Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
48


__ADS_3

Pagi yang cerah, seperti biasanya Yudi datang ke restoran lebih awal untuk memeriksa kekurangan bahan. Berhenti di depan restoran, Yudi menganga tak percaya dengan apa yang terjadi. Dia melihat Adam salah satu kru dapur duduk menunduk memegang kepalanya. Mata Yudi beralih ke restoran yang sudah porak poranda. Langkah demi langkah membuat dia semakin melihat kerusakan parah pada restoran itu.


Yudi mengambil ponselnya dan menghubungi Vero.


"Bisa kau kemari lebih cepat?" pinta Vero.


Dia menutup telponnya dan mengirimkan beberapa foto spot yang paling parah dari restoran itu.


Vero yang sedang menyeruput kopinya, langsung berdiri dan mengambil jaket juga helmnya. Dengan kecepatan tinggi dia melaju menuju restoran.


"Apa yang terjadi?" tanya Yudi pada Adam.


"Ngga tau chef, aku baru saja datang dan semuanya sudah begini" jawab Adam.


Kemudian menyusul datang Fajri dan kru yang lain. Mereka juga sangat terkejut dengan pemandangan itu.


"Astaga! Apa yang sudah terjadi?" tanya Fajri.


"Ngga ada yang tahu, kami baru saja datang" jawab Adam.


Yudi menghubungi Arumi dan Dila untuk segera datang. Kemudian tak berapa lama Vero sampai dan melihat keadaannya.


Dia lemas dan tak bisa berkata apa-apa. Restoran dirusak dengan brutal. Semua kaca pecah, tak ada satu pun yang dibiarkan untuh. Meja dan kursi dipatahkan, peralatan makan dan masak dirusak sedemikian rupa. Hanya gudang yang masih utuh karena kuncinya ada pada Adam. Itupun pintunya mereka coba untuk rusak.


Vero melaporkan semuanya pada polisi. Semua karyawan termasuk Fajri, Yudi, Arumi dan Dila, diperintah untuk kembali pulang. Namun mereka diam memandangi Vero yang mengerutkan dahinya menatap semua kekacauan ini.


Mereka semua keluar, namun tak pulang. Yudi menyarankan untuk menunggu polisi dan membantu membereskan restoran setelah pemeriksaan polisi.


###


Rania menyiapkan sarapan untuk semua orang bersama Hedi. Tak henti Hedi berterimakasih pada Rania karena membujuk Beni untuk membawanya ke Jakarta. Dia jadi dekat jika ingin pulang sewaktu-waktu.


"Berhenti berterimakasih, nanti otak ku ini penuh dengan semua nada bicara mu!" ucap Rania kesal.


Hedi tersenyum.


"Mba Dila bener-bener baik!" ucap Hedi.


Dia menyiapkan makanan kesukaan Rania untuk sarapan. Rania menerima piringnya dan tersenyum.


Semua orang keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Dina berlari dan membantu membawakan sisa masakan yang akan disajikan. Selalu harus membantu meski sedikit.


Beni duduk dan merapikan alat makannya, begitu pun Anita. Sementara Bondan terakhir datang, menatap Rania yang dimatanya selalu terlihat cantik. Mata mereka bertemu saat semua orang fokus makan, Rania mengalihkan pandangannya kembali pada makanannya, sementara Bondan tersenyum senang walau hanya bertatapan sebentar.


"Selamat Pagi!" ucapnya fasih dalam bahasa Indonesia.


Anita menatapnya dengan malas. Dina mengangkat kedua alisnya karena sedang makan. Sedangkan Beni menjawab sapaan kakaknya.


"Pagi Bang!"


Rania hanya diam dan meneruskan makannya.

__ADS_1


"Apa hari ini kalian ada acara?" tanya Bondan.


Anita menatapnya.


"Kau mau merayakan kepindahan kita ke sini?" duga Anita.


"Tentu saja momi, banyak hal yang ingin aku lakukan!" ucap Bondan sambil melirik Rania.


Rania terdiam mendengar ucapan Bondan yang mengingatkannya pada pembicaraan mereka sebelumnya.


"Momi ngga bisa, momi udah selesai" ucap Anita.


Dia selesai dengan sarapannya dan pergi ke kamarnya. Beni menatap kepergiannya, tapi Bondan menyusulnya.


"Momi baik-baik aja kan?" tanya Bondan khawatir.


"Kenapa? Memang kamu peduli kalo momi baik-baik saja atau tidak?" ucap Anita kesal.


"Momi masih kesal karena aku menyetujui kepindahan ke sini?"


"Kalian sudah dewasa, momi dah ngga berhak melarang atau memaksa kalian lagi"


Anita masuk ke kamarnya dan menutup pintu tanpa mempersilahkan anaknya masuk dan membiarkannya. Bondan terdiam tepat di depan pintu.


Teringat saat pertama kali bertemu dengan Anita, Ardiana membawanya sebagai wanita yang mendapatkan cintanya setelah merelakan kepergian istri tercintanya Hana.


Bondan yang punya sifat baik hasil didikan ibunya, tersenyum memandanginya dari kejauhan. Anita melihatnya namun mengalihkan pandangannya pada tempat lain dan kembali berbincang dengan kenalan ayahnya dengan mengaitkan tangannya di lengan Ardiana.


Bondan berjalan mundur sedikit demi sedikit dan kembali ke meja makan. Dia makan dengan wajah murung, namun yang memperhatikan hanya Rania. Dina sudah kembali ke kamarnya setelah membantu membawakan piringnya sendiri ke wastafel.


Beni pun meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya. Dia masih mengacuhkan Rania yang membuatnya kesal kemarin. Rania menatap kepergian Beni dan menyelesaikan makannya.


Dia tak bisa berhenti berpikir tentang apa yang terjadi, tadi Bondan begitu semangat mengucapkan niatnya merayakan kedatangan mereka ke Jakarta, sekarang berubah drastis dengan wajah murungnya.


Bondan berhenti makan, mengusap bibirnya dengan serbet kemudian berdiri. Saat berbalik dia berhenti, Rania menatap punggungnya, berpikir mungkin Bondan ingat untuk mengatakan sesuatu yang dia lupa padanya.


"Hedi! Buatkan aku kopi, antar ke ruang kerja di atas" ucap Bondan.


Rania kecewa, dia menghela dan melanjutkan sarapannya, dia menghabiskan masakan yang dibuat khusus untuknya itu. Setidaknya jika tak seorang pun suka dengan sajian pagi itu, dia bisa membuat Hedi merasa dihargai.


Rania membantu Hedi merapikan meja, namun matanya tak bisa menahan saat Hedi sedang menyiapkan kopi untuk Bondan.


"Di! Kamu terusin ini, biar aku yang antar kopinya ke atas"


Rania tak tahan, dia ingin bertanya pada Bondan tentang murungnya. Hedi mengangguk dan membiarkan Rania melakukannya.


Rania berjalan cepat menuju ruang kerja Bondan. Dia mengetuk perlahan.


"Masuk!"


Terdengar suara Bondan mempersilahkan masuk. Rania masuk perlahan dan menaruh kopinya di meja. Rania melihatnya sedang sibuk bekerja, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya dan berbalik hendak pergi.

__ADS_1


Bondan yang sedang mencari berkas di lemari baru di belakang mejanya berhenti saat melihat pantulan bayangan Rania di lemarinya.


Bondan langsung berbalik dan mengitari meja kemudian memeluk Rania.


"Kamu!" ucap Rania terkejut.


"Hmmm! Diem dulu sebentar aja" pinta Bondan.


Beberapa saat, Rania membiarkan Bondan memeluknya dan menyandarkan dagu di kepalanya.


"Ada apa?"


Bondan yang memejamkan matanya terkejut dan membuka matanya.


"Tadi begitu semangat mau ngadain acara perayaan, tapi abis nganter tante Anita jadi murung"


Bondan melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Rania dan menatapnya dengan tersenyum.


"Jadi....kamu merhatiin aku ya?"


Rania menghela dan merasa terjebak.


"Bukan begitu!"


"Makasih!"


Bondan mengaitkan rambut Rania ke telinganya.


"Aku ngga apa-apa kok! Ngga akan ada acara, momi kurang enak badan kayaknya jadi moodnya ga bagus"


Rania mengangkat kedua alisnya.


"Oke, kalo gitu aku balik ke bawah. Hedi minta dianter belanja bulanan" ucap Rania.


Dia melepas tangan Bondan dan berbalik.


"Aku cinta kamu, Rania!" ucap Bondan.


Langkah Rania terhenti, dia berbalik kembali dan menatap Bondan dengan membulatkan matanya. Bondan hanya tersenyum, dia kembali mencari berkas di lemari. Rania menghela nafas sejenak, kemudian pergi.


Di bawah, Beni sedang duduk di ruang tamu memainkan laptopnya. Dia masih acuh saat Rania lewat dengan Hedi hendak pergi.


"Emang kamu hafal pasar di sini?" tanya Rania.


"Ngga sih mba! Makanya aku minta anter"


"Sih, tadi minta ini itu. Pasar yang lengkap itu ya pasar tradisional. Kalo swalayan itu kadang ngga lengkap" ucap Rania.


Beni mendengar suaranya dan berhenti mengetik, dia melirik dan menelan ludahnya karena merasa malah diacuhkan Rania. Dia menutup laptopnya dengan keras saat Rania dan Hedi sudah keluar.


"Dia bener-bener acuh!" ucap Beni kesal.

__ADS_1


__ADS_2