Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
128


__ADS_3

"Putrinya terluka, dia minta orang buat ke sana besok" ucap Clara sambil memasukkan kertas kontrak ke dalam map.


Bondan mengambilnya dengan tiba-tiba.


"Aku saja yang kesana" ucap Bondan.


Dia tak berbalik apalagi pamit, Clara menatapnya kesal.


"Ini sudah malam, tanda tangan kontrak bisa besok pagi" gumam Clara.


Bondan mengebut ke kedai, sudah tak ada orang di sana. Dia melihat parkiran pun tak ada satu mobilpun.


Dia mengintip ke dalam dari jendela. Tiba-tiba suara Rania terdengar.


"Siapa itu? Ada perlu apa ya?" serunya.


Tiba-tiba lampu padam. Ada pemadaman lampu berkala malam itu, jadi kedai tutup lebih cepat. Rania menyalakan lampu ponselnya, begitu juga Bondan. Mereka saling menatap dalam cahaya terbatas itu.


Serasa diiringi oleh sebuah lagu penantian yang panjang, Bondan menatap wajah Rania yang sangat dia rindukan. Rania tersenyum dan mendekat.


"Ada apa malam-malam begini?" tanya Rania.


Bondan masih menatapnya.


"Tandan tangan kontrak catering" ucapnya masih tak melepas pandangannya.


Rania murung, dia mengira Bondan ke sana sengaja untuk menemuinya. Bondan mengangkat kedua alisnya seolah bertanya perubahan raut wajahnya.


"Ada pemadaman, besok saja" Rania berbalik hendak pergi.


Bondan meraih lengannya yang tadi terluka.


"Awww!" seru Rania kesakitan.


Bondan mendekat dan memeriksa. Dia membuka cardigan milik Rania dan melihat lukanya tak ditutupi. Mata Rania membulat karena dia langsung membuka cardigannya. Sedangkan Rania hanya memakai kaus tipis karena akan tidur.


"Kenapa nggak di perban? Gimana kalau infeksi? Ceroboh banget sih kamu!" Bondan menghela keras dan terus mengeluh.


Rania menatap wajah Bondan dan menamparnya dengan pelan. Bondan membulatkan matanya karena tamparannya. Rania menarik bagian cardigan yang ada di tangan Bondan yang masih menganga. Dia mengerti sudah mengejutkannya.


"Maaf" ucap Bondan.


"Besok saja kalau mau menandatangani....."


Rania belum selesai bicara tapi Bondan malah memeluknya dengan erat dan membuatnya terkejut.


"Jangan terluka, aku bisa mati karena takut terjadi sesuatu padamu" ucap Bondan dengan mata tertutup.


Rania senang masih bisa dipeluk pria yang dia cintai. Yang bertahan mencintainya meski dikecewakan berkali-kali. Dia sudah berjanji takkan menghidarinya jika bertemu kembali.


"Aku sangat merindukanmu" bisik Rania.


Bondan tersenyum, dia semakin erat memeluk saat tangan Rania membalas pelukannya.

__ADS_1


###


"Aku nggak mau!" teriak Arumi.


"Kolega kita banyak, menunya harus menu yang elegant dong sayang!" suara Vero meninggi.


Dila menatap mereka bergantian sambil memakan cemilan seolah sedang menonton drama pertengkaran sebelum pernikahan.


"Kamu ini aneh, masa nyuruh kerja di hari pernikahan aku sendiri!" keluh Arumi.


"Ya nggak gitu, maksud aku...."


"Pokoknya aku mau libur sebulan!" Arumi masuk ke kamarnya dengan kesal.


Brukkk


Suara pintu yang dia pukul dari dalam, karena saat menutupnya tak terlalu kencang. Dila tertawa tanpa suara. Dia menahannya dari tadi. Vero duduk sambil mendelik. Dila masih tertawa.


Vero menghela, Dila berdiri dan berisyarat akan mengatasi Arumi sambil tetap tertawa. Dila mengetuk sekali dan masuk.


"Ini aku!" seru Dila.


Dia mencari Arumi, tapi tak ada. Dila menunggunya karena terdengar suara air mengalir. Arumi keluar dan menatap Dila.


"Aku kira kakakmu!" ucap Arumi sambil memajukan mulutnya.


"Mau aku panggilkan!" Dila bersemangat menggodanya.


"Tidak usah!" Arumi melambaikan tangannya.


Arumi berbaring miring menghadap pada Dila.


"Aku mengerti maksud mu, tapi kak Vero juga punya impian sendiri tentang pernikahannya" ucap Dila.


Dia mengangkat satu kakinya dan memeriksa kukunya. Arumi diam melamun mendengarkan.


"Aku sih ngerti maksudnya, tapi nanti ujungnya aku yang disuruh handle semua sampai H mines satu. Aku kan juga mau kelihatan fresh pas nikahan, masa mau stress karena pekerjaan aku nggak bisa bikin kakak kamu puas dengan hasilnya" keluh Arumi.


Dila tertawa, dia membaringkan tubuhnya kemudian mengelus lengan Arumi.


"Yang sabar ya, kakak aku memang kayak gitu orangnya" ucap Dila yang masih sedikit tertawa.


"Cariin solusi dong Dil, masa mau kayak gini sampe hari H" Arumi merengek.


Dila bangun dan menggeliat.


"Huaaaahhhmmmm..ngantuk ah, mau tidur. Besok mau kerja lagi nih" Dila mengabaikan rengekan Arumi.


Dia keluar dari kamar Arumi dan terkejut oleh Vero yang berdiri menunggunya keluar.


"Kaaaak!" Dila memegang dadanya karena kaget.


"Dia ngomong apa?" tanya Vero.

__ADS_1


Dila tersenyum dan hendak mengerjai kakaknya.


"Marahlah, masa seneng" ucap Dila melangkah maju.


Vero mengejarnya.


"Dia nyerah nggak?" tanya Vero masih penasaran.


"Nggak, kali ini Kak Vero yang harus nyerah sama keputusan Arumi. Kalo nggak, dia bisa batalin semuanya" ucap Dila berbalik tapi berjalan mundur dan berisyarat dengan tangan yang memotong lehernya.


Dila masuk ke kamarnya. Vero menggaruk kepalanya, dia bingung harus melakukan apa. Dia meminta bantuan Rania untuk bicara dengan Arumi. Dia hendak menelpon, namun dia melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 10 malam, dia pun hanya mengirim pesan.


###


Rania membuka pesan dari Vero, dia tersenyum. Bondan yang sedari tadi tak melepas pandangannya dari Rania, ikut tersenyum.


"Siapa?" tanya Bondan.


"Kak Vero, minta aku bicara sama Arumi tentang keinginannya menyajikan masakan Eropa. Tapi Arumi maunya masakan Indonesia" jelas Rania.


Bondan memegang tangan Rania yang duduk di dekatnya terhalang meja.


"Kalau buat acara kita, kamu mau masakan apa?" tanya Bondan sambil mengusap usap tangan Rania yang dipegangnya.


Mata Rania membulat mendengar pertanyaan Bondan. Dia tersenyum sambil mengalihkan pandangannya.


"Apa sih!" jawab Rania sambil tersenyum.


"Kalau aku sih maunya masakan Indonesia aja. Biar nanti Pak Nurdin yang urusin, kan lumayan biar irit biaya pernikahan" ucapnya lancar seolah acara itu akan segera dilaksanakan.


Rania melepas tangan Bondan.


"Huhfff, belum apa-apa aku sudah ngerti gimana perasaan Arumi" keluh Rania.


"Hei, mencoba untuk tetap hemat itu baik kan?" Bondan mencari alasan.


"Kalian pelit, itu bahasa sederhananya" ucap Rania.


"Trus maunya gimana coba?" tanya Bondan memancing respon Rania.


"Ya aku maunya, seminggu sebelum pernikahan aku istirahat dan memanjakan diri. Biar sampai hari pernikahan itu bisa terlihat cantik banget. Kalau harus ikut mikirin ini itu ntar gimana kalau stress. Wajahnya jadi kusam dan nggak segar. Nanti kamu sebagai suami juga pas....."


Rania berhenti bicara saat hendak membahas malam pertama, mengingat bahwa dirinya adalah korban perkosaan. Wajahnya berubah jadi diam datar.


Sementara Bondan tertawa mendengar semua keinginannya.


"Akhirnya, sekarang aku tahu keinginan calon istriku. Aku akan siap melakukan semuanya untuk mu" ucap Bondan tersenyum bahagia.


Dia meraih tangan Rania lagi dan jongkok di hadapannya. Rania menatap wajahnya yang sangat bahagia. Tak berubah sedari pagi, awal mereka bertemu lagi. Bondan mencium tangan Rania dan meletakkan kepalanya di pangkuan Rania yang mulai mengusap kepalanya dengan lembut. Bondan sangat senang bisa dekat lagi dengannya.


Nurdin mengintip dari jendela rumahnya. Dia tersenyum-senyum melihat mereka yang akhirnya dekat kembali. Yuni ikut penasaran dengan apa yang suaminya lihat. Dia duduk di atas tangan sofa di belakang suaminya.


"Akhirnya...., seneng deh lihat Rania senyum kayak gitu lagi" ucap Yuni.

__ADS_1


"Iya, akhirnya" Nurdin setuju dengan ucapan istrinya.


__ADS_2