
Dila berjalan masuk dan mencoba tak menyapanya. Tapi Marvin sangat ingin dia bicara atau sekedar menyapanya. Apalagi dia lihat, Dila baru saja diantarkan oleh ayahnya.
"Kau bertemu dengannya?" tanya Marvin.
Dila kesal, dia berbalik dan marah.
"Ayahmu, Marvin! Jason itu ayahmu! Kapan kau akan belajar menghargainya?" nada suara Dila jelas menunjukkan ketidak sukaannya terhadap sikap Marvin pada ayahnya.
"Itu bukan urusan mu" jawab Marvin.
"Oh, kalau begitu aku tidak perlu menjawab mu, karena itu juga bukan urusan mu" ucap Dila.
Dila melangkah pergi.
"Jelas itu urusan ku, kau pacarku!" seru Marvin menarik lengan Dila.
Michael memperhatikan mereka dari dalam, di balik pintu kaca. Dia bersiaga untuk kejadian yang tak diinginkan.
Dila berusaha melepas tangan Marvin yang cukup kencang memegang erat lengannya.
"Lepaskan aku Marvin, kita sudah selesai saat kau hanya percaya pada Chloe" ucap Dila.
"Lalu kenapa kamu sama sekali tak berusaha untuk meyakinkan aku? Bukan hanya kau yang ingin diperjuangkan, aku juga sama, aku ingin kau memperjuangkan ku, membuatku mempercayai mu" Marvin menggila.
Dila terheran, dia mundur dan menatap Marvin dengan perasaan takut. Michael keluar untuk melindungi Dila. Dia menahan tubuh Marvin agar tak terus mengejar Dila.
Sementara Dila mundur dengan perlahan dan rasa takut. Dia masuk ke dalam lift dan terengah. Sudah lama dia tak merasakan ketakutan itu. Ketakutan yang hanya dia rasakan saat bersama Beni.
~Kenapa aku melihat Beni dalam emosi Marvin?~
Dila buru-buru keluar dari lift dan masuk ke apartemennya. Dia berusaha menenangkan diri dengan mencuci wajahnya. Tapi dia terlalu takut mengingat emosi Marvin.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Dila terkejut dan menatap tasnya dimana ponselnya dia simpan.
"Astaga, perasaan apa ini? Kenapa aku takut sekali bahkan saat ponsel berdering" ucap Dila menguatkan diri.
Dia mendekati tasnya dan melihat ponselnya. Yudi menelponnya. Dila mengangkatnya.
"Kenapa lama sekali mengangkatnya? Kau sudah memanaskan makanannya?" tanya Yudi.
Dila dia sejenak dan seolah menelan sesuatu.
"Aku makan diluar tadi!" jawab Dila dengan tanpa sengaja keluar suara paraunya.
"Kenapa dengan suara mu? Kau terdengar ketakutan" Yudi curiga.
"Tidak, aku hanya lelah, aku sudah ngantuk. Sudah ya!" ucap Dila menutup telponnya.
__ADS_1
Dila menyandarkan diri di ranjangnya. Dia menghela dan mengambil nafas panjang.
"Tidak Dila, semua akan baik-baik saja. Itu ketakutan mu, jangan libatkan Yudi. Dia sedang menata kehidupannya" gumamnya.
Dia berusaha mengendalikan diri dan rasa takutnya. Meski dia sangat heran mengapa hal ini selalu terjadi padanya. Menghadapi orang yang posesif.
Yudi tak percaya pada ucapan Dila, dia bergegas datang ke apartemennya. Sampai di depan apartemen, dia bertemu Michael dan menyapanya.
Kemudian Michael mengatakan apa yang terjadi. Yudi jelas sangat khawatir, ketakutannya sudah terjadi dan dia tak ada bersama Dila.
"Marvin pergi setelah dia mengatakan hal itu, tapi Dila belum turun atau menelpon ke bawah setelah itu" ucap Michael.
"Ok thanks ya, kau sudah sangat membantu" ucap Yudi.
Dia masuk lift menuju apartemen Dila. Namun saat sampai di depan pintu, dia berhenti.
~Ada alasan kenapa Dila tak mengatakannya. Dia bisa mengatasinya sendiri atau dia tidak mau aku ikut campur~ ucap hati Yudi.
Dia mundur dan kembali. Michael melihatnya dan kembali bertanya.
"Dia baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya kurasa. Aku tidak akan mengganggunya dulu, dia pasti sudah istirahat" jawab Yudi.
Michael hanya mengangguk. Yudi pun pulang. Di perjalanan, dia melihat Marvin mabuk dan meracau di dekat mobilnya. Seseorang bertengkar dengannya dan dia hendak dipukuli. Yudi menepi dan mencegahnya.
"Dia tiba-tiba bicara dan mengacau saat aku hendak mengambil mobilku" jawabnya.
Yudi menatap Marvin. Dia jadi ingat pada dirinya yang dulu sering mabuk dan mengacau.
"Aku meminta maaf atas nama teman ku. Kau bisa lihat dia sedang tak sadar" Yudi memohon pengertiannya.
Pria itu menatap Marvin yang muntah, dia terlihat sangat jijik kemudian mundur sambil mengalihkan pandangannya pada Yudi. Dia mengangguk kemudian pergi.
Yudi lega karena pria itu tak memperpanjang masalah, namun dia menatap Marvin yang terduduk lemas karena mabuk. Dengan terpaksa dia harus mengantarkan Marvin untuk pulang ke apartemennya.
Yudi membantu Marvin masuk ke mobilnya. Dia menyalakan mesin mobil yang kuncinya dia cari sebelum masuk. Dengan perlahan membuat Marvin untuk duduk tenang.
"Tidak usah mengantarku, aku tidak menyukai mu. Pergi saja!" ucap Marvin menepis tangan Yudi.
Yudi tak mendengarkannya, dia tetap menjalankan mobilnya. Sampai di depan apartemen, dia melambai pada Michael untuk meminta bantuan. Michael mendekat.
"Kau? Astaga kau benar-benar kerepotan oleh mereka berdua!"ucap Michael.
Dia membantu Yudi memapah Marvin yang sangat sangat mabuk. Mereka berhasil membawanya masuk ke apartemen. Saat keluar Yudi terlupa untuk menaruh kunci mobil Marvin di dalam. Diapun menitipkannya pada Michael.
"Kau pulang jalan kaki?" tanya Michael.
__ADS_1
"Tidak, motor ku ada di bar tempat aku melihatnya" jawab Yudi.
Dia menatap pintu apartemen Dila sebelum masuk ke lift.
"Dia pasti sudah tidur" ucap Michael.
"Hmmm..iya" ucap Yudi sambil tersenyum.
Yudi pulang, sementara Dila tak bisa tidur. Dia terus terbayang dengan masa-masa menakutkan saat bersama Beni dulu. Tak bisa lepas dari genggaman Beni karena masih membutuhkan biaya yang selalu ibunya berikan.
Menahan semua rasa takut dan tetap berpura-pura mencintai Beni meski terpaksa.
"Huuhhhffff....tolonglah otakku! Jangan berpikir tentang masa lalu lagi, aku sudah cukup lelah" Dila bicara sendiri.
Dila menggapai ponselnya dan mencari nomor Rania. Dia menelponnya, Rania langsung mengangkatnya.
"Hallo Dila, ada apa? Kau tidak bisa tidur?" tanya Rania.
Dila tersenyum, Rania selalu tahu alasan Dila menelponnya.
"Sedang sibuk?" tanya Dila.
"Tidak, aku baru saja menyelesaikan pesanan. Ada apa? Di sana pasti sudah malam kan?" Rania menebak.
"Hmmm, sudah malam dan kau benar, aku tidak bisa tidur" jawab Dila.
Rania diam, dia berpikir dan mengingat ucapan Yudi di telpon. Dila menjaga nama dari foto itu. Dia tidak mengakui itu fotonya dan tidak mengatakan itu siapa hingga bertengkar dengan pacarnya.
~Apa masalah itu belum selesai?~ tanya hati Rania.
"Kau masih memikirkan orang-orang yang menyinggung mu?" tanya Rania.
"Bukan, aku hanya tidak bisa tidur saja. Ceritakan aku tentang pertemuan mu dengan Bondan dulu!" Dila mengganti topik.
"Tidak bisa, kau tahu aku sedang menjaga jarak dengannya. Aku tidak bisa mengingat-ingat lagi" ucap Rania.
"Yang benar saja, kalian saling mencintai, kenapa harus melakukan hal bodoh seperti itu?" keluh Dila.
"Entahlah, aku hanya selalu merasa bahwa dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik segalanya dariku" ucap Rania.
"Tak ada yang lebih baik dari mu Rania. Percayalah, semua orang tahu itu" ucap Dila.
"Ya, kau benar. Bahkan Dila Aryani Subagja pun tak pandai menyembunyikan kesedihannya seperti aku. Katakan apa yang membuatmu menelpon malam-malam?" tanya Rania.
Ramadhan yang baru pulang dari kampusnya mengerutkan dahinya mendengar kakaknya mengatakan malam-malam, padahal itu masih siang.
Dila mengigit bibirnya sendiri, ketahuan dan memang tak pandai menyembunyikan kegundahan hatinya. Dia selalu ingin bercerita dan meminta saran saudari kembarnya itu.
__ADS_1