
Rania mengemudi bersama Beni dan Anita menuju psikiater. Melakukan konsultasi rutin untuk mengetahui perkembangan psikis Beni.
Tiba di klinik, Beni dan Anita turun terlebih dahulu. Lalu Rania menyusul, dia berjalan di belakang mereka.
Seorang dokter menyapa mereka.
"Hai Nyonya Anita, apa kabar?"
"Hai, Cintya! Aku baik, terima kasih" jawab Anita sambil memeluk Dokter Cintya.
Beni juga mendapat pelukan begitu juga Rania. Cintya menatap mata Rania yang kosong.
~Tersenyum namun hampa, raganya di sini namun jiwanya tak di sini~ ucap hati Cintya.
Rania masuk menemani Beni yang terus memegang tangannya. Cintya menatap gerak tubuh Rania yang berlawanan dengan apa yang diinginkan Beni.
Sesi konsultasi berjalan selama 2 jam. Beni diminta untuk relaks dan menutup matanya. Perlahan dia tertidur lalu genggaman tangannya terlepas dari Rania.
Wajah Rania terlihat lega dan ingin cepat keluar dari sana. Namun Cintya menahannya.
"Tunggu!"
Cintya menahan lengannya. Rania berbalik.
"Ya!" jawabnya.
"Aku mau bertanya padamu, bolehkan?" tanya Cintya.
Rania menarik nafasnya, dia mulai tegang. Kali ini dia tak sedang mampu untuk riang gembira dan mengatakan semuanya baik-baik saja.
"Tenang, duduklah!" ucap Cintya.
Rania menurut dan duduk di sofa dekat Beni yang tertidur.
"Bondan meminta sesuatu dari ku. Dia minta aku melakukan ini" ucap Cintya sambil mengambil suntikan.
Rania panik.
"Bukankah kau sedang mengobati Beni? Dia bisa dengar apa yang ingin Bondan katakan. Tolong jangan persulit posisi ku sekarang. Aku..."
"Dengar, hari ini sesi untuk mu. Untuk memulihkan semangat mu kembali!" ucap Cintya sambil menyuntikkan sesuatu ke lengan Rania.
Perlahan tapi pasti Rania merasa lemas dan menutup matanya.
Rania melihat semua orang yang dia sayangi menatapnya dari jauh lalu tersenyum. Ayahnya menghampiri dan memegang tangannya. Senyum ayahnya mampu membuat Rania tersenyum sambil menangis.
Lalu bayangan Bondan datang mendekatinya. Wajah Bondan terasa begitu nyata ada di hadapannya. Rania memeluknya.
"Jangan lakukan apapun, kau bisa mati. Hati, pikiran dan semuanya akan hancur dalam sekejap. Aku....tidak..mau..kamu...kecewa!" ucap Rania dengan lirih dan lemah.
__ADS_1
Bondan yang ada di sana memeluknya menangis mendengar ucapannya. Dia sekarang mengetahui siapa yang sedang dilindungi Rania.
~Aku yang kau lindungi. Dari siapa? Beni? Aku tidak takut padanya. Aku akan membawa mu kembali ke rumah mu~ ucap hati Bondan.
Bondan menyandarkan kembali kepala dan tubuh Rania ke sofa. Dia dan Cintya sudah merencanakan hal ini sebelumnya.
Cintya adalah psikiater, yang mampu memegang rahasia pasiennya. Dia juga sahabat yang baik bagi Bondan. Dengan mengatakan semua hal pada Cintya, Bondan mampu mengetahui alasan Rania diam saja.
Meski tak begitu gamblang, Bondan sudah merasa cukup untuk membuatnya memperjuangkan Rania untuk lepas dari Beni.
Bondan hendak menyiapkan segalanya, kepulangan Rania dan membuat semuanya dalam waktu singkat.
Namun tangan Rania memegangnya, hendak berbisik. Bondan mengerti dan mendekatkan telinganya di wajah Rania.
Cintya terkejut dengan situasi ini, dia merasa takjub dengan tekad Rania yang mampu sadar dari anestesinya.
"Bantu aku dengan diam dan tenang. Aku hanya butuh itu dari mu" bisik Rania pada Bondan.
Tangannya terjuntai lemah karena anestesi. Dia tertidur.
Mata Bondan membulat, dia juga merasa kesal bahwa Rania terlalu memaksakan dirinya sendiri.
Cintya menatap Bondan seolah menanyakan apa yang terjadi.
"Dia terlalu takut untuk aku ikut campur. Aku bingung Cin, dia takkan mau pergi" ucap Bondan.
"Aku rasa, Rania mau kamu mendukungnya. Cepat atau lambat dia akan mengatakan rencananya pada mu tanpa dipaksa. Kadang seseorang tak bisa terlalu terbuka jika orang yang dia maksud terlalu ingin tahu" ucap Cintya menenangkan Bondan.
"Baiklah, aku akan memberikan kepercayaan penuh padanya" ucap Bondan menyerah.
Bondan pamit pada Cintya, takut Anita tiba-tiba masuk. Dia kembali ke kantor.
Rania terbangun terlebih dahulu, sesuai dengan rencana Cintya. Dia memberikan stimulus agar Rania lebih bersemangat dan terbuka pada Bondan.
Saat Rania membuka matanya, Cintya tersenyum padanya. Rania sedikit mengumpulkan semua ingatan saat dia memeluk Bondan.
"Mana Bondan?" tanya Rania.
"Ssstthhhh...pelan-pelan. Beni sebentar lagi sadar" ucap Cintya dengan menempelkan telunjuknya ke bibirnya sendiri.
Rania menatap Beni yang masih tertidur. Dia bangun dan merapikan diri agar terlihat biasa saja.
"Kemarilah, aku akan perlihatkan rekaman saat Beni mendapatkan sugesti dari ku" pinta Cintya.
Rania mendekat padanya untuk melihat apa yang ingin dia tunjukkan.
Selama konsultasi Rania harus mengetahui apa yang terjadi agar saat Anita menanyakannya, dia tak gagap atau canggung menjawabnya dan tak membuat Anita curiga.
"Semangat! Aku tahu cerita mu sedikit dari Bondan. Tapi meskipun begitu, aku tahu kamu sangat kuat. Beni bukan punya rasa possesif biasa. Tapi dengan mu, dia menunjukkan sikap yang lebih baik dari pengobatan sebelumnya. Aku yakin kamu bisa menyembuhkan Beni dari sindromenya" bisik Cintya.
__ADS_1
Rania menatapnya.
"Bondan yang melakukan ini untukku?" tanya Rania.
"Ya, dia sangat khawatir. Aku tak bisa membiarkannya sedih.
Rania menatap laptop kembali, dalam pikirannya, dia ingin bertemu Bondan untuk sekali lagi menceritakan kesedihannya dan mengatakan apa yang akan dia lakukan.
"Kamu akan mengatakan semuanya pada Bondan kan?" tanya Cintya.
Rania menatapnya lagi dan perlahan mengangguk. Cintya tersenyum, stimulusnya berhasil.
Mereka berbincang selama Beni belum sadar. Lalu tak lama kemudian Anita datang dan Beni sadar dari tidurnya.
Anita membuka pintu, Cintya berisyarat untuk melakukannya perlahan. Anita menurut dan duduk di kursi.
Rania berpura-pura mendekat pada Beni yang sedang menggosok matanya, terbangun. Beni tersenyum melihat wajah Dila ada di hadapannya.
"Apa aku tertidur?" tanya Beni.
"Ya, lelap sekali" jawab Rania sambil tersenyum.
"Aku merasa lebih baik, apa yang kau lakukan selama aku tidur Dok?" tanya Beni.
"Aku...., tentu saja aku hanya melihat reaksi mu. Yang membantu adalah Dila. Dia yang memberikan tangannya selama kamu melepaskan semua kegelisahan mu" ucap Cintya berbohong.
Beni tersenyum, dia mengusap tangan Rania yang dia pegang. Anita menatap setiap gerakan tangan mereka. Dalam hatinya sedikit menertawakan tingkah mereka.
"Terima kasih ya sayang! Bantuan mu sangat berarti. Beni semakin sehat belakangan ini" ucap Anita pada Cintya.
"Tidak masalah Nyonya!" jawab Cintya.
Mereka kembali dengan perasaan puas dengan terapi hari ini.
Beni meminta Rania untuk tinggal lebih lama di kamarnya. Rania berpikir sejenak, dia tak tahu apa yang akan dia katakan pada Beni untuk berbasa-basi, namun dia mengiyakan permintaannya.
Anita pergi lagi dan Rania mengantarnya ke luar. Terdengar suara Anita yang meminta seseorang di ujung telpon untuk mengawasi seseorang. Rania semakin penasaran dan benar-benar ingin tahu apa yang dilakukan Anita. Dia khawatir yang jadi incarannya adalah Adit dan ibunya.
Rania berjalan menuju kamar Beni. Saat dia masuk, Beni melihatnya dan menyambut tangannya.
"Kemarilah!" ajak Beni dengan lembut.
Rania menelan ludah, dia ingat saat pertama kali Beni menyambut tangannya dengan lembut, hanya dalam beberapa perbincangan Beni berubah menjadi kasar dan possesif. Rania bersiap dengan hal itu lagi, meski Cintya sudah mengatakan bahwa Beni sudah lebih baik.
Beni membuka sebuah kanvas yang ditutupi kain putih. Dengan tersenyum dia mempersembahkannya untuk Dila.
"Taraaaaa....! Kau suka?" tanya Beni.
Rania membulatkan matanya dengan sangat terkejut. Lukisan wajahnya ada di sana, namun bukan lukisan biasa.
__ADS_1
Rania menatap Beni yang masih tersenyum dengan kejutan yang dia berikan. Rania meneteskan air matanya.