Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
21


__ADS_3

Pikiran Dila terpaku pada kebiasaannya yang serba tersedia, dia sama sekali tak tahu harus melakukan apa. Setelah pergi dari restoran, dia hanya duduk diam di kursi taman menatap beberapa keluarga yang sedang bermain dihadapannya.


Dila mengingat kenangan bersama kedua orang tuanya sebelum pergi meninggalkannya selamanya. Mereka pergi ke sebuah restoran terkenal dan mewah. Menyewa sebuah ruangan untuk bertemu tamu spesial katanya.


Tamu datang terlebih dahulu, ayah dan ibunya menyapa mereka setelah masuk ke ruangan. Seorang pria seumuran ayahnya duduk dengan seorang anak seumurannya. Pakaian mereka tak begitu bagus. Hanya saja anak perempuan itu terlihat cantik memakai gaun yang serupa dengan miliknya di rumah. Bahkan mungkin itu adalah miliknya.


Ayah dan ibunya memeluk anak gadis itu dengan erat dan penuh kasih sayang. Dila yang saat itu masih berumur 7 tahun, masih sangat polos dan tak mempunyai rasa iri atau hal lain dalam pikirannya. Seperti biasanya, selain pada anaknya sendiri, mereka juga menyayangi semua anak kerabat atau rekan kerja.


~hmmm semakin lama aku duduk di sini semakin aku akan malas melangkah karena merindukan masa lalu~ ucap hatinya.


Menunggu hingga pukul 10 malam, Dila hanya berjalan-jalan di sekitar restoran. Beberapa kali Fajri melihatnya dan merasa heran. Arumi hanya tersenyum melihat tingkah Dila.


Fajri keluar dari restoran, Dila meringis karena malu. Dia bergegas pergi berjalan cepat menuju arah lain, agar Fajri nanti tak marah.


Akhirnya restoran tutup, Dila yang mengawasi dari tempat yang tak terduga perlahan masuk dan mengecek keadaan. Dengan tingkah lucunya, dia membuat Vero yang sedang bersiap pulang malah melihatnya dari balik jendela.


~hmm ternyata tingkah lucunya sama dengan Rania. Dimana dia sekarang, nomornya tak aktiv. Yudi, sekarang dia ngga bisa diandalkan. Dia kacau setelah Rania pergi~ ucap hati Vero.


Vero keluar dari ruangannya dan menatap Dila yang mengendap-endap masuk. Dila tersenyum manis, dia mengangguk dan berdiri bersama kopernya.


Arumi datang dari dapur setelah membantu Fajri mengecek keperluan untuk besok.


"Dia jadi nginep di sini Pak?" tanya Arumi.


"Hmmm!" jawab Vero singkat.


Dila masih diam dan tersenyum.


"Ini kuncinya! Kamu bisa tidur di sofa di ruang ganti karyawan. Besok dirapikan lagi dan usahakan jangan terlambat bangun. Jam 5 pagi sudah akan ada yang datang masuk dari pintu belakang!" jelas Arumi.


"Yuk!" ajak Vero ke Arumi.


Vero memberikan helm pada Arumi. Dila membulatkan matanya.


~Mereka pulang bersama? Sedekat itu?~ ucap hati Dila.


Arumi memakai helm namun kesulitan memakainya, Vero pun membantunya. Dengan percakapan mereka yang merencanakan akan pergi kemana setelah pulang dari sini.


Fajri juga bersiap, memakai helm dan tas gendongnya.


"Saya duluan Pak!" seru Fajri.


"Ok, sampai ketemu besok!" jawab Vero.


"Ingat ya, jangan terlambat bangun!" Arumi mengingatkan kembali.


"Kita kurang cepat mengambil Rania sebagai pegawai, dia akan sangat rajin tanpa banyak bicara. Aku lebih suka dia!" ucap Arumi samar-samar terdengar oleh Dila.


Dila masuk ke ruang ganti pakaian dan membuat sofa di sana nyaman untuk tidur. Dia meletakkan tasnya dan ditutupi dengan sweaternya. Dengan nyaman dia berbaring dan berusaha cepat-cepat tidur agar tidak terlambat.


Dari luar pintu belakang seseorang dengan jaket hitam datang dengan sempoyongan. Dia adalah Yudi. Yudi pindah kerja setelah dia dipecat oleh Davin dan memohon pekerjaan pada Vero. Dia sangat butuh pekerjaan untuk melunasi semua hutang ayahnya.


Namun dia dipecat Davin karena kinerjanya yang kurang baik setelah kepergian Rania. Terlebih dia jadi sering mabuk dan menghabiskan malam di restoran. Membuat restoran jadi bau alkohol, sehingga membuat Davin kesal.


Yudi berjalan pelan dan bernyanyi lagu patah hati. Dia pergi menuju ruang ganti karyawan. Setelah membuka pintu, dia terkejut melihat ada yang tidur di sofa.


Kemudian dia ingat dengan kenangan bersama Rania, dia tersenyum dan menghampiri sofa dengan pelan-pelan.


Perlahan dia membuka penutup wajah orang itu dan menatapnya. Yudi terkejut, matanya membulat, dia juga terjatuh ke lantai. Wajahnya tercengang, sangat tak menyangka dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


"Aku memang minum, tapi aku ngga mabok. Dia....dia...Rania?" ucap Yudi.


Tak percaya dengan apa yang dia lihat, Yudi menggosok matanya dan kembali berdiri. Beberapa kali mengedipkan mata untuk memastikan pandangannya.


"Rania!" ucapnya.


~ini benar kau, atau hanya karena aku sangat merindukan mu?~


Yudi menggaruk kepalanya karena bingung. Kemudian dia mendekat dan memastikan wajah yang dia lihat adalah Rania. Yudi membelai pipi dan rambutnya.


"Kulit, tersentuh, dia benar Rania!" ucap Yudi sambil tersenyum bahagia.


"Rania...Rania....!" seru Yudi.


Dila tak bangun karena memang baru saja tertidur. Yudi menatap bibirnya yang sangat ingin dia kecup dari sejak dulu, jika Rania tersenyum, tertidur atau cemberut. Yudi tersenyum mengingat semua kenangan bersama Rania.


Dia mengecup keningnya dan kembali menyelimutinya. Yudi pergi dan menutup pintu dengan pelan. Dia tersenyum sepanjang dia berjalan. Merasa senang dengan apa yang dia lihat.


"Rania kembali, kembali untuk bersama ku. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintainya, agar dia tak pergi lagi dan merasa akan ada aku di sisinya. Tak perlu jauh pergi bekerja, dekat selalu dengan ku" ucapnya sepanjang jalan dengan sedikit air mata bahagia di ujung matanya.


Yudi lupa dengan tujuannya kembali ke restoran yang seharusnya mengambil ponselnya yang tertinggal di loker. Dia pulang ke kosannya dengan bahagia. Tidur tanpa melepas apapun sambil tersenyum bahagia.


###


Sementara itu di Australia.


Rania berjalan ke ruang kerja Anita dan mengetuk pintu. Anita menjawabnya.


"Ya, masuk Dil!" ucapnya.


Rania masuk dan tersenyum pada Anita yang duduk memeriksa sebuah berkas di mejanya.


"Malam tante! Dina bilang...." belum selesai Rania bicara Anita sudah menyela.


"Dina? Aku menyuruh Bondan ke kamar mu, kenapa jadi Dina? Hmmm Bondan mulai malas melakukan hal-hal kecil sekarang!" keluh Anita.


Rania berpikir, dia ingat saat Bondan dan dirinya saling menatap.


~Huuhhhff..memalukan sekali!~ keluh hati Rania.


"It's ok, aku mau nanya tentang apa yang dikatakan oleh Bang Brian secara detil" ucap Anita dengan gaya elegannya.


Rania merubah posisi duduknya lalu menjelaskan.


"Dokter Brian mengatakan luka fisik Beni sudah sembuh total, namun Beni masih perlu ditangani secara psikologis agar mulai beraktivitas seperti dulu saat pengobatan rutinnya. Dokter Brian menyarankan untuk kembali mengunjungi psikiater" jelas Rania.


Anita tersenyum, sebenarnya dia sudah tahu hal itu langsung dari Dokter Brian. Dia hanya menguji kejujuran Rania untuk kesekian kalinya. Dan terbukti Rania adalah gadis yang jujur meski terjebak dalam situasi yang tak dia inginkan.


"Kamu pasti berpikir akan bisa langsung pulang setelah Beni sembuh!" Anita mencoba membaca pikiran Rania.


Rania terkejut, dia membulatkan matanya seolah bertanya dan bingung.


"Maksud tante?" tanya Rania.


Anita berdiri dari kursinya dan menghampiri Rania, lalu duduk di meja di dekatnya. Tangannya menyentuh bahu Rania lalu menekannya.


"Rania..." panggil Anita padanya.


Rania mengambil nafas dalam menahan sakit dibahunya juga terkejut dengan apa yang dia dengar. Terkejut Anita tahu namanya.

__ADS_1


Matanya tak berani menatap Anita yang tangannya semakin kuat menekan bahunya yang masih memar.


"Rania Ramadhania, tetaplah tinggal sampai Beni menjadi pimpinan Atmajaya Group. Jangan beritahu Bondan tentang hal ini, jika kamu menolak, aku akan menyakiti Aditya Ramadhan hingga dia tidak bisa jadi pilot lagi. Dan jika kau meminta bantuan Bondan, aku tak segan-segan untuk melenyapkan Bondan dari muka bumi" bisik Anita di telinga kanan Rania.


Bening mengembang di kelopak mata Rania mendengar ancaman untuk adik tersayangnya. Sulit baginya menahan air mata untuk jatuh dari matanya yang bergerak-gerak seolah bimbang dengan keputusan yang akan dia ambil.


Dia ingin segera lepas dari Beni yang temperamental, namun tak ingin jika Aditya terluka karena dirinya. Wajah Aditya yang tersenyum jelas tergambar di matanya.


Hati Rania terkoyak, sekali lagi dia harus membunuh dirinya dan menjadi orang lain.


"Baik bu!" jawabnya lirih.


Anita melepas tangannya dan tersenyum. Kemudian dia membelai rambut Rania dengan lembut, yang membuat Rania semakin takut, lebih takut dibandingkan dengan menghadapi Beni.


Rania keluar dari ruangan iblis wanita itu. Air matanya terus mengalir. Menjerit tanpa suara menangis tanpa isak. Dadanya terasa sesak.


~apa ini? kenapa cerita hidupku jadi seperti ini?~ keluh hati Rania.


Berjalan menyusuri beberapa kamar, Rania terhenti langkahnya melihat Bondan menunggunya di dekat tangga.


Bondan menatapnya dengan rasa iba. Dia mendekat dan menarik tangan Rania ke kamarnya. Rania terdiam dan tak berdaya, dia terlalu lemas untuk menolak Bondan.


Bondan menatap Rania yang menghindari matanya.


"Apa yang terjadi? Apa yang dilakukannya hingga kau begini?" tanya Bondan.


Rania sedikit bingung harus mengatakan apa, selain ancaman untuk menyakiti Aditya, Anita juga mengancam akan membunuh Bondan, anaknya sendiri.


"Apa maksud mu?" jawab Rania yang balik bertanya.


Bondan menggulung lengan baju tidur Rania yang longgar hingga ke ketiaknya. Terlihat lebam di lengannya.


"Ini! Ada lagi di punggung dan lengan satunya lagi. Mau aku buka?" ucap Bondan dengan wajah khawatirnya.


Rania menatap wajah Bondan yang terlihat manis saat khawatir, yang ada di hadapannya. Namun terngiang suara Anita yang mengancam akan membunuhnya. Rania mengalihkan pandangannya. Dia merapikan kembali lengan bajunya dan bersikap biasa.


"Ini karena aku terlalu lelah hari ini, setelah tidur akan hilang. Kau tahu? ini jenis penyakit dimana sel darah merah atau trombosit mudah muncul ke permukaan kulit" jawabnya.


Rania hendak pergi keluar tanpa menghiraukan kekhawatiran Bondan.


"Pulanglah! Biar saja Beni bunuh diri atau menyakiti dirinya lagi. Biarkan saja! Aku akan mengantar mu pulang. Kau akan kembali ke kehidupan mu yang sudah aku rampas dengan imbalan 250 juta" ucap Bondan.


Langkah Rania terhenti, kini dia sudah lelah untuk menangis. Matanya mulai berat untuk bertahan terbuka lebih lama. Dia lelah dengan semua pekerjaan dan ancaman juga bujukan.


Rania memejamkan mata dan mengumpulkan tenaga untuk merubah moodnya, dia berbalik dan tersenyum.


"Beri aku uang lebih banyak, karena aku akan menemani adik mu lebih lama lagi hingga dia sembuh secara psikis. Sekarang aku benar-benar mengantuk. Aku pergi ke kamar ku ya?" ucapnya dengan mata pura-pura terkantuk.


Rania membulatkan matanya saat melihat mata Bondan yang menangis. Bondan berlari ke arahnya lalu memeluknya dengan erat.


"Aku tidak mau kamu pergi, karena aku sangat menyukai saat-saat dimana bisa setiap hari melihat mu, tapi aku juga tak mau kamu terluka, memendam semua rasa sakit dan sedih sendirian. Aku menyukaimu Rania, jadikan aku sandaran mu di sini. Ceritakan semua kesedihan mu, rasa sakit mu padaku. Bersandarlah, menangislah di dadaku! Aku akan membuatmu merasa aman bersamaku" ucap Bondan.


Rania tertegun mendengar semua pengakuan dan permintaannya. Ada rasa aneh yang dia rasakan saat Bondan memeluknya dengan erat. Dadanya terasa nyaman menempel di pipinya. Rania merasa sangat terobati dengan pelukannya. Merasa nyaman dan aman mendengar janjinya.


Tangan Rania hendak membalas pelukan Bondan, namun sekali lagi, bisikan Anita membuatnya mengurungkan niatnya. Rania menolak tubuh Bondan dari tubuhnya.


"Itu bukan cinta, itu hanya rasa iba. Sehari dua hari akan hilang jika kau mulai acuh padaku. Acuhlah, itu akan mempermudah pekerjaan ku!" ucap Rania.


Tangannya memegang pergelangan tangan Bondan lalu melepasnya. Rania tersenyum dan berbalik lalu keluar dari kamar Bondan.

__ADS_1


Bondan hanya terdiam menatap Rania keluar dan hilang dari pandangannya.


__ADS_2