Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
121


__ADS_3

"Kamu terlihat aneh dengan ekspresi menghindari tatapan Jason dan hanya melirik pada Yudi. Aku nggak suka ya Dil, aku sudah bilang Jason pasti tadi akan mengumumkan keseriusan Marvin sama kamu. Tapi karena tingkah kamu, Marvin seolah tahu kamu masih punya perasaan pada Yudi. Itu nggak bener kan?" ucap Vero saat berada di lift.


Tak ada jawaban dari Dila yang tangannya memegang tangan Rania karena takut pada kakaknya.


Vero menarik bahu Dila saat sampai di depan apartemen setelah Marvin meninggalkan mereka. Dila terlihat malas mendengarkan kakaknya.


"Dila! Kamu denger kan?" Vero menjadi marah.


Rania dan Arumi hanya menatap, apa yang dikatakan Vero di lift memang benar. Dila terlihat sangat memperhatikan Yudi bukannya fokus pada Marvin.


"Aku cape mau istirahat!" jawab Dila sambil masuk dan langsung ke kamarnya.


Rania meraih tangan Vero.


"Nanti, dia lagi nggak mau denger Kak!" ucap Rania.


"Sebenernya dia ngerti nggak sih maksud aku?" ucap Vero.


Vero masih belum memaafkan Yudi.


"Sampai kapan?" tanya Arumi.


Vero menoleh, Rania menyentuh bahu Vero agar tak menjawab.


"Sampai kapan kamu kayak gitu sama Yudi? Rania aja udah begitu baik memaafkannya dan menyapa dia dengan senyuman. Sampai kapan kamu bersikap beda sama Yudi kakakku?" Arumi menangis.


Vero malas menjawab pertanyaan Arumi yang nantinya pasti akan menjadi perang dingin antara mereka. Rania mengetuk pintu lamar Dila. Kemudian dia keluar.


"Kak, beneran deh. Aku bener-bener capek. Plis!" ucap Dila yang muncul di ambang pintu.


Vero menoleh dan menatapnya. Arumi masuk ke kamar Dila dan ikut istirahat. Vero terlihat kesal karena tak bisa mencegah Arumi masuk. Dila menutup pintunya dan bicara.


"Kenapa jadi kalian yang berantem sih?" ucap Dila terdengar keluar.


Vero duduk dan Rania mengambilkan air untuk kakaknya minum. Vero meneguknya perlahan. Tak ada kata yang terucap dari kedua kakak beradik itu, Rania hanya duduk menyalakan tv karena masih merasa canggung untuk masuk dan berganti pakaian.


Sementara itu, di klinik, Marvin yang sedang membantu seorang pasien di datangi Jason yang baru datang dan langsung mencarinya.


"Sedang sibuk?" tanya Jason.


Marvin menoleh, dia tersenyum sambil tetap membantu pasien yang mengganti perbannya.

__ADS_1


"Cukup sibuk yah, aku belum bisa pulang" jawab Marvin.


Jason menatap Marvin dengan penuh rasa penasaran.


"Soal tadi, aku lihat, kamu seolah memberi ayah kode untuk tak melamar Dila. Apa itu benar?" tanya Jason.


Marvin hanya tersenyum padanya, dia menghela kemudian menyelesaikan memasang plester. Pasien dibawa seorang suster ke ruangannya. Tinggallah Jason yang menatap Marvin, masih dengan pertanyaannya.


"Aku mengerti Dila mencintai orang lain, tapi aku tidak mau kehilangannya" jawab Marvin.


Jason membelalakkan matanya terkejut dengan pengakuan Marvin.


"Sejak awal, perhatian Dila hanya pada Yudi. Tapi aku memaksanya untuk tetap tinggal. Aku merasa memiliki sebagian besar sifat buruk ibu" jelas Marvin.


"Tidak, tidak seperti itu. Kau hanya ingin mempertahankan cinta mu" ucap Jason menghibur.


"Tidak ayah, aku tidak mau Dila jauh dari ku. Aku bergantung padanya, dia yang mewarnai hidupku di saat-saat terburuk ku" ucap Marvin.


Jason menyentuh bahu Marvin memberikan dukungan moril.


"Aku hanya akan mengatakan, bisa saja Dila tetap di sisi mu. Tapi kau melukainya, menyakitinya secara fisik dan psikis. Karena itu yang terjadi pada ayah dulu. Tapi ayah hanya berharap kau bahagia dalam hidupmu. Menjadi dirimu sendiri bukan menjadi orang lain. Ayah menyayangi mu" ucap Jason memeluknya.


###


Pagi sekali, Rania membantu Dila merias wajahnya. Arumi masih kesal pada Vero yang tak mau minta maaf bahkan setelah malam berganti.


Rania menyentuh bahu Arumi yang membelakangi, dia menoleh dan mendonga ke wajah Rania yang berdiri.


"Bantu aku, aku tidak pandai merias" pinta Rania.


Dia bangun dari duduknya dan menatap Dila dari cermin.


"Kau sudah cantik, tidak usah banyak make up nanti terlihat tua!" ucap Arumi malas.


Rania dan Dila saling menatap.


"Ahh...ya sudah tidak mau membantu ya sudah!" ucap Dila kesal.


Rania menyentuh bahu Dila agar tak memulai pertengkaran. Arumi kembali duduk, dia tak peduli jika Dila kesal.


"Kalian sudah siap?" tanya Vero dari luar.

__ADS_1


"Ya..sebentar lagi kak!" jawab Rania.


Rania memandang Dila dan Arumi bergantian. Mereka berdua sedang memikirkan dua pria yang sama, Yudi dan Vero.


"Hari ini, di wisuda saja. Paling cuma tiga sampai empat jam, kesampingkan amarah kalian berdua. Bisa kan?" ucap Rania menatap mereka bergantian.


Tak ada jawaban, Arumi malah menundukkan pandangannya. Dila malah berpaling ke arah lain.


"Padahal aku ke sini buat jalan-jalan dan bersenang-senang. Apa kalian tidak bisa mewujudkan itu?" ucap Rania lagi.


Dila menatap Rania kembali, dia memeluknya. Arumi melihat Dila memeluknya, dia juga ikut memeluk. Meski tanpa kata, mereka sudah berbaikan dengan sendirinya. Dila sedikit mengelak untuk menggoda Arumi. Kemudian Arumi memukul pelan bahu Dila. Rania pun jadi memukul pelan mereka berdua. Akhirnya mereka tertawa karena tingkah masing-masing.


Vero mendengar suara tawa mereka bertiga. Dia tersenyum dan lega, dia bisa kembali bersikap biasa.


Rania, Dila dan Arumi keluar dengan senyuman manis tersungging pada Vero.


"Ayo!" seru mereka bersamaan.


"Ayo!" jawab Vero yang membuat lubang dengan kedua lengannya untuk mereka kaitkan.


Dila mengaitkan lengannya begitu juga Arumi. Rania menatap mereka dari belakang dan berseru.


"Ayo kita ke acara wisudanya Dila!"


Merekapun pergi. Sebelumnya Rania sudah meminta Yudi datang untuk bicara dengannya. Dan merekapun bertemu di sudut kampus, tempat yang cukup tenang untuk bicara.


Yudi yang sudah menunggu, melambai pada Rania yang baru datang dan beralasan ke toilet. Yudi memintanya duduk di sampingnya, tapi Rania menolak.


"Aku tidak bisa lama, aku hanya ingin mengatakan bahwa restoran Arumi sedang membutuhkan bantuan mu, mereka tak mengatakannya karena sudah tahu kamu mendapat tawaran ke Italia. Beberapa karyawan mengundurkan diri karena satu dua alasan. Ku rasa, Arumi sangat membutuhkan keluarganya untuk mendukungnya. Aku tidak bisa membantu karena kedai ibuku sedang cukup ramai dan cukup sibuk. Akan lebih baik jika kamu mengembangkan kemampuan mu di Jakarta sekaligus menemani Arumi. Tapi itu hanya saran. Kau punya hak untuk menggapai mimpi mu. Tapi Yud, bukankan kita semua sejatinya harus kembali ke keluarga kita?" jelas Rania.


Yudi menatapnya saat mendengar kalimat terakhir. Dia berpikir dan mengingat betapa Arumi sangat manja dan ceroboh tanpanya.


"Soal Dila, biarkan takdir yang bekerja" ucap Rania sambil mengedipkan satu matanya.


Yudi tersenyum melihat tingkah Rania yang juga menertawakan dirinya sendiri.


"Akan ku pikirkan, terimakasih. Terutama, kau selalu percaya bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang baik" ucap Yudi.


"Ok, tidak masalah. Kau bisa berterimakasih dengan membuatkan ku makanan yang enak lain kali" jawab Rania sambil tertawa.


Rania kembali ke kerumunan dan bergabung dengan Dila juga Arumi. Sementara Vero sibuk dengan kamera barunya yang dia siapkan untuk foto-foto Dila wisuda.

__ADS_1


__ADS_2