat Bondan membuka pintu mobilnya karena terkejut melihat wajah Rania yang persis Dila.


Rania tersenyum, dia berjalan perlahan membantu pegawainya yang sedari tadi sudah membawa beberapa puluh kotak, masuk ke pondok. Dia terus tersenyum sambil bekerja.


Selesai dengan pesanan pondok, Rania meminta Wahyu menemani Pandi untuk mengantarkan makan siang di kantor Saga. Beberapa puluh orang rutin mengambil makan siang di tempatnya setelah promosi yang dilakukan Saga.


Rania duduk dan menatap beberapa pesanan untuk makan malam. Vera menaruh tangannya di atas tangan Rania. Dia menoleh dan tersenyum.


"Cape?" tanya Vera.


"Hari ini nggak" jawab Rania dengan senyum.


"Ada apa nih?" tanya Vera penasaran dengan senyum putrinya yang sangat manis.


"Takdir ibu, aku senang ternyata takdir sangat indah" jawab Rania.


Vera ingat dengan ucapan Ramadhan yang selalu mengeluh tentang kakaknya yang mengatasnamakan takdir untuk menjauh dari Bondan. Dia selalu khawatir Bondan akan berpindah ke lain hati karena keputusan kakaknya itu.


Vera tersenyum senang mendengar Rania bicara. Dia mengerti tapi tak mengomentarinya. Dia membiarkan senyum putrinya terus tersungging agar dia merasakan bahagia.

__ADS_1


Rania menatap pesan di ponselnya. Dia terkejut dan tersenyum lagi. Vera bertanya dengan ekspresi wajahnya.


"Dila udah di rumahnya, dia udah pulang" ucap Rania senang.


Tapi dia tertegun.


"Tapi, bukannya Nuri sama Fajri di sana ya?"


Rania dan Vera saling menatap.


###


Mereka berkumpul makan siang di Vero' Spaghety. Rania dan Dila tak melepas pegangan tangannya meski sudah duduk bersebelahan. Mereka terus bicara tentang apa yang terjadi setelah dua tahun berlalu.


Arumi sibuk dengan pelanggan VIP yang ada di ruangan khusus. Vero baru datang dari kantor sambil masih menerima telpon.


Fajri bekerja, dia meninggalkan Nuri di rumah karena sakit pinggang. Dia fokus mondar mandir ke dapur dan kasir. Mereka semua sibuk.


"Mereka mulai sibuk lagi?" tanya Dila menatap kesibukan mereka masing-masing.


"Jelas, chef baru bikin semua pelanggan kembali dengan hati senang karena menyantap masakannya" puji Rania sambil memakan Carbonaranya.


"Chef baru?" tanya Dila pelan dan menatap dalam pada Rania.


"Huu uhh, chef rekomendasi Yudi. Teman seperjuangannya katanya. Yudi kan di Italia, dia bilang sama temannya ini untuk bekerja dengan giat dan maksimal di sini" jelas Rania.


Dila menunduk dan melepas tangannya dari Rania. Dia lesu dan tak bersemangat. Rania melihatnya dan tersenyum. Dia mengusap punggung Dila, mengerti apa yang tersirat dari wajah murung saudari kembarnya itu.


Arumi menghampiri, dia memasang wajah kesal.


"Huhhfff, cape banget deh ngeladenin tamu VIP itu" keluh Arumi.


Vero menatapnya, dia berpikir sejenak tentang orang yang Arumi maksud. Dia mengangguk dan membelai wajah calon istrinya itu.


"Huuh...kasian calon istriku, cape ya. Sabar ya sayang, nanti kalo tendernya dah beres pasti dia pulang sayang" ucap Vero menghiburnya.


Rania dan Dila saling menatap, merasa kemesraan mereka memuakkan. Vero semakin mesra menggenggam tangan Arumi saat melirik wajah mereka berdua.


Tak berapa lama, tamu VIP yang Arumi maksud keluar dari ruang khusus meeting. Arumi dan Vero berdiri dan mengantar mereka.


"Clara!" gumam Rania.


Dila menatapnya heran karena tahu namanya. Lebih heran lagi, mereka melihat Bondan berjalan di belakang wanita cantik itu dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


Bondan membulatkan matanya saat menatap Vero yang berekspresi seolah meminta kesabarannya. Kemudian dia melihat Rania dan Dila yang terpaku menatap mereka.


Bondan tersenyum senang karena bisa melihat Rania dua kali di hari itu. Rania tersenyum ingat pertemuan mereka tadi. Dila menyinggung bahu Rania yang masih menatap kepergian Bondan.


"Ehheuummm" Dila menggodanya dengan pura-pura batuk.


Vero duduk dan menyodorkan air minum untuk Dila.


"Kakaaaak.....!" Dila mengeluh karena Vero menyindir gurauannya.


Mereka bertiga tertawa, Arumi menatap canda tawa mereka dan kembali ke pekerjaannya.


Selesai makan, mereka kembali ke pekerjaan masing-masing. Tapi Dila diam di sana menunggu hingga malam.

__ADS_1


__ADS_2