
Dina buru-buru menyusul Bondan yang masuk ke kantor dengan berjalan cepat.
"Kak! tunggu!" seru Dina.
Bondan berhenti menunggu sejenak.
"Kapan ada proyek besar di Jakarta? aku ngga pernah dapet laporannya" ucap Dina.
Bondan menatap Dina yang terengah menyusulnya.
"Tidak ada, memang tidak ada" jawab Bondan.
Dina terheran.
"Lalu tadi!"
"Aku sengaja menyetujuinya, setidaknya agar Rania mau berhenti jadi Dila"
Dina terdiam setelah mendengar alasannya.
"Dulu aku sering memaksanya untuk menjadi Dila dan dia bersikeras menolak, namun sekarang saat aku minta dia berhenti, dia bersikeras tetap menjadi Dila"
Bondan kembali berjalan cepat menuju ruangannya. Sementara Dina hanya menatapnya hingga dia menghilang dari pandangannya.
"Jika bukan karena Rania minta aku tetap di sisi mu menjadi orang yang selalu mendukung mu, aku takkan pernah mau melakukannya saat ku dengar semua alasan mu adalah tentang Rania. Kapan aku paham dengan situasi bertepuk sebelah tangan ini?"
Dina bergumam sambil berjalan perlahan menuju ruangannya.
Bondan menghubungi Vero di kantornya.
"Ada apa? Rania sudah ingin pulang?" tanya Vero langsung tanpa basa-basi.
"Bukan! Beni meminta untuk kembali ke Jakarta. Kurasa ini waktu yang tepat membujuk Rania berhenti menjadi Dila" jelas Bondan.
Vero menganga tak percaya, tangannya mengusap kepala dan wajahnya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
~Di Jakarta ada Dila~ ucap hati Vero.
"Kenapa kau jadi diam?" tanya Bondan.
"Lalu apa kata Rania?" tanya Vero.
"Dia tidak mengatakan apapun, aku akan memaksanya jika dia tidak mau. Aku ingin menyudahi semua ini" jelas Bondan.
"Tidak semudah itu, jika Rania begitu sulit untuk berhenti, maka itu berarti semua yang kau mulai ini akan sulit dihentikan" ucap Vero menyalahkan Bondan.
Dia menutup ponselnya dan duduk di ranjangnya. Sementara Bondan terdiam dan perlahan menaruh ponselnya. Dia tak merasa senang disalahkan, namun memang semua adalah salahnya.
Tak berapa lama Beni datang mengetuk pintu ruangannya kemudian masuk.
"Kak, aku sudah siapkan. Minggu depan kita akan kembali ke Jakarta" ucap Beni.
Bondan terdiam menatap adiknya yang terlihat sangat bersemangat untuk kembali.
"Baiklah! aku akan urus semua keperluannya. Aku juga akan meminta manager di sana untuk menyiapkan rumah kita" ucap Bondan.
Beni pergi keluar, Bondan menghubungi seorang pegawai untuk membantunya.
Dina masuk ke ruangan Bondan setelah itu, dia mengeluh.
"Kak, kita ngga mungkin bisa ke Jakarta"
"Kenapa?" tanya Bondan sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Dina kebingungan, dia tak tahu rencana Rania, dia juga tak tahu rencana Bondan. Tapi dia berpikir, apakah rencana mereka berdua akan lancar dan berhasil jika kembali ke Jakarta karena di sana ada Dila.
Dina hendak mengatakan semua yang dia tahu, namun dia ingat dengan ucapa Rania yang memintanya harus tetap mendukung Bondan apapun yang terjadi.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya berdering, Dina mengangkatnya di depan Bondan karena itu dari Rania.
"Hallo!" jawab Dina kesal.
"Kenapa kamu terdengar kesal?" tanya Rania.
Dina menatap Bondan yang masih bekerja, dia sama sekali tak merespon keluhan Dina. Dia pun keluar dan kembali ke mejanya sambil menjawab telpon Rania.
"Tidak, ada apa?"
"Bagaimana? Mereka masih membicarakan tentang kepindahan ke Jakarta?"
"Masih, Beni baru saja mengatakan bahwa dia ingin pindah minggu ini"
Rania terdiam, cukup terkejut dengan waktu yang cukup dekat untuk pindah ke Jakarta.
"Kenapa? Benarkan, rencana mu akan gagal jika pindah ke Jakarta?" terka Dina.
Rania mengangkat alisnya, kemudian tersenyum, mengerti kekhawatiran Dina.
"Jangan banyak berpikir. Sekarang aku tak sendiri, aku bersama mu dan Vero kakak ku. Dia bilang akan mengurusnya. Jadi kau juga jangan khawatir, oke"
"Aku benar-benar takut menghadapi Dila. Aku tahu bagaimana dia Ran, aku takut meskipun dia adik kandung mu, dia akan membenci mu"
Rania terdiam. Dia menutup telponnya.
~Dila, ya, bagaimana akan aku jelaskan tentang keberadaan ku yang menggantikan posisinya entah itu di hati Beni atau di tempatnya sebagai calon menantu Atmajaya~
###
Sementara di Jakarta.
Arumi merapikan mejanya dan hendak bersiap keluar untuk membantu Fajri dan Dila. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat Vero masuk dan meletakkan tasnya di sofa.
Mata Arumi membelalak, dia sangat senang melihat kekasihnya sudah kembali dari Melbourne, Australia. Arumi berlari menuju Vero kemudian memeluknya.
"Kau sangat merindukan ku?" tanya Vero.
"Sangat. Sangat merindukan mu" jawab Arumi semakin erat memeluk.
Untuk beberapa saat mereka berpelukan, kemudian berhenti saat Fajri mengetuk dan membuka pintu.
"Ouh... maaf! Seharusnya aku tidak langsung membuka pintu" ucap Fajri canggung.
Arumi melepas pelukannya, namun langsung menggenggam tangan Vero. Fajri menatap tangan Arumi yang dengan penuh cinta menggenggam tangan Vero, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ada apa?" tanya Vero.
"Aku hanya mau memastikan ucapan Dila benar bahwa kau sudah kembali" jelas Fajri.
Vero ingat saat masuk ke restoran, orang yang pertama dia lihat adalah adiknya Dila. Dila yang sedang mengerjakan pekerjaannya di laptop sangat serius sehingga tak sadar bahwa Vero cukup lama memperhatikannya.
Vero sangat ingin memeluknya seperti dia memeluk Rania. Namun mungkin Dila akan terkejut jika dia melakukannya tanpa sebab. Saat Dila sadar dengan keberadaan Vero, dia terperanjat dari kursinya hendak memeluk orang yang dia anggap sangat membantunya itu.
Namun gerakannya berhenti saat dia takut Arumi melihatnya sebagai hal lain. Vero tersenyum kemudian memanfaatkan momen itu untuk memeluknya. Vero mendekatkan tubuhnya dan mengaitkan tangan Dila ke punggungnya.
"Hai Dila adik kecil yang manis, kau merindukan ku?" tanya Vero.
Dila tersenyum dalam pelukan Vero mendengar ucapan Vero yang sangat jelas menganggapnya adik.
"Pak Vero, kami sangat merindukan mu" ucap Dila setelah melepas pelukannya dan mundur.
"Aku hanya pergi selama lima hari" ucap Vero.
"Tapi Pak, tanpa mu itu sangat berbeda" ucap Dila.
"Ah..bisa aja kamu" ucap Vero sambil pergi ke ruangannya.
__ADS_1
Vero tersenyum mengingat semua itu, dia merasa senang bisa memeluk adiknya meski dengan alasan sebagai Bosnya.
"Oke, kita bisa bicara nanti. Sudah mulai datang pelanggan, aku akan mulai bekerja" ucap Fajri.
Vero tersenyum dan mengangguk.
"Sini duduk, aku akan minta dibuatkan kopi kesukaan mu" ucap Arumi mengajaknya duduk.
Namun Vero menarik tangannya kemudian memeluknya lagi.
"Sebentar saja, jangan kemana-mana dulu. Aku sedang sangat membutuhkan banyak energi untuk menghadapi hari ini dan seterusnya" ucap Vero.
Arumi terheran, dia memeluknya sangat erat di pinggangnya. Kepalanya bersandar sangat nyaman di perut Arumi. Seperti seorang anak kecil yang sedang ingin di manja. Arumi mengusap kepalanya, berusaha membuatnya nyaman. Vero terlihat sangat nyaman memejamkan matanya dalam belaian Arumi.
Vero mengingat wajah Rania yang menyempatkan datang ke hotel menemuinya setelah dia meminta izin dari Beni.
Vero tak melewatkan momen untuk meluapkan rasa khawatirnya pada Rania yang selama ini dia jaga.
"Akhirnya, aku bisa memelukmu. Kau tahu, aku benar-benar khawatir saat Pak Nurdin menceritakan apa yang Bu Yuni saksikan di rumah mu. Kau pasti sangat kecewa"
Vero membelai wajah Rania yang tersenyum.
"Ya, saat itu Nia kecewa. Tapi...wajah ayah yang muncul di mata Nia selalu membuat Nia melupakan hal itu dengan cepat"
Vero melihat ekspresi Rania yang sangat menyayangi ayah asuhnya.
"Syukurlah, abang senang Nia bisa menjaga hati kamu sendiri dari sakit yang berkepanjangan. Sini duduk, apa tidak ada yang mengikuti mu?"
"Ngga, Beni sudah tahu aku bukan Dila. Tapi Anita belum mengetahui itu, Beni terlihat sangat tidak mau kehilangan ku"
Vero memegang tangan Rania.
"Anita jelas tidak mau kembali ke Jakarta, namun dia punya segudang cara untuk mencapai tujuannya"
"Ya, itu sangat pasti. Namun apa yang bisa kita lakukan?"
"Bang!"
Vero mengangkat kedua alisnya merespon Rania.
"Kita berikan saja semua yang dia mau dari keluarga kita, toh selama ini kita ngga hidup dari semua itu kan?" pinta Rania.
Vero melepas tangan Rania dan berpikir.
"Tapi...bagaimana dengan Dila?" tanya Vero.
Rania merubah ekspresinya, dia melupakan hal penting. Dila jauh lebih penting, dia mungkin akan mempertanyakan kebenaran atas persaudaraan mereka kemudian meminta haknya sebagai bagian dari keluarga Subagja.
Dia juga akan mempertanyakan apa yang sudah terjadi sehingga Rania menjadi dirinya dan hidup bersama keluarga Atmajaya.
"Akan jauh lebih sulit jika Dila tahu semua tentang mu yang sekarang sangat dicintai Beni. Abang takut dia meminta kembali posisinya sebagai calon menantu Atmajaya"
Rania tak tahu persis sifat Dila, namun tetap berpikir bahwa Dila akan mengerti jika mereka mengatakan semuanya.
"Kita bisa menjelaskan semuanya pada Dila"
Vero menatap wajah adiknya yang sangat selalu berpikir positif itu.
"Kau ini sangat naif. Kau selalu menganggap semua orang punya sisi baik. Itu baik, tapi Rania, Dila itu berbeda, mungkin dia punya rasa kesal dan dendam pada abang dan kehidupan yang sudah membuatnya bergantung hidup di keluarga seperti keluarga Atmajaya"
Rania terdiam, dia sadar, meskipun hidup di sebuah istana, namun tak ada kenyamanan di sana.
"Dengar, abang akan pulang terlebih dahulu. Abang akan siapkan, agar Dila sebisa mungkin jauh dari kalian untuk waktu yang lama. Setidaknya sampai kita bisa menjelaskan padanya sebelum kalian bertemu"
Rania menatap Vero yang sangat terlihat yakin dengan ucapannya. Rania melihat sosok seorang kakak yang benar-benar ingin melindungi adik-adiknya.
"Baiklah, Nia akan tetap pada posisi ini sampai bang Vero bilang cukup. Selebihnya Nia serahkan pada bang Vero" ucap Rania.
__ADS_1
Vero tersenyum senang adiknya percaya padanya.