Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
102


__ADS_3

Yudi diam menatap Dila yang bertanya hal membuatnya tak bisa menjawab. Lama mereka saling bertatap.


"Kurasa dia takkan pulang!" ucap Dila.


Yudi menelan ludahnya sendiri.


"Aku sudah memperlakukan kalian berdua dengan tidak baik. Maafkan aku! Aku akan menebusnya dengan menjauh dari kalian. Jadi bantulah aku untuk menebusnya. Jangan pedulikan aku seperti apa atau bagaimana lagi. Aku mohon!"


Yudi hendak mengangkat tangannya yang menyatu sebagai tanda memohon. Namun Dila buru-buru berbalik ke arah pintu. Dia tak mau menerima permohonan Yudi.


"Aku pergi dulu, aku akan berkunjung lagi kalau sedang tidak ada kuliah. Aku teman mu kan?" ucap Dila.


Dia membuka pintu dan berhenti sejenak setelah pintu tertutup. Tangannya meremas kosnya di bagian dadanya.


~Aku sudah coba, hampir dua tahun aku melakukannya. Mencoba tidak mau tahu tentang mu, menyibukkan diriku dengan semua aktivitas pekerjaan ku. Tapi, hati ini tetap tak bisa menahan diri untuk terus mencari tahu tentang mu. Aku yang bodoh, aku yang salah~


Dila turun dari bis, dia melangkah menuju apartemennya. Matanya menatap pria yang berdiri di depan pintu masuk dengan senyuman.


"Marvin?" gumam Dila.


Marvin mendekat dan menyapanya.


"Dari mana saja? Aku menunggu sampau berjam-jam di sini" keluh Marvin.


"Jalan-jalan saja" jawab Dila melewatinya.


"Oohh, sarapan yuk!" ajak Marvin.


Tangan Marvin mengait di lengan Dila, dia sedikit memaksa. Dila tak merasa nyaman diperlakukan seperti itu, namun dia merasa tak enak karena beberapa hari ini Marvin selalu membantunya.


Dengan terpaksa dia ikut, dia masuk ke mobilnya.


"Aku punya sesuatu buat kamu" ucap Marvin.


Dila hanya menoleh dan membulatkan mata menatapnya. Marvin tersenyum dan mengambil sebuah buket bunga kecil berwarna merah muda. Dia juga memberikan sekotak coklat berbentuk hati.


~Yudi nggak pernah gini, tapi kok aku masih nginget dia ya!~ ucap hatinya.


Dila mengangkat satu alisnya, dia merasa sangat aneh. Tanpa disadarinya, dia membandingkan Marvin dengan Yudi yang sangat acuh padanya.

__ADS_1


"Ini bukan hari valentine loh!" ucap Dila.


"Ya memang bukan, tapi semenjak kenal kamu perasaan ku merasa setiap hari adalah valentine" ucap Marvin sambil menatap Dila.


Dila menggigit bibirnya sendiri, tersenyum kemudian membuat dirinya sadar. Matanya beralih pada Marvin yang menyalakan mesin mobilnya dan melaju. Dia menghela nafas kemudian membuka kotak coklat lalu memakannya.


Marvin melihatnya makan coklat dan dia sangat senang. Dia membawa Dila ke sebuah cafe yang menyediakan kopi yang enak dan harum.


Seperti itu setiap Dila tak sedang kuliah. Marvin akan membawanya pergi makan sesuai kesukaannya. Memanjakannya dan membuatnya semakin nyaman.


Dila juga mulai menerima perlakuan manis Marvin. Dia masih tak bisa melupakan Yudi, namun tetap menjalin hubungan dengan Marvin. Dia mulai senang menceritakan apa yang dia lalui hari demi hari di kampus.


Marvin selalu mendengarkan dengan menatap terpesona. Dia senang mendengarkan Dila yang selalu bicara dengan mulut penuh makanan.


Suatu malam, Marvin memintanya untuk ikut makan malam bersama beberapa teman dan saudaranya. Dia memperlakukan Dila dengan spesial. Semua temannya mengerti bahwa Dila wanita istimewa baginya.


Marvin adalah seorang putra dari keluarga berada. Ayahnya yang merupakan pengelola klinik cukup besar di lingkungan Harvard. Mereka cukup terpandang dan punya pengaruh.


Dila merasa sangat diberi kehormatan saat diperkenalkan pada satu persatu teman dan saudara Marvin. Beberapa dari mereka juga adalah juara di bidangnya.


Namun, Dila tak cukup nyaman dengan pandangan dari beberapa wanita yang terlihat mengomentari penampilan Dila yang modis. Dila mengabaikannya, dia tak merasa bahwa dirinya berpenampilan buruk.


Dila masih beradaptasi dengan orang-orang itu, dia juga tak canggung berbaur mengemukakan pendapatnya tentang apa yang mereka bicarakan saat ditanya.


Marvin semakin bangga pada Dila yang supel dan sangat menarik. Dia mampu berbaur dengan cepat dari perkiraannya.


Dila mendapat lamaran untuk menjadi pacar saat malam itu, Marvin menyatakan keseriusannya untuk punya hubungan lebih. Bagi Marvin kedekatan mereka ini belum cukup, dia merasa Dila belum sepenuhnya menjadi miliknya.


Meski Marvin sangat senang Dila selalu mau dan ikut kemana dia ajak, namun Marvin mengerti bahwa Dila memikirkan pria lain.


"Aku mau kamu melupakannya dan menerima ku menjadi cinta mu" ucap Marvin saat dia mengajak Dila bicara di balkon.


Dila menatap wajah Marvin yang menunjukan ketulusannya. Dila berpikir, dia selalu teringat Yudi yang selalu ingin menghindarinya. Tapi mengacuhkan orang yang sangat peduli dan menyayanginya seperti Marvin.


Dila meraih tangan Marvin yang menengadah menunggu jawabannya. Marvin tersenyum saat melihat tangannya menggenggam, dia menatap wajah Dila yang tersenyum dan mengangguk menerimanya.


Marvin memeluknya sebentar, kemudian berbalik dan memanggil semua temannya yang masih berbaur di pesta.


"Hei kalian! Dia menerima cinta ku!" teriaknya.

__ADS_1


Teman-temannya ikut bersorak merayakannya. Dila tersipu malu karena baru diperlakukan manis seperti itu.


Marvin memeluknya lagi, Dila mengusap punggungnya.


Hari demi hari dilewati seperti seluruh dunia juga merasa senang mereka menjadi pasangan. Mereka lebih sering pergi bersama. Marvin mengantar Dila setiap hari ke kampus.


Kabar Dila dan Marvin berpacaran sudah tersebar. Beberapa orang sudah menebak karena kedekatan mereka yang sering terlihat. Namun beberap orang tak menyangka bahwa Marvin akan menerima gadis Indonesia menjadi pasangannya.


Teman-teman sosial media Dila juga memberikan selamat. Ada juga yang merasa bahwa mereka belum tentu berjodoh karena hanya baru pacaran.


Dila senyum-senyum sendiri melihat komentar dari pengikutnya. Marvin yang sedang membawa kopi yang dia buat dari dapurnya ikut tersenyum.


"Lagi lihat apa?" tanya Marvin yang sudah belajar bicara bahasa sedikit demi sedikit.


"Nggak, bukan apa-apa" jawab Dila dengan meletakkan ponsel di meja dan menggapai gelas kopi yang hampir sampai di depannya.


"Ah...sosial media!" ucap Marvin mengerti saat notifikasi sosial media muncul bertubi-tubi.


"Hanya komenan netizen!" ujar Dila yang sudah biasa mendapat komentar baik atau buruk.


"Apa yang mereka bilang?" Marvin penasaran.


"Bukan apa-apa, jangan kepo deh!" ujar Dila.


Marvin gemas dengan tingkah Dila yang selalu tak memberitahunya tentang komentar di sosial medianya. Dia menggelitik Dila dan membuatnya menumpahkan kopi di karpet Marvin.


Dila membulatkan matanya pada Marvin, menyesalinya. Marvin buru-buru mengambil lap dan dengan cemas membersihkan noda kopi itu. Dila terkejut melihat respon Marvin yang menurutnya terlalu berlebihan pada noda itu.


Marvin mengomel karena nodanya membekas dan berwarna kuning di karpet buatan Turki nya. Dila menghela, dia baru tahu sifat asli Marvin yang over terhadap kebersihan.


Dila mengambil serbuk soda dan jeruk nipis dari dapur. Saat mencampurnya dalam mangkuk kecil, dia baru ingat dengan kejadian Vero membuat baret yang cukup panjang di mobilnya.


Marvin menunggu proses perbaikan mobil dan memberikan arahan yang sangat detil, dia juga mengomel saat mobilnya tak terlalu baik ditangani.


Dila tersenyum sendiri, tanpa disadari dia membandingkan sifat Marvin dan Yudi yang sangat bertentangan.


~Kalau Yudi sih bersihnya cuma di resto aja, giliran di rumah, dia males banget buat sekedar cuci muka sebelum tidur~


Dila berhenti mengaduk adonan serbuk soda itu.

__ADS_1


~Apa aku sedang merindukannya lagi?~ tanya hati Dila.


__ADS_2