Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
109


__ADS_3

Dila terbangun dan menatap jamnya menunjukan pukul 08.35, dia kesiangan dan buru-buru ke kamar mandi. Dila teringat dengan kejadian semalam.


"Bagaimana aku menghadapi semua orang di kampus?" gumamnya sambil keramas.


Kemudian secara tiba-tiba seseorang masuk ke rumah, Dila terkejut.


"Siapa!" teriak Dila.


Tak ada jawaban.


"Darimana kau tahu passcodenya? Pergilah sebelum aku hubungi keamanan!" teriaknya lagi.


"Ini aku, Yudi!" jawab Yudi.


Dila semakin terkejut, dia berpikir darimana Yudi tahu passcode rumahnya. Kemudian dia menjadi malu karena passcodenya adalah tanggal lahir Yudi.


"Ih....bodohnya aku!" gumam Dila.


"Iya memang bodoh, passcode memakai tanggal lahir ku. Hilangkan kebiasaan buruk mu itu" ucap Yudi.


Dila menyelesaikan mandinya kemudian bergegas berganti pakaian. Sedangkan Yudi membuatkan sarapan untuknya.


Dila keluar dengan rambutnya yang masih basah, dia tak sempat mengeringkannya. Akan butuh waktu lagi jika harus mengeringkannya. Dia akan terlambat. Yudi melihatnya terburu-buru menyiapkan tasnya.


"Hei, jangan terburu-buru begitu, nanti kamu jatuh!" seru Yudi.


"Aku akan terlambat" jawab Dila.


Yudi membantunya menyiapkan tas, kemudian menaruhnya di sofa. Sementara Dila didudukannya di sofa.


"Aku aka terlambat! kau tidak dengar?" Dila mengulang ucapannya.


"Makan dulu, baru boleh pergi!" ucap Yudi.


Dia menyiapkan piring dan nasi goreng kesukaan Dila. Dia menaruhnya di meja dan membuat Dila tersenyum.


"Kenapa? Tidak mau?" tanya Yudi.


"Bagaimana aku bisa menolak nasi goreng?" ucap Dila sambil mengambil sendok dan melahap per sendoknya.


Yudi tersenyum, dia masuk ke kamar Dila dan mengambil hairdryer. Dia mengeringkan rambut Dila saat dia makan. Dila yang fokus makan menurut saja, dia membiarkan Yudi melakukan apa yang ingin dia lakukan. Dengan lembut, Yudi menyisir rambut Dila dan mengeringkannya.


"Nasi gorengnya enak sekali! Kapan kamu membuatnya?" tanya Dila dengan mulut penuh makanan.


"Semalam!" jawab Yudi.


Dia fokus mengeringkan rambut Dila, kemudian merapikannya dengan sisir.

__ADS_1


"Ini enak sekali!" ucap Dila memuji.


"Makan dulu baru bicara!" ucap Yudi yang masih menyisir.


Dila menghabiskan nasi goreng buatan Yudi. Dia hendak meletakkan piring di meja namun baru sadar rambutnya masih dipegang Yudi. Dia terdiam dan merasakan setiap sentuhan Yudi di rambutnya. Itu membuat bulu romanya berdiri.


Yudi melihat bulu roma Dila di lengannya berdiri, kemudian melepas rambut Dila.b


"Selesai! Sudah kering, kau bisa pergi ke kampus sekarang!" ucap Yudi.


Dengan menghindari tatapan Dila, dia menggulung kabel hair dryer dan meletakkannya kembali di kamar. Dila memperhatikannya dan menggosok tangan dan tengkuknya untuk menghilangkan perasaannya.


"Aku pergi!" ucap Dila.


Dia sudah keluar dan meninggalkan Yudi sendiri. Sementara Yudi, dia sedang sembunyi, menunggu Dila pergi di balik pintu kamar Dila. Setelah mendengar Dila pamit, dia lega dan keluar.


Yudi merapikan rumahnya dan membuat makanan lagi yang bisa Dila makan untuk pulang nanti. Dengan membuat sebuah note yang ditempel di kulkas, Yudi menulis pesan agar Dila menghangatkannya dulu.


Yudi selesai, dia keluar dari rumah Dila dan membawa sekantung sampah yang akan dia buang. Saat berbalik, Yudi melihat Marvin sedang menatapnya di depan. Yudi terdiam.


"Kau menginap semalam?" tanya Marvin.


Yudi menghela, hendak menjawab.


"Baguslah, dia akan melupakan ku lebih cepat jika bersama mu!" ucap Marvin yang bicara tanpa mau mendengar jawaban Yudi.


"Kau memasak untuknya?" tanya Marvin memecah hening di dalam lift itu.


Yudi menghela hendak menjawab.


"Ya, dia sangat suka nasi goreng. Dia juga mengajarkan aku untuk memasaknya. Tapi masakan ku sangat buruk, dia pasti melahap makanan mu karena kau seorang Chef" Marvin terus bicara lagi tanpa mau mendengar respon Yudi.


Lift terbuka, mereka berjalan beriringan. Penjaga pagi itu menatap mereka, dia yang diberitahu bahwa harus waspada pada Marvin yang takutnya akan berbuat kasar pada Dila, jadi berpikir karena mereka berjalan beriringan.


"Bukannya Michael bilang mereka bisa saja bertengkar?" gumamnya.


Marvin dan Yudi berjalan hingga parkiran mobil Marvin. Dia menatap Yudi berjalan lurus menuju motornya. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi serasa tak sanggup.


Yudi membiarkannya, dia menaruh kantung sampah ke tempatnya, kemudian merogoh kunci motornya. Dia menyalakan motor sambil memakai helm.


Marvin masih berdiri menatapnya. Dia belum bergerak sedari tadi. Yudi melihatnya tapi mengabaikannya. Dia melajukan motornya melewati Marvin.


~Nanti, bicara dengan mu nanti saja. Ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu~ ucap hati Yudi saat melewatinya.


Yudi masuk ke lingkungan kampus, dia memarkirkan motornya di dekat seorang mahasiswa yang berdiri menatap kedatangannya. Yudi membuka helmnya.


"Kau sudah menemukannya?" tanya Yudi.

__ADS_1


"Ya, dia akan kemari sebentar lagi" ucap Vincent.


Mereka menunggu beberapa saat, tak lama seorang gadis datang dengan senyum di wajahnya.


"Hi Yudi, senang sekali kau mencari ku" ucapnya.


Jolie semangat saat Vincent mengatakan bahwa Yudi mencarinya. Dia adalah admin dari grup sosial media dimana Dila bergabung. Dia yang selalu makan di tempat Yudi bekerja sudah sangat mengagumi Yudi yang jadi asisten chef di sana.


"Hi, aku ingin...."


"Apa kita bisa bicara di tempat yang lebih nyaman? kita bisa minum kopi sambil bicara kan?" ucap Jolie menyela ucapan Yudi.


Yudi yang belum menyelesaikan ucapannya, menganga kemudian menatap Vincent.


"Aku tidak bisa, aku ada kelas" ucap Vincent.


"Aku tidak mengajakmu, aku mengajak chef Yudi" ucap Jolie.


Vincent mendelik kesal.


"Baiklah, selamat minum kopi bersama. Aku pergi!" ucap Vincent meninggalkan mereka.


"Aku tahu cafe yang kopinya enak!" ucap Jolie dengan langsung naik motor Yudi.


Yudi menghela, dia ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya. Diapun menurut dan pergi membawa Jolie ke tempat yang dia inginkan.


Dila yang sedang bicara dengan temannya mengenai ujian kemarin, tak sengaja melihat Yudi pergi dari sana.


"Itu kan Yudi. Ngapain dia kesini? Dia boncengin Jolie?" gumam Dila.


Temannya mendengar gumaman Dila dalam Bahasa Indonesia. Dia menyentuh bahu Dila dan bertanya.


"Kenapa?"


"Tidak, aku kira aku melihat seseorang yang aku kenal" jawab Dila.


"Kamu masih memikirkan postingan itu?" tanya temannya.


Dila menunduk.


"Jangan khawatir, aku tidak percaya itu. Ada rumor mengatakan Chloe sengaja melakukannya agar kamu dan Marvin putus" jelasnya.


Dila hanya tersenyum mendengar dukungan temannya. Hatinya masih tak bisa menerima Marvin mudah percaya pada ucapan Chloe. Tapi mengingat sejarah pertemanan mereka sedari kecil, Dila merasa kalah untuk mendapatkan kembali Marvin.


~Apa perasaan untuk Marvin ini akan hilang begitu saja?~ tanya hati Dila.


Dia kembali ke kelasnya. Dia mengalihkan kegundahannya dengan belajar lagi.

__ADS_1


__ADS_2