
Meeting berjalan dengan lancar, Rania mampu memahami keadaan perusahaan dengan cepat. Dia juga memberikan sebuah saran untuk tindakan kedepannya yang akan diambil. Semua orang terkesan dengan cara pandangnya. Positif thinkingnya membuat Bondan pun terdiam merasa sudah tak diperlukan lagi.
Bondan hendak pergi setelah meeting selesai. Namun Pak Arjuna, salah satu anggota rapat meminta Bondan melanjutkan trainingnya pada Rania. Mereka puas dengan kinerja Bondan dan Rania dalam satu hari ini.
"Tidak, maafkan aku, tapi aku tidak bisa" tolak Bondan.
Rania menatapnya dengan berharap Bondan mengubah keputusannya. Semua orang juga menatapnya dengan heran. Ini merupakan kesempatannya untuk kembali bergabung di perusahaan yang sudah dia tangani selama bertahun-tahun ini.
"Apa alasannya?" tanya Vero.
"Aku" Bondan terbata.
Rania menundukkan pandangannya dan mengalihkan pada berkas yang ada di hadapannya. Bondan melihatnya, dia merasa Rania sudah tak peduli dengan apapun keputusan yang dia ambil.
"Aku punya mimpi sendiri, aku akan mulai mewujudkan mimpi ku itu" ucap Bondan sebagai alasan.
Rania menatapnya lagi, dia tertegun dengan kata mimpi yang Bondan sebut.
~Mimpi? Apa mimpi mu? Aku belum tahu, apa kamu pernah cerita tentang mimpi mu padaku?~ ucap hati Rania.
Bondan membalas tatapannya.
~Tidak, mimpi ku hanya hidup bersama mu, dan semua itu takkan pernah terjadi. Ini hanya alasan agar aku tak merasa kesal lebih lama dengan bekerja bersama mu~ ucap hati Bondan.
"Permisi!" pamit Bondan dengan sedikit membungkukkan bahunya.
Tak terasa, air mata Rania menetes dari mata kanannya. Dia mengusap dengan cepat agar kakaknya juga anggota rapat yang lainnya melihatnya.
"Ok, terimakasih sudah hadir di rapat pertamaku" ucap Rania membungkukkan tubuhnya.
Semua orang merapikan berkasnya dan berdiri lalu pergi. Vero hendak menghampiri Rania, namun dia sudah berjalan dengan cepat keluar untuk menyusul Bondan.
Mata Rania mencari Bondan, di kanan dan kiri lorong tak terlihat. Hatinya merasa sakit seakan ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu dengan Bondan. Semakin mencari, semakin dia tak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Kemudian setelah mencari lebih jauh, dia tak menemukannya. Rania kembali ke ruangannya dengan lemas. Tak disangka, matanya menatap punggung Bondan yang sedang berdiri membelakanginya. Rania tak bisa menahan lagi, dia berlari dan memeluk punggung Bondan.
Bondan terkejut, dilihatnya tangan Rania yang memeluk perutnya. Bondan memejamkan matanya merasa sangat merindukan pelukan itu. Tangannya perlahan hendak mengusap tangan Rania yang memeluknya, namun bayangan saat Rania membentak Anita membuatnya tersadar dan kembali membencinya.
Bondan melepaskan tangan Rania kemudian mendorongnya.
"Apa-apaan ini?" ucap Bondan kasar.
"Aku mohon, aku bisa jelaskan dan membuktikan semua yang yang terjadi, jangan pergi. Aku mohon!" ucap Rania sambil menangis.
"Kau mau bilang ibu ku salah, begitu? Lagi? Jikapun dia salah, kau seharusnya bisa menghargai semua usahanya untuk mempertahankan perusahaan. Dan jika harus aku jelaskan, aku sangat menghargainya untuk tetap merawat aku yang bukan anak kandungnya. Jadi cukup, kau bisa melukaiku dengan tetap bersikap manis pada Beni atau Yudi, tapi jika ini tentang ibuku, aku tidak bisa membiarkannya" jelas Bondan.
Dia pergi meninggalkan Rania yang masih menangis. Bondan masuk ke lift dengan menggenggam tangannya dan terbayang hendak menyentuh tangan Rania yang memeluknya. Nafasnya tersengal karena menahan sesak dari kesal dan perasaan tak karuan dalam menghadapi Rania.
Sementara Rania terduduk lemas, dia merasa sudah tak punya harapan lagi untuk membuat Bondan kembali. Namun tekadnya untuk membuktikan kesalahan Anita membuatnya kembali berdiri dan menghapus air matanya. Dia memeriksa berkas dan meminta Siena membawakan semua laporan keuangan selama beberapa tahun.
Tak berapa lama, Beni datang dan menawarkan bantuan. Rania tertegun melihatnya, dia merasa bahwa Beni punya maksud lain karena tetap bertahan di perusahaan.
"Apa tujuan mu sebenarnya?" tanya Rania.
"Kamu" jawab Beni singkat.
"Apa?" Rania merasa kurang mengerti.
"Aku pernah bilang pada Kak Bondan, jika dia melepaskan mu, aku akan mengambil mu dan takkan pernah melepaskan mu untuknya lagi" jelas Beni.
Rania menelan salivanya merasa cukup risih dengan sikap Beni. Tapi Beni terlihat sangat puas dan senang dan sudah tak ada saingan untuk dekat dengan Rania.
###
Sementara itu, Dila kembali ke kosannya. Dia mendapati Yudi tertidur di lantai setelah mabuk semalam. Dila semakin kesal dan menyeretnya ke ambang pintu.
"Pergi! Pergi saja sana! Aku udah nggak peduli, kamu mau cinta sama aku atau Rania, aku udah nggak mau dengar lagi ocehan kamu tentang dia" omel Dila pada Yudi.
__ADS_1
Yudi yang baru terbangun, mengusap wajahnya dan merapikan kaosnya. Matanya yang masih mengantuk menatap Dila yang duduk menangis di dekatnya.
"Dila! Kenapa kamu nangis?" ucap Yudi khawatir.
Dila menatapnya dengan kesal mengetahui Yudi tak paham dengan perasaannya. Yudi mendekatinya dan memeluknya. Dila diam saja, dia masih berharap Yudi bisa mencintainya tanpa bayang-bayang Rania.
"Aku bukan dia Yud! Aku bukan Rania yang kamu cintai, yang kamu puja dan kamu sanjung setiap hari. Aku harus apa? Aku harus bagaimana supaya kamu bisa cinta sama aku, bukan dia!" tangis Dila pecah dalam pelukan Yudi.
Yudi tertegun mendengar ucapan Dila, dia juga tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan akhir-akhir ini. Sikap dan perilakunya telah sangat melukai Dila. Dia mengusap kepala Dila dengan lembut tanpa mengatakan sepatah katapun.
Arumi yang datang sedari tadi menatap kepedihan Dila. Dia berdiri di ambang pintu kemudian kembali keluar. Dia menelepon Vero untuk minta bertemu sebentar.
"The Coffe sekarang!" ucap Arumi tegas.
Dia menutup telpon tanpa mendengar jawaban iya atau tidak darinya. Vero pun terheran dengan nada suara Arumi yang terdengar kesal.
Vero pamit pada Rania untuk bertemu dengan Arumi sebentar karena ini masih jam kantor.
"Iya Kak, sekalian makan siang aja, soalnya bentar lagi jam makan siang" ucap Rania di telpon.
Beni menatapnya dengan senyum di bibirnya. Rania menutup telpon dan meletakkan ponselnya di meja.
"Ada apa?" tanya Rania sambil kembali melihat berkas.
"Mau makan siang di mana?" tanya Beni.
Rania tertegun, dia mengingat saat-saat dia menyiapkan makan siang untuk Bondan di rumah. Sekarang, dia takkan bisa melakukannya lagi, Bondan pergi tanpa mau mendengarkan ucapannya.
~Dia memutuskan untuk meninggalkan ku, dia lebih percaya pada ibunya~ ucap hati Rania.
Beni mengerti Rania sedang masih memikirkan Bondan, tangannya perlahan menyentuh tangan Rania yang masih memegang pulpen. Rania terkejut, dia menatap Beni dan hendak melepaskan genggamann
"Berhenti mikirin Kak Bondan, please!" ucap Beni.
__ADS_1
Rania menatap Beni yang bicara seolah sangat cemburu, namun Rania memilih untuk menurutinya.
~Ya, ini adalah saatnya untuk fokus dan membuktikan pada Bondan bahwa apa yang aku tuduhkan pada Anita adalah benar, meski menyakitkan, dia harus tahu bahwa ibunya sangat kejam~ ucap hati Rania.