
Dina merebahkan diri di ranjang, dia lelah setelah datang dari London, harus ke kampus untuk menjelaskan perihal foto itu.
Dina menjadi artis kampus karena kepandaiannya. Dia menjadi mahasiswi yang pandai dan berprestasi. Kabar ini sampai pada Rania, dia selalu mengabari temannya itu lewat chat.
"Rania terus bicara tentang mu, dia bilang kau menjadi sangat berbeda. Kau menunjukkan siapa dirimu di sini" ucap Dila yang mengambil pakaiannya.
"Hmmm, dia, ya dia selalu peduli pada siapa saja. Sementara dirinya sendiri terpuruk" ucap Dina sambil memejamkan matanya.
"Ya, begitilah dia!" ucap Dila seolah sangat mengerti.
Dia menghapus bedak di wajahnya dan menaruh krim malam. Kemudian bayangan tangan Jolie mengait pada lengan Yudi tiba-tiba muncul. Dia menjadi kesal. Tangannya merapikan deretan peralatan make up di meja. Kemudian matanya menatap Dina yang terpejam.
"Kau adalah artis sebuah theater di London, apa tidak apa-apa tidur tanpa menghapus make up mu?" tanya Dila.
"Sebentar saja, sepulang main theater aku langsung kemari, jadi rasanya lelah sekali. Besok aku harus kembali ke London" jawab Dina.
"Bolak balik hanya untuk klarifikasi bahwa foto itu bukan aku. Kenapa? dan siapa yang memberitahumu?" tanya Dila.
Pertanyaan yang hendak dia tanyakan dari awal melihat Dina. Namun terlalu bersemangat karena akhirnya bisa bicara dengannya setelah sekian lama. Mereka juga terlalu lama berkeliling hingga membuatnya lupa.
"Aku mau mandi!" ucap Dina.
Dia membuka matanya dan bangun dari ranjang, dia mengambil handuk yang digantung di pintu kemudian masuk ke kamar mandi.
"Hei kamu nggak denger aku nanya apa?" seru Dila.
Dina tak menjawab, dia menyalakan keran shower dan mandi. Membersihkan diri sambil berpikir apa yang akan dia katakan jika Dila terus bertanya.
Selesai mandi, Dina melihat Dila sudah tertidur. Dengan menghela, Dina lega tak harus banyak bicara untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi.
Dina memakai krim malamnya yang dia ambil dari tasnya. Kemudian ikut tidur di sisi Dila yang sudah terlelap.
Sementara itu, beberapa jam yang lalu. Yudi meminta Jolie mengirimi Marvin video klarifikasi Dina. Marvin tak datang, teman-temannya pun mencarinya.
Yudi melihat pekerjaan Jolie dan berdecak kagum.
"Kau ini sangat pandai" ucap Yudi.
Jolie menatap Yudi yang bicara dalam Bahasa Indonesia. Yudi menatap Jolie kemudian menjauh. Dia baru sadar, sedari tadi dalam pikirannya dia sedang bersama Dila yang pandai dalam bidang sosial media. Edit ini edit itu, biasanya dia selalu melihat pekerjaan Dila.
"Kamu ngomong apa?" tanya Jolie.
"Nothing!" jawab Yudi.
__ADS_1
Jolie pergi pulang, sementara Yudi kembali bekerja. Beberapa orang temannya mengganggunya dengan ucapan selamat telah berpacaran dengan seorang wanita setelah sekian lama mereka bekerja bersama.
Namun kepala Chef melihat raut wajah yang berbeda.
"Aku merasa bukan dia yang membuat senyuman mu merekah satu tahun terakhir" ucap kepala chef.
Yudi menatapnya.
"Tak ada yang seperti itu" jawab Yudi.
"Benarkah?" kepala chef ragu dan menggodanya.
"Ayolah chef!" ucap Yudi yang tak mau bercanda.
Seorang pelayan datang dan menatap Yudi.
"Chef Yudi, ada yang mencari mu!" ucapnya.
Yudi menatap kepala chef.
"Siapa?" tanya kepala Chef.
"Pimpinan Klinik!" jawab pelayan itu.
"Duduklah!" ucap Jason saat Yudi sampai dan berdiri di depannya.
"Iya Pak!" jawab Yudi sambil duduk.
Jason menyantap steiknya, kemudian minum wine.
"Yang kau bicarakan tempo hari, apa sudah selesai?" tanya Jason.
Yudi ingat dan sedang berusaha.
"Saya sudah melakukan sesuatu untuk membuat mereka tidak salah paham lagi. Dan selebihnya ada di tangan mereka" ucap Yudi.
"Aku sangat penasaran apa yang membuat Marvin begitu down seperti ini. Dia yang selalu memaksakan orang lain untuk berbuat positif, sekarang malah menjadi seperti ini" ucap Jason.
Yudi hanya mengangguk.
"Kau tahu, aku dengar dari temannya kalau dia tak keluar apartemen seharian ini. Itu bukan Marvin yang seperti biasanya" ucap Jason.
Jason mendapat telpon lagi dan harus kembali ke klinik.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih sudah mengusahakan yang terbaik untuk hubungan Dila dan Marvin. Aku harus kembali ke klinik" Jason menjabat tangan Yudi.
Yudi menatap Jason yang pergi dan menghilang dari pandangannya. Dia merogoh ponselnya dan menelpon Jolie yang baru sampai di rumahnya.
"Ada apa pacarku? Kau merindukan ku?" tanya Jolie genit.
"Marvin tak keluar rumah seharian, cari cara agar Dila mengetahuinya" ucap Yudi kemudian menutup telponnya.
Jolie terkejut, dia kesal namun hanya ini cara agar Yudi mau menjadi pacarnya. Jolie mengirim pesan seolah itu salah kirim pada Dila. Namun sayangnya ponsel Dila tak aktif sejak dia makan bersama Dina.
Jolie mengirim pesan pada Yudi.
[Aku sudah melakukannya, nomor Dila tak aktif. Minta maaf padaku, kau hanya memerintah tak peduli dengan perasaanku. PACARMU]
Yudi menatap datar pada pesan Jolie. Kemudian dia membalas dan mengirim kata maaf bersama emoji memohon. Jolie tersenyum dan membalas dengan emoji senyum juga mengirimkan fotonya yang sedang tersenyum.
Yudi menutup ponselnya dan memasukkannya ke saku. Wajahnya menunjukkan rasa malas menatap Jolie. Dia malah teringat Dila dan kejadian saat dia menganggap Jolie adalah Dila.
"Aku harus melupakan masa lalu, Dila harus bahagia dengan orang lain, bukan diriku" gumam Yudi.
Malam tepat jam 12, Dila terbangun dan menatap Dina di sampingnya. Dia menggosok matanya dan mencari ponselnya. Dia ingat sudah sedari sore tak menyalakan ponsel.
Ponsel menyala saat dia ke kamar mandi, kemudian siap dipakai saat dia kembali dari kamar mandi.
Lisa mengirim pesan.
[Chloe, Marvin tak datang ke kampus, penjaga apartemen juga mengatakan kalau dia belum keluar seharian ini. Apa kau tak khawatir?]
Jolie menggunakan nomor Lisa teman sekamarnya untuk memberitahu Dila.
"Apa maksudnya? Apa Lisa salah kirim pesan? Ini pesan untuk Chloe bukan aku, bukan urusan ku" ucap Dila kesal.
Dia menghapus pesannya dan melihat pesan lainnya. Beberapa teman mengirim pesan permohonan maaf karena telah bersikap tak adil padanya karena percaya pada berita bohong. Dila hanya menelan ludahnya sendiri dan acuh dengan mereka.
Dia mengambil minum, meneguk air dan menatap jendela di dapurnya. Kemudian dia menatap pintunya. Hatinya ikut merasa cemas dengan keadaan Marvin yang tak mau keluar seharian ini. Tapi Dila ragu untuk masuk ke rumahnya.
Dengan langkah perlahan, Dila keluar dan mendekati pintu rumah Marvin. Mengetuk dengan pelan dan memanggilnya.
"Marvin, apa kau di rumah? Marvin!" seru Dila.
Tak ada jawaban, Dila menggigit bibirnya dan menekan nomor passcodenya. Dia membuka pintu perlahan dan masuk. Sepi, rumahnya memang sepi. Dia tinggal sendiri, sekarang terlihat berantakan karena dia terlihat sering mabuk saat pulang.
Dila melangkah masuk ke kamar dan melihatnya. Dila terkejut dan menelpon Michael yang sedang berjaga untuk membantunya.
__ADS_1