
Hari pernikahan Bondan dan Rania.
Semua orang bersemangat, Adit sangat antusias dengan acara ini. Vero dan Arumi memilihkan kebaya dan dekorasi untuk rumah bu Vera.
Rania meminta sebuah pernikahan yang sederhana. Bondan juga setuju, mereka hanya mengundang saudara dekat saja.
Ini bulan ke 7 kandungannya, acara sengaja diadakan mendadak, mengingat kesehatan Rania yang kian mudah lupa juga perlu sering bersama Bondan.
Dila menghela nafas dengan keras, Vero dan Arumi mendengarnya. Mereka saling menatap dan bertanya apa yang membuatnya sangat terlihat tak bersemangat, padahal dia yang mengusulkan tanggal dan acaranya.
"Ada apa? Kau iri lagi?" tanya Vero.
"Hmm, aku iri. Sangat iri padanya" ucap Dila sambil berlalu keluar.
Vero merasa aneh dengan sikap Dila. Tak biasanya dia menerima begitu saja sindirannya. Vero merasa Dila menyembunyikan sesuatu darinya. Dia menyusul Dila setelah meminta Arumi bergabung dengan Nuri agar tak terlalu lelah.
Dila menelpon seseorang, kemudian Vero memperlambat langkahnya dan berdiri di belakangnya mendengarkan.
"Kalau mau kesini cepetan, nanti keburu ijab kabul baru tahu rasa" ucap Dila dengan nada kesal.
"Iya....tapi aku ragu" jawab Yudi.
Vero sangat kesal mendengar ucapan Dila. Dia mengambil ponsel Dila dengan tiba-tiba dan membuatnya terkejut.
"Kaaak!" seru Dila protes dengan sikap kakaknya.
Mata Vero membulat menatap Dila dengan kesal.
"Astaga Dila, yang benar saja. Bahkan saat Rania yang kondisinya seperti ini kau masih mau merebut kebahagiaannya?" ucap Vero.
Nada suaranya pelan, tapi dia sangat kecewa.
"Maksud kakak?" tanya Dila tak mengerti maksudnya.
"Heuhh, oke, anggaplah kamu ini orang naif. Tapi apa maksud kamu menyuruh Yudi cepat datang untuk menghentikan pernikahan Ranoa dan Bondan. Kenapa? Kau berubah pikiran, sekarang kau ingin bersama Bondan karena Yudi ayah biologis dari anak-anak Rania. Kau merasa dia terlalu beruntung karena mendapatkan pria sebaik Bondan. Iya?" Vero terus bicara tanpa mau membiarkan Dila bicara.
"Kaaaak, aku cuma..." Dila berusaha menjelaskan.
"Cukup Dil, ternyata selama ini kamu berpura-pura baik pada Rania. Kamu nggak pernah berubah. Kakak kecewa sama kamu" ucap Vero sambil membanting handphone Dila.
__ADS_1
Mata Dila membelalak menatap ponselnya pecah di lantai.
"Kaaak, banyak nomor penting di sana" gumam Dila tak percaya Vero akan melakukannya.
Matanya beralih pada kakaknya yang hendak pergi masuk.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendapatkan kepercayaan mu. Kau sendiri yang menutup telinga untuk mendengar penjelasan ku. Dasar egois!" ucap Dila.
Vero berbalik dan menunjuknya. Mata Dila membulat menantang kakaknya.
"Apa? Kau mau bilang aku yang egois?"
Vero mengehela keras, dia mendekat dan menarik lengan Dila.
"Kamu ini maunya apa sih?" Vero menekan genggaman tangannya.
"Sakit kak!" seru Dila meringis kesakitan.
Arumi mendekat melihat mereka yang terlihat bertengkar. Nuri dan Fajri ikut dengannya.
"Kamu mau bilang bahwa kamu nggak egois gitu? Trus apa alasan kamu minta Yudi datang buru-buru sebelum Rania akan dengan Bondan?" tanya Vero dengan kesal.
Arumi menatap Dila, kemudian beralih pada Vero. Dia merasa bahwa Dila benar, Vero terlalu membela dan menyayangi Rania dan menutup mata dan telinga untuk penjelasan orang lain.
Arumi jelas mengerti apa yang Dila maksud dengan meminta Yudi datang lebih cepat. Sebelumnya dia juga sudah mendengar percakapan mereka tentang ini. Namun langsung menanyakannya, sehingga tak terjadi kesalahpahaman.
"Sayang, acaranya udah mau dimulai. Kita masuk aja ya?" ajak Arumi, agar suasana tidak tambah panas.
"Nggak Mi, biarin dia ngomong semua yang mau dia lontarkan sama aku, adiknya yang jahat ini. Biar dia puas, biar dia lega" ucap Dila kesal.
Mereka masih bicara dengan suara yang tak terlalu tinggi. Namun raut wajah mereka menyiratkan kekesalan yang sangat.
"Udah Dila, Rania bisa dengar. Dia bisa sedih denger kalian bertengkar" ucap Nuri.
Dila mendengus marah, matanya mendelik dari tatapannya pada Vero yang juga bersikap sama.
"Astaga, kalian seperti anak kecil" keluh Fajri.
Fajri menarik lengan Dila dan mengajaknya masuk. Sementara Arumi masih menahan lengan Vero yang hendak mengejar Dila.
__ADS_1
"Stop Vero, aku bilang cukup!" seru Arumi yang ikut kesal.
Vero menatap istrinya dengan kesal karena malah membela Dila.
"Ouh, sekarang kamu belain dia! Benar, apalagi, ini semua tentang Yudi, kakak tercinta mu. Kalian sama saja" ucap Vero menyimpulkan semua dengan emosinya.
"Astaga, yang benar saja. Kamu akan tetap dengan semua pemikiran mu itu. Apa kamu nggak akan berubah?"
"Kalian yang harus berubah, kalian yang harus sadar semua ini terjadi karena brengseknya Yudi. Kamu mau bilang pemikiran aku salah. Haaah?" Vero malah emosi pada Arumi.
"Rania bahkan tidak mengingat semuanya, bukan karena dia sakit, tapi dia berusaha untuk move on. Kenapa kamu nggak pernah nerima pengakuan dan rasa bersalah Yudi? Sampai kapan kamu kayak gini" Arumi berusaha memberikan penjelasan.
Vero ingin mengelak lagi, namun dia juga mengakui dirinya memang terlalu takut.
"Yudi yang nelpon Dila, dia bilang dia mau datang dan memberikan kado untuk Rania dan Bondan juga calon anak kembarnya. Dila sedang kesal karena semua rasa khawatirnya terhadap penyakit Rania. Kamu paham dong sama posisi orang lain. Jangan orang lain terus yang harus paham sama posisi kamu" ucap Arumi.
Vero menunduk tak mau melawan Arumi, mengingat dirinya sedang menantikan kelahiran bayi yang sehat dan bahagia. Meskipun merasa bahwa istrinya sangat tidak mendukungnya sekarang.
"Kamu harus tahu..."
"Iya, maafin aku. Aku cuma lagi stress aja, aku jadi sensitif dengar hal-hal lain...."
"Ya tapi nggak gini Vero...! Kamu nyakitin perasaan Dila yang memang sangat khawatir sama Rania. Kamu meragukan kasih sayang Dila sama Rania..."
"Iya, udaaaah, udah. Aku kan udah minta maaf"
Mereka saling menyela ucapan masing-masing sehingga Arumi tak sempat mengatakan maksud Dila dan mengungkapkan keadaan Rania yang sebenarnya.
Vero juga hanya ingin menurunkan tensi amarah Arumi agar tak mempengaruhi kandungannya. Arumi baru saja diperbolehkan turun dari bed rest nya setelah beberapa bulan hanya duduk di kamar dan sedikit beraktifitas.
"Kamu sih, bikin orang naik darah aja, bentar-bentar ngambek, bentar-bentar sensitif" keluh Arumi sambil mengusap perutnya.
Vero mendekat dan ikut mengusap perut Arumi.
"Iya maaf, ya. Maafin ayah ya, anak ayah yang pinter!" ucap Vero.
Arumi menghela, sebenarnya dia ingin mengungkapkan semuanya saat itu juga, tapi melihat Vero sudah mengubah sikapnya, dia mengurungkan niatnya.
Tak lama kemudian teriakan Dila menggelegar memanggil nama Rania. Menyusul tangisnya terdengar.
__ADS_1
Vero melepas tangan Arumi kemudian berlari setelah meminta istrinya untuk berjalan perlahan.