Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
53


__ADS_3

Vero sedang memperhatikan para pekerja yang mengerjakan perbaikan restorannya. Fajri, Yudi, Arumi dan Dila juga di sana membantu. Vero masih berpikir tentang Rania yang masih belum bicara dengannya setelah kejadian di bioskop. Vero juga melihat wajah Dila yang sedari datang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Vero berjalan mendekat pada Dila, kemudian dia membantu pekerjaan Dila sambil bicara pelan dengannya.


"Ada apa? kamu terlihat kurang semangat hari ini"


Dila berhenti dan menatap Vero dengan penuh tanya di pikirannya. Vero menatapnya, dia tersenyum untuk membuat adiknya merasa nyaman untuk bicara dengannya. Namun Dila malah diam dan pergi dengan wajah kesal.


Vero menyusulnya, Dila pergi ke bagian belakang gedung. Vero menarik tangan Dila, dia takut terjadi sesuatu padanya yang disebabkan Yudi.


"Ada apa?" tanya Vero sekali lagi.


Dila menepis tangan Vero dengan tangannya.


"Kamu udah tahu kalo Rania menyamar jadi aku di rumah keluarga Atmajaya!" ucap Dila pelan namun tegas.


Vero menganga mendengar ucapan Dila.


"Darimana kamu tahu? Arumi?" tanya Vero.


"Huhff...Arumi itu terlalu polos dengan situasi rumit kayak gini. Entah polos atau bodoh!" ucap Dila kesal.


Vero memejamkan matanya hendak menjelaskannya pada Dila. Namun kembali Dila bicara.


"Kamu ke Ausi buat lihat dia kan? Cewek yang kamu puji-puji dengan sifat dan tangguhnya, sekarang apa yang kamu mau puji kan dari dia yang tukang nipu?" ucap Dila.


"Berhenti bicara buruk tentang orang lain!"


"Oouuhhhh....dia masih jadi idola? Ayolah...dia itu nipu orang. Alasan apapun dia tetap nipu orang. Dia jadi aku supaya bisa menikmati kenyamanan hidup di rumah Ruby. Jadi Dila Aryani Subagja. Lihat saja aku akan menuntutnya" Dila semakin kesal.


"Cukup Dil, Rania ngga kayak gitu!" ucap Vero pelan.


Dila menertawakan pembelaan Vero untuk Rania.


"Aku mohon sama kamu untuk ngga ngelakuin apapun. Setidaknya sampai aku bener-bener bisa fixed semua"


"Apa yang harus diperbaiki? Di sini yang jadi masalah itu si Rania brengsek nyamar jadi aku. Dia yang harus berhenti atau aku bongkar semua dan buat dia malu di depan semua orang!" Dila mulai berteriak.


Vero mendekat dan menutup mulutnya agar yang lain tidak mendengarnya. Dila memberontak dan hendak bicara lagi. Namun Vero langsung menariknya pergi keluar dan menjauh lingkungan gedung itu. Dila tetap berusaha melepaskan tangannya dari Vero. Tanpa melihat, Vero terus berjalan, langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang ada di hadapannya.


"Rania!" gumam Vero sambil melepas tangan Dila.

__ADS_1


Dila ikut terdiam, dia bergeser ke sisi Vero untuk melihat orang yang menghalangi langkah Vero. Mata Dila membelalak, dia tak bisa menahan dan langsung mendekati Rania kemudian menamparnya dengan keras.


Tamparan itu bergema di lorong gedung, sejenak mereka bertiga terdiam. Vero menatap wajah Rania yang bertahan dari tamparan adik kembarnya. Air mata jatuh di ujung mata salah satu matanya. Sementara Dila merasa lega telah melakukan apa yang sangat dia inginkan.


"Apa yang kamu lakuin?" ucap Vero setelah dia sadar dari diamnya.


"Sesuatu yang aku mau lakuin sejak aku selalu dibandingkan sama dia. Dan ternyata dia ngga lebih dari seorang PENIPU!"


Dila menunjuk wajah Rania dengan penuh amarah.


Rania masih diam dan menerima semua ucapan Dila. Tangannya gemetar, wajah nya memerah namun dia berusaha tetap diam.


Vero mendekat pada Rania dan memeriksa pipinya.


"Pipi kamu merah Ran!" ucap Vero dengan lembut menyentuhnya.


Dila merasa heran dengan sikap Vero.


"Pak! Anda sudah punya pacar kan, lalu kenapa anda begitu memperlakukan dia dengan sangat baik dan manis? Dia cuma penipu yang akan mengeruk semua harta keluarga Atmajaya!" ucap Dila masih dengan kesalnya.


Vero memejamkan mata dengan menahan amarahnya, dia tak mau menyalak pada adiknya. Namun meski begitu, Dila terus bicara dan mengutuk Rania.


Dila masih bicara.


"AKU BILANG CUKUP!" kali ini suara Vero membuat Dila diam.


Rania memegang tangan Vero untuk bisa lebih merendahkan nada suaranya. Dengan perlahan Vero melepas tangan Rania dan mendekat pada Dila. Vero memeluk Dila kemudian berbisik.


"Kita bertiga adalah keluarga, putra dan putri kembar keluarga Subagja" bisik nya.


Dila mendorong Vero dengan keras dan mundur darinya. Matanya masih dan semakin menatap marah pada Vero.


"Kalian mencoba menipu ku? Bersaudara? Kalian gila" ucap Dila tak percaya.


Dia berpikir, Vero dan Rania bersekongkol untuk menipunya.


"Ngga Dila, aku ngga bohong. Aku abang kamu yang selalu kamu ajak main tapi aku mengabaikan kamu" ucap Vero.


Memori tentang Vero tiba-tiba muncul. Dila mengingat saat dia mengajak Vero untuk bermain, namun Vero malah menepis tangannya. Mereka terdiam, kemudian Dila bicara.


"Aku anak satu-satunya keluarga Subagja. Aku tidak punya kakak laki-laki yang menolakku"

__ADS_1


Ucapan Dila membuat Vero merasa bersalah karena sudah mengabaikannya sejak kecil.


"Hanya aku yang diasuh oleh Anita Atmajaya setelah ayah dan ibu mati" lanjut Dila.


Rania menatapnya dengan sangat kasihan dan sedih.


"Hanya aku...hanya aku....yang merasakan semuanya sendiri. Sendiri..."


Vero dan Rania menunduk merasa semua nya telah berlalu begitu rumit dan membuat sebuah luka dalam di hati mereka.


Dila mengucapkan semuanya dengan berderai air mata. Dia terkejut dengan semua perkataan Vero, kamudian hatinya mengakui mereka, namun menolak seketika saat dia mengingat semua kekangan Anita padanya.


Rania menangis melihat Dila menangis, dia sangat paham dengan perasaan Dila yang juga dia rasakan sekarang. Vero kembali mendekat dan memeluk Dila, namun Dila tetap menolak. Kemudian Rania mendekat dan memeluk Dila.


Kali ini Dila diam dalam pelukan Rania, dia menangis tersedu di dada kembarannya. Vero memeluk mereka berdua.


Sementara itu di dalam restoran, Yudi mencari Dila. Dia mencari ke dapur. Arumi masuk dari pintu belakang, membuat Yudi menatapnya dan bertanya.


"Darimana? kenapa masuk dari sana?"


Arumi membulatkan matanya.


"Aku....tadi ngecek sampah, taunya ngga ada" jawab Arumi sambil tersenyum.


"Lihat Dila ngga?" tanya Yudi lagi.


Arumi terdiam sebentar dan berpikir apa yang harus dia katakan. Dia melihat semuanya namun tak mungkin mengatakan bahwa Dila dan Vero juga Rania sedang ada di belakang gedung.


"Ngga!" jawab Arumi.


"Kemana dia ya? Apa dia pulang?" gumam Yudi.


Arumi berjalan perlahan masuk, kemudian Yudi menyusulnya. Mereka kembali membantu yang lainnya.


Di belakang gedung, Dila duduk di sebuah drum dan Vero duduk di hadapannya mengatakan semuanya. Sementara Rania berdiri agak jauh menatap mereka bicara.


Dia ingat tadi saat mereka saling berpelukan, Dila sangat marah dan mendorongnya dengan keras. Dila tak mau didekati Rania. Dengan lembut, Vero membujuknya untuk mau mendengarkan.


Tak ada satu kata pun terucap dari mulut Rania. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Semua tuduhan Dila tak bisa dia sangkal. Meskipun tujuannya menjadi kembarannya bukan seperti yang dituduhkan, namun Rania tahu hal itu memang salah.


Namun tak sedikit pun dia menyalahkan dan menyesali semua yang terjadi. Ini semua adalah takdir. Takdir yang membuatnya bertemu dengan Bondan. Takdir yang membuat mereka bisa tahu bahwa mereka adalah saudara.

__ADS_1


__ADS_2