Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
80


__ADS_3

Bondan berjalan dengan langkah yang perlahan, matanya kosong. Mengingat kembali semua yang diucapkan Ryan yang membuat dia semakin terluka. Kenyataan tentang orang terakhir yang dia harapkan tetap jujur dan bertahan dengannya. Semua yang dia ragukan dari Beni dan Rania kini benar-benar dia dengar juga dari mulut orang lain. Namun Bondan berusaha untuk tetap membela ibunya.


Dilema kini bergumul di benaknya. Bondan tak mampu lagi mempercayai ibunya, setelah mengetahui bahwa dia sengaja menahan Rania untuk kekayaan keluarga Subagja.


"Sejak kapan momy melakukan semua itu? Apa yang dibilang Beni itu benar? Momy juga sengaja bikin beberapa anak kehilangan orang tuanya demi kekayaannya?" gumam Bondan.


Tak terasa, Bondan berjalan cukup jauh. Dia berada di jalan tempat pertama kali dia bertemu dengan Rania. Langkahnya terhenti, matanya membayangkan pertemuan yang tak pernah dia duga itu.


Bondan memejamkan matanya sejenak menyesali amarahnya pada Rania yang sudah banyak menahan rasa sakit. Dia mengusap wajahnya dengan penuh kesedihan. Ingin rasanya menemui Rania dan memeluknya. Memintanya kembali padanya, namun dia kembali berpikir bahwa Rania sudah berada pada tempatnya. Dia harus bahagia, jika terus bersamanya, dia hanya akan mendapatkan kesedihan.


Bondan kembali ke rumah kecilnya menggunakan taksi. Dia meninggalkan mobilnya di kantor polisi.


###


Dila akhirnya mau ikut bersama Rania ke rumah Ruby. Vero juga merencanakan untuk membawa Arumi pindah kesana. Mereka bercengkrama dan mengobrol hingga malam.


Rania masuk ke kamar setelah mengantar Dila masuk ke kamarnya dan merapikan pakaian ke lemarinya. Dia terdiam saat mengingat wajah Bondan yang sangat kecewa.


"Apa dia baik-baik saja?" gumam Rania.


Saat mengambil handuk setelah mandi, ponselnya berdering. Saga menelponnya, dia memberitahu Rania kalau mobil milik Bondan masih terparkir di kantor polisi. Rania terkejut, tentu saja dia langsung berpikir bahwa Bondan memastikan semuanya dan datang ke kantor polisi. Dia semakin khawatir.


"Aku tidak bisa menghubungi telponnya, jadi aku menelponmu" ucap Saga.


"Baiklah, terimakasih!" jawab Rania.


Rania bergegas berganti pakaian dan pergi. Dila melihatnya dari jendela, dia bertanya-tanya kemana Rania akan pergi selarut itu.


Rania pergi ke daerah rumah Bondan yang baru, di perjalanan dia dicegat oleh sebuah mobil dengan beberapa pria bertubuh kekar turun dan menggedor kaca mobilnya.


Rania kebingungan, dia hendak menelpon Vero namun para pria itu memecahkan kaca mobilnya. Rania terkejut, tanpa sengaja dia melempar ponselnya. Kemudian dia ditarik dengan paksa oleh mereka dan masuk ke mobilnya.


Rania diculik di tempat cukup terbuka, beberapa orang yang lewat terkejut dan merekamnya. Tempat itu tak jauh dari rumah Bondan. Namun keributan itu tak cukup membuat Bondan keluar untuk memeriksa, dia masih sedih dengan semua yang dia hadapi hari ini.


Rania dibawa menuju sebuah rumah besar yang dia tak ketahui, karena matanya ditutup, mulutnya disumpal. Rania mau memberontak, namun dia diam karena para pria itupun tak melakukan hal yang buruk padanya.

__ADS_1


Dengan mendengar beberapa keramaian di jalan, Rania menyimpulkan dia masih berada di Jakarta. Ada suara-suara yang dia kenal, terlebih dia juga selalu pergi kesana kemari di Jakarta.


Mobil berhenti, suara seorang pria terdengar menyuruh mereka membawa Rania langsung masuk. Rania diarahkan dengan perlakuan lembut, membuatnya semakin heran dan bertanya-tanya siapa yang membawanya.


Hela nafas Rania terdengar di ruangan itu, jelas Rania mengaturnya. Rasa takut juga penasaran siapa yang membawanya.


Langkah kaki seorang pria, datang dan mendekat padanya. Rania semakin bersiap untuk semua kemungkinan yang akan terjadi.


"Aku tidak sabar untuk melakukannya denganmu!" bisik pria itu di telinga Rania.


Rania menghindari sumber suara, dia sangat paham itu siapa. Dia hanya bisa menghela karena tak bisa bicara.


Davin membuka penutup matanya dengan perlahan. Dengan tangannya yang menyentuh tubuh Rania dari wajah hingga dadanya. Mata Rania menangis, Davin membuat wajah sedih dengan senyum di akhir.


"Jangan nangis! Meskipun kamu masih terlihat cantik saat menangis, tapi aku ngga suka lihat kamu nangis" ucap Davin mendekat pada wajahnya.


Mata Davin meraba seluruh tubuh Rania.


"Kamu wangi banget, aku suka. Sejak dulu hingga sekarang, kamu selalu bikin aku merasa waahhh mencium wangi mu" ucap Davin.


###


Dila menelpon Vero, namun tak diangkat. Dia mengirimkan pesan dan kemudian membangunkan Hedi. Diapun terbangun, sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan Dila.


"Iya, tadi aku lihat Rania pergi pake mobil, trus sampe sekarang belum pulang lagi. Aku yakin kalo dia ngga punya kebiasaan kayak gitu kan?" jelas Dila.


Tiba-tiba Beni turun, Dila terkejut dan menunduk, dia masih sedikit ketakutan jika berhadapan dengan Beni.


"Apa? Dia pergi?" tanya Beni memperjelas.


"Iya den, mba Dila tadi lihat. Ini udah jam 3 pagi, tapi mba Rania belum pulang" jawab Hedi.


Beni berlari ke kamarnya dan memakai jaket, dia juga mengambil ponsel dan menghubungi Bondan.


"Kak! Apa Rania kesana?" tanya Beni.

__ADS_1


"Rania? Tidak! Ada apa?" tanya Bondan.


"Dia pergi tadi malam, dan belum balik" ucap Beni.


Dila mengikuti Beni keluar, namun tangan Beni menahan langkahnya.


"Kamu di rumah saja!" pinta Beni.


Dila menurut, dia berhenti di ambang pintu menatap kepergian Beni.


Sementara Bondan berpikir kemungkinan tempat Rania pergi. Namun orang yang sedang ronda terdengar membicarakan sebuah mobil yang pecah kacanya dekat rumahnya.


Bondan keluar dan memeriksa, dia berjalan dan melihat mobilnya. Dia berlari karena sangat tahu kalau itu mobil Rania. Dengan penuh rasa khawatir melihat kaca mobilnya pecah. Dia mengusap wajahnya merasa menyesal tak menghiraukan keributan semalam.


Beberapa keamanan lingkungan yang berjaga di dekat mobil menghampirinya.


"Kamu kenal yang punya mobil?" tanya Budi.


"Ya, aku kenal!" jawab Bondan.


"Semalam dia diculik, beberapa warga lihat tapi ngga bisa berbuat apa-apa soalnya yang nyulik banyakan, badannya gede-gede lagi" ucap Budi.


Bondan memejamkan matanya membayangkan ketakutan yang dialami Rania.


"Apa ada yang pasang CCTV di dekat sini?" tanya Bondan sambil melihat ke sekeliling.


Dia berharap bisa menemukan pelaku lewat kamera pengawas.


"Ngga ada pak, pemasangan CCTV kampung baru jadi wacana doank. Hehe" jawab Budi.


Bondan menghela, dia berbalik hendak kembali ke rumah. Namun Budi memanggilnya lagi dan menyerahkan ponsel milik Rania. Bondan menatap ponselnya, dia membukanya, seperti biasa, sesuai pribadi Rania yang tanpa rahasia, tanpa sandi atau pola.


Wallpaper wajahnya yang pertama muncul. Bondan menekan giginya.


"Dia masih begitu mencintaiku!" gumam Bondan.

__ADS_1


__ADS_2