Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
20


__ADS_3

Vero sedang terdiam menatap Dila dari jendela ruangannya. Pikirannya melayang pada masa lalu saat dia bertemu pertama kali dengan Rania.


~Gadis itu, semangatnya dama seperti Rania. Tapi dari penampilan dan cara bicaranya sangat berbeda. Dia sangat percaya diri dan riang~ ucap hati Vero.


Arumi datang mengetuk pintu ruangannya, Vero menyuruhnya masuk.


"Pak, tamu yang tadi menawarkan jasa untuk menjadi manager pemasaran. Dia mengatakan bisa membuat restoran ini ramai pengunjung" ucap Arumi.


Vero masih melihat Dila, dia berpikir.


"Bagaimana menurut kamu?" Vero malah bertanya pada Arumi.


Arumi membulatkan matanya dan berkedip beberapa kali.


"Menurut saya, kita bisa menggunakan keahlian bersosial medianya untuk memperoleh peningkatan pendapatan Pak, meskipun baru sebulan anda membuka restoran ini, tapi saya rasa, ngga salah mencoba pemasaran yang berbeda" jelas Arumi.


Vero menatap Arumi yang pandai bicara.


"Ok, panggil Fajri kesini!" pinta Vero.


Arumi tersenyum dan mengangguk lalu pergi memanggil Fajri. Tak lama kemudian Fajri datang dan mereka pun bicara.


Dila selesai dengan makannya, dia meminum teh hijaunya dan menatap ke arah jalanan dari jendela kaca. Sesekali dia menghela, kebingungan akan harus pergi ke mana setelah ini.


~Apa aku harus nyari tempat kost? Tapi dimana? aku ngga pernah kost-kost kayak gitu. Aduh....jadi nyesel putus dari Beni~ keluhnya dengan memanjangkan bibirnya.


Tiba-tiba Fajri datang dan menyapa Dila.


"Nona....!" sapa Fajri.


"Dila!" ucap Dila yang langsung menoleh sambil tersenyum semangat.


"Ouh ya, Nona Dila, Pak Vero pemilik resto ini ingin bertemu anda! Silahkan ikut saya!" ucap Fajri dengan sopan.


Dila tersenyum dan merasa bahwa perkataannya pada wanita tadi berhasil.


"Aku letakkan uangnya di sini saja ya?" ucap Dila sambil menyelipkan uang untuk Carbonara dan teh hijaunya di bawah piring.


"Baiklah!" jawab Fajri sambil tersenyum.


Dila berdiri merapikan rambut dan pakaiannya sambil berjalan mengikuti Fajri.


"Oh ya, siapa nama kamu?" tanya Dila.


"Fajri, Fajri Rahardi" jawab Fajri.


"Aku Dila Arayani Subagja, panggil saja Dila!" ucap Dila memperkenalkan diri dengan menawarkan jabat tangannya.


Fajri menyambut tangan Dila dan melanjutkan jalannya. Dia mengetuk pintu, Vero yang sedari tadi memperhatikan dari balik jendela berjalan menuju kursi dan menyuruh mereka masuk.


"Pak!" ucap Fajri sambil memberi kode bahwa tamu yang dia minta untuk bertemu dengannya sudah dia bawa.

__ADS_1


"Ok, silahkan duduk. Kau juga Fajri!" pinta Vero.


"Hai! Dila Aryani Subagja, usiaku baru 19 tahun tapi aku sangat kompeten di bidang pemasaran melalui sosial media" ucap Dila memuji dirinya sendiri.


"Oh ya? Aku Vero Wardana pemikik restoran ini. Kamu masih kuliah?" tanya Vero.


"Aku lulus SMA sebelum usia 17 tahun karena loncat kelas saat SMP Pak! Jadi sebenarnya sudah dua tahun kuliah di universitas Internasional. Tapi karena keserakahan ku yang ingin kuliah di Cambrige aku mengundurkan diri. Sayangnya aku tidak lulus dan kembali kemari" ucap Dila tanpa henti.


Vero dan Fajri saling menatap. Vero berpikir bahwa Dila memang cocok untuk posisi manager pemasaran. Cara bicaranya yang bersemangat membuat orang yang mendengarnya memperhatikan dan menyimaknya.


Vero tersenyum dan menunduk sambil memainkan kedua tangannya.


"Baiklah, kau bisa mencobanya selama sebulan ini. Tapi jika tidak ada perubahan dalam satu bulan kau bisa mengundurkan diri kan?" ucap Vero menerima dengan sebuah perjanjian.


"Ouh jangankan sebulan, dalam seminggu aku akan membuat perubahan besar" ucap Dila dengan percaya diri.


"Ok, aku hargai rasa percaya dirimu. Kau bisa mulai dari besok. Aku akan mengizinkan kau menggunakan laptop kantor untuk membuat akun sosial resmi restoran" jelas Vero.


Fajri tersenyum dan mendengarkan dengan seksama.


"Tapi...ada satu syarat!" ucap Dila.


Vero dan Fajri menatapnya.


"Syarat?" tanya Vero heran.


"Hehe...hari ini aku benar-benar baru datang dari Amerika, aku belum mendapatkan tempat tinggal, bolehkan aku menginap di sini malam ini?" pinta Dila.


"Kedua orang tuaku meninggal lima tahun yang lalu, karena satu dua hal, aku kehilangan rumah dan simpanan orang tuaku. Bolehkan?" ucap Dila sambil membulatkan matanya memohon.


Vero tersenyum, Fajri malah menatap Dila dengan curiga.


"Aku harus bicara dengan manager ku sebentar, bisakah kau keluar dulu?" pinta Vero.


"Ok, aku tunggu di luar" jawab Dila.


Dia mengerti bahwa permintaannya sedikit aneh dan memberikan mereka kesempatan untuk berdiskusi.


"Maaf pak, tapi saya jadi curiga pak. Jangan-jangan dia hanya ingin mencuri atau mencurangi kita. Jangan-jangan dia dikirim restoran lain untuk mencari tahu detil restoran kita!" ucap Fajri curiga.


"Ya, bisa jadi. Tapi...CCTV di restoran ini cukup banyak untuk mengetahui dan jadi bukti jika dia punya niat jahat" ucap Vero.


"Jadi Bapak akan memberikan kesempatan?" tanya Fajri tak yakin.


"Hanya semalam, besok minta dia mencari tempat tinggal sebelum restoran buka" ucap Vero.


"Baik pak!" ucap Fajri tak bisa menolak lagi karena Vero sudah yakin.


Fajri keluar dan menghampiri Dila yang hendak masuk ke dapur.


"Hei...kamu belum boleh masuk ke sana! Sini, pak Vero udah ngasih keputusan" tegur Fajri.

__ADS_1


Dila berbalik dan ikut pada Fajri.


"Kau sudah diterima jadi pegawai bagian pemasaran. Usahakan dulu untuk mencari tempat tinggal hari ini, aku doakan kau berhasil mendapat tempat tinggal. Tapi jika memang sulit, kau baru boleh datang ke restoran pukul 10 malam atau lebih. Agar pegawai lain nantinya tak ikut-ikutan minta tinggal sementara di sini. Mengerti?" ucap Fajri dengan tegas.


Dila tersenyum.


"Baiklah! Terimakasih!" ucap Dila.


Dila pergi dan berusaha mencari melalui ponsel pintarnya.


###


Sementara itu, Rania selesai mengurus Beni dan makan malam. Dia sudah memastikan Beni nyaman tidur di kamarnya. Dia masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan.


Dengan menggenggam tangannya sendiri dia mulai terduduk di dekat pintu. Menangis tanpa suara meratapi kesedihannya hari ini.


Dia mengingat saat Beni menyeretnya keluar dari mobil dan melempar tubuhnya ke mobil. Beberapa kali memejamkan matanya merasakan sakit di punggungnya.


Perlahan dia berhenti menangis, kemudian berusaha berdiri dan masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan diri sambil menangis ingin segera pulang ke rumahnya.


Bondan mencari Rania, hendak memanggilnya karena ibunya ingin bertemu Dila di ruang kerja. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk. Namun saat dia masuk, dia tak melihat Rania. Dia berbalik untuk kembali keluar.


Tapi Rania keluar dengan handuk menutupi matanya, dia langsung mengambil pakaian dalam dan pakaian yang akan dia kenakan.


Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Bondan berbalik dan menatapnya. Dia tecengang melihat memar di punggung Rania. Dia mengerutkan dahinya dan berpikir dengan banyak pertanyaan muncul.


~Apa yang terjadi? Kenapa punggungnya biru-biru begitu?~ tanya hati Bondan.


Dia juga melihat ke arah lengan juga bahu, ada sedikit memar yang letaknya sembarang. Bondan semakin penasaran dengan apa yang dia alami selama satu bulan ini.


Saat Rania berbalik, dia menatap Bondan yang sedang memperhatikannya. Rania terkejut dan buru-buru mencari handuk yang dia pakai untuk mengeringkan rambutnya tadi, untuk menutupi dadanya.


Tapi Bondan hanya diam dan berbalik ke arah pintu dan berjalan keluar tanpa berkata apapun. Rania bengong melihatnya juga merasa aneh dengan perilaku Bondan.


Bondan berjalan menuju kamar Dina dan membuka pintu kamar setelah mengetuk beberapa kali.


Dina yang sedang merapikan lemarinya langsung menatapnya. Dengan mengangkat kedua alisnya dia bertanya apa yang diinginkan Bondan.


"Beritahu Dila, momi mau dia ke ruang kerjanya sekarang!" ucap Bondan dengan raut wajah yang masih memikirkan yang dia lihat.


"Kenapa jauh-jauh ke atas menyuruhku, bukan kah kamarnya dekat dengan kamar Dila?" ucap Dina yang tak dihiraukan oleh Bondan yang segera pergi begitu saja.


Dina berhenti merapikan pakaiannya dan bergegas ke kamar Dila.


"Dil, boleh aku masuk?" tanya Dina.


"Ya masuklah!" jawab Rania.


Dina masuk dan mengatakan pesan Bondan. Rania diam dan mendengarkan, akhirnya pertanyaannya tentang perilaku Bondan terjawab saat Dina menyampaikan pesannya. Dia menghela nafas karena berpikir bahwa Bondan pasti melihat memar di tubuhnya.


"Ok, makasih ya Din!" ucap Rania.

__ADS_1


Dina tersenyum dan kembali ke kamarnya. Rania keluar dari kamar dan pergi menuju ruang kerja Bu Anita.


__ADS_2