
Anita mundur dan perlahan duduk di meja dengan santai dan menaruh tangannya di lututnya.
"Rania Ramadhania, aku tidak punya alasan lain selain harta. Benci, serakah dan takut untuk kembali miskin, hanya itu. Tidak ada yang lain?" ucap Anita.
"Kau bisa saja memiliki semuanya dan tenang dalam diam, tanpa harus menyakiti dan tanpa harus melakukan semua ini. Aku juga takkan mengejar semua yang sudah kamu perjuangkan"
"Bullshit! Semua ini justru karena kedatangan mu, Bondan yang bodoh itu yang membawa mu kemari dan membuat semuanya kacau. Obat gila yang aku berikan pada Beni, berhenti saat kamu datang sebagai Dila. Rencana ku, semuanya kacau karena kedatangan mu. Kau, satu-satunya orang yang aku benci. Aku sudah berusaha membuatmu jauh dari keluargamu. Aku membuat ayah dan ibumu mati bersama ayah angkat mu. Tapi tetap saja kau datang dan mengacaukan semuanya. Semua yang yang aku perbuat jadi sia-sia" ucap Anita yang mendekat dan menarik rambut Rania dan menahan tangannya ke belakang.
Seseorang datang, Anita melepaskan Rania dan berdiri dekat jendela. Sementara Rania menghela nafas karena kesakitan, Bondan datang dan menatapnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bondan.
"Bondan, dengar ibumu datang ke rumah sakit dan menyakiti Nuri, dia membuat Nuri tertekan dan kembali histeris. Dia mengancam Nuri mengatakan bahwa Nuri tak pantas hidup. Kau tahu, dia hampir mati bunuh diri" jelas Rania sambil memegang tangan Bondan.
"Barusan dia mengakui semuanya, dia bilang dia benci padaku. Karena aku menghalangi semua rencananya, dia juga mengatakan bahwa dia sudah gagal membuat Beni gila karena kau membawaku untuk menjadi Dila" lanjut Rania.
Bondan menatap Anita yang mengusap air matanya tanpa menoleh sedikitpun pada mereka. Dia melepaskan tangan Rania dan menatapnya dengan kesal.
"Berhenti bicara sembarangan, satu-satunya orang yang jahat di sini adalah kau. Kau mengambil semuanya, hingga jabatan ku" ucap Bondan.
Rania menghela nafas dan mengaturnya. Dia mencoba memahami perkataan Bondan dan akhirnya mengerti saat mengingat ucapan Vero sebelumnya yang mengungkit posisi yang akan dia ambil untuk Rania.
"Momy benar, kesalahan ku adalah membawa mu kemari, menjadikan mu pengganti Dila, dan mencintai mu adalah kesalahan yang paling besar" ucap Bondan dengan berat hati.
Masing-masing dari mereka menangis, merasakan kesakitan di hatinya. Rania tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar penyesalan Bondan untuk mencintainya. Bondan menahan sedu sedannya dengan menggenggam tangannya dengan keras.
"Ayo Momy, semua ini sudah bukan milik kita. Aku akan membawa Momy ke tempat lain, tempat yang jauh darinya" ajak Bondan dengan menarik tangan Anita.
"Nggak, ini semua milikku, aku mengusahakannya dengan susah payah. Kamu nggak bisa ngajak momy pergi dari tempat tinggal milik momy Bondan!" ucap Anita menangis.
Bondan menatap sedih pada Anita. Rania memejamkan matanya, muak dengan Anita yang selalu berpura-pura.
__ADS_1
"Aku janji akan berusaha dengan keras membangun rumah besar untuk momy. Sekarang aku nggak mau kita tinggal di tempat ini lagi, terutama di tempat yang dekat dengan wanita ini" ucap Bondan dengan melirik Rania.
Tangan Rania mengepal mendengar ucapan menyakitkan dari Bondan. Sesak menyelimuti dadanya dan membuatnya bungkam tak bisa mengatakan apapun lagi untuk menahan Bondan dari anggapan buruknya.
Anita diajak dengan dipeluk oleh Bondan keluar dari ruangan dan rumah itu. Rania terduduk dan lemas menerima semua perkataan Bondan juga kepergiannya. Tangisnya pecah mengingat semua ucapannya yang menyakitkan.
Beni datang dan melihat Rania, dia menghampiri dan memegang tangannya.
"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Beni.
Rania menatap Beni dan kembali tersedu-sedu.
"Dia nggak percaya sama aku Ben, dia nggak mau dengerin omonganku. Dia bilang dia nyesel cinta sama aku Ben" ucap Rania sambil menangis lagi.
Beni menyandarkan kepala Rania di dadanya kemudian memeluknya. Tangannya mengusap punggung Rania, berusaha membuatnya tenang. Tangis Rania masih terdengar, suaranya bahkan bisa di dengar Hedi yang duduk di tangga, meratapi kehancuran rumah itu.
###
Bondan merapikan tempat tidur dan membersihkan lantai untuk ibunya istirahat. Dia berusaha keras membuat ibunya nyaman untuk tinggal.
"Mulai sekarang, kita akan tinggal di sini. Ini adalah aset milik ku tanpa campur tangan perusahaan. Aku akan membuktikannya dari surat-surat yang aku miliki" ucap Bondan sambil beberes.
Anita diam saja tak memperdulikannya, dia merasa kesal dan berusaha menyembunyikannya.
"Nggak apa-apa kan Mom?" tanya Bondan yang tak mendapat respon dari ibunya itu.
"Momy cape mau tidur!" ucap Anita.
Bondan tersenyum dan meninggalkan kamar setelah mencium kening ibunya. Dia mengusap bahu ibunya dan meninggalkannya.
Dengan sedih, dia masuk ke kamar yang lainnya dan duduk di ranjang meratapi kemalangan yang dialaminya.
__ADS_1
Terbayang semua kenangan bersama Rania, dari mulai pertamakali bertemu dengannya hingga kemarin mereka bertengkar soal Rania yang menutupi jati dirinya sebagai putri keluarga Subagja darinya.
~Haruskah aku menanyakan alasanmu? Tapi apakah aku bisa menatapmu dengan semua kekecewaan ini? Bagaimana perasaan mu saat ini Rania? Aku sangat ingin tahu, tapi aku tak bisa melakukannya. Berat rasanya Rania! Sangat terasa berat~
Lagi-lagi Bondan hanya bisa bicara pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Rania terdiam menatap jendela di kamarnya. Vero menghubunginya berulangkali, dia tak mengangkatnya.
~Bagaimana harus aku jelaskan padamu Bondan? Bagaimana caranya? Apa kamu masih mau dengar? Bagaimana perasaan mu sekarang? Kamu pasti merasa sangat hancur, aku juga tidak pernah menyangka semua ini bisa jadi seperti ini~
Beni datang membuka pintu, membawa teh hangat untuknya. Dengan perlahan berjalan mendekat dan menaruh cangkir di meja. Dia menepuk bahu Rania yang masih diam dalam lamunannya.
"Hei!" ucap Beni.
Rania tersadar, namun hanya menelan saliva dan menunduk.
"Minum tehnya dulu, Hedi bilang kamu belum makan sejak datang dari rumah sakit. Minum teh manisnya dulu, biar ada tenaga" ucap Beni.
Dia melayani Rania seperti saat Rania melayaninya dulu. Penuh kelembutan dan kasih sayang.
Rania berbalik dan duduk kemudian meminum tehnya. Matanya tak menatap Beni, dia masih memikirkan Bondan.
Beni melihat kesedihannya, dia tak suka melihat itu, dia berusaha untuk mengubah main set Rania.
"Keluarga, bukankah itu yang lebih penting?" ucap Beni.
Rania terdiam, menaruh cangkir di meja.
"Vero mau kamu menjadi Rania yang tangguh dan sukses. Dia beri kamu kesempatan itu dan menjadi direktur utama Subagja Coorporation. Aku mengerti dengan maksudnya" lanjut Beni.
Rania berpikir lagi, dia ingat dengan semua ucapan Vero yang benar-benar sangat menyayanginya.
__ADS_1