
Rania kembali ke catering, dia melihat ibunya duduk melamun di mejanya. Rania memeluknya dari belakang. Hal itu membuat Vera terkejut karena Rania tak memberi salam saat masuk.
"Ibu kenapa?" bisik Rania.
"Noh, itu yang bikin ibu ngelamun" tunjuk Vera dengan bibirnya.
Rania menatap ke arah yang ibunya tunjuk. Dia melihat Saga membantu mengiris bawang dan bahan masakan lainnya. Dia membuat Bu Yuni kepala dapur memasang kedua tangannya di pinggang dengan kesal.
Rania menghela tapi dia juga tersenyum melihat tingkah Saga juga Bu Yuni yang marah.
"Hei, kamu ini nggak ada kerjaan ya? Kenapa ke sini setiap hari?" ketus Bu Yuni.
"Iya, aku lagi nggak ada kerjaan. Nggak ada kasus" jawab Saga sambil menangis.
"Hai Saga, udah makan?" sapa Rania.
Saga langsung berdiri saat mendengar dan menoleh ke arah suara Rania. Dia melepas apronnya dan menyerahkannya pada Yuni. Bu Yuni menghela dan melempar apronnya. Dia sudah sangat kesal karena Saga selalu datang membantu tanpa diminta. Hal itu membuat pegawai lain jadi malas dan banyak istirahat.
"Belum, makan yuk!" ajak Saga.
"Aku udah makan tadi sama Dila" jawab Rania.
"Dila udah pulang?" tanya Saga.
"Udah!" angguk Rania.
Mereka keluar dan Rania menyiapkan makanan untuk Saga di ruangan depan warung nasi Vera. Rania menaruh piring berisi nasi dan lauk pauknya di hadapan Saga. Dia juga meminta Ayu mengambil teh dingin untuknya.
Nurdin menatap Rania yang begitu baik selalu menyiapkan makanan untuk Saga. Dia juga melihat Saga yang sudah dua tahu ini mondar mandir datang kemari.
"Hei Pak Saga, apa di kantor sedang tidak ada kasus?" seru Nurdin menyindirnya.Pertanyaan suami istri itu sama saja
Rania menepuk lengan Nurdin pelan agar tak mengganggu Saga. Dia melihatnya, Saga menelan makanannya dan hendak menjawab. Tapi Rania mengalihkan pembicaraan.
"Acara pernikahan Kak Vero, Arumi mengeluh saat Kakak minta menunya adalah masakan Eropa. Dia bilang dia tak mau bekerja saat dia sedang menikah" ucap Rania sambil tertawa.
Vera yang baru keluar, langsung duduk di dekat Rania dan ikut bicara.
"Siapa yang mau bekerja di hari pernikahannya?" Vera setuju dengan Arumi.
"Yang salah kakak ku, dia meminta Arumi yang melakukan semuanya. Jelas dia marah" Rania tertawa lagi.
__ADS_1
Saga melihat ada yang lain dari cara Rania tertawa. Dia tahu Rania mengalihkan pembicaraan karena Nurdin mengatakan hal yang menyinggungnya. Tapi dia merasakan hal berbeda darinya. Suaranya berbeda, terdengar sangat bahagia. Nurdin juga merasakannya, dia mengomentari.
"Kamu kelihatan seneng banget hari ini, ada yang spesial?" tanya Nurdin.
Rania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mengingat wajah Bondan yang tersenyum menatapnya.
"Seneng aja, Be. Sekarang Dila udah pulang, bentar lagi Kakak nikah. Apalagi coba?" jawab Rania.
Rania memeluk ibunya dari samping. Vera mengelus wajahnya dan tersenyum.
"Ya, nanti tinggal kamu nikah sama takdirnya kamu" ucap Vera berharap dengan membelai rambut Rania yang panjang.
Rania tersenyum dan memeluk ibunya, seolah paham bahwa Rania sedang berharap pertemuannya dengan Bondan hari ini adalah takdir yang sebenarnya.
Saga terdiam saat mendengar kata 'takdir' yang bu Vera katakan. Dia pernah mendengarnya dari Aditya saat dia begitu kesalnya pada Rania.
Saga pamit setelah selesai makan, dia diantar Rania hingga masuk mobilnya.
"Terima kasih"
"Sama-sama"
Ucapan yang lumrah di dengar dari orang, entah karena telah mendapatkan pemberian atau karena hal lain. Dua tahun Saga mencoba terus menerus menerobos hati Rania dengan selalu datang ke kedainya. Tapi ucapan itu masih saja terdengar tertuju pada teman baik saja. Saga sadar, hati Rania bukan untuknya.
Rania menoleh dan mengangkat kedua alisnya.
"Aku lupa memberitahu mu. Aku dimutasi ke Sambas, Kalimantan. Jadi hari ini hari terakhir kamu nyiapin makanan buat aku. Makasih ya, aku harap kamu bisa ketemu sama takdir kamu. Bye!"
Rania diam termangu mendengar perkataannya. Saga pergi setelah mengatakan semuanya tanpa mendengar ucapan apapun darinya. Nurdin yang mendengar ucapan perpisahannya, mendekat dan berdiri dekat Rania.
"Akhirnya, dia sadar diri juga kalau kamu hanya menganggapnya petugas berwajib biasa" ucap Nurdin.
Rania menatap Nurdin kemudian beralih ke mobil Saga yang mulai menjauh.
"Huuhhfff, dia pasti sangat kecewa" keluh Rania.
"Ahhh, nggak usah di pikirin. Itu namanya bukan jodoh. Syukur dia nggak ngeyel. Ayo masuk!" ajak Nurdin.
###
Clara menaruh tasnya di meja kantor Bondan. Dia duduk di kursi Bondan dengan nyaman.
__ADS_1
"Huuhff, aku sangat lelah. Aku akan istirahat sejenak. Setelah itu kita datangi catering yang pegawainya bilang kita tak akan kecewa. Dia percaya diri sekali!" ucap Clara pada Bondan yang berdiri menatapnya kesal.
Tapi langsung tersenyum saat mendengar akan pergi ke kedainya Rania.
"Ok, aku akan menunggu di ruangan Vero" ucap Bondan kemudian pergi.
Clara memperhatikan wajah Bondan saat mendengar akan pergi ke catering itu. Dia ingat saat Bondan menatap Rania dengan senyum manisnya.
"Aku nggak pernah lihat dia sesenang itu sejak pertama bertemu dengannya" gumam Clara.
Bondan masuk ke ruangan Vero dengan menghela dengan keras.
"Kenapa? Dia bikin kamu pusing ya?" tanya Vero sambil bekerja di depan laptopnya.
"Asli, dia benar-benar merepotkan. Aku jadi menyesal karena menyetujui permintaannya untuk menemaninya hingga pabrik benar-benar berjalan dengan baik. Bayangkan, ini sudah setahun dan aku mulai kesal menemaninya" keluh Bondan sambil tiduran di sofa.
"Sabar, visanya habis sebulan lagi. Mau tidak mau dia harus pulang ke Singapura karena terlalu lama tingal di sini" jawab Vero datar.
Vero meliriknya, Bondan tersenyum-senyum sendiri menatap ponselnya. Vero menatap dengan menyempitkan matanya agar gambar di ponsel Bondan bisa terlihat.
~Rania?~ ucap hati Vero.
"Segitu senengnya kamu ketemu Rania di restoran" ucap Vero.
"Kata siapa di restoran?" ucap Bondan sambil duduk dan memajukan mulutnya.
"Kalian pernah bertemu sebelumnya? Jadi tadi yang kedua kalinya?" tanya Vero terkejut.
"Hmmm! Excactly!" jawab Bondan dengan wajah senangnya.
Vero mengerutkan dahinya melihat raut wajah Bondan yang sangat senang.
"Aku berpapasan dengannya di tempat pertama kali kami bertemu, sebelum aku gila dan memintanya menjadi Dila untuk Beni"
Wajah Bondan berubah murung membicarakan masa lalu. Kemudian dia kembali tersenyum pada Vero.
"Bukankah itu takdir? Aku bahkan mendapatkan kartu namanya. Dan itu bukan dari mu atau aku sengaja memintanya. Aku mendapatkannya dari Clara yang membutuhkan catering untuk pabrik. Itu benar-benar takdir" ucap Bondan dengan mengangkat kedua alisnya berkali-kali.
Vero tersenyum menertawakan tingkahnya yang seperti anak remaja yang jatuh cinta. Bondan menatap foto Rania lagi. Dia benar-benar senang.
"Akhirnya, setelah dua tahun mencoba tak melihat mu. Kamu benar, takdir yang akan menuntun ku padamu" gumam Bondan.
__ADS_1
Vero menatap wajah Bondan, ikut bahagia. Dia merasa tak salah menyetujui Bondan untuk Rania.