Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
57


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Rania dan Beni di tunjukkan jalan ke ruang ICU. Hati Rania sakit mendengar kata ICU.


~Apa yang terjadi? Kenapa dia ada di restoran? Kenapa dia sampai bisa terbakar?~ ucap hati nya yang semakin gelisah.


Semakin dekat dengan ruang ICU, langkah Rania semakin pelan. Dia menelan ludah dan mengusap air matanya. Terlihat Vero menunggu di sana bersama Arumi.


Arumi melihat Rania kemudian menyambutnya dengan pelukan dan tangis. Rania mengusap punggung Arumi yang sangat sensitif dan mudah menangis itu.


"Aku ngga bisa lihat keadaannya, dia...." Arumi tak kuasa mengatakan kondisi Nuri.


Vero memeluk Rania dan mengusap rambutnya.


"Kau mau masuk?" tanya Vero.


Rania mengangguk. Dia diantar Vero menemui suster untuk minta izin melihat keadaan Nuri. Namun suster hanya mengizinkan mereka melihat dari balik kaca saja. Rania menatap Nuri yang wajah hingga dadanya dibalut perban. Dia semakin menangis sambil bersembunyi di punggung kakaknya. Vero terus mengusap lengan Rania.


"Bagaimana bisa dia ada di sana Bang? Apa dia memang diberi tugas untuk masuk? Bukankah dia masih bekerja di My Spaghety?" tanya Rania.


"Itu yang masih jadi pertanyaan, saat dikasih tahu ada kebakaran, Abang awalnya hanya merasa bahwa ini benar-benar bertubi-tubi dan tak berpikir ada korban karena semua pekerja tak ada yang tinggal. Lagipula semua hanya tinggal finishing. Tapi...mereka bilang ada korban dan itu wanita, Abang bingung dan langsung melihatnya. Namun Arumi yang pertama melihat karena dia yang pertama kemari" jelas Vero.


Rania menatap Nuri dengan rasa bersalah karena membuatnya kecewa saat mereka kembali bertemu. Kini dia tak tahu apa yang harus dilakukan.


Rania dan Vero keluar dari ruangan ICU. Beni masih menunggu bersama Arumi. Rania pamit pada kakaknya dan dia akan kembali saat malam. Dia akan menemani Nuri.


"Baiklah! Abang akan atur" ucap Vero.


Vero melihat hand manner Beno yang terlihat sangat menjaga Rania. Kemudian dia bicara lagi.


"Tolong jaga Rania!" pinta Vero sambil menatap mata Beni.


Beni terkejut dengan ucapan Vero, dia berpikir bahwa Vero belum tahu tentang perjodohan Rania dan Bondan. Dia hanya tersenyum dan mengangguk saja.


Beni mengantar Rania kembali ke rumah Ruby, selama di perjalan berusaha membuat Rania berhenti bersedih dan tersenyum kembali.


Setelah mengantar Rania, Beni berangkat ke kantor. Bondan yang sedang bekerja mendapat kabar dari sekertarisnya bahwa Beni baru saja datang. Dia langsung menemui Beni ke ruangannya. Setelah mengetuk, Bondan masuk dan melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Beni.


"Kenapa terlambat? Kita kan sudah bicara kalau ada meeting penting tadi pagi" ucap Bondan dengan wajah marahnya.


Beni melirik, dia menggit bibir nya karena lupa. Kemudian dia berpikir, apa yang harus dikatakan. Rania bilang untuk tak mengatakannya pada Bondan, karena dia belum tahu tentang kehidupan Rania yang sebenarnya.


"Aku....!"


"Kita sudah sepakat, yang terpenting adalah kebahagiaan Rania. Tapi...aku harap kamu bisa profesional dalam pekerjaan ini. Karena perusahaan ini terlalu besar untuk ditangani oleh satu orang. Jadi...berhenti merenung" ucap Bondan yang langsung menyela tanpa mau mendengar penjelasan Beni.

__ADS_1


Beni menghela kemudian mengangguk.


"Maafkan aku!" ucap nya.


"Setelah melihat berkas di meja mu, datang ke ruangan ku. Kita harus melakukan Zoom dengan beberapa manager di Australia" ucap Bondan.


"Oke!" jawab Beni.


Dia langsung membuka berkas yang ada di hadapannya.


###


Rania tak bisa berpikir, dia hanya mengingat perban yang membalut luka Nuri.


"Lukanya hampir 50%, untung saja hanya sebagian wajah yang terluka. Namun dia akan kesulitan bicara karena selain luka bakar ada bekas tekanan yang cukup kuat di bagian leher nya dan membuat pita suaranya bengkak karena tertekan cukup lama"


Terngiang ucapan Dokter yang menangani Nuri.


"Apa yang terjadi Nuri? Hanya kamu yang bisa jelaskan semuanya" gumam Rania.


Suara telpon membangunkan Rania dari lamunnya. Bondan menghubungi nya. Mata Rania membelalak berpikir bahwa Beni mengatakan semuanya. Dengan gugup dia menempelkan ponsel di telinganya.


"Hallo!" ucap Rania.


"Oke!" jawab Rania.


"I love you!" ucap Bondan.


"Ya!" jawab Rania.


"Hei...kenapa hanya iya? Jawab lagi i love you!" pinta Bondan dengan manja.


Rania menelan ludahnya dan mencoba mengatakannya.


"Ay.....Ayolah....aku belum terbiasa!" keluh Rania.


Bondan tersenyum.


"Baiklah! Aku akan menunggu sampai kamu bisa bilang i love you sama aku" ucap Bondan.


"Iya!" jawab Rania singkat.


Bondan merasa ada yang aneh dari nada suara Rania. Dia penasaran dan bertanya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa suara mu seperti sedang sedih?" tanya Bondan.


"Tidak apa-apa, hanya saja temanku Nuri sedang sakit. Jadi aku sedikit khawatir dengan keadaannya" jawab Rania.


"Lagi-lagi memikirkan orang lain. Ya sudah, nanti malam aku antar kamu menemuinya. Jangan terlambat datang di restoran ya sayang ku! Mmuah!" ucap Bondan


Rania membulatkan matanya, Bondan menutup telponnya tanpa mendengar jawaban Rania.


"Bagaimana bisa dia mengantar ke rumah sakit, apa....aku memang harus mengatakannya sekarang?" gumam Rania.


###


Dila melihat semua bekas kebakaran, Yudi membantu yang lainnya membereskan. Beberapa polisi datang hendak mengatakan hasil pemeriksaan yang sudah mereka lakukan.


"Permisi! Maaf apa bisa kalian menghubungi pak Vero? Hasil pemeriksaan nya sudah keluar, tolong datang ke kantor polisi siang ini" ucap salah satu dari mereka.


"Baiklah!" jawab Yudi.


Dia membuka ponselnya dan menghubungi Vero, kemudian dia menghela nafas setelah memberi tahu Vero untuk datang ke kantor polisi siang ini.


"Kenapa?" tanya Dila.


"Entahlah! Aku rasa, ini ujian terberat Vero selama 3 tahun aku menjadi temannya. Semoga saja Arumi bisa membantunya menegarkan hatinya" harap Yudi.


Dila menatap tanpa arah, dia memikirkan seharusnya dia memeluk kakaknya itu, setidaknya membuatnya merasa ada yang menemaninya menghadapi semua ini.


"Kita temani saja Kak Vero ke kantor polisi!" ucap Dila.


"Hah Kak?" Yudi heran dengan panggilan Dila pada Vero.


Biasanya dia memanggil Vero dengan Pak atau Vero saat marah.


"Iya...kak Vero. Dia kan akan jadi kakak ipar ku" ucap Dila mencari alasan.


"Hmm..memangnya aku akan menikahi mu?" ucap Yudi dengan nada bercanda mengejeknya.


Dila menatap dengan mata membulat, dia juga memukul lengan Yudi dengan keras.


"Ih dasar!" keluh Dila.


Yudi tersenyum merasa puas, dia menarik tangan Dila kemudian memeluknya.


"Tentu saja kita akan menikah, siapa lagi yang akan aku nikahi? Seluruh dunia tahu kan? Dila Aryani Subagja" ucap Yudi.

__ADS_1


Dila tersenyum, namun hatinya sedikit gusar. Bagaimana jika Yudi tahu bahwa Rania adalah saudari kembarnya.


__ADS_2