Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
106


__ADS_3

Marvin menatap Dila dengan penuh rasa penyesalan. Dia terlalu larut dalam pengaruh perkataan Chloe.


"Tapi, bagaimana wajahnya sangat mirip dengan mu?" ucap Chloe dengan memegang pipinya.


Dila tetap menatap Marvin.


"Apa yang kau yakini?" tanya Dila.


Marvin menunduk, dia juga berpikir hal yang sama. Wajahnya adalah wajah Dila.


"Apa kau berpikir dia adalah aku?" tanya lagi Dila.


Marvin menghela nafas dalam.


"Katakan siapa dia jika kau memang bukan dia!" seru Chloe mencoba membuat Marvin lebih bimbang.


Dila tak memperdulikan ucapan Chloe.


"Kau bilang kau mencintaiku, kau berusaha keras mendekatiku. Dua semester ini, kau sangat romantis" Dila mengingat kenangan bersama Marvin.


Marvin semakin bingung dan tak tahu harus bagaimana.


"Kenapa kau ini? kau mau mencoba menyakinkan Marvin? ayolah, katakan siapa dia jika itu bukan kau. Aku yang dapat foto itu langsung dari teman dekat mu di media sosial" Chloe membuka sendiri keburukannya.


Dila tersenyum, dia senang mendengar Chloe mengatakannya sendiri, meskipun bukan itu yang ingin dia dengar sekarang.


Marvin menatap Chloe dengan marah, dia menarik tangannya dan menanyakannya lagi.


"Kamu benar-benar melakukannya?" tanya Marvin.


Dila senang Marvin menarik tangan Chloe.


"Jadi itu benar dia, kau sudah menanyakannya dengan benar?" ucapan selanjutnya membuat Dila hilang harapan.


Dia menangis merasa Marvin hanya percaya Chloe.


"Kau tidak menjawab pertanyaan Chloe, siapa dia jika itu bukan kau?" Marvin bertanya pada Dila.


~Percuma, jikapun aku mengatakan dia adalah Rania, aku hanya akan menyakiti saudari ku sendiri~ ucap hati Dila.


"Jangan katakan bahwa di dunia ada 7 orang yang mirip, itu jelas adalah dirimu" tambah Marvin.


Dila menertawakan ucapan Marvin.


"Aku juga punya kehormatan Marvin. Jika kau mengambil sikap, aku juga bisa. Aku takkan menjelaskan pada orang yang tak berarti seperti mu. Aku tidak harus menjelaskan apapun pada orang yang bukan siapa-siapa ku sekarang" ucap Dila.


Dila berbalik, dia berjalan dengan lemas karena merasa dibuang oleh Marvin.

__ADS_1


"Kalian lihat, dia pembohong. Dia mau menuduhkan hal buruk yang terjadi padanya kepada orang lain. Dia tak pantas dapat simpati dari kita. Kemalangan yang terjadi pun mungkin saja karena dia terlalu angkuh" ucap Chloe.


Dila tak tahan dengan ucapan Chloe. Dia berbalik lagi dan berlari, dia hendak menyerangnya. Chloe berlindung di belakang Marvin. Dia ketakutan mendapatkan pukulan lagi dari Dila.


Yudi sangat tahu sifat Dila, saat Chloe terus bicara, Yudi membaca gerakan berbalik Dila. Saat Dila berlari, Yudi menangkap tubuhnya dan membawanya pergi dari sana.


"Lepaskan aku, aku akan menjambak rambutnya yang kuning seperti jagung itu. Lepas!" teriak Dila.


Semua orang menganga dengan umpatan Dila yang diluar kepribadiannya yang terlihat lembut.


Dila tak tahu kalau yang menggendongnya adalah Yudi. Dia terus memukuli punggungnya hingga mereka tiba di dekat parkiran. Yudi menurunkannya, Dila hendak berlari lagi tanpa melihat Yudi. Kemudian Yudi kembali memeluk pinggangnya untuk tetap menahannya. Dila tetap marah dan memberontak.


"Diam!" seru Yudi yang mulai kelelahan dengan menahannya.


Dila berhenti saat mendengar suaranya.


"Kamu nggak pernah berubah!" ucap Yudi sambil melepas pelukannya dan merapikan apronnya.


Dila berbalik dan menatapnya.


"Yudi!" ucap Dila menatap wajahnya.


Yudi menatapnya dengan mengerutkan dahinya.


"Aku tahu kamu nggak bisa bilang kalau itu Rania. Tapi....setidaknya susun kata-kata yang tepat untuk orang borjuis seperti mereka" Yudi memberi sarannya yang terlambat diucapkan.


"Ngasih saran ko telat!" keluh Dila dengan bergumam.


"Aku dengar, aishhh.....kamu ini benar-benar!" keluh Yudi.


Yudi menatapnya dalam, dia menghela.


"Tunggu di sini jangan kemana-mana!" perintah Yudi.


Dila menatap kepergiannya. Dia menunggu dengan menendang-nendang aspal. Beberapa saat kemudian Yudi datang memakai motor. Dila menatapnya.


"Naik!" pinta Yudi saat membuka kaca helmnya.


"Mau kemana?" tanya Dila polos.


"Pulang! Emang mau kemana?" ucap Yudi.


Dila mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tidak, aku bisa pulang sendiri!" Dila menolak.


Yudi turun dari motornya dan menggendong Dila. Dia membuat Dila duduk, dia sendiri naik dan memegang stang. Tapi Dila hendak turun lagi. Yudi menarik tangan Dila dan menahannya di perutnya. Posisinya memeluk Yudi, Dila membulatkan matanya. Dia menghela dan akhirnya menurut.

__ADS_1


Yudi menyalakan motornya, dia mengebut menuju apartemen Dila. Dalam perjalanan, Dila tak bisa melupakan wajah Marvin yang begitu menyerah melepaskannya karena takut pada keluarganya.


~Sedangkal itu perasaan mu, setahun ini kita bersama, bertukar semua kesedihan dan kebahagiaan. Dengan mu aku mampu melupakan orang yang sekarang aku peluk ini. Kenapa Marvin, kenapa? Apa memang takdirku untuk tak dipeejuangkan oleh seseorang?~


Tanpa sadar, Dila menangis tersedu, dia memeluk Yudi dengan erat dan menangis di punggungnya. Yudi melirik dan merasakan basah air mata Dila di kausnya. Tatapannya kembali pada jalan yang ada di depannya.


~Kenapa aku jadi ikut merasa sakit saat merasakan air matanya basah di kaus ku?~ tanya hati Yudi.


Sampai di depan apartemen, Yudi berhenti dan melepas helmnya.


"Turunlah!" ucap Yudi.


Dia melepas tangan Dila, lemas dan dia pun hampir terjatuh. Penjaga apartemen melihat kejadian itu, dia langsung membantu Yudi yang kerepotan menahan Dila agar tak jatuh.


"Ada apa ini? Kenapa dengan Dila?" tanya Michael.


"Aku tidak tahu, dia tiba-tiba jatuh. Tadi dia baik-baik saja!" ucap Yudi.


"Dan kamu siapa? kenapa Dila bisa sama kamu?" tanya Michael.


"Pak, aku akan jelaskan nanti, kita bawa dia dulu ke atas" pinta Yudi.


Michael menatap Dila dan membawanya ke lift. Yudi menekan tombol lantai 5 dengan yakin. Michael melihatnya, kemudian menatap Yudi.


~Dia tahu Dila tinggal di lantai 5~ pikir Michael.


Yudi juga membuka pintu dengan kode yang dia tahu, tanggal lahirnya. Michael semakin curiga, dia membantu Dila berbaring di ranjangnya. Yudi mencari obat untuk Dila agar dia sadar.


Michael membetulkan meja dekat ranjang Dila, ada sebuah foto yang tertungkup di sana. Dia melihat wajah dalam foto itu. Foto Dila dan Yudi saat mereka bersama.


Michael paham bahwa Yudi adalah kenalannya. Dia mulai meredakan kecurigaannya. Dia menatap Yudi yang masih mencari.


"Aku akan bawakan obat di ruang penjaga!" ucap Michael.


"Tidak usah, aku sudah menemukannya" ucap Yudi menunjukkannya pada Michael.


Dia menggosokkan minyak angin pada Dila, di tangan dan kakinya. Dia juga mendekatkannya ke hidung Dila. Kemudian Dila sadar dan membuka matanya perlahan.


Yudi menghela lega melihat Dila sadar. Dia membantu Dila minum dan kembali berbaring.


"Ok, kalau begitu aku akan turun lagi" pamit Michael.


Yudi menatapnya.


"Bukankah kau akan menanyakan sesuatu padaku?" ucap Yudi.


"Tidak, tidak jadi!" ucap Michael.

__ADS_1


__ADS_2