Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
68


__ADS_3

Bondan tak keluar untuk pamit, dia hanya diam menatap jalan yang ada di depannya. Rania menghampiri dan duduk begitu saja, tak berani menatapnya. Bondan hanya melirik, dia melihat Rania tak memakai sabuk pengamannya. Dengan lembut dia mendekat pada Rania dan memasangkan sabuk. Rania terkejut dan mundur. Dia melihat wajah Bondan yang tanpa ekspresi. Rasa bersalahnya semakin besar. Bondan menyalakan mesin mobilnya dan hendak melaju.


"Aku...." Rania ingin mulai bicara.


"Ya....katakan! Aku mendengarkan" ucap Bondan yang langsung mematikan mesin mobil dan merubah posisinya menghadap Rania.


Rania menunduk, dia tak tahu apa lagi yang harus dia katakan. Respon Bondan benar-benar membuatnya takut untuk bicara.


"Aku mau pulang!" Rania masih mengalihkan pembicaraan.


Bondan terlihat sangat kecewa dengan ucapan Rania. Dia kesal dan menyalakan mesin kembali. Dengan marah dia mengebut, membuat Rania berpegangan karena takut. Rania memejamkan matanya, tak bisa menolak respon Bondan yang marah atas sikapnya.


Sampai di rumah, Bondan keluar dan langsung masuk ke kamarnya meninggalkan Rania yang masih gemetar karena dia mengebut. Rania menahan tangisnya, dia sangat sedih karena tidak bisa jujur pada Bondan. Dengan perlahan, dia keluar dari mobil dan berjalan menuju kamarnya.


Beni menatapnya dengan memegang gelas ditangannya.


~Ada apa dengan mereka? Tadi kak Bondan buru-buru masuk ke kamar, sekarang dia malah berjalan dengan lemas begitu~ ucap hati Beni.


"Mau aku buatkan kopi?" ucap Beni.


Rania terkejut, dia berhenti dan menatap Beni yang baru dia sadari sudah berdiri melihatnya sedari tadi. Beni tersenyum dengan mengangkat kedua alisnya beberapakali.


Rania menghela, dia berjalan mendekat dan duduk di meja. Beni langsung menyiapkan kopi untuknya.


"Kau belum tidur?" tanya Rania berusaha bersikap biasa saja.


"Belum, ada berkas yang diberikan Momy, aku mempelajarinya dan belum selesai" jawab Beni sambil mengangkat cangkir untuk Rania.


Beni tersenyum melihat wajah Rania yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Dia merasa sedang menang karena melihat mereka terlihat sedang bertengkar.


"Ada apa?" tanya Beni sambil menarik kursi untuk duduk.


Rania langsung mengubah ekspresi wajahnya kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Beni.


"Teman mu baik-baik saja kan?" ucap Beni mengalihkan.


"Ya...dia baik-baik saja, Bondan akan mengajaknya ke Korea untuk Surgery. Aku sangat excited, dia pasti akan pulih dengan cepat" jawab Rania.


Beni tersenyum lagi dan meminum kopi di gelas yang ada di tangannya. Hening sejenak, mereka hanya diam tak membicarakan apapun.


Rania menghabiskan kopi yang masih hangat itu, kemudian dia berdiri.


"Aku mau tidur, bye!" pamit Rania.


"Good night!" jawab Beni.

__ADS_1


Rania pergi, Beni masih melihatnya. Dengan menyandarkan tubuhnya di kursi, Beni menopang kepalanya dan menghela lega sambil tersenyum.


"Dan akhirnya ada celah untuk merusak hubungan mereka!" gumam Beni.


Keesokan harinya, Bondan tak turun hingga siang tiba. Beni sudah berangkat setelah sarapan, Dina juga sudah berangkat. Sedangkan Anita tak pulang sejak kemarin. Tak ada yang menanyakan selain Rania. Hedi yang juga tak tahu kemana Anita pergi, tak bisa menjawab pertanyaan Rania. Yang dia tahu Anita mengendarai mobilnya sendiri.


Jelas Rania paham, bahwa Anita sedang bersama Ryan, melindunginya. Sayangnya Rania tak bisa mengikutinya, dia hanya berharap Saga bisa membuntutinya setelah dia beritahu bahwa Anita sepertinya terlibat.


Bondan keluar dari kamarnya setelah mendengar dan melihat dua mobil datang berhenti di halaman rumah Ruby. Dia turun, melihat Rania masih merapikan meja makan untuk makan siangnya. Dengan ekspresi datar, Bondan melewatinya dan pergi menuju ruang tengah.


Dia menyambut tamu yang tak lain adalah Vero dan Wandy. Matanya membulat, terkejut dengan kedatangan mereka. Kemudian dia teringat dengan laporan sekertarisnya yang menyerahkan sebuah berkas laporan asli setahun terakhir. Dia langsung menyadarinya.


"Selamat siang Pak Bondan!" sapa Wandy.


"Selamat siang!" jawab Bondan.


Wandy dan Vero duduk bicara tentang apa maksud mereka datang kemari.


"Aku dan Vero Wardana Subagja, hendak menyampaikan sesuatu" ucap Wandy.


Bondan terkejut mendengar nama panjang Vero.


~Keluarga Subagja? Vero?~ ucap hati Bondan.


"Kami ingin menyerahkan sebuah laporan yang selama ini aku sebagai pengacara Atmajaya group sudah sembunyikan karena tekanan dari pemegang saham" ucap Wandy.


Rania penasaran dengan tamu yang datang, dia berjalan ke ruang tengah untuk melihatnya. Dia melihat Wandy dan Vero bicara dengan Bondan.


"Aku putra dari Wirawan Subagja, juga kedua adik perempuanku, hendak mengambil semua yang seharusnya jadi milik kami" ucap Vero.


Bondan berhenti membaca, dia melirik setelah mendengar kata kedua adik perempuan. Jelas dia berpikir keras, namun dia langsung mendapat jawabannya. Pandangannya beralih pada Rania yang berjalan cepat menghampirinya.


"Hai Rania!" sapa Wandy.


Rania menggelengkan kepalanya pada Vero, dia meminta agar tak mengatakannya sekarang. Namun Vero berdiri dan tak menghiraukan permintaan Rania.


"Kedua adikku yaitu, Dila Aryani Subagja dan Rania Ramadhania Subagja" ucap Vero.


Rania menghela dan memejamkan matanya sejenak. Dia juga mengerutkan dahinya, merasa semuanya menusuk Bondan secara bertubi-tubi. Sementara Bondan berdiri dan tetap menatap Vero yang bicara. Tangannya melepas berkas yang sebenarnya dia tak pedulikan.


Bondan mengalihkan pandangan pada Rania yang berdiri di dekatnya. Rania pun menatapnya, matanya berkaca-kaca, namun sangat sulit untuk bicara.


"Kami akan datang di rapat besok, terimakasih dan maaf sudah menggangu" ucap Wandy.


Vero tak tahu Wandy akan pamit begitu saja, dia mengikuti alur yang dibuat Wandy dan meninggalkan Rania bersama Bondan tanpa tahu apapun. Rania menatap kepergian kakaknya, sementara Bondan masih terpaku dengan semua kenyataan yang dia dengar.

__ADS_1


Rania mendekatinya, namun Bondan mundur mengindarinya.


"Apalagi yang tidak aku ketahui? Masih banyakkah?" ucap Bondan.


"Bondan....aku...." Rania terbata.


"Ya...katakan sekarang, jelaskan agar aku bisa memahami alasan mu melakukan ini padaku" Bondan duduk dan siap mendengarkan Rania.


Rania melihat responnya yang sama dengan tadi malam. Dia bimbang, semua harus dijelaskan, namun dia harus memulai dari mana, Rania duduk dengan tangannya yang gemetar.


"Aku....."


"Hanya satu pertanyaan yang aku ingin tanyakan"


Rania diam menatap Bondan.


"Sejak kapan kau tahu kalau kau adalah putri keluarga Subagja?"


Rania ragu untuk menjawabnya, jika dia mengatakannya sekarang, berarti hari ini juga Bondan akan mengetahui keburukan ibu tirinya.


"Saat acara pertunangan ku dengan Beni" jawab Rania mengambil keputusan untuk mengatakan semuanya.


Bondan menghela nafas, dia ingat benar bahwa saat itu dia selalu mengatakan bahwa Rania tak seharusnya begitu dekat dengan mantan bosnya, tapi Rania terus mengatakan bahwa dia adalah sahabatnya yang sangat memperhatikannya. Rania tetap berbohong untuk menutupi semuanya.


"Apa alasanmu menutupi semua ini?"


Rania menunggu Bondan bertanya tentang siapa yang memberitahukannya, namun dia mendapat pertanyaan lain.


"Alasan? Aku....hanya tidak ingin membuatmu merasa...."


"Sakit? Ragu? atau kecewa?" ucap Bondan menyela.


Rania menatapnya kebingungan.


"Mungkin jika kau mengatakannya dulu, aku tidak akan sekecewa ini"


Rania menghela mengakuinya dan hendak menjelaskan lagi, tapi Bondan terus bicara.


"Baru saja aku berpikir bahwa kau dan Vero sengaja melakukan ini padaku dan keluarga ku. Pertemuan kita adalah rencana kalian dan ...."


"Tidak...!" Rania berusaha membuat Bondan menghentikan pemikirannya.


"Tapi....aku mengerti, kau juga berbohong tentang bu Vera. Dia tidak pergi, kau yang tak pernah menemuinya setelah kembali dari Australia. Aku sengaja tidak mengatakan bahwa kita punya hubungan pada Bu Vera dan kau tidak mengatakannya juga" wajah Bondan benar-benar menyiratkan kekecewaannya.


Rania memejamkan mata sejenak mendengar semua perkataan Bondan yang memang benar adanya.

__ADS_1


"Aku ini siapa bagimu?"


Bondan melontarkan pertanyaan yang hanya membuat Rania semakin merasa bersalah. Dia semakin sulit untuk menjelaskan dari awal tentang semuanya. Bondan terlalu kesal dan tak mau mendengarkan alasan Rania. Dia berdiri pergi ke kamarnya meninggalkan Rania duduk dengan semua perasaan bersalahnya.


__ADS_2