
Rania berdiri dekat dengan jendela yang menghadap ke gerbang depan, menunggu kedatangan Anita. Hedi bilang dia pergi sejak pagi dan belum kembali. Rania tahu persis siapa wanita yang ditelpon Ryan, orang itu Anita.
Hati dan pikirannya sudah sangat marah mendengar semua kesaksian Nuri. Anita begitu tega merencanakan pembakaran restoran Vero kakaknya. Ryan juga membiarkan Nuri dilalap api.
Bayangan saat Ryan begitu mesra dan terlihat menyayangi Nuri membuat Rania semakin kesal. Jika Rania menemukan dimana Ryan, dia akan membuat Ryan cepat ditangkap oleh polisi.
Tak lama kemudian, datang mobil Anita. Rania bergegas turun. Namun dia berhenti di tengah rumah karena Bondan berdiri di sana. Bondan tersenyum padanya dan mendekat.
"Mau kemana? Buru-buru sekali?" tanya Bondan sambil membelai Rania.
"Mau minum, tapi ada mobil datang jadi aku ke sini" jawab Rania dengan gugup.
Dia tak mau Bondan tahu tentang semua ini terlebih dahulu sebelum semuanya jelas. Rania terpaksa berbohong.
"Itu Momy, oh ya, tadi kamu ke rumah sakit lagi ya? Siang aku pulang tapi kamu ngga ada, Hedi bilang kamu pergi naik taksi" tanya Bondan.
"Ya, temanku sudah membaik. Aku rasa dia akan segera pulang" jawab Rania.
Anita datang dan mendengar semua ucapan Rania. Matanya melirik kearah mereka. Dia berpikir, teman yang Rania maksud adalah Nuri.
"Kalian belum tidur?" tanya Anita.
Bondan berbalik dan menghampiri ibunya.
"Belum Mom! Hedi bilang Momy pergi dari pagi, jadi aku nunggu Momy di sini" ucap Bondan sambil memeluk dan mencium pipinya.
Rania menatap perlakuan Bondan pada ibunya, dia sangat menyayangi Anita seperti ibu kandungnya sendiri.
"Momy harus jaga kesehatan, jangan pulang malam begini" ucap Bondan sambil mengusap kedua lengannya.
"Momy lagi buka bisnis baru jadi sibuk banget, momy ke kamar dulu ya!" ucap Anita.
Bondan tersenyum dan mengangguk. Dia mencium pipi ibunya lagi.
"Selamat malam mom!"
"Malam Abang!" jawab Anita.
Anita berjalan melewati Rania dengan menatapnya. Rania pun tak berhenti menatapnya karen masih kesal dengan kenyataan bahwa dia yang menyebabkan kebakaran restoran Vero juga kecelakaan Nuri.
"Malam Rania!" sapa Anita.
"Malam tante!" jawab Rania.
Bondan mendekat pada Rania yang masih berpikir betapa kejamnya Anita. Dia memeluk pinggang Rania dan mencium bibirnya. Rania mundur karena terkejut, Bondan tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa? Apa yang kamu pikirin? Sahabat kamu?" tanya Bondan.
Rania hanya menatap kedua tangannya yang menyentuh dada Bondan.
"Berhenti mikirin orang lain, sekarang kamu harus pikirin calon suami kamu ini. Jangan sampai dia kesepian karena kamu sibuk mikirin orang lain" ucap Bondan sedikit berbisik padanya.
"Apa kamu ngga cape ngurus pekerjaan di kantor? Istirahat sana!" ucap Rania.
Bondan malah tersenyum, matanya terus memperhatikan bibir Rania yang baru saja dia cium tadi.
"Berhenti menatap ke arah itu!" ucap Rania yang menjadi malu.
"Kenapa?" tanya Bondan sambil tersenyum.
"Sudah! Lepas! Nanti ada yang lihat!" pinta Rania sambil berusaha mendorong Bondan.
"Biar saja, kan mereka tahu kalo kita bakal nikah. Lagipula aku kangen banget sama kamu hari ini" ucap Bondan yang malam mempererat pelukannya.
Rania merasa nyaman dipeluk Bondan, dia juga merasa sangat lelah hari ini. Bondan senang Rania tak lagi berusaha melepaskan pelukannya.
"Bolehkah hari ini aku tidur di kamar mu?" ucap Bondan perlahan.
Mata Rania membelalak, namun dia mereset pikirannya.
"Lalu aku tidur dikamar mu. Kita tukar tempat gitu!" ucap Rania.
"Kau tahu apa yang aku maksud, kita tidur bersama malam ini. Jangan berusaha membuat pembicaraan ini jadi aneh" ucap Bondan kesal.
"Tentu saja tidak boleh! Ah....kau ini!" seru Rania kemudian berbalik hendak pergi kembali ke kamarnya.
Bondan menarik tangannya dan membawa Rania ke kamarnya. Dia berhasil masuk, Bondan berdiri di depan pintu menghalanginya. Rania berusaha menerobos pertahanan Bondan. Namun dia tak bisa membuat tubuh Bondan yang gagah itu bergeser walau sedikitpun.
"Aku hanya minta tidur bersama, tidak melakukan hal lain. Aku bersumpah" ucap Bondan sambil membuat huruf V dengan jarinya.
Rania terdiam sejenak, mengingat saat ayahnya yang berjanji akan pulang dengan membentuk jari yang sama, namun tak pernah kembali.
"Jangan membentuk jari seperti itu dan jangan bersumpah" ucap Rania kesal.
Dia berjalan ke ranjang dan menyelimuti dirinya sendiri. Bondan terheran, tanpa dipaksa Rania sudah mau tidur di kamarnya. Tapi dia senang.
Rania menyelimuti dirinya dengan rapi, dia mulai gugup dan jantungnya berdegup kencang. Bondan datang dan langsung memeluknya dari belakang. Tubuh Rania terperanjat karena terkejut, namun Bondan mengusap kepalanya dan kemudian berusaha tidur.
Rania kebingungan, ingin melepaskan pelukannya, namun Bondan sudah berusaha untuk tidur dan menepati janjinya untuk tak melakukan apapun. Tak lama kemudian, rasa kantuk menyerangnya. Rania dan Bondan tertidur di satu ranjang di kamar yang sama.
Sementara itu, Dina menutup pintu kamarnya dengan pelan. Dia melihat semua kemesraan Rania dan Bondan tadi. Air matanya terjatuh, dia mulai menyentuh dadanya dan meremasnya.
__ADS_1
"Kenapa masih sakit? Kenapa? Sakit sekali. Ibu....ayah.....kenapa ini masih terasa sakit sekali...."
Dina tak bisa menahan tangisnya.
Di kamar Beni, dia sedang membaca buku, namun tak bisa menghilangkan kejadian yang baru saja dia lihat antara Bondan dan Rania.
"Dia mau masuk ke kamar Bondan dan tak keluar lagi. Dia benar-benar suka pada kak Bondan!" gumamnya.
Tangannya meremas buku Manajemen Keuangan yang cukup tebal yang ada di tangannya.
"Kenapa? Apa aku cemburu? Bukankah aku sudah membencinya? Mereka berdua sangat jahat, seharusnya aku bisa membenci Rania dan tak lagi memikirkannya" gumamnya lagi.
"Apa aku harus membencimu Rania? Agar hatiku merasa puas dan tak begini lagi?"
###
Sementara itu, di rumah. Arumi menyiapkan makan malam untuk Yudi.
"Makanan sudah siap Kak!" serunya pada Yudi.
Yudi masih terdiam, dia masih mengingat wajah Rania yang tak berubah. Kepeduliannya pada orang lain, sifat lembutnya juga kebiasaannya yang selalu menyembunyikan rasa sakitnya.
~Semuanya tak berubah, dia masih jadi Rania yang membuatku terpesona meski hanya melihat nya diam. Tapi....kenapa dia merubah penampilannya? Dia terlihat mirip dengan Dila. Apa karena mereka mengetahui bahwa mereka kembar? Tapi....Rania bukan tipe wanita yang senang merubah mode, apalagi memotong pendek rambutnya~
Tiba-tiba Arumi menepuk pundaknya.
"Hei...aku udah manggil tiga kali dan kak Yudi sama sekali ngga noleh apalagi nyaut" keluh Arumi.
Yudi tak terkejut, dia malah menatap wajah adiknya dengan banyak pertanyaan di benaknya.
"Kamu tahu lebih dulu kalau Rania ada di Jakarta dan sebenarnya adiknya Vero, kamu juga pasti tahu kan, alasan dia merubah penampilannya?" tanya Yudi.
Mata Arumi membulat karena tak menyangka kakaknya masih memikirkan Rania dan akan bertanya seperti itu.
"Kamu masih mikirin Rania! Hei....bangun! Kamu sudah ngambil Dila untuk jadi pelarian, jangan sampai dia terluka. Keduanya adalah teman sekaligus adik Vero tunangan ku. Kalo isi otak mu itu membuat hubungan ku dengan Vero berantakan, aku ngga akan pernah mengakui mu lagi sebagai kakak" Arumi mengalihkan pembicaraan dengan marah.
Yudi mengorek telinga dengan jarinya sendiri, kemudian berdiri dan membungkam mulut Arumi.
"Ya.. ya. .yaa...aku makan!" ucap Yudi kesal.
Dia pergi ke meja makan dan melahap makan malamnya.
"Awas aja, kalo kakak masih mempertimbangkan perasaan kemana kakak akan berlabuh, aku benar-benar akan meninggalkan mu" seru Arumi.
Dia bisa berteriak seperti itu pada Yudi, namun hatinya tak bisa dibohongi. Semuanya seperti badai, datang dengan cepat dan belum kembali tenang. Kedatangan Rania ke Jakarta membuat semua berubah. Identitas Vero, Dila dan Rania terkuak. Meski Arumi yang awalnya mengira Vero menyukainya dan kini merasa lega. Tapi dia menyadari bahwa hal ini jauh lebih rumit. Cinta segitiga Yudi, Rania dan Dila, setidaknya akan mempengaruhi Vero dan dirinya. Terlebih Vero sangat protektif terhadap adik-adiknya.
__ADS_1
Arumi menghela nafas dan duduk di ranjang Yudi.