
Dila memasang kuda-kuda, kemudian memukul pria yang menahannya.
"Awww!" teriak Vero.
Rania dan Arumi keluar untuk melihat. Dila menatap mereka bertiga dengan membulatkan matanya.
"Kaliaaan!" seru Dila datang memeluk Rania.
"Kenapa mukul kakak kamu sampe kayak gitu!" keluh Arumi.
Dila menatapnya, dia tersenyum.
"Salah sendiri ngagetin" jawab Dila.
Dia kemudian memeluk mereka secara bersamaan.
"Ngagetin sih!" keluh Dila.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Rania.
"Pintunya tadi nggak ketutup rapat" ucap Vero menipal.
Arumu ingat, dia yang terakhir masuk. Dia tersenyum merasa bodoh. Vero mengusap kepalanya dan memeluknya. Rania dan Dila menatapnya dengan membuat ekspresi muak untuk mengejek mereka. Vero dan Arumi semakin mesra untuk membuat mereka semakin kesal.
"Kaak!" keluh Rania dan Dila.
Mereka masuk dan makan bersama. Obrolan semakin seru, ketiga saudara itu saling melepas rindu. Sementara Arumi menatap mereka dengan bayangan Yudi ada diantara mereka, ikut tersenyum dan mengatakan semua lelucon buruknya. Arumi tak menyadari dirinya menangis.
Rania melihatnya, dia sangat peka. Dia langsung membicarakannya.
"Ouh ya, katanya Yudi juga ada di daerah sini. Dimana?" tanya Rania.
Vero ingat, dia selalu ingat tapi tak mau menunjukkannya. Dia menatap Arumi yang terlambat mengusap air matanya.
"Ya, tapi hampir tiga semester aku nggak lihat dia" jawab Dila.
"Bisa kan kita nyamperin dia ke kosannya?" tanya Rania.
"Bisa, setelah wisuda saja ya! Soalnya besok kita diundang keluarga Marvin untuk berkunjung ke rumahnya" ucap Vero.
Dila tak tahu Marvin sudah tahu kalau mereka sudah datang. Ternyata mereka merencanakan kejutan ini bersama. Sayangnya Marvin tak ada di sini untuk bergabung.
Rania mengusap punggung Arumi untuk membuatnya merasa didukung. Arumi hanya tersenyum, dia juga sudah merasa senang Vero mau mengajak mereka ke kosan Yudi.
###
Yudi mendapat kabar Arumi dan Rania juga Vero sudah datang ke sana dari IG Arumi. Dia tersenyum melihat foto Rania dan Arumi yang kini menjadi lebih dekat.
__ADS_1
Arumi juga memposting foto mereka yang berhasil membuat Dila terkejut dan memukul kakaknya sendiri.
"Arumi jadi pandai bersosial media. Ini pasti karena Dila" ucap Yudi.
Tak berapa lama ponselnya berdering.
"Ya Hallo!" sapa Yudi.
"Hai chef, hari ini aku ada acara di rumah. Maukah kau datang dan memasak di sini?" tanya Jason.
Dia bertanya dengan sopan sebagai tanda bercanda pada Yudi.
"Baik Pak, aku akan datang" jawab Yudi.
Jason tersenyum, Yudi selalu menjawab dengan jawaban yang membuat lawan bicaranya nyaman.
"Aku sudah minta pada bos mu, jadi persiapkan dengan baik ya!" ucap Jason.
Dia sangat senang karena Yudi menerima permintaannya. Dia menghubungi Vero untuk datang saat makan siang.
Yudi terdiam saat mengingat bahwa Jason adalah ayah Marvin. Dia sedang ada acara di rumah.
~Apa itu acara tunangan? Keluarga Dila ada di sini sekarang. Itu pasti acara spesial~ ucap hati Yudi.
Dia memegang wajan sambil berpikir tak menentu. Dia sedikit menyesal menerima permintaan Jason. Dia harus menjadi chef untuk acara pertunangan wanita yang pernah hidup bersamanya dalam satu rumah.
"Aku dengar keluarga Pak Jason semakin bahagia. Mereka juga akan menikahkan putranya" ucap temannya.
[Aku datang setelah wisuda Dila, kami ada acara di rumah Marvin dulu]
[Ok]
Yudi menjawab singkat saja dan tak membuat adik satu-satunya itu khawatir. Meski sebenarnya dia sedang cemburu.
###
Tiba di hari dimana Yudi langsung masuk ke dapur dengan krunya. Dia membawa sekotak bahan makanan dan menaruhnya di lantai. Jason datang dan memeluknya.
"Terimakasih sudah datang tepat waktu" ucap Jason.
"Anda terlalu sering berterima kasih akhir-akhir ini Pak!" ucap Yudi.
"Kau tahu? Aku sedang sangat bahagia. Persoalan keluarga ku lambat laun menjadi baik dan bahagia. Hubungan Marvin dengan Dila juga sangat baik" ucap Jason dengan raut wajah yang sangat bahagia.
Yudi berusaha tersenyum ikut bahagia dengan apa yang disampaikan Jason.
"Oh ya, nanti kalian masak di taman ya! Kami akan melakukan standing party di depan" pinta Jason.
__ADS_1
Dia pergi setelah menepuk bahu Yudi yang setelah itu menghela cukup dalam. Dia berencana untuk menghindari mereka. Tapi kali ini dia benar-benar harus menghadapi kenyataan dan berhenti melarikan diri.
Sementara itu, Dila memberikan sentuhan kecil pada Rania yang membuatnya terlihat berbeda dengan dirinya. Arumi mengagumi kepandaian Dila merias.
"Ya, meski wajah kalian masih terlihat persis, tapi orang takkan sadar bahwa kalian kembar" ucap Arumi.
Vero tersenyum memperhatikan mereka di ambang pintu.
"Kalian semua cantik sekali!" ucap Vero memuji.
Dia melayangkan ciuman bibir dari jauh pada Arumi yang tersipu. Dila dan Rania saling menatap dan membuat wajah yang sama seperti semalam. Vero menertawakan mereka, merekapun tertawa dengan tingkah mereka masing-masing.
"Ayo, Marvin sudah datang!" ajak Vero.
Dia mendengar bunyi bel rumah Dila. Mereka pergi memakai mobil Marvin. Vero belum sempat menyewa mobil. Marvin juga sengaja tak menelpon langganan sewa mobil yang biasanya agar mereka ikut bersamanya.
Marvin terkejut melihat Rania. Dia mengangkat kedua alisnya pada Dila yang mengangguk. Dia ingat dengan cerita Dila tentang saudari kembarnya. Marvin menawarkan jabat tangan dan Rania menyambutnya.
Sampai di rumah, Jason menyambut dengan pelukan pada Vero, sebagai kakaknya Dila. Kemudian Dila yang memeluknya, sementara yang Rania dan Arumi hanya menjabat tangannya. Jessie juga menghampiri dengan senyuman hangat.
Mereka berbincang dengan sangat akrab. Vero langsung memberi tahu mereka bahwa dia akan menikah dengan Arumi dalam waktu enam bulan lagi. Arumi tersipu mendapat ucapan selamat dari Jason dan Jessie.
Sementara itu, Dila menatap persiapan acara makan mereka. Dia melihat kru yang tak asing baginya. Rania menyentuh tangannya dan bertanya dengan mengangkat kedua alisnya. Dila menjawab tidak apa-apa dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku mengundang seorang chef yang bersahaja, tapi dia sudah ditawari pekerjaan di Italia dan dia akan berangkat beberapa bulan lagi. Jangan ditanya soal rasa masakannya, tentu saja sangat enak" puji Jason.
"Benarkah? Dia pasti sangat pandai dibidangnya" jawab Vero.
"Ya, pertama aku mengenalnya, dia hanya seorang kru dapur biasa, hingga aku bicara dengannya dan ucapannya sangat menyenangkan telinga mendengar" puji Jason lagi.
"Wah, jika ayah yang mengatakannya, itu berarti dia sangat istimewa" ucap Marvin yang juga tak tahu.
"Dia juga sangat tampan!" ucap Jessie yang membuat mereka semua tertawa dengan ekspresinya yang lucu.
Lain dengan Dila yang mulai gusar. Dia berpikir kembali apa maksud Jason mengundang mereka. Dia juga berpikir siapa yang Jason puji. Dia menjadi tegang dan gugup. Dia takut Jason memintanya untuk menikah dengan Marvin.
~Tidak, Marvin sudah berjanji takkan membahas hal itu~ ucap hati Dila.
Rania memperhatikannya, dia tahu Dila sedang gusar.
"Oh ya, kalian kembar kan?" tanya Jessie.
Rania dan Dila menoleh dan tersenyum, mereka mengangguk bersamaan.
"Tapi terlihat dari cara berpakaian kalian, kalian adalah dua orang yang berbeda" ucap Jessie.
"Ya, yang satu rambutnya panjang dan yang satu rambutnya pendek" ucap Jason.
__ADS_1
Mereka tertawa dengan komentar Jason yang dangkal. Marvin tersenyum dan menyentuh tangan Dila. Dia merasakan tangannya dingin, dia tahu Dila sedang tegang. Marvin menatapnya dan bertanya dengan menggerakkan matanya. Dila berusaha menyembunyikan, dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Marvin mengalihkan pandangannya pada ayahnya. Dia baru berpikir alasan ayahnya mengajak mereka semua datang ke rumah, sebelum wisuda Dila. Marvin berpikir hal yang sama dengan Dila. Dia menatapnya yang sedang meremas tangannya sendiri. Marvin sadar, Dila belum siap menikah, apalagi dia bukanlah pria yang Dila cintai. Marvin menunduk dan melihat kedua tangannya yang bisa menggenggam tangan Dila namun tapi tak bisa meraih hatinya.