
Yudi menatap Rania dari kejauhan, dia mengikutinya ke rumah sakit setelah mendengar kabar, Dila mengajaknya untuk periksa. Tapi dia berpikir Rania hanya akan memeriksakan kandungannya.
Dila bicara dengan dokter yang kenal dengan dokter Cintya yang dulu pernah menangani Beni dan juga Rania saat terapi trauma paska kejadian buruk yang menimpanya.
Rania menunggu di kursi tunggu karena apa yang akan dikatakan Dila adalah semua kebiasaan baru Rania dan hal-hal yang aneh menurut keluarga.
Tak berapa lama, dokter Marcel yang melakukan operasi di kepala Rania datang dan ikut berdiskusi. Mereka yang pada awalnya sudah sangat takjub dengan tekad Rania untuk bangun dari masa kritisnya, sekarang paham setelah melihat pemeriksaan yang sudah dilakukan Rania.
"Aku rasa, kita harus menunggu hingga dia melahirkan. Karena semua pemeriksaan yang harus dilakukan berhubungan dengan alat yang akan mempengaruhi perkembangan janin" ucap Dokter Marcel.
"Iya, dokter Marcel benar, bahkan jika Cintya datang ke Jakarta, dia takkan berani melakukan hipnotis seperti biasanya dia lakukan" timpal Dokter Bram.
Dila menghela, dia belum bisa melakukan hal yang diinginkan Bu Vera, mengobati Rania agar bersikap normal kembali.
"Turuti saja semua keinginannya selama itu tidak membahayakan dirinya juga bayinya" ucap Dokter Marcel.
Dila terdiam, dia menggaruk dahinya meski tak gatal. Dia tak tahu harus mengambil keputusan apa, dia baru datang sendiri bersama Rania tanpa kehadiran keluarga yang lainnya.
"Baiklah, aku akan datang lagi bersama kakak dan ibu angkat Rania. Kalian bisa mengatakan semuanya pada mereka. Tadinya aku hanya ingin berkonsultasi. Tapi ternyata kalian sudah mendiskusikan ini, terimakasih" ucap Dila.
Marcel dan Bram hanya tersenyum. Dila pamit dengan bersalaman dengan mereka berdua. Dia keluar dari ruangan dokter Bram. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat Rania sedang bicara dengan Yudi.
Tangan Yudi mengusap perut Rania yang terlihat menonjol. Rania terlihat sedang mengatakan sesuatu yang membuat dirinya sendiri tersenyum manis. Sementara Yudi hanya menatap perut Rania yang dia sentuh.
Langkah Dila perlahan maju mendekati mereka. Pemandangan itu sejatinya menjadi pemandangan yang sangat menyakitkan baginya. Namun dia berusaha benar-benar membenamkan semua perasaannya jauh lebih dalam agar tak merusak hubungan keluarganya.
Yudi tak mendengarkan ucapan Rania yang hanya bercerita tentang masa-masa manisnya bersama Bondan. Dia hanya fokus dengan perut Rania yang mulai membesar.
"Kau tahu, nanti saat pernikahan ku dengan Bondan, aku akan menggunakan kebaya berwarna ungu, warna kesukaan ku" ucap Rania.
Yudi baru menyadari, Rania membicarakan Bondan selama dia mengelus perutnya. Senyuman Rania berhenti saat Yudi terdiam menatapnya.
Rania menepis tangan Yudi, kemudian berdiri menghampiri Dila dan berdiri di belakangnya seolah takut.
__ADS_1
Yudi menatap heran juga terkejut karena Dila sudah berdiri di dekat mereka.
"Kau, sudah selesai?" tanya Yudi.
"Sudah, kami harus pulang. Bu Vera pasti sudah menunggu" ucap Dila.
Dila menggenggam tangan Rania yang juga sangat erat menggenggam tangan Dila.
"Tunggu!" Yudi menahan langkah Dila.
Dila diam menunggu.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Yudi.
Dila menatap kosong, dia berbalik dan menatap wajah Yudi.
"Ya, dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi, kandungannya sangat sehat" ucap Dila.
"Kenapa dengan Rania, dia bertingkah seperti anak kecil. Apa benar, takkan berpengaruh pada kandungannya?" tanya Yudi meyakinkan.
Dila menghela, dia merasa Yudi tak pernah berubah. Dia egois, hanya memikirkan sesuatu yang dia anggap penting bagi dirinya sendiri.
"Doakan saja, aku juga sangat berharap ibu dan bayinya baik-baik saja hingga persalinan tiba" ucap Dila setelah menghela.
Yudi mengerti Dila kecewa pada dirinya yang hanya memikirkan anaknya. Tapi dia tak bisa merubah pemikirannya yang hanya mengkhawatirkan keadaan janin yang dikandung Rania.
Dila pergi dengan mengaitkan tangannya di lengan Rania. Mereka berjalan dengan santai menuju parkiran. Rania masuk ke mobil dan duduk. Dila mengatur sabuk pengamannya dan memastikan Rania baik-baik saja. Rania menatapnya kemudian menyentuh tangannya.
"Terimakasih!" ucap Rania saat Dila menatapnya.
"Untuk apa?" tanya Dila.
"Untuk mengantar ku periksa" ucap Rania.
__ADS_1
Dila tersenyum, meskipun hatinya sedang berpikir bahwa Rania berubah lagi. Dia sekarang seolah menjadi Rania yang kehilangan ingatan dan sedang hamil. Sedangkan tadi, dia menjadi Rania yang sedang menunggu kepastian daei Bondan yang berjanji menikahinya.
Dila mengendarai mobil menuju rumah Bu Vera dan mengantar Rania istirahat di kamarnya. Sepanjang jalan Rania terus bicara tentang rambutnya yang sulit tumbuh karena operasi. Padahal dia sangat menyukai rambutnya yang panjang.
Sikapnya seperti remaja yang kecewa dengan pertumbuhan rambutnya. Dila merasa bersalah karena dulu pernah memintanya memotong pendek rambutnya untuk sebuah permainan bodoh dari idenya.
"Aku pulang!" ucap Dila pamit pada Rania yang hampir terlelap.
Rania mengangguk dan perlahan mulai tertidur. Dila keluar dari kamarnya dan melihat Bu Vera, Bu Yuni, Pak Nurdin juga Adit yang baru pulang, berdiri menunggu dirinya menjelaskan apa yang terjadi.
Dila menjelaskan semuanya, tak terkecuali kejadian saat Yudi datang mengelus perutnya.
"Aku menjadwalkan pemeriksaan bulan depan. Ibu sama kak Vero harus ikut bersama supaya bisa mengambil keputusan. Aku tadi baru menceritakan kekhawatiran ku, tapi ternyata mereka sudah membicarakan ini sebagai dokter pribadi Rania" jelas Dila.
Mereka semua terdiam kecuali Adit. Dia melangkah menuju kamar kakaknya dan menghampirinya.
Dia menatap wajah kakaknya yang tertidur nyenyak seperti anak kecil yang lelah bermain. Dengan lembut dia membelai wajah Rania.
"Aku akan selalu ada buat kak Nia. Seperti kakak yang selalu ada untukku" ucap Adit.
Matanya tak bisa menahan tangis yang mulai menetes saat mengingat masa kecil bersama kakaknya.
Vera pun menangis, Bu Yuni mengusap punggungnya meskipun dia sendiri merasa hancur mendengar putri yang pernah disapihnya dulu kini menderita penyakit aneh.
"Rania pasti bisa melewati semua ini, dia gadis yang kuat, kita semua tahu itu. Jikalau pun dia nggak sembuh, kita semua akan selalu ada untuknya bukan?" ucap Pak Nurdin.
Dila menatap mereka yang menangisi nasib Rania dengan cara mereka masing-masing.
~Alangkah beruntungnya dirimu Rania, banyak orang yang sangat menyayangi mu. Mereka sangat berharap kamu bisa kembali tertawa lepas membicarakan masa lalu dan masa depan bersama mereka. Aku bahkan iri lagi padamu, aku yang tak pernah bisa menjadi dirimu. Takkan pernah bisa~ ucap hati Dila.
Dila pamit pada semua orang dengan mencium punggung tangan para orang tua itu. Mereka tersenyum dan mengusap kepala gadis muda yang dulu mereka katakan sombong itu.
Dila melambaikan tangannya saat melajukan mobilnya. BU Yuni dan Pak Nurdin membalas lambaian tangannya.
__ADS_1