Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
151


__ADS_3

Vero tertunduk setelah mendengar semua dari Dila. Arumi menatapnya, dia merasa ragu untuk menghampiri dan menenangkan suaminya. Arumi merasa bahwa Vero akan menyalahkan Yudi lagi. Hubungan mereka akan renggang lagi.


Dia melihat Arumi yang menatap terus pada Vero namun seperti tak berani mendekat padanya.


"Jangan menyalahkan orang lain lagi. Kita harus fokus pada Rania sekarang" ucap Dila yang menyimpulkan apa yang dipikirkan kakaknya.


Vero menghela.


~Dila ada benarnya, percuma aku menyalahkan Yudi, aku bahkan nyaris kehilangan orang yang aku cintai karena kekesalan ini. Ya, aku harus fokus pada orang-orang yang aku sayangi~ ucap hati Vero.


Mata Vero beralih pada Arumi yang berdiri agak jauh darinya.


"Arumi! Kau sudah bangun? Ada apa? Apa yang kau inginkan?" tanya Vero sambil mendekat padanya.


Arumi terkejut dengan perubahan sikap yang drastis dari Vero. Dia sedikit takut, dengan gugup dia menerima rangkulan tangan Vero yang melingkar ke pinggangnya.


"Aku...."


"Mau makan sesuatu?" tanya Vero menyela.


Dila tersenyum melihat Vero kini sudah memperlakukan Arumi seperti semula, meskipun Arumi sedikit canggung karena sudah terbiasa diacuhkan.


Vero menemani Arumi makan di meja makan. Dila kembali ke kamar dan membersihkan diri. Sambil berpikir tentang apa yang bisa membuat pikiran Rania stabil terhadap satu ingatan dan bisa membuatnya mudah sembuh.


Dila menatap dirinya di cermin. Teringat dengan cara Yudi menyentuh perut Rania.


"Sebenarnya pada siapa perasaan mu kau tambatkan? Aku atau saudari kembarku?" gumam Dila yang mempertanyakan perasaan Yudi.


###


Bondan kembali dari Australia, dia ke rumahnya dan membersihkan diri. Kemudian mengambil mobilnya yang dia titipkan di salah satu temannya.


"Hai Bro!" sapa Bondan pada temannya.


"Hai, apa kabar Bondan? Loh emang kerjaan di Ausi bisa ditinggal ya?" tanya Gery.


"Nggak juga sih, cuma...aku lagi pengen ketemu seseorang" jawab Bondan sambil mengambil kunci mobil yang diberikan Gery.


"Rania?" ucap Gery menebak.


"Semua orang tahu" jawab Bondan dengan senyumnya.


"Ya, tapi semua orang tahu tentang kalian yang ceritanya sangat rumit. Apa kamu masih bisa bersamanya padahal dia mengandung anak dari orang lain" ucap Gery yang berdiri di dekat mobil dan menatap Bondan yang hendak menyalakan mobilnya.

__ADS_1


Bondan terdiam, tatapannya kosong lurus ke depan. Dia menghela cukup keras setelah mendengar ucapan temannya itu. Tak bisa disangkal bahwa pendapat masyarakat akan muncul dalam langkah seseorang jika kehidupan dan pemikiran mereka berbeda dengan umumnya orang lain.


"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begitu cinta pada Rania hingga apapun keadaannya aku tak bisa menahan perasaan ingin selalu bersamanya. Orang bilang 'berpikirlah!, pakai logika mu!' tapi semakin aku berpikir, semakin aku memakai logika ku, semakin aku merindukannya dan akhirnya aku semakin mencintainya" ucap Bondan.


Gery menatap wajah sahabatnya itu, dia hanya bisa menepuk bahu Bondan dan mendoakannya.


"Ok, baiklah. Semoga kau mendapatkan apa yang kau harapkan" ucap Gery.


Bondan menoleh pada Gery dan tersenyum tanda terimakasihnya.


"Aku pergi!" pamit Bondan.


Dia langsung menuju rumah Rania, meskipun itu sudah pukul 11 malam. Dia berjalan di gang dan melihat beberapa anak muda berkumpul bernyanyi dengan petikan nada sebuah gitar. Bondan berjalan dengan sedikit membungkuk, meniru apa yang selalu dilakukan Rania. Katanya hal itu membuat siapapun yang kita lewati merasa dihargai.


Langkahnya mulai pelan saat dia menatap pintu rumah Rania tertutup rapat. Lampunya sudah padam, begitu pun rumah pak Nurdin.


Bondan berdiri membayangkan saat dulu Rania keluar dari rumahnya dengan pakaian yang sudah bersiap untuk bermalam minggu dengannya.


Mata Bondan selalu menatapnya dengan terpana, apalagi setiap kali Rania tersenyum padanya. Menyambutnya yang datang untuk menjemputnya.


Tak berapa lama, seorang pria menepuk bahu Bondan, membuyarkan lamunannya.


"Bondan!" sapa Pak Nurdin yang baru menutup kedai.


"Babe! Baru pulang?" Bondan cukup terkejut, karena dia mengira semua orang sudah tidur.


"Dari Australia langsung ke sini?" tanya Pak Nurdin.


"Nggak Be, ke rumah dulu mandi" jawab Bondan dengan tersenyum dan menggaruk pundaknya.


Pak Nurdin tersenyum. Dia senang Bondan tak berubah, tetap menyayangi Rania. Tetap datang malam hari untuk memeriksa apa Rania sudah tidur atau belum.


"Yu, masuk ke rumah Babe, Rania pasti udah istirahat, dia baru pulang periksa ke dokter" ucap Pak Nurdin sambil mengajak Bondan masuk ke rumahnya.


Bu Yuni keluar dari kamarnya saat mendengar suaminya bicara. Dia melihat Bondan dengan mata yang berbinar.


"Eh, ada Bondan. Udah pulang? Memang kerjaan di Australia bisa ditinggal ya?" sapa Bu Yuni sambil menerima pelukan Bondan sebagai sapaannya.


"Bisa sebentar, aku cuma tiga hari di Jakarta Bu!" jawab Bondan.


"Oh, ya sudah. Ibu buatkan kopi ya?" Bu Yuni pergi ke dapur.


Pak Nurdin kembali ke ruang tamu setelah berganti pakaian dari kamarnya. Dia duduk di satu kursi yang cukup jauh dari Bondan.

__ADS_1


"Rania periksa kandungannya? Semuanya baik-baik saja kan Be? " tanya Bondan.


Ekspresi wajah Pak Nurdin berubah, dia jadi terlihat murung setiap kali mengingat apa yang terjadi pada Rania.


"Ada apa Be? Apa ada masalah dengan kandungan Rania?" Bondan menebak dan langsung bertanya.


"Nggak, katanya bayinya sehat" jawab Pak Nurdin dengan meremas kedua tangannya sendiri.


Bondan memperhatikan sikap Pak Nurdin dan mengerti ada yang mereka khawatirkan.


"Ada masalah dengan Rania? Apa efek samping operasi di kepalanya?" tanya Bondan lagi.


Pak Nurdin menatap Bondan dengan matanya yang membulat.


"Benar juga ya, mungkin ini maksud Dila" ucap Pak Nurdin seolah berdiskusi dengan dirinya sendiri.


"Iya, Dila nganter Rania ke rumah sakit, karena tingkah Rania sebentar seperti orang dewasa, sebentar seperti anak kecil. Kadang ngomongin kerjaan sampai rencana kedepannya dengan kedai. Kadang cuma ngomongin kamu aja. Dila bilang, sikapnya seperti orang kena sindrome apa gitu, ibu nggak ngerti" jelas Bu Yuni.


Dia menaruh segelas kopi di meja di depan Bondan yang mendengarkannya.


"Dokter Cintya pernah mendapatkan telpon dari Dokter Marcel. Aku tahu darinya, dia cerita agar aku segera ke sini untuk membantu Rania" jelas Bondan.


"Oh iya, Dokter yang pernah bantu Rania mengatasi trauma paska kejadian itu" Pak Nurdin kembali mengingat.


Bondan mengangguk.


"Nggak salah kita percaya kamu bisa mendampingi Rania. Kamu selalu lebih tahu dari kami yang bahkan tinggal bersamanya" ucap Pak Nurdin.


"Kalau diizinkan, saya sangat ingin menikah dengan Rania. Tapi, beberapa bulan ini sepertinya semua orang terlalu terkejut dengan semua yang terjadi. Begitupun saya Be, ini seperti kilat menyambar di siang bolong. Semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi tetap saja, niat saya menikah dengan Rania tak pernah pudar sedikitpun" ucap Bondan.


Bu Vera yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, menatap Bondan dengan berlinang air mata. Sebelumnya dia keluar dari rumahnya karena mendengar suara Nurdin yang pulang dan hendak minta besok untuk menyiapkan pesanan.


Pak Nurdin menatap Bu Vera, Bondan juga ikut menoleh saat melihat Pak Nurdin termangu. Bondan berdiri menyambut ibu asuh Rania.


"Ibu!" sapa Bondan.


Vera mengusap punggung Bondan yang selalu memanggilnya dengan nada seperti itu sejak pertama bertemu, tak pernah berubah.


Vera tersenyum dan duduk di dekat Bondan yang mengajaknya duduk.


"Kirain siapa yang datang, ternyata nak Bondan" ucap Vera basa basi.


Vera tak bicara lagi, dia hanya mengusap air matanya yang tak henti mengalir mengingat semua ucapan Bondan yang bersedia menerima dan akan selalu menerima Rania sebagai istrinya.

__ADS_1


Bondan dan Yuni juga Nurdin hanya bisa menunduk, menunggu Vera bisa menenangkan dirinya.


__ADS_2