Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
135


__ADS_3

Rania dan Dila dibawa ke sebuah bukit yang terletak jauh dari kota. Mereka yang masih pingsan sedang dipandangi oleh Clara, otak dari penculikan ini.


"Hmmm, susah juga ya membedakan mereka" ucap Clara sambil menyentuh dagunya.


Lima pria tegap di sekelilingnya hanya diam menunggu perintahnya. Clara menarik salah satu dari mereka. Dia memutuskan Dila yang akan dia bawa naik pesawat dan akan di kirim ke Malaysia untuk dijadikan pelayan nafsu para pengusaha kaya yang menjadi relasinya.


"Lalu, yang satu lagi, kita apakan Nona?" tanya salah satu pria.


Clara berhenti melangkah, dia berbalik dan berpikir. Akan sia-sia dia mengirim wanita yang ada di tangannya ke Malaysia jika dia bukan Rania.


"Ahh.....sialan!" ucap Clara menghempas tangan Dila.


Dia kesal dengan keadaan dimana Rania dan Dila sulit dibedakan.


Sementara itu, Dila mulai sadar karena tangannya terhempas. Matanya terbuka dan melihat Clara sedang memarahi semua pria tegap yang menyekapnya tadi.


Dila mengatur nafasnya, dia melihat ke arah Rania yang terlogek lemas. Dila memperhatikan tempat itu. Dia mencoba mencari cara agar bisa membawa Rania pergi keluar bersamanya dari sana.


Tapi sayangnya, Clara melihatnya yang sudah tersadar dan menjambak rambutnya.


"Akhirnya, kamu sadar juga" ucap Clara.


Dila meringis kesakitan, dia mencoba meraih rambut Clara untuk membalasnya. Namun dua pria datang menahan tangan dan kakinya.


"Kenapa? Mau melawan? Nggak bisa Rania! Atau Dila?" Clara berekspresi seolah salah bicara.


Dila menghela keras dan berusaha melepaskan diri dari genggaman dua pria itu dengan tanpa bicara. Dia sadar mereka sedang kebingungan memilih siapa Rania diantara mereka. Dila juga mengerti bahwa Rania yang menjadi sasaran Clara. Dia jadi menyesal memberikan ide untuk membuat penampilan mereka sulit dikenali.


"Sekarang katakan, kau Rania atau bukan?" tanya Clara dengan menarik sedikit genggamannya.


Dila meringis, dia tak menjawab. Meski dia menyesal memberikan ide itu, tapi dia tak mungkin membiarkan Rania menjadi santapan dendam Clara karena cemburunya.


"Jawab cepat, klien ku sudah menunggu kehadiran mu untuk memuaskan hasrat mereka" ucap Clara kesal.


~Apa? Rania akan dijadikan pemuas nafsu kliennya? Gila!~ ucap hati Dila.


Dila dalam kebimbangan, haruskah dia jawab yang sebenarnya, ataukah dia harus mengorbankan diri untuk Rania.

__ADS_1


"Aku, bukan dia" lirih suara Rania yang sadar perlahan terdengar.


Dila membelalakkan matanya saat melihat Rania yang berusaha berdiri.


"Tidak, aku Rania, bukan dia" ucap Dila mengecoh.


Rania berdiri mendekat perlahan karena masih pusing dan merasakan sakit di kepalanya akibat terbentur.


"Tidak, dia bohong. Aku Rania, bukan dia" ucapnya masih mengumpulkan tenaga.


"Bukan, aku yang Rania, dia itu Dila" ucap Dila lebih keras dan membuat mereka lebih bingung.


Clara dan para anak buahnya menatap mereka bergantian saat mereka mengaku mereka berdua adalah Rania. Mereka membuat Clara dan anak buahnya semakin bingung.


Lama kelamaan Clara kesal, dia memukul salah satu anak buahnya untuk membawa keduanya. Mereka di seret ke dua mobil yang berbeda.


Dila dan Rania tak diam saja, mereka memberontak dan terus berusaha untuk lepas. Tapi sayangnya Dila kembali di bius dan pingsan.


Namun Rania masih memberontak, saputangan itu berhasil dia buang keluar jendela mobil yang sudah melaju cepat. Saat pria itu sedang mengambilkan obat lagi, Rania terlepas dari pegangannya dan membuka pintu mobil kemudian melompat keluar.


Clara menelan salivanya, dia yang awalnya hanya akan membuat Rania merasa jijik pada dirinya sendiri dengan memberikannya pada pengusaha hidung belang, menjadi kacau.


"Cepat pergi, biarkan saja dia mati di sana" ucap Clara.


Mereka meninggalkan Rania yang terkapar di tengah jalan sepi. Jalan yang mungkin tak banyak orang yang lewat. Tak ada satu pun mobil sejauh mata memandang, nafas Rania terengah dan mulai melemah.


Darah mengucur perlahan keluar dari kepalanya. Tangannya melebar seolah ingin meraih mobil van Clara yang mulai menjauh dan hilang dari pandangannya, kemudian matanya perlahan mulai gelap hitam legam.


###


Malam tiba, seorang polisi mengabarkan penemuan korban tabrak lagi di daerah perbukitan yang jauh dari kota. Seorang petani menemukannya dalam keadaan sekarat. Dia dibawa ke rumah sakit pusat karena membutuhkan banyak penanganan.


Nuri mendengarkan pembicaraan para polisi itu, kemudian dia mengatakannya pada Fajri. Kemudian disampaikan pada Vero.


"Cari tahu, mungkin saja itu Rania atau Dila" ucap Vero.


Dia beranjak dari ranjangnya dan hendak pergi. Namun Arumi menahannya.

__ADS_1


"Aku mau memastikan" ucap Vero sambil menatap mata Arumi yang bengkak.


"Ada Yudi, biarkan dia yang pergi. Jika semua orang pergi, apa yang harus aku katakan pada Bondan?" Arumi membujuknya.


Dia ingin Vero lebih tenang dalam menghadapi semua ini. Dia juga harus bisa menjaga kesehatannya sendiri.


Yudi langsung pergi menyusul Fajri. Sementara Vero menatap Bondan yang masih terbaring lemah.


Sampai di rumah sakit pusat, Fajri menanyakan korban yang baru saja ditemukan. Suster menunjuk ke ruang operasi yang sedang berjalan semenjak tiga jam yang lalu.


Seorang petugas duduk menunggu di kursi dekat ruang operasi. Fajri dan Yudi mendekat, petugas itu berdiri berharap mereka adalah keluarga dari korban.


"Kalian keluarga korban?" tanya petugas itu lebih dulu.


Fajri dan Yudi saling menatap.


"Kami datang untuk memastikan bahwa dia adalah keluarga kami" ucap Fajri.


Petugas itu tak yakin, tapi dia juga harus memeriksa agar lebih jelas.


"Baiklah, ikut aku" ajak petugas itu pada mereka, menuju sebuah ruangan dimana bisa melihat wajah orang yang sedang dioperasi.


Wajahnya masih terhalang oleh suster yang membantu operasi. Yudi dan Fajri menahan nafas, menunggu wajah itu terlihat. Perlahan tapi pasti, suster itu bergerak dan akhirnya wajahnya terlihat. Meski penuh luka, tapi Fajri dan Yudi bisa mengenali bahwa itu adalah salah satu dari Rania atau Dila.


Yudi mengusap kepala dengan kedua tangannya memutar ke wajahnya. Sementara Fajri keluar untuk menghubungi Vero dan Arumi.


"Hallo, Mi. Wanita yang ditemukan kritis adalah salah satu dari mereka" ucap Fajri.


Arumi memeluk lengan Vero yang menangis, meskipun hatinya lega, tapi dia masih sedih karena hanya salah satu yang ditemukan, itupun dalam keadaan kritis.


Vero menatap Bondan, kemudian meminta dokter untuk memindahkannya ke rumah sakit yang sama. Mereka pergi ke rumah sakit pusat setelah semua persiapan pindah rumah sakit selesai.


Nuri yang pulang terlebih dahulu, sudah diberitahu dan menyiapkan makanan untuk mereka. Dia menitipkan bayinya pada Bu Yuni dan Bu Vera yang sama-sama khawatir dengan situasi yang terjadi.


Vera bahkan tak berhenti menangis sambil berdoa untuk keselamatan mereka. Namun dia lebih sedih karena baru satu orang yang ditemukan.


Nurdin dan Nuri menyusul ke rumah sakit pusat setelah menyiapkan pakaian ganti dan makanan untuk mereka yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2