
Beni melihat Dila yang masih diam sambil menyetir. Tak ada satu kata pun selain senyuman pada Dokter Brian setelah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Ada apa? Om Brian bilang apa?" tanya Beni.
Rania melirik sebentar dan mencoba menyimak pertanyaan Beni.
~Oh ya, aku diam sejak tadi~ ucap hati Rania.
"Ngga, hanya saja...sekarang kamu udah sembuh, jadi...." belum selesai Rania bicara Beni sudah menginjak rem dan membuat Rania hampir terpental ke depan stir mobil.
Suara ban mobil yang berdecit karena rem mendadak terdengar di jalan perumahan yang sepi itu.
"Apa kamu sudah gila!" teriak Rania.
Dia menatap tajam ke arah mata Beni, lalu menjadi terdiam setelah melihat matanya menjadi merah.
"Ya! Aku sudah gila, terlebih saat aku berpikir bahwa kau berpikir untuk pergi meninggalkan ku!" jawab Beni dengan memegang pergelangan tangan Rania dengan kasar.
Rania panik melihat respon Beni yang menakutkan baginya.
Beni keluar dari mobil dan menarik Dila keluar dari mobil. Rania pasrah dan menerima perlakuan Beni karena sudah salah bicara.
Rania dilempar ke mobil dan Beni menahan tubuhnya. Wajahnya mendekat ke wajah Rania.
"Kamu ngga boleh ninggalin aku lagi! Kamu itu milik aku, kamu ngga boleh pergi kemanapun tanpa aku!" ucap Beni jelas per katanya.
Rania menelan ludahnya dan mengedipkan matanya beberapakali.
Beni memegang bahu Dila dengan keras, hingga lama kelamaan Dila meringis kesakitan. Beni melihat air mata hendak jatuh di ujung mata kanan Dila. Dia pun melepas bahu Dila dan meminta maaf.
Rania menghela nafas merasa lega dari rasa sakit dan pengap karena ditekan oleh tubuh Beni yang lebih besar darinya.
Beni merasa bersalah dan membelai wajah Dila dengan wajah khawatir.
"Kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku..."
"Aku baik- baik saja!" ucap Rania menangkis dengan lembut tangan Beni yang membelainya.
Rania merapikan rambut dan pakaiannya lalu berdiri dari sandarannya. Beni memasang tangan yang hendak memeluknya. Namun Rania berjalan ke pintu mobil dan membukanya.
Beni terdiam menatapnya.
"Cepat masuk, nanti ibu mu lama menunggu!" ucap Rania dengan suara lemah.
Beni cepat masuk dan kembali memegang tangan Dila untuk memohon maaf padanya.
"Maafkan aku sekali ini lagi, aku berjanji takkan kasar lagi padamu. Please Dil!" ucap Beni memohon.
__ADS_1
Rania terdiam menatap jalan yang ada di depannya.
"Lain kali...jangan lakukan ini lagi. Mungkin kamu benar-benar ingin mati, tapi aku masih ingin tetap hidup. Banyak hal yang belum aku lakukan!" ucap Rania dengan tanpa menatapnya.
Beni melepas tangan Dila saat dia menyalakan mesin mobil. Beni memasang sabuk pengaman dan diam. Sementara Rania melajukan mobil dengan perlahan menuju rumah Beni yang hanya tinggal empat blok dari sana.
Sampai di depan rumah, Rania turun dan terburu-buru membuka pintu untuk Beni. Dia tersenyum menyambut Beni turun. Beni terheran melihatnya. Dia turun dengan perasaan heran dan bingung akan sikap Dila.
Kemudian terdengar suara Anita dari arah pintu rumahnya yang terbuka sedari tadi.
"Kamu dah pulang? Gimana? Apa kata om Brian Dil?" tanya Anita.
Rania tersenyum dan mengaitkan tangannya di lengan Beni.
"Sehat! Beni udah sehat tante, dia sudah bisa kembali beraktivitas seperti yang lainnya. Tangannya normal dan kondisinya juga sangat sehat!" jawab Rania.
Beni membulatkan matanya menatap wajah Dila yang tadi menangis dan ketakutan sekarang berubah riang dan tersenyum manis.
Rania menatap Beni yang terlihat heran menatapnya. Namun dia tetap tersenyum. Mereka pun masuk dan menyiapkan makan malam bersama.
###
Jakarta
Dila tiba di pemakanan besar tempat ayah dan ibunya dimakamkan. Dia berjalan perlahan sambil membawa buket bunga dan bunga yang sudah dipetik untuk di tabur di sana.
"Hai Bu, Hai Ayah! lama ngga ketemu. Dila pergi terlalu lama ya? Kemarin Dila ke Amerika, Ayah tau Universitas Harvard yang sering aku katakan? Ya, kemarin aku kesana. Sayangnya aku ngga lulus Yah, aku gagal. Ternyata otak ku ngga nyampe buat kuliah di sana. Aku jadi nyesel ngga ngelanjutin kuliah di sini" ucap Dila sambil meletakkan buket bunga dan menabur bunga lainnya di kedua kuburan itu.
"Bu, Dila butuh pelukan ibu hari ini. Aku mutusin Beni Bu. Dia possesif banget. Dia kayaknya ada kelainan mental deh Bu. Masa selama aku pacaran sama dia, kadang dia bersikap sayang banget sama aku, tapi kadang juga dia bersikap kasar kalo aku dilirik pria lain. Aku kesal, kami bertengkar dan aku nyuruh dia bunuh diri kalo ngga bisa hidup tanpa aku. Sekarang tante Anita berhentiin kiriman uangnya buat Dila. Ngga tau kenapa! Mungkin Beni benar-benar bunuh diri. Atau dia udah dijodohkan dengan wanita lain sehingga perjodohan kami yang tante Anita bicarakan dibatalkan. Gitu kali ya Bu?"
Dila bicara sendiri, lama kelamaan dia sadar bahwa dia hanya bicara sendiri tanpa ada yang mendengar atau menjawabnya. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
~Aku bicara sendiri, apa aku akan jadi gila?~ ucap hati Dila menatap sedih kuburan kedua orang tuanya.
Dila pergi dari pemakaman itu dengan langkah yang tak tahu kemana arahnya. Sampai di sebuah jalan besar, dia melihat ke kanan dan ke kiri. Dia mencari taksi dan tak lama kemudian menemukan dan memanggilnya.
Taksi mendekat, lalu Dila masuk dan meminta untuk mengantarnya ke restoran yang dia lihat dari navigasi ponsel terdekat. Taksi itu meluncur menuju restoran yang disebutkan Dila.
Dila turun tepat di depan restoran Vero's Spagheti. Dia masuk dan duduk di kursi dekat jendela. Seorang pegawai datang menanyakan pesanannya.
"Silahkan Nona, mau pesan apa?" tanya Arumi pegawai cantik di restoran itu.
Dila melihat-lihat menu dan memilih.
"Hmmm...aku mau Carbonara dan greentea yang hangat ya!" pinta Dila.
Arumi mencatat pesanan Dila dan mengambil kertas menu. Dia kembali ke dapur dan mengatakan pesanan untuk meja Dila.
__ADS_1
Dila melihat-lihat dekorasi restoran itu dan mengaguminya, lalu memotretnya dengan kamera ponsel miliknya. Tak lama kemudian seorang pria datang dan menahan tangan Dila.
"Maaf nona, tidak boleh memotret di lingkungan restoran!" ucap Fajri manager restoran itu.
Dila menatapnya.
"Apa? Aku baru saja mau mengunggah foto dan memuji dekorasinya agar teman-teman ku juga tertarik untuk datang kemari" ucap Dila beralasan.
Fajri hendak menjelaskan pada Dila tentang ketidakbolehan menggunakan ponsel untuk memotret di sana, namun Vero pemilik restoran datang dan menanyakan situasi yang dia lihat kurang nyaman itu.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Vero.
Dila berbalik dan tersenyum menatap Vero.
"Aku mau mempromosikan restoran ini dengan memotretnya dan mengunggahnya di akun sosial media milik ku, supaya teman-temanku tertarik untuk datang. Tapi pegawai mu melarangku" jelas Dila tanpa henti.
Vero terdiam saat menatap Dila. Dia teringat dengan Rania, namun menyangkal anggapannya saat mendengar cara bicaranya yang berbeda. Apalagi penampilannya yang sangat jauh berbeda.
Dila mengerutkan dahinya melihat Vero yang dikiranya terdiam melihat kecantikannya.
"Hei..!" seru Dila.
Dia menjentikkan jarinya dua kali untuk membuat Vero tersadar.
Vero tersadar dan mencoba mengingat ucapan Dila.
"Ouh maaf atas ketidaknyamanannya. Tapi aku sendiri yang tak mengizinkan para tamu untuk memotret dan mengunggahnya. Sekali lagi maaf!" jawab Vero dengan sopan.
"Tapi kenapa?" tanya Dila.
"Tidak ada alasan khusus, kami benar-benar tidak mengizinkannya. Silahkan menikmati hidangan anda nona, permisi!" ucap Vero saat melihat Arumi datang membawakan Carbonara nya.
Vero memberi kode pada Fajri untuk meninggalkannya makan.
Dila merasa heran dengan sikap manager dan pemilik restoran itu.
"Apa disini ada lowongan pekerjaan?" tanya Dila.
Arumi menatapnya sambil menyiapkan hidangan pesanannya.
"Yang tadi pemiliknya bukan? Aku pandai dalam bersosial media, katakan padanya restoran ini bisa lebih ramai jika aku menjadi manager pemasarannya" ucap Dila.
Arumi masih menatapnya dan tersenyum.
"Baiklah, aku akan coba!" ucap Arumi.
"Terimakasih!" ucap Dila.
__ADS_1
Dia tersenyum dan mulai makan.