
Jolie menatap wajah Yudi yang tampan saat menjelaskan hal yang ingin dia lakukan.
"Apa kau mendengarkan aku?" tanya Yudi.
"Hmmm?" Jolie tak fokus.
Yudi menghela.
"Aku kemari bukan untuk minum kopi dan dipandangi oleh mu. Bisakah kau melakukannya?" Yudi memastikan.
"Entahlah, aku sih mudah saja melakukannya. Tapi apa imbalannya?" tanya Jolie.
"Aku hanya asisten chef, jangan berharap aku punya banyak uang" ucap Yudi.
Jolie tersenyum melihat cara bicara Yudi.
"Tenang saja, aku cuma mau kamu jadi pacar aku, bisa kan?" Jolie memberi syarat.
Yudi menatapnya datar.
"Kau dan Dila hanya teman kan?" ucap Jolie.
Yudi menghela, dia ingat dengan ucapan Vero yang memintanya untuk memberikan Dila yang terbaik.
~Apa Marvin seorang yang baik untuk Dila?~ tanya hati Yudi ragu.
"Kenapa? Apa berat menjadi kekasihku? Aku cantik pintar dan seorang admin sebuah perkumpulan. Apa yang kurang? Ok, hanya dua bulan, kita hanya pacaran selama dua bulan. Itu saja syaratnya" Jolie ingin Yudi langsung menyetujuinya.
Yudi masih berpikir, dia tak bisa melakukan kesalahan yang sama. Menjalin hubungan karena terpaksa lagi.
"Hanya dua bulan. Setelah itu, aku tidak mau dipaksa lagi" ucap Yudi membuat perjanjian.
"Ok, hanya dua bulan" ucap Jolie dengan senyum manis di bibirnya.
Sementara itu, Marvin datang ke aula perkumpulan mereka. Di sana ada Chloe dan teman-temannya yang sedang mengobrol.
Marvin hendak berbalik lagi untuk kembali karena tak mau bertemu dengan Chloe. Namun Chloe menahannya.
"Marvin, please!" ucap Chloe.
"Untuk apa? untuk semua keserakahan mu?" ucap Marvin.
"Marvin, kamu tahu kalau aku cuma mikirin keluarga kamu. Mereka akan malu jika tahu kalau dia adalah korban perkosaan" Chloe berusaha lagi.
Marvin memejankan matanya dengan kesal. Dia masih terikat dengan perasaan akan mengecewakan keluarganya. Dia bergerak untuk pergi, Chloe masih menahannya.
"Marvin!"
"Dengar, aku sedang tak ingin memikirkannya. Aku akan pulang!" ucap Marvin.
Dia melepaskan tangan Chloe dengan perlahan, namun saat itu Dila melihatnya. Dila mengira mereka sedang saling berpegangan tangan. Dia menatap Marvin dengan tatapan kecewa. Dia pergi tanpa mereka ketahui bahwa Dila melihat mereka.
Dila berjalan menuju apartemennya
__ADS_1
"Kenapa sakit ya? Aku nggak naruh hati dalam hubunganku dengan Marvin. Tapi kenapa rasanya sakit banget lihat dia bareng Chloe?" gumamnya.
Dila masuk ke apartemen dan tersenyum pada Michael yang menyapanya. Michael melihat kesedihan dari wajah Dila. Tak biasanya dia begitu.
Masuk ke rumah, Dila melihat notes untuknya. Dila membuka kulkas dan melihat dua kotak makanan yang harus dia hangatkan jika ingin makan. Namun dia belum mau makan. Berjalan ke kamar kemudian membaringkan tubuhnya.
Saat hendak menutup matanya, dia mendapat telpon dari ayah Marvin.
"Hi Jason!"
Sapaan Dila merupakan permintaan dari ayah Marvin sendiri. Dia lebih senang dipanggil nama dibandingkan dengan mister atau panggilan yang lain. Itu membuatnya terdengar akrab.
"Hi Dila! Aku sedang ingin makan malam bersama mu. Kau bisa datang?" tanya Jason.
"Hmmm...."
"Jangan menolak, ada yang ingin aku tanyakan juga" ucap Jason.
"Baiklah!"
"Restoran dekat klinik, aku baru akan pulang dari klinik"
"Ok, aku datang dua puluh menit lagi" Dila.
Dia bangun dan berganti pakaian. Kembali turun dan menyapa Michael.
"Michael, jika ada yang menanyakan ku, aku pergi makan malam dekat klinik" ucap Dila.
Dila melambaikan tangannya. Tak berapa lama, Marvin datang dan memarkirkan mobilnya. Dia melihat Dila berjalan dan menghentikan taksi.
~Dia berdandan rapi, apa dia akan makan malam dengan Yudi?~ Marvin berpikir.
Dila pergi, Marvin masuk ke apartemen dengan wajah sedihnya. Michael menyapanya pun dia tak menjawab.
Sampai di restoran, mata Dila mencari. Dia melihat Jason duduk menunggunya di meja tengah.
Jason berdiri dan menyambut Dila, dia menghampiri dan mencium pipi Dila kemudian memeluknya.
"Apa kabar sayang!" sapa Jason.
"Baik, bagaimana dengan mu?" tanya Dila.
"Tentu saja aku harus selalu baik" jawab Jason dengan senyuman.
Meski baru mengenalnya selama tiga bulan terakhir, Jason sangat mengagumi Dila dari caranya menyampaikan pendapatnya. Saat mendengar Marvin hendak melamarnya, dia sangat antusias dan setuju.
"Kau mau pesan apa?" tanya Jason.
Dila masih melihat menu untuk memilih, Jason pun masih memilih dengan melihat beberapa menu.
"Aku.....fettucini saja, minumnya strawbery smoothy" ucap Dila.
"Ok" Jason masih memilih.
__ADS_1
Dila memberikan daftar menu kemudian menaruh tas kecilnya di meja.
"Aku steik medium saja, minumnya zero bir" pinta Jason.
Dila tersenyum pada pelayan, Jason mengerutkan dahinya.
"Aku sangat lapar!" ucap Jason menerangkan alasannya memilih steik.
"Kau memegang beberapa perusahaan, sudah sangat pasti jika saat pulang sangat lapar" ucap Dila.
Mereka mengobrol dan bicara tentang kampus juga jenis kesulitan yang bisa dihadapi oleh pimpinan di klinik dan perusahaan lain. Dila juga menceritakan pengalamannya saat menangani mallnya. Hingga pesanan datang, mereka pun makan.
Selesai makan, Jason melap mulutnya dan minum birnya.
"Ada salah paham apa kau dengan Marvin?" tanya Jason.
Dila berhenti mengunyah dan melap mulutnya. Dia minum dan menaruhnya dengan pandangan yang tersirat mencari kata-kata yang tepat.
"Ada apa? Apa hal yang sangat serius?" tanya Jason lagi.
Dila menggigit bibirnya sendiri.
"Marvin tidak mengatakan apapun?" Dila malah bertanya.
"Kau tahu sendiri, bekerja di klinik saja itu karena dia hanya ingin patuh saja. Terpaksa adalah kata yang tepat untuknya. Mana mungkin dia menceritakan hubungan tentang mu" ujar Jason.
"Lalu, tahu darimana aku dan dia ada masalah?" tanya Dila.
"Aku yang pertama bertanya, kenapa jadi kamu yang banyak bertanya sekarang?" Jason menertawakannya.
Dila ikut tertawa.
"Aku belum bisa mengatakan apa masalahnya, tapi aku hanya akan mengatakan bahwa apapun yang aku katakan kemarin, besok atau nanti, Marvin tidak akan percaya padaku. Dia selalu ragu"
Dila tiba-tiba diam, dia ingat saat Marvin menyentuh Chloe.
"Yakinkan dia, apa kau perlu bantuan?" tanya Jason.
Dila menatap Jason kemudian tersenyum.
"Tidak, aku sengaja akan menghindarinya dulu. Entah kenapa, meskipun rasanya sakit, tapi aku sedang senang sendiri" jawab Dila.
"Ok, aku akan menunggu cerita mu, kau tahu kalau aku sangat suka bicara banyak dengan mu" ucap Jason.
"Ya, aku tahu. Aku juga banyak mencuri ilmu darimu" senyum Dila saat mengatakannya.
"Bagus, itu berarti pembicaraan kita tidak sia-sia" ujar Jason.
Dila tersenyum, selalu senang bicara dengan pimpinan klinik yang juga haus pujian itu, namun lebih lega karena Jason tak bertanya terlalu dalam mengenai masalahnya dengan Marvin.
Jason mengantar Dila pulang, sampai depan pintu masuk gedung. Dila melambaikan tangannya dan berbalik hendak masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat Marvin berdiri menatapnya.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat.
__ADS_1