
Bondan tak pergi ke kantor, dia mengurung diri di kamar. Rania menunggunya di meja makan, Hedi menatapnya dari dapur. Diam-diam dia mengirim pesan pada seseorang untuk memberi kabar tentang suasana di rumah.
Bondan keluar dari kamar dan menemui Hedi, dia terkejut dan memasukkan ponselnya ke laci.
"Momy ngga pulang dari kemarin?" tanya Bondan.
Dia sama sekali tak menghiraukan Rania yang sedang menunggunya untuk makan siang.
Hedi menggelengkan kepala.
"Tidak Den!" jawabnya panik.
Rania kesal melihat sikap Bondan, dia pergi ke kamarnya. Bondan melihatnya dan membiarkannya.
"Dia disini sejak tadi?" tanya Bondan.
"Iya Den, dia ngga sarapan karena Aden ngga turun, jadi dia nunggu Aden buat makan siang " jelas Hedi.
Bondan diam berpikir terlalu kasar padanya.
~Tapi apa yang dia lakukan jauh lebih menyakitkan dari perlakuanku padanya~ ucap hati Bondan.
Tak berapa lama, Anita datang. Bondan menatapnya berjalan dan menyapa dengan terburu-buru.
"Mom!" seru Bondan mendekat dan menarik lengannya.
"Apa?" mata Anita membulat seolah kesal dipanggil.
"Momy darimana, kok baru pulang?" tanya Bondan.
Anita menghela.
"Momy bilang kan, kalau momy lagi buka bisnis baru jadi momy sibuk" jawab Anita.
Bondan melepas tangan Anita yang sikapnya sangat berbeda, terlihat kesal dan tak manis seperti biasanya. Anita yang awalnya akan pergi ke kamarnya berhenti melangkah dan berbalik.
"Kenapa ngga bilang kalau besok ada rapat pemegang saham? Rapatnya juga dadakan begini" tanya Anita.
"Aku juga baru diberitahu Siena tadi pagi" jawab Bondan.
"Terus kamu kenapa ngga ke kantor?" tanya Anita yang merubah nada suaranya seperti biasa.
"Lagi ngga mood, mungkin sore aku kesana buat mastiin semua berjalan lancar" jawab Bondan sedikit senang dengan suara ibunya yang kembali seperti biasanya.
"Ok. Momy mau istirahat dulu, nanti momy ikut kamu ke kantor" ucap Anita.
"Ok Mom!" jawab Bondan sambil tersenyum.
~ Setidaknya aku masih punya Momy yang menyayangi ku~ ucap hati Bondan.
Bondan diam menatap Hedi yang juga menatapnya dengan bingung. Dia berpikir lagi tentang pertengkarannya dengan Rania. Bondan kembali ke kamarnya. Dia berjalan perlahan saat hendak melewati kamar Rania.
Tiba di depan pintunya, Bondan berhenti dan tangannya menggapai gagang pintu.
__ADS_1
~Apa salahnya jika adalah putri keluarga Subagja?, itu adalah alasan ayah menjodohkan aku dengannya. Ayah tahu yang terbaik untukku. Aku tidak bisa memaafkannya karena dia mengatakan akan pergi menemui ibunya, tapi ternyata tak pernah~ Bondan berkompromi dengan hatinya.
Dia hendak membuka dan mengajak Rania untuk makan, namun Rania tiba-tiba keluar dan seperti hendak pergi. Rania terkejut melihat Bondan ada di depan pintu kamarnya.
"Mau kemana?" tanya Bondan.
"Rumah sakit!" jawab Rania pelan.
"Ada apa dengan Nuri? Bukankah banyak orang bersamanya sekarang?" ucap Bondan.
"Dia...mencoba lompat dari atap rumah sakit" ucap Rania perlahan.
Mata Bondan membulat, terkejut dengan perkataan Rania.
"Aku harus pergi!" Rania hendak menerobos jalan yang dihalangi tubuh Bondan.
"Aku antar!" ucap Bondan yang memegang lengan Rania mencegahnya pergi sendiri.
Rania menatap Bondan.
"Aku bisa naik taksi sendiri" ucap Rania.
Bondan melepas tangannya, Rania merasakan tangannya terlepas dan merasakan bahwa Bondan akan membiarkannya pergi. Dia pergi meninggalkan Bondan yang masih menatapnya pergi.
Bondan memejamkan matanya sejenak merasa kesal dengan sikap Rania yang justru lebih marah padanya.
~Bukannya berusaha untuk meminta maaf lagi, dia malah berbalik marah~ ucap hati Bondan.
Dia pergi ke kamarnya dan berbaring, dia menutup wajahnya dengan bantal.
"Kau dimana?" tanya Vero
"Aku baru keluar, lagi nunggu taksi" jawab Rania.
"Bondan ngga nganter?" tanya Vero lagi.
Rania menatap aspal di kakinya.
"Ngga. Ceritain kenapa dia jadi pengen bunuh diri?" pinta Rania.
"Suster Nina bilang ada yang jenguk, perempuan pake masker, katanya deket banget sama Nuri. Dia ngasih waktu dan ninggalin mereka. Terus pas dia balik, Nuri ngga ada di kamar dan suara ribut di luar bikin dia nyari Nuri ke atap. Untungnya Fajri lagi ada di sana, dia bujuk Nuri buat turun dan nangis ngga ngomong apapun" jelas Vero.
Rania sudah naik taksi dan menatap ke arah jalan mendengarkan Vero bicara.
"Oke aku udah jalan, bentar lagi nyampe" ucap Rania.
~Wanita?~ ucap hati Rania.
Dia teringat dengan Anita yang tak pulang sejak kemarin. Dia juga baru datang, Bondan menyapanya, dia terlihat kesal dan tak mau ditanya sedikitpun. Rania berpikir keras.
~Apa itu Anita?~ tanya hatinya.
Sementara itu Bondan menatap wajah Rania dalam ponselnya. Semua kenangan bersama Rania seolah menjadi hal yang paling dia rindukan. Saat pertama bertemu, hingga kemarin saat dia begitu bersemangat untuk mengatakan lamarannya di depan Bu Vera.
__ADS_1
~Apa ini Rania? Kenapa aku bisa begitu kecewa dengan semua yang kamu sembunyikan? Aku sangat tahu, setiap luka pasti tak pernah terucap, setiap kesedihan tak pernah kamu bicarakan. Tapi meskipun aku tahu semua itu, aku merasa kali ini seolah akan ada sesuatu yang membuat sebuah batasan diantara kita~
###
Di rumah sakit, Rania membuka pintu ruang Nuri dan menatapnya. Rania langsung memeluknya, Nuri pun menangis di pelukannya. Semua orang menunggu di luar.
"Rania...dia...dia...datang!" ucap Nuri ketakutan.
Rania terheran dan melepas pelukannya.
"Siapa?" tanya Rania khawatir.
"Wanita yang bicara dengan Ryan di telponnya" jawab Nuri menangis.
"Apa yang dia lakukan sama kamu?" tanya Rania.
"Dia bilang aku ngga pantes hidup, aku udah mengkhianati cinta Ryan. Aku....." Nuri berhenti bicara dan menatap Rania.
"Apa? Apalagi yang dia bilang?" tanya Rania.
"Aku beban bagimu....!" tangis Nuri pecah lagi.
Rania memeluknya.
"Tidak...dia salah. Jangan dengarkan dia. Kau adalah sahabatku. Aku takkan pernah meninggalkanmu" ucap Rania sambil memeluknya.
Rania mengingat semua kenangan persahabatan mereka. Semenjak SMA, tak ada satu momen pun yang terlewat tanpa kehadiran Nuri.
~Baru kali ini aku menyesali sebuah keputusan yang aku ambil dari hidupku, aku menyesal menerima dengan terpaksa untuk menjadi Dila~ ucap hati Rania.
Vero masuk dengan membuka perlahan pintunya. Disusul Fajri yang juga khawatir dengan keadaan Nuri.
"Kita bawa dia ke rumahku?" tanya Vero memberikan ide.
"Kau mau?" tanya Rania pada Nuri.
"Ke rumahku saja, aku rasa orang-orang yang berhubungan dengan ini tidak begitu mengenalku" ucap Fajri.
Rania menatap Vero dengan mengangkat kedua alisnya.
Nuri masih menangis dan hanya menunduk mendengarkan mereka bicara.
"Aku mau bicara sama kamu sebentar" ajak Rania pada Fajri.
Fajri ikut dan berdiri dengan tegap memandang Rania untuk mendengarkannya.
"Nuri, dia orang yang sangat sensitif. Dengan keadaannya sekarang, dia sangat tidak percaya dengan penampilannya. Sementara aku belum bisa membawanya ke Korea untuk surgery, ada satu dua hal yang menyebabkan semuanya dipending" ucap Rania.
Fajri mengangkat kedua alisnya bertanya apa lagi.
"Maksudku, jadilah temannya terlebih dahulu. Jika kamu memaksakan perasaan mu padanya sekarang, dia hanya akan menolak mu. Aku hanya berpikir, suatu saat dia akan mengerti arti perhatian mu bukan main-main padanya, sehingga membuat hatinya luluh" jelas Rania.
"Rania, jika kamu izinkan dia untuk tinggal bersamaku aku akan menjaga dia dan perasaannya dengan sangat baik. Aku takkan mengecewakan mu" janji Fajri.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Rania.
"Dia tahu aku bekerja kembali di My Spaghetti, dia hanya akan tinggal di rumah saja" jawab Fajri percaya diri.