
Dila sampai di Amerika, dia tiba pukul 08.00 pagi. Musim panas di sana, cuaca cerah dan serasa menyambutnya. Vero datang dari belakang dan mengaitkan tangannya di bahu Dila.
"Wah, cuacanya benar-benar menyambutmu!" seru Vero.
Dila tersenyum lebar, dia senang diantar oleh Vero saat pertama kali masuk kuliah, mereka akan mencari tempat tinggal yang dekat dengan kampus.
"Tentu saja, Dila selalu disambut ceria oleh alam" pujinya pada diri sendiri.
"Kau senang?" tanya Vero sambil membawa kopernya.
"Tentu saja, pergi kuliah diantar kak Vero. Wah, hatiku senang sampai serasa ingin meledak" ucap Dila.
Vero tersenyum dan mengusap kepalanya. Mereka langsung datang ke kampus dan mendaftar ulang untuk Dila.
Selesai dengan urusan kampus, mereka langsung bertanya pada dosen dan pengurus kampus tentang rumah sewa yang dekat. Beberapa menunjuk pada apartemen yang terkenal di dekatnya.
Dila memandang wajah kakaknya.
"Apa tidak ada rumah kos yang biasa saja?" tanya Dila.
"Kenapa? Aku ini pemilik Subagja Group, mampu membayar mu untuk sewa apartemen" ucap Vero.
"Kak Vero! Aku mau mandiri, mengandalkan diri sendiri. Aku akan merepotkan mu jika selalu bergantung padamu" ucap Dila memeluk lengannya.
"Bukannya kamu selalu mandiri? Diacuhkan oleh ku bertahun-tahun. Kau sudah cukup mandiri, sekarang menurut saja. Kuliah di sini sudah sangat melelahkan untuk mu, akan lebih melelahkan jika kau harus bekerja paruh waktu untuk membayar sewa rumah" Vero mulai mengomel.
Dila tersenyum bahagia.
"Ternyata begini rasanya dimanja oleh kakak, senangnya!" Dila semakin erat memeluk lengan Vero.
"Ayo, kita pilih apartemennya. Kau harus mendapatkan tempat yang nyaman. Dan ingat, jangan mengecewakan dan melukai kepercayaan ku. Hmmm?" Vero menatap dan menunggu jawaban Dila.
Dila terdiam, tapi kemudian tersenyum.
"Siap Pak!" jawabnya sambil memberi hormat.
Vero tertawa melihat tingkahnya, dia mengusap kepalanya lagi. Merekapun pergi mencari tempat.
Akhirnya, setelah mencari dan memilih, Dila memilih apartemen yang menghadap ke perkotaan, pemandangan yang terlihat dari jendela adalah perkotaan.
__ADS_1
Pengurus apartemen mengatakan bahwa tempat itu sangat nyaman, selain sunset, Dila akan menatap keindahan malam bertabur bintang saat langit cerah.
Dila sangat puas, Vero juga senang. Mereka mendapatkan kuncinya. Dila menaruh tas dan kopernya di sisi. Dia meminta untuk pengurus membersihkan dulu apartemen itu selagi dia pergi bersama Vero untuk membeli keperluannya.
Vero menyewa sebuah mobil kecil untuk mereka bisa berjalan-jalan dan membeli keperluan Dila. Berkeliling Di Cambrigde Amerika.
Malam tiba, mereka baru selesai berjalan-jalan. Keperluan Dila pun dibawa Vero dalam dua kantung besar. Mereka merapikan dan menyusunnya. Dila juga menempatkan semua barang di tempat yang dia inginkan.
Selesai dengan kesibukan hari itu, Vero membaringkan tubuhnya di sofa. Dila yang habis mandi melihatnya.
"Kakak kelelahan?" tanya Dila.
"Sangat, aku akan tidur sebentar" ucap Vero.
"Oh ya, kau belum menghubungi Arumi" Dila baru menyadari.
"Tidak usah!" ucap Vero santai.
"Kenapa? Kalian putus?" Dila terkejut dengan sikap santai kakaknya.
"Tidak, dia mengikuti cara Rania memberikan ujian pada Bondan" ucap Vero sambil memiringkan badannya dan mengahadap ke Dila.
"Rania meminta Bondan untuk menghindarinya sementara waktu dan melihat apa takdir akan tetap mempertemukan mereka meski mereka menghindar atau tidak. Arumi mendengarnya dan mengikutinya. Kini aku tersiksa untuk tidak bertemu atau menghubunginya" keluh Vero sambil menutup mata.
Dila tertawa terbahak-bahak.
"Rania melakukannya karena dia masih belum percaya diri setelah apa yang terjadi. Tapi Arumi, hufh...dasar!" ucap Dila masih menertawakan.
"Belum percaya diri?" tanya Vero sambil membuka matanya.
Dila berhenti tertawa, dia merubah ekspresi wajahnya.
"Kita nggak tahu seberapa dalam hati manusia kak, tapi perasaan ku mengatakan, senyum dan tawa yang dia tunjukkan hanyalah agar kita merasa bahwa dia sudah melupakan semuanya" ucap Dila.
Vero bangun dan tersadar dengan ucapan Dila.
"Aku pernah memaksanya menginap dan tidur bersamaku. Aku terbangun tengah malam saat dia memegang pergelangan tangan ku dengan kuat. Keringatnya keluar banyak, ada tangis di matanya. Tak ada kata yang terucap, selain kata 'tolong' dengan lirih dan seolah putus asa" ungkap Dila.
Vero menganga tak percaya.
__ADS_1
"Kejadiannya setengah tahun yang lalu, aku langsung menanyakan padanya. Dia terdiam sejenak kemudian tersenyum. Dia hanya mengatakan bahwa dia mimpi tersesat. Aku tidak percaya, kemudian kak Bondan menyarankan temannya yang di Ausi untuk datang dan memberikan terapi padanya. Benar saja, saat dokter Cintya membantunya untuk relaksasi, dia mengatakan bahwa dia masih mengingat malam kelam itu. Dokter Cintya bilang akan sulit menghapusnya, Rania terlalu tertekan, dia juga selalu merasa minder jika bertemu dengan orang yang dicintainya, Bondan. Akan selalu ada ingatan buruk itu saat dekat dengannya karena merasa tidak pantas bersamanya. Jadi ku rasa dukung saja Kak!" jelas Dila.
"Kalian melakukan banyak hal tanpa sepengetahuan ku" ucap Vero sedih merasa tak berguna.
Dila mendekat dan mengusap punggung kakaknya.
"Kakak yang jauh lebih banyak berbuat. Merenovasi rumah Bu Vera, membeli kedai yang Rania inginkan. Membantunya secara diam-diam" ucap Dila.
"Tapi itu, bagus. Aku jadi sangat yakin bahwa Bondan adalah yang terbaik untuk Rania" ucap Vero yakin.
"Yups, aku iri lagi padanya. Aku jadi bertanya-tanya siapa yang akan menjadi orang yang mendampingi ku kelak" ucap Dila menatap kosong ke arah dinding kamarnya.
"Nah, itu yang sedang aku pikirkan juga. Dia harus lulus tes yang akan kuberikan nanti. Jadi, jika dia mendekati mu, katakan kau punya kakak yang galak dan tegas" ucap Vero mengejutkannya.
Dila memukul lengan Vero karena terkejut. Mereka bercanda sepanjang malam. Tertawa dan saling melontarkan lelucon.
Paginya, Vero masih tidur, sementara Dila bersiap jogging. Kebiasaannya di Jakarta membuatnya ketagihan. Dia pergi dan berlari perlahan berkeliling.
Saat mulai lelah dan berjalan perlahan di antara gedung restoran. Dila melihat kerumunan di lorong antara gedung-gedung. Dia penasaran dan mendekat.
Beberapa wanita meringis ketakutan, terdengar mereka mengasihani dan bicara kondisi seseorang. Dila membelah kerumunan, kemudian dia melihat seorang pria telungkup dengan berceceran darah di pinggangnya.
"Hubungi 911!" ucap Dila panik.
Tak ada yang meresponnya. Semua orang hanya menatapnya. Dila berdiri dan mengambil ponselnya yang sudah dia aktifkan nomor barunya. Dengan pengalamannya pernah tinggal di Amerika, dia sigap dan memanggil polisi.
Tak berapa lama polisi datang, mereka langsung membantu pri itu dan membawanya ke rumah sakit. Dila tak bisa pergi karena polisi langsung menanyakan siapa yang menelpon dan memintainya keterangan.
Dila menjawab semua pertanyaannya, dia menceritakan apa yang dia lihat saja. Salah satu polisi mengenalinya.
"Dila, kamu disini?" tanya Brian.
"Hi, Brian. Apa kabar?" peluk Dila pada Brian yang senang melihatnya.
Brian adalah kakak dari temannya Bruno yang sempat membuat Beni cemburu dan posesif padanya. Brian meminta temannya mundur dan membiarkannya pergi. Dila memang selalu membantu orang, dia selalu peduli dan dengan senang mengambil tindakan yang dirasanya benar.
"Maukah kamu membantuku? aku sedang kekurangan personil, ikut kami ke rumah sakit" ucap Brian.
"Ouh, tentu saja. Baiklah" Dila ikut ke rumah sakit memakai mobil polisi sambil berbincang.
__ADS_1