
Hari berlalu, Dila tak tahan dengan pikirannya yang selalu bertanya bagaimana keadaan Yudi. Dia mencari tahu tentang Yudi ke restoran tempatnya bekerja. Dila pergi sembunyi-sembunyi dari Marvin karena takut dia mengatakannya pada Vero.
Seorang teman memberi tahu dimana Yudi tinggal dan ternyata belum kembali bekerja setelah kejadian itu. Dila semakin khawatir, dia takut keadaannya semakin buruk karena tak ada yang merawat.
Dila mencari alamatnya dan sampai di sana. Awalnya dia ragu untuk mengetuk pintu, namun seorang wanita tiba-tiba datang dan bertanya padanya.
"Siapa kamu?" tanyanya.
"Uhmmm, aku....aku temannya" Dila menunjuk pada pintu kamar Yudi.
"Teman? Yudi nggak pernah cerita kalau ada teman lain di Cambrige" ucap wanita itu.
Dia mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar Yudi. Dila terheran, hatinya merasa hancur lagi. Dia berpikir bahwa Yudi punya kekasih baru di sini.
"Oh hai, namaku Lucy. Masuklah, Yudi pasti masih tidur" ucap Lucy.
Dila hendak menolak dan pergi saja dari sana. Namun hatinya penasaran dengan bagaimana ekspresi Yudi jika dia melihat bahwa Dila tahu dia sudah punya pacar baru.
Lucy membangunkan Yudi dengan pelan, Dila memalingkan pandangannya. Hatinya merasakan sakit luar biasa, meski dia sadar, dalam waktu dua tahun mana mungkin Yudi masih memikirkannya. Dia pasti sudah move on, lain halnya dengan dirinya.
Perlahan Yudi bangun karena Lucy berkata bahwa salah satu temannya menjenguk. Dia berusaha bangun dan duduk di ranjangnya.
Mata Yudi menatap terpaku pada Dila yang wajahnya masih dia sembunyikan seolah melihat ke arah lain. Yudi mengalihkan pandangan pada Lucy dan mengerti bahwa Dila mengira Lucy adalah pacarnya.
~Kenapa aku ingin sekali menjelaskan? Bukankah bagus dia mengira Lucy pacarku, dia akan segera pergi dan berhenti penasaran dengan keadaanku~ ucap hati Yudi.
"Siapa namamu tadi?" tanya Lucy.
"Dila" Yudi yang menjawab.
Lucy membulatkan matanya, dia pernah mendengar cerita tentang Dila dari Yudi sebelumnya. Dia menggigit bibirnya sendiri merasa canggung berdiri diantara dua pasangan itu.
"Sayang, maukah kamu belikan cemilan untuk menjamu Dila!" ucap Yudi.
Mata Lucy semakin membulat dan menatap Yudi dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Please!" ucap Yudi tersenyum seolah Lucy adalah pacarnya.
Dila semakin canggung, dia semakin kesal karena Yudi memanggilnya dengan suara manis.
Lucy mulai mengerti, meski sebenarnya dia tak ingin ikut campur, dia menuruti saja kode dari Yudi.
"Ok, tunggu sebentar ya!" Lucy berjalan keluar kamar setelah dia menaruh kunci di meja.
Yudi hendak berdiri namun rasa sakit di perutnya tak bisa dia tahan. Dila melihatnya, meski kesal, kekhawatirannya jauh lebih besar dari rasa cemburunya.
__ADS_1
Dila meraih lengan Yudi dan membantunya berjalan ke sofa. Wajah Dila yang dekat dengannya, membuat jantung Yudi berdegup kencang. Kenangan manis mereka berdua tiba-tiba muncul dan membuat mereka semakin saling merindukan.
Yudi mengalihkan pikirannya, dia melepas tangan Dila dan berusaha duduk sendiri.
"Nggak usah, nanti Lucy lihat bisa-bisa dia marah sama aku" ucap Yudi.
Dila menghela karena kesal, dia tak percaya Yudi takut karena hal itu.
"Dia tahunya aku teman kamu, wajar kalo teman nolongin teman yang lain. Apalagi di negri orang begini" ucap Dila kesal.
"Darimana kamu tahu aku di sini?" tanya Yudi yang mengacuhkan amarahnya.
Dila malu untuk mengatakan bahwa dia mencari tahu tentang keberadaannya, dia berpikir alasan lain agar Yudi tak merasa besar kepala.
"Perawat di klinik, apa kamu lupa untuk check up lagi?" Dila pandai membuat alasan.
Yudi menghela dan menyembunyikan senyumannya.
"Nggak ada perawat yang bilang begitu pas aku pulang" Yudi membela diri.
"Kamu nggak masuk kerja setelah keluar dari klinik. Itu berarti lukanya infeksi dan masih terasa sakit" Dila menyimpulkan.
Dia mencari ke seluruh ruangan.
"Nyari apa?" Yudi cemas melihat tingkah Dila.
"Nggak ada, udah sana pulang! Nanti Lucy bisa salah paham" ucap Yudi.
"Kenapa dia harus salah paham? Masa temen nggak boleh dateng buat bantu ganti perban" Dila masih tetap mencari.
Yudi menghela, dia tak bisa membiarkan Dila melakukan hal yang dia inginkan. Dia sudah berjanji pada Vero, dia tak bisa membiarkan pacar dari adiknya itu mempertimbangkan perasaannya pada Arumi hanya karena kesalahannya lagi.
"Ah, dapat!" ucap Dila yang menemukannya.
Yudi mengeluh, dia tak menyimpannya dengan baik. Dia meletakkan alat-alat ganti perban di sembarang tempat.
Dila mendekat dan lansung membuka kaus Yudi.
"Hei!" Yudi terkejut.
Namun dia sudah terlanjur menuruti perilaku Dila. Dia selalu seenaknya dan tak memikirkan pemikiran orang lain.
Dengan perlahan Dila membuka perban lama dan membasuhnya dengan sebuah cairan Natrium Khlorida. Yudi bergerak karena sakit.
"Kenapa lukanya jadi basah begini?" tanya Dila sambil menatap wajah Yudi yang meringis kesakitan.
__ADS_1
"Nggak tau!" jawab Yudi ketus dan melempar pandangan ke arah lain.
Dila mengoleskan obat dan kembali menutup lukanya. Dia melakukannya sambil berpikir, kemudian dia baru paham apa yang terjadi.
"Ouh, kamu makan makanan pedes?" ucap Dila menduga.
Yudi melirik ke arahnya, dia merasa Dila sangat paham dengan dirinya.
"Berhenti, ku mohon berhenti untuk selalu peduli padaku. Apa kamu nggak lihat aku sudah ada yang ngurus?" ucap Yudi menepis tangannya dan mengambil plester.
Dia kesulitan menggunting plester dan kesakitan karena saat melakukannya, bagian lukanya tertekan. Yudi meringis lagi.
Dila yang mundur, tetap menatapnya. Dia mengambil kembali plester dan guntingnya tanpa kata. Sekarang Yudi diam saja, dia membiarkan Dila melakukannya.
"Aku nggak bisa tidur karena nggak bisa lihat kamu dua hari lalu pas pulang dari klinik. Nggak ada yang jenguk, mau bantu, kak Vero takut marah. Setelah ini, aku janji aku nggak akan ganggu, hanya setelah ini" ucap Dila dengan suara perlahan karena jarak wajah mereka juga sangat dekat.
Yudi menelan ludahnya, dia merasakan hal aneh. Dia juga berpikiran akan lebih baik jika Dila yang mengatakan hal itu. Tapi hatinya berkata lain, dia merasa tak rela. Dia lebih senang Dila melakukan hal seenaknya seperti biasanya. Manja dan terus perhatian padanya.
~Apa ini? Aishhhh.....aku benar-benar sudah gila~
Yudi berusaha membuat dirinya sendiri mengerti dan sadar.
Dila selesai dan menyimpan kembali wadah obat itu. Dia meletakkannya di tempat yang sama.
"Lucy lama ya, padahal aku laper!" keluh Dila.
Yudi baru sadar, Lucy disuruhnya memberli makanan tapi tak memberikan uang untuknya. Anak tetangga yang sudah dia anggap saudara itu hanya membantunya untuk beberapa hari setelah ibunya, Nyonya Maria, tahu bahwa Yudi menjadi korban penusukan.
Dia membuka ponselnya dan menghubungi Lucy.
"Kamu dimana sayang?" tanya Yudi.
"Rumah, kenapa?"
Lucy tak pergi mencari makanan karena memang dia tak punya uang untuk membeli makanannya. Ibunya sedang tidak di rumah, dia tak bisa kembali karena saat dia hendak akan meminta uangnya pada Yudi, dia melihat Dila yang sedang membuka kaosnya.
"Aku kira kamu pura-pura nyuruh beli cemilan karena kamu mau pacaran dengannya di dalam" ucap Lucy lewat telpon.
Yudi kesal dengan pendapat Lucy.
"Ooh, ngantri panjang ya? Ya sudahlah pulang saja, aku lagi butuh kamu di sini sayang" ucap Yudi mesra.
"Kamu nyebelin deh Yud" ucap Lucy.
Yudi menutup telponnya dengan tersenyum karena respon Lucy yang mengatakan bahwa dia menjijikan. Tapi Dila kesal melihatnya, Yudi berhasil membuatnya marah.
__ADS_1
"Apa dia benar-benar sudah menggantikan posisi Rania dan aku?" tanya Dila tiba-tiba.
Yudi menatapnya.