Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
23


__ADS_3

Suara denting sendok dan garpu yang mengenai piring terdengar. Pagi ini semua sarapan di meja sesuai keinginan Anita.


Mata Bondan tak luput dari wajah Rania yang tersenyum manis dan memperlihatkan keceriaannya sebagai Dila.


Sikap Beni beberapa hari ini menujukkan kemajuan. Dia juga sudah mulai berdiskusi mengenai perusahaan dengan Anita dan Bondan.


Dina, seperti biasanya, penurut dan rajin bekerja. Dia makan sambil melihat-lihat laporan yang dikirim melalui ponselnya.


"Aku senang Ibenk sudah mulai mau menanyakan perihal perkembangan perusahaan. Tapi kamu harus mulai pergi lagi ke kantor untuk mematangkan semua pengalaman mu sayang" ucap Anita.


Beni menatapnya sembari tersenyum.


"Lagi pula sekarang kan ada Dila, dia akan mendampingi mu selamanya, iya kan?" ucap Anita.


Dia memandang Rania dengan tatapan dan senyuman yang dalam pandangan Rania adalah wajah iblis. Rania terpaksa tersenyum dan mengiyakan.


"Iya" jawab singkat Rania.


"Untuk itu, aku akan melakukan perjodohan ulang antara kau dan Dila. Sabtu malam ini akan diadakan pesta pertunangan kalian" lanjut Anita.


Rania menatap Anita dengan kebingungan, Beni menyentuh tangan ibunya dan tersenyum. Sementara Dina dan Bondan terdiam mendengar ucapan Anita.


"Perjodohan Dila dan Beni sempat terhenti karena Dila sempat memutuskannya. Sekarang harus disatukan kembali, bantu momi mengurusnya ya bang?" ucap Anita pada Bondan.


Bondan berhenti makan dan berdiri. Rania menatapnya, dia takut Bondan akan mengatakan sesuatu yang akan menyulitkan posisinya.


Anita membulatkan mata pada Bondan.


"Kenapa Bang?" tanyanya.


Bondan hanya terdiam.


~Ingin rasanya aku menarik tangan mu dan membawa mu pergi dari sini. Tapi aku tak tahu ketakutan apa yang membuatmu menatap seolah meminta aku untuk tak melakukan apapun. Apa ini Rania? Sesulit itukah menolak? Dulu untuk ibu mu, sekarang untuk siapa?~ ucap hati Bondan.


"Apa kamu keberatan?" tanya Anita lagi.


"Kenapa harus keberatan? Apa Abang suka sama Dila?" tanya Beni.


Bondan menelan ludahnya dan menatap Beni lalu mendelik.


Rania masih menatapnya.


~Demi aku, tolong jangan katakan apapun. Aku tak tahu bagaimana bisa keluar dari situasi ini, tapi ku mohon. Biarkan saja seperti ini~ ucap Rania dalam hatinya.


Bondan menghela nafas.


"Aku lupa kalau ada rapat pagi ini, maaf mengagetkan. Aku pergi mom!" jawab Bondan.


Rania lega lalu mengalihkan pandangannya dan kembali makan.


Dina terburu-buru menghabiskan makanannya dan menyusul Bondan.


Anita tersenyum.

__ADS_1


"Bang, jangan pulang larut ya! Kita harus bicara untuk acara sabtu malam" ucap Anita.


Bondan berhenti sejenak, lalu menoleh sedikit.


"Iya mom!" jawab Bondan.


Dina menatapnya dengan kebingungan. Tak ada meeting pagi untuk hari ini. Tapi Bondan begitu terburu-buru pergi.


Bondan masuk ke mobil di susul Dina. Dia hendak menyalakan mobil namun kekesalan dalam hatinya tak bisa dia bendung. Dengan sekuat tenaga dia memukul-mukuli stir mobil. Dina terkejut melihat respon Bondan yang membuatnya takut.


"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Dina.


Tangan Dina menyentuh bahu Bondan kemudian mengusap punggungnya.


Bondan masih terengah karena marah. Dia kesal tak bisa bicara bebas dengan Rania. Dia ingin sekali menanyakan alasan ketakutan yang dia lihat dalam matanya. Terlebih mominya membicarakan perjodohan ulang mereka


"Kak!" ucap Dina berusaha lagi.


"Kau tahu, punggung, lengan dan tangannya lebam. Aku tanya padanya tapi dia tak mau mengatakannya. Apa yang dilakukan si brengsek itu padanya? Itu yang ingin aku tahu" ucap Bondan.


Dina mengalihkan tangannya dari bahu Bondan ke pahanya sendiri. Dia kecewa karena Bondan mengkhawatirkan Rania. Dia juga merasa mereka sudah saling memberikan perhatian hingga Bondan tahu lebam di tubuh Rania, terlebih di bagian tubuh yang tak pernah diperlihatkan Rania.


"Tapi dia selalu bilang bahwa dia punya rencana agar bisa cepat lepas. Dia menyuruh ku untuk acuh padanya. Aku benar-benar kesal karena tidak tahu apa-apa" lanjut Bondan.


"Kalau begitu biarkan dia melakukannya sendiri" ucap Dina dengan ekspresi tak peduli.


Bondan terdiam mendengarkan.


Bondan menatapnya, merasa Dina tak seharusnya mengatakan hal itu.


"Kenapa kamu terdengar ketus sekali?" tanya Bondan heran.


Dina menghela sambil menatap ke arah jendela mobil.


~karena aku cemburu, cemburu karena aku sangat menyukai mu, ini kah bodohnya aku? benarkah yang Rania katakan? dia takkan mengerti perasaan ku jika aku tak pernah mengatakannya~ ucap hati Dina.


"Pergilah sendiri! Aku masih ada urusan" ucap Dina.


Dia belum berani mengungkapkan perasaannya dan memilih untuk menghindar. Dina keluar dari mobil dan berjalan menuju halte bus.


"Hei...! Kamu mau kemana?" seru Bondan.


Tapi Dina tak menghiraukan, dia terus saja berjalan tanpa menoleh.


"Kenapa dengannya?" gumam Bondan.


Dia heran dengan sikap Dina namun masih memikirkan Rania, masih diam berpikir bagaimana cara untuk membuat Beni melepaskannya.


Jalan yang cukup jauh menuju halte bus. Dina mengusap air matanya yang tak kunjung reda. Berjalan cukup jauh, dia sudah sampai di halte bus.


Dengan isak tangis, tanda rasa kecewa pada Bondan yang justru menyukai wanita yang baru hadir dalam kehidupan mereka selama dua bulan ini. Juga kecewa pada dirinya yang tak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya.


Dina jadi merindukan ibu dan ayahnya. Terbayang saat-saat dimana mereka mengusap air matanya saat dia mengadu tentang Bondan yang selalu mengganggunya.

__ADS_1


Ibunya tersenyum dan mengatakan bahwa hal itu baik untuknya. Bondan akan semakin dekat dengannya. Mereka tahu bahwa Dina menyukainya.


~Ya, sama seperti, ibu dan ayah, Rania paham dengan perasaan ku. Aku yakin jikalau pun dia tidak bisa memaksa Bondan untuk tidak menyukainya, dia juga pantas disayangi semua orang~ ucap Dina.


Hatinya yang sangat baik adalah didikan kedua orang tuanya. Dia mampu melepaskan yang bukan miliknya tanpa harus memendam dendam dalam hatinya.


Dengan mudah Dina mampu mengerti bahwa Rania pantas mendapatkan perhatian dari banyak orang di sekitarnya. Bahkan menurutnya Anita yang begitu dingin terhadap orang lain mampu mencurahkan kasih sayang padanya.


###


Bondan tersadar, dia menghubungi Dina. Tak bisa dia membiarkan Dina yang sudah jadi sahabatnya pergi sendirian.


Dina yang sudah di dalam bus, mengangkat telpon dari Bondan yang baru menghubunginya.


"Ya, ada apa?" jawab Dina.


"Kau yang ada apa? Kenapa tiba-tiba kesal dan pergi?" Bondan balik bertanya.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak bisa membantu berpikir cara membantu Rania, jadi ku biarkan kamu sendiri dan berpikir" jawab Dina dengan suara pelan.


"Apa? Wah...kau sudah ga mau jadi sahabatku lagi apa? Kenapa begitu?" Bondan protes.


"Kak! kakak memberiku terlalu banyak pekerjaan, bahkan untuk memikirkan perasaan ku saja, aku tidak sempat. Jadi berpikirlah sendiri. Sampai jumpa di kantor" ucap Dina lalu menutup telponnya.


Bondan menatap ponsel karena Dina memutuskan telpon.


"Aish....dia kenapa? Apa dia sedang PMS? Haaah ...mungkin saja!" gumam Bondan.


Dia menyalakan mobilnya dan berangkat ke kantor.


###


Di meja makan.


Rania merapikan meja bersama Hedi.


"Sudah Nona biar saya saja!" ucap Hedi.


Rania tersenyum dan duduk kembali di sana. Menatap kosong ke arah meja dan mengingat tentang ucapan Anita yang akan melakukan perjodohan ulang.


Rania meremas tangannya dan menggigit gerahamnya. Perasaannya kesal bercampur marah.


Selama sebulan bersama Beni ini tak mudah. Alasan Rania menerima pekerjaan ini adalah karena simpatinya pada alasan Bondan. Dia ingin menyatukan keluarganya kembali.


Bondan bukanlah anak kandung Anita, dia hanya ingin mendapat pengakuan dari ibunya yang sebelumnya tak pernah menghiraukannya. Namun semenjak dia membawa Rania, Anita menunjukkan sedikit perhatiannya yang membuat Bondan lebih senang dan bersemangat. Sama halnya dengan dirinya yang selalu ingin mendapat pengakuan dari ibunya, Vera.


Sekarang, setelah tahu Anita sama sekali tak pernah menyayangi Bondan sebenarnya membuat Rania ingin mengatakan pada Bondan untuk berhenti menghiraukan mereka. Namun ancaman Anita membuatnya tak berkutik.


Rania ingat saat pertama kali dia menatap rumah ini. Ini yang akan dia hadapi, wanita kejam yang hanya ingin mendapatkan harta mantan suaminya untuk anak dan dirinya sendiri.


Rania ingat, beberapa kali dia pernah memergoki Anita sedang bicara di telpon dan mendengar perintah pada orang itu untuk mengawasinya.


~Siapa yang harus diawasi? Lalu apa hanya Beni alasan dia mengancamku untuk tinggal?~ tanya hati Rania.

__ADS_1


__ADS_2