Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
78


__ADS_3

Rania melihat Bondan dari ruang meeting, dia bergegas keluar dan mencarinya. Sayangnya Bondan sudah di parkiran mobil dan hendak pergi. Namun beberapa orang polisi menghadangnya.


Bondan terkejut, dia menatap para polisi itu dan menanyakan apa yang membuat mereka menghadangnya.


"Kami dari kepolisian, ingin menanyakan keberadaan Ibu Anita Atmajaya. Beberapa orang mengkonfirmasi beliau terlihat terakhir kali anda bawa dari kediaman Ruby milik Atmajaya Group" ucap mereka.


"Ada apa dengan ibuku? Kenapa kalian mencarinya?" tanya Bondan sangat terkejut.


"Tersangka pembakaran restoran Vero's Spaghetti telah menyatakan bahwa orang yang memerintahkannya adalah ibu Anita Atmajaya" jelas polisi.


"Tidak! Dia berbohong, ibu takkan melakukan hal itu, dia sudah menjebak ibuku" tolak Bondan.


Tak berapa lama, Saga datang. Bondan menatapnya dan mengerutkan dahinya.


"Katakan padaku, dia pasti mengada-ada tentang ibuku" tanya Bondan.


Saga menunduk, dia mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah video yang sudah dia siapkan jika Bondan tak yakin dengan semua ucapan polisi.


Bondan tercengang melihat rekaman video saat Anita datang ke rumah sakit dan menekan Nuri secara psikis. Dia menyesal karena tak percaya pada Rania.


Kemudian video selanjutnya adalah saat Anita datang ke rumah kecil yang ada di desa terpencil untuk memberikan makanan pada Ryan, yang diambil Saga melalui ponselnya.


Bondan menghela lemas, dia tak menyangka ibunya benar-benar melakukan semua itu.


"Kau tahu dia dimana sekarang?" tanya Saga.


"Tadi pagi aku mengantarnya ke bandara Soeta. Dia nggak betah tinggal di rumah kecilku yang sekarang. Dia mau kembali ke Australia, ke tempat temannya. Dia bilang begitu" jawab Bondan dengan lemah.


Rania melihatnya dari kejauhan, dia menatap wajah Bondan yang sangat sedih mendapatkan kenyataan tentang ibunya. Bondan menatap ke arahnya, Rania berbalik, berpura-pura tak melihatnya. Dia tak mau Bondan merasa lebih sedih lagi setelah melihatnya.


Jelas Bondan melihat Rania memperhatikannya, namun hatinya juga mengatakan bahwa dirinya menyesali kesalahpahamannya pada Rania.


Bondan pergi dengan hati yang hancur. Seolah tak tahu hendak kemana, dia malah berhenti di sebuah taman dan turun. Kakinya melangkah dan diam di sebuah kursi yang di depannya terlihat pemandangan gedung bertingkat.


Rania mengikutinya, dia duduk tepat dibelakangnya, agak jauh. Merasa khawatir dengan Bondan dan hanya bisa mengikutinya saja tanpa sepengetahuannya.


~Maafkan aku Bondan, mungkin seharusnya aku mendekat dan memeluk mu dalam keadaan seperti ini. Mencoba menghibur mu atas semua kekecewaan yang menimpamu. Tapi, aku butuh sikap acuh mu padaku untuk saat ini. Jika kita bersama lagi, aku akan melemah dan melepaskan semua yang sudah aku mulai~ ucap hati Rani.


Rania berdiri dan pergi meninggalkan Bondan sendiri. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Pabrik dan pekerjanya sudah dia mintai bantuan, sisanya akan diawasi manager yang dian tunjuk.


Namun masih banyak PR yang harus dia perbaiki, Vero sangat mengharapkannya mampu untuk menyelesaikan semua dengan bijaksana.


Rania mendapatkan telpon dari Beni untuk kembali ke kantor. Davin Collins datang dan mengultimatum mereka untuk mengembalikan semua uangnya.

__ADS_1


Bondan mendengar suara Rania saat hendak masuk ke mobil, matanya mencari dan melihat dia sedang menyalakan mobil dan pergi.


"Dia mengikutiku?" gumam Bondan.


###


Dila mengemasi pakaiannya, dengan mata sembab setelah semalam dia bertengkar lagi dengan Yudi yang masih suka mabuk.


Yudi yang baru bangun, melihatnya dan terkejut.


"Kau mau kemana?" tanya Yudi.


"Pergi!" jawab Dila.


"Kenapa? Apa karena semalam?"tanya Yudi lagi.


Dila berhenti melipat, dia menatap Yudi dengan kesal.


"Menurutmu? Apa aku begitu pantas kamu perlakukan seperti itu?" Dila balik bertanya.


Yudi menggaruk kepalanya beberapa kali, dia mengingat kejadian tadi malam, dimana dia tetap memanggil Dila dengan nama Rania.


Dila melanjutkan merapikan pakaiannya. Dia bergegas keluar dan sama sekali tak pamit ataupun mengucapkan selamat tinggal. Sementara Yudi menunduk menyesali perbuatannya lagi.


"Aish kau ini mengagetkan saja!" ucap Arumi.


Yudi hanya mengangkat kepalanya untuk melihat Arumi, kemudian kembali menunduk.


"Mana Dila? Kemarin dia bilang pengen banget makan burger, aku bikinin sekalian tadi pagi" ucap Arumi dengan matanya yang mencari.


"Pergi!" jawab Yudi lemah.


Arumi mendengar namun tak begitu jelas.


"Apa?"tanyanya lagi.


"PERGI! DIA PERGI!" teriak Yudi.


Arumi terkejut dan menumpahkan burger yang tadi dia sajikan di piring. Dia menatap kakaknya yang kini berperangai buruk. Namun Arumi tak memperdulikannya, dia memikirkan Dila. Dia pergi sambil menghubungi Vero dan mengatakan bahwa Dila pergi.


Vero panik, dia sedang menunggu Rania untuk membicarakan permintaan Davin Collins yang dia kenal dulu sebagai manager baru, mengultimatum perihal hutang yang dia minta untuk dibayarkan segera.


Rania datang tak berapa lama, dia langsung menatap mata kakaknya yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rania.


"Dila, aku harus cari dia" ucap Vero.


"Dila! Dia pergi?" tanya Rania.


"Ya, kita sama-sama tahu apa yang mungkin membuatnya pergi. Aku mau cari dia, tapi kamu di sini sendiri. Aku..." Vero ragu untuk pergi.


"Kak, Beni sebentar lagi kembali dari pabrik, lagi pula yang datang kesini kan bukan orang lain. Dia teman lama" ucap Rania berusaha membuat kakaknya tak khawatir.


"Ok, kalo ada apa-apa telpon ya!" pinta Vero.


"Siap!" ucap Rania tersenyum.


Vero pergi, Rania melambaikan tangannya dan masih tersenyum hingga Vero hilang dari pandangannya. Namun hatinya juga takut, Davin berubah, dia juga takut dengan kemungkinan yang akan terjadi jika Davin tak mau mendengarkannya.


Rania berjalan dengan perlahan menuju ruangannya. Dia melihat Davin sedang duduk dan memainkan ponselnya.


"Akhirnya kau datang!" ucap Davin.


Rania menghela nafas.


"Kau datang kemari, untuk apa? Tadi kau bahkan melempar ku" ucap Rania.


Davin menatap wajah Rania.


"Aku suka padamu itu dulu, sekarang sudah tidak. Aku kemari untuk meminta kembali uang ku yang dipinjam Anita Atmajaya. Sudah terlalu lama uang itu mengendap disini" ucap Davin.


"Aku juga tidak pernah berpikir bahwa kamu masih suka padaku. Tapi, aku hanya tidak menyangka, Davin yang aku kenal sebagai pria manis, justru menjadi sangat jahat dan mesum" ucap Rania sambil mengambil berkas.


Davin kesal mendengar ucapan Rania, dia menarik tangan Rania dan bicara dengan kesalnya.


"Kembalikan saja, jangan terlalu banyak protes dengan pribadi ku. Jika kau tidak bisa mengembalikannya dalam satu bulan ini, aku akan menyita semuanya. Akan ku pecat semua orang dan yang bertanggung jawab adalah kau yang tak mampu membayar padaku. Kecuali jika kau mau memberikan satu malam mu dengan ku. Aku akan melupakan semuanya"


Rania menepis tangan Davin yang memegang erat tangannya.


"Aku akan mengembalikannya dalam satu bulan. Aku tidak akan memberikan sesuatu yang bisa menjadikan mu semakin menjadi pribadi yang buruk" ucap Rania.


Davin mengangkat kepalanya merasa Rania sangat berpendirian teguh.


"Anda tahu dimana jalan keluarnya. Silahkan!" ucap Rania membukakan pintu.


Davin berjalan keluar tanpa bicara, seolah mengakui ketegasan Rania. Kemudian Rania membanting pintu setelah dia keluar. Davin terhentak merasa terkejut. Namun dia hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


"Kau tidak berubah, aku semakin suka" gumamnya sambil pergi dari kantor itu.


__ADS_2