
Arumi menangis dan memeluk Vero yang masih terdiam kaku.
"Di rumah sakit mana?" tanya Vero.
Satu-satunya pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Aku akan antar kalian" ucap Saga.
Vero melangkah ditemani Arumi yang selalu memegang tangannya. Beni malah pergi entah kemana, dia tak ikut ke rumah sakit. Sementara Dila masih diam membeku.
Hedi melihatnya dan hanya bisa pergi kembali berkerja. Meskipun hatinya juga ikut bersedih atas hal yang menimpa Rania.
Sampai di rumah sakit, mereka melihat Bondan sedang terduduk di lantai menangis memeluk kedua lututnya, menunggu hasil pemeriksaan.
Tak ada satupun orang yang bisa menahan tangis menatap Bondan begitu tersiksa dengan keadaan Rania. Sementara Vero semakin sedih dan sangat takut dengan keadaan adiknya.
Dokter keluar, dia menatap semua orang yang ada disana.
"Kalian keluarga pasien wanita yang baru saja masuk ruang IGD?" tanya Dokter.
Vero mengangguk, Bondan berdiri dan mengusap air matanya.
"Bagaimana dengan Rania?" tanya Bondan.
"Ouh namanya Rania, tolong salah satu dari kalian mengurus administrasinya, pasien harus masuk ruang ICU karena syok berat yang dialaminya" ucap Dokter.
Arumi bergegas pergi setelah Vero menatapnya. Dia mengerti Vero memintanya untuk mengurus administrasinya.
"Pasien mengalami cukup banyak luka pukul di sekujur tubuhnya. Dia juga terindikasi telah mengalami pelecehan seksual. Luka di tangan dan kakinya menunjukkan perlawanan kerasnya membuka ikatan tali. Aku harap kalian bersabar" jelas Dokter.
Dokter pergi, Vero terduduk lemas, Bondan mendekat ke pintu menatapnya dari jauh.
"Aku minta kau untuk menemukan pelakunya, kerahkan semua teman mu, aku akan bayar berapapun agar pelakunya bisa tertangkap" ucap Vero.
Tiba-tiba ponsel Bondan berdering.
"Hallo Benk!" jawab Bondan.
"Aku akan menemukannya, aku akan menyalakan GPS ponselku" ucap Beni singkat.
Bondan mengerutkan dahinya, awalnya dia tak paham. Namun dia mengerti saat menatap Rania.
"Beni pergi kemana?" tanya Bondan pada Saga dan Vero.
Mereka berdua terheran dan saling menatap.
"Entahlah, saat aku mengabari mereka di rumah Ruby, dia juga keluar tapi tak sampai kemari" jawab Saga.
__ADS_1
Sementara Vero hanya menggelengkan kepalanya. Namun terlihat memikirkan kemungkinan kemana Beni pergi.
"Vero, jaga Rania!" ucap Bondan sambil memberikan ponsel Rania juga memegang tangannya.
Vero terheran.
"Kau mau kemana?" tanya Vero.
"Kita harus pergi, kurasa Beni menemukan mereka" ucap Bondan sambil menatap Saga.
Saga membulatkan matanya dan bergegas ikut pergi bersama Bondan. Vero hanya diam melihat kepergian mereka. Arumi yang baru datang terheran melihat mereka yang buru-buru pergi.
"Mau kemana mereka?" tanya Arumi.
"Bondan bilang Beni menemukan mereka" ucap Vero masih tak percaya.
"Mereka?" ucap Arumi juga tak percaya.
Vero hanya mengangguk, dia berdiri dan mendekat ke pintu ruangan. Matanya hanya menatap Rania yang terbaring lemah. Arumi mendekat dan memegang bahu Vero.
"Kau selalu membandingkan antara kepedihan hidup Rania dan Dila. Apa harus seperti? Harus sampai dia mengalami hal seperti ini agar kau paham bahwa dia sangat menderita?" ucap Vero.
"Maafkan aku! Aku hanya.." Arumi tak bisa menjelaskan niat baiknya menyatukan mereka.
"Aku tahu, kau hanya ingin kami bersama, bersatu dan tak ada kesalahpahaman lagi. Tapi kali ini, entah, aku tak tahu harus berbuat apa" ucap Vero menangis lagi.
###
Beni hendak menabrakkan mobilnya ke pagar rumah Davin. Namun beruntung Saga dan Bondan datang dan menahan perbuatannya.
"Dengar, jika seperti ini, justru dia akan menuntut atas perbuatanmu" ucap Bondan.
"Biarkan saja, sekalian aku bunuh dia, aku tidak takut jika harus dipenjara" ucap Beni kesal.
"Rania akan lebih sedih jika tahu kamu melakukan hal itu" ucap Bondan.
Beni baru bisa diam mendengar nama Rania.
"Aku akan mengeluarkan surat penangkapan atas semua pria dalam video itu, jadi serahkan semua pada polisi" ucap Saga.
Beni mereda, dia menuruti semua perkataan Bondan dan Saga.
~Syukurlah Beni mau mendengarkan~ ucap hati Bondan lega.
Beni akhirnya ikut Bondan ke rumah sakit, sementara Saga kembali bekerja untuk menangkap semua tersangka yang terekam video yang ternyata sudah tersebar di media sosial.
Semua orang menjadi geram dengan tindakan kriminal yang dilakukan di depan umum itu. Mereka mengecam para pelaku dan berdoa untuk keselamatan Rania yang diculik.
__ADS_1
Dila membaca semua komentar netizen yang mendoakan semua keselamatan Rania. Teman-temannya pun kini bersimpati padanya.
Dila menaruh ponselnya dengan kesal. Dia mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan dapur. Dia menyibukkan diri menyiapkan makanan untuk diantarkan ke rumah sakit, untuk Vero, Beni dan Bondan.
~Ini saatnya mengambil hati mereka kembali, Ayo Dila kamu harus berjuang~ ucap hati Dila.
Tangannya dengan perlahan memotong wortel dan sayuran yang akan dimasaknya.
###
Sampai dirumah sakit, Bondan melihat Bu Vera sedang duduk menungguinya di ruang ICU. Ramadhan dan Bu Yuni juga ada di sana. Pak Nurdin sedang bicara dengan Vero di ujung lorong.
Seorang suster datang dan menegur mereka.
"Tolong bapak ibu, karena yang menunggu pasien maksimal diperbolehkan hanya dua orang, untuk yang lainnya bisa bergantian jaga atau datang di jam besuk saja" ucap suster.
Semua orang saling bertukar pandang. Bondan menghampiri Vero dan bicara.
"Kau pulanglah dulu, ibu Vera pasti masih mau disini. Besok baru giliran" ucap Bondan.
Vero menatap Pak Nurdin yang mengangguk. Kemudian menatap Arumi, dengan mengangkat kedua alisnya memberi kode untuk ikut pulang.
"Baiklah, kabari aku segera jika terjadi sesuatu" pinta Vero.
Bondan mengangguk, kemudian berbalik menghampiri Ramadhan dan Bu Yuni bersama Pak Nurdin.
"Ramadhan pulang aja, ibu disini sama aku. Besok siang jemput biar bisa tidur siang. Ok!" ucap Bondan sambil mengusap punggungnya.
Ramadhan mengangguk, dia dirangkul Bu Yuni kemudian mereka berjalan keluar.
Sementara itu Beni masuk ke ruang ICU begitu saja, membuat Bu Vera kebingungan dan akhirnya keluar setelah melihat Beni memegang tangan Rania kemudian menangis.
Bondan hendak melarang Beni, namun akhirnya membiarkannya dan meminta bu Vera duduk menunggu bersamanya.
Beni mencium tangan Rania yang pergelangannya dibalut perban.
"Maafkan aku karena tak ada saat kau membutuhkan ku. Maafkan aku karena membiarkan mu pergi sendirian. Maafkan aku Rania!" ucap Beni.
Seolah mendengar semua ucapan Beni, Rania matanya meneteskan air mata.
"Aku akan membalaskan penderitaan mu Rania, aku akan mendatanginya. Akan ku buat dia menyesal telah melakukan ini padamu" lanjut Beni.
Tangan Rania bergerak, seolah ingin menahan kepergian Beni.
"Ya, sembuhlah. Kak Bondan akan menjaga mu. Dia akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi. Aku sangat mencintaimu Rania. Sangat mencintaimu" ucap Beni sambil mencium keningnya.
Rania merespon, Beni meninggalkan ruangan ICU dengan berlari. Bondan heran melihatnya, dia hendak menyusul Beni, namun Rania kejang. Dia langsung memencet bel untuk memanggil suster.
__ADS_1
Dokter dan suster datang memeriksa dan menyuntikkan obat penenang padanya.