Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
75


__ADS_3

Saga melaporkan hasil pengintaiannya pada anggota polisi yang lain. Dia bersiap untuk menangkap Ryan yang ditemui Anita di rumah kecil itu. Menunggu beberapa saat, beberapa anggota membantu untuk menyergap, dua orang bersiaga di pintu belakang, sementara Saga dan satu temannya bersiap untuk mendobrak pintu setelah sekali mengetuk.


Ryan hendak membuka pintu, mengira Anita kembali lagi untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Namun alangkah terkejutnya dia saat Saga menendang pintu dan membuatnya terpental. Saga langsung menodongkan pistol ke wajah Ryan dan membuatnya diam tak berkutik.


###


Rania sedang mencari sebuah biodata pemberi dana dari ruangan kerja yang sebelumnya selalu digunakan Anita. Dia masih tak menemukannya meski semua lemari dia obrak-abrik. Beni menatap Rania yang kelelahan, dia tersenyum dan mengelus kepalanya. Rania menghindari kemudian menatap meja yang terlihat ada laci yang terlewati untuk dia periksa.


Saat hendak membuka laci itu, ponselnya berdering dan membuatnya berhenti.


"Apa?" seru Rania merasa terkejut sekaligus senang.


"Ya, Ryan sudah ditangkap. Dia sudah ada di kantor polisi sekarang" ucap Saga.


Rania menatap Beni yang memasang wajah seolah bertanya tentang apa yang dia dengar. Rania mendekat dan memeluknya. Beni terkejut, baru saja dia menolak untuk mendapatkan perhatian darinya, sekarang dia memeluknya dengan tersenyum bahagia.


"Ada apa?" tanya Beni.


"Ryan, orang suruhan Anita sudah ditangkap. Ini berarti kejahatan Anita juga akan segera terungkap" ucap Rania bahagia.


Namun beberapa saat Rania baru sadar bahwa Beni adalah anak Anita. Dia merubah wajah senangnya menjadi datar dan menunduk.


"Maaf, aku..." ucap Rania terbata.


"Sudahlah, aku juga sadar dengan semua kejahatan ibuku sendiri. Jadi tidak apa-apa!" ucap Beni untuk membuatnya tak canggung.


Rania memegang tangan Beni membalas perhatiannya.


###


Anita baru selesai mandi, dia hendak tidur. Bondan baru datang dan melihat keadaan ibunya di kamar.


"Momy! Apa Momy sudah makan?" tanya Bondan.


"Sudah, tadi Momy makan di tempat teman. Gratis. Kemarilah, kamu pasti cape, sini berbaring di pangkuan Momy sebentar" jawab Anita.


Bondan masuk dan hanya memeluknya.

__ADS_1


"Nggak Mom! Aku mau istirahat aja, Momy juga istirahat ya" ucap Bondan sambil mengecup kening ibunya.


Bondan pergi dan menutup pintunya, Anita menghela merasa lega untuk tak harus berpura-pura lagi.


Bondan masuk ke kamarnya dan duduk sambil melepas dasinya. Menghela beberapakali membuat semakin merasa sangat lelah. Wajah Rania masih selalu terbayang dimatanya.


~Semua sangat berbeda, tak sama seperti saat aku berjuang dan kau adalah penyemangat ku~ ucap hati Bondan.


Bondan membersihkan diri dan bersiap tidur, namun suara berisik dari kamar ibunya membuatnya penasaran. Dia kembali melihat keadaan Anita.


Bondan melihat Anita buru-buru mengemasi pakaiannya, wajahnya terlihat panik.


"Ada apa Momy?" tanya Bondan.


Anita terkejut, dia menelan ludah sambil berhenti mengemas pakaian. Bondan menarik bahunya untuk berbalik, Anita pun berbalik dan menatap Bondan.


"Ada apa? Kenapa berkemas?" tanya Bondan khawatir.


Anita hanya diam dengan dada yang kembang kempis, takut juga panik. Dia mendapatkan kabar, rumah yang ditempati Ryan dipenuhi polisi dan dia tertangkap.


"Mom!" Bondan memanggilnya lagi dengan menggoyangkan bahunya.


"Momy ini kenapa sih?" tanya Bondan lagi lebih khawatir.


Anita terduduk di ranjang dan mengusap wajahnya dengan tangannya. Bondan ikut duduk di depannya dan memegangi tangan Anita yang satunya.


"Bondan!" ucap Anita.


"Iya, kenapa Mom?" Bondan mencoba membuatnya tenang.


"Momy gak bisa tinggal disini! Momy gak betah, momy mau ikut teman Momy di Ausi, dia bilang momy boleh tinggal selama yang Momy mau bersamanya. Please Bondan, Momy mohon!" Anita menangis.


Bondan menghela, dia terduduk di lantai dan merasa sedih.


"Maafin Momy sayang, tapi..."


"Ok Mom, besok aku antar Momy ke Bandara" ucap Bondan sambil berdiri.

__ADS_1


Anita mengusap wajahnya dan merubah ekspresinya yang sedih setelah Bondan pergi. Dia menghela karena merasa sangat mudah membuat Bondan percaya padanya.


Sementara Bondan, dia sangat kecewa. Dia sangat ingin tinggal dengan Anita sebagai bentuk kasih sayangnya, namun Anita sudah terbiasa hidup nyaman dan tak bisa tinggal di rumah sempit itu. Bondan membaringkan tubuhnya dan mencoba menutup matanya untuk tidur.


Apapun masalahnya, tetap wajah Rania yang muncul. Dia membuka mata dan mengambil ponselnya. Dia memutar video saat bersama Rania yang masih dia simpan.


Tanpa disadari, video itu membuat rasa rindunya terobati dan mulai mengantuk. Bondan tertidur dengan ponsel yang tergeletak di sisi bantalnya.


###


Rania langsung pergi ke kantor polisi bersama Beni, Vero dan Arumi sudah ada disana. Arumi menatap Rania yang menurutnya sudah terlihat berbeda secara penampilan dan tentang kedatangannya bersama Beni.


"Gimana Kak?" tanya Rania.


"Dia lagi di sel tahanan, besok akan diadakan berita acaranya" jawab Vero sambil memeluknya.


Vero membelai rambut Rania dan tersenyum padanya.


"Akhirnya, setidaknya kamu bisa nggak khawatir lagi tentang Nuri" ucap Vero.


"Huuh, aku bisa ajak dia ke Korea untuk oprasi nanti" jawab Rania.


Arumi diam saja, Vero paham dengan sikapnya. Dia ingat saat Arumi memintanya untuk bertemu di The Coffe, dia mengeluhkan tentang Dila yang merasa menjadi malang setelah Yudi mengacuhkannya. Arumi juga menyalahkan Yudi yang tak punya prinsip, tak melupakan Rania untuk tetap menjaga Dila. Bagaimanapun Dila, dia tak seharusnya dibandingkan meskipun itu dengan Rania sekalipun.


Vero tak bisa berbuat apa-apa, dia jelas lebih memihak Rania dibandingkan Dila. Vero sangat tahu bagaimana Rania menjalani hidup tanpa ayah dan ibu kandung. Sangat jauh berbeda dengan Dila yang sangat serba berkecukupan.


Vero memeluk Rania dari samping dan terus bicara dengannya. Sementara Arumi dan Beni masih berdiri menatap kedua adik kakak itu bicara.


Saga menemui mereka setelah bicara dengan atasannya. Rania dan Vero bicara panjang lebar dengannya mengenai BAP yang akan diadakan besok. Namun sayangnya, Rania tak bisa hadir besok untuk menyaksikan semua itu. Dia harus pergi menemukan orang mendanai Anita secara besar.


Vero berjanji akan datang dan menyaksikan semuanya. Rania merasa lega, dia senang semua akan berakhir.


"Ryan harus mengatakan siapa orang yang menyuruhnya. Kejahatan mereka harus terbongkar apapun yang terjadi" ucap Rania.


"Tenang saja, aku akan membuatnya bicara" ucap Saga.


Rania tersenyum, dia merasa lega. Dia akan dengan cepat memberitahu Bondan tentang semuanya. Bondan akan mengerti mengapa dia begitu berusaha membongkar kebohongan dan kejahatan Anita ibunya.

__ADS_1


~Kamu terlalu baik Bondan, ibu tiri yang begitu jahat pun masih sangat kamu sayangi. Aku akan membuka matamu meski itu sangat sulit. Tunggu saja~ ucap hati Rania.


__ADS_2