Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
123


__ADS_3

Dila pulang, dia diantar Marvin untuk yang terakhir kalinya hingga depan pintu apartemennya. Vero, Arumi dan Rania yang saat itu sedang bersiap menunggunya. Dila membuka pintu dan menatap tas yang sudah siap di sana.


"Kalian akan pulang?" tanya Dila.


Rania yang menyiapkan bekal, menoleh dan tersenyum. Arumi dan Vero juga menoleh.


"Pulang? Tentu saja tidak" jawab Rania.


Dila bingung, tas mereka rapi tapi mereka bilang takkan pulang.


"Lalu ini?" tanya Dila.


"Kita akan berkemah dan liburan selama dua hari di Fruitland. Mereka sedang ada event tahunan kan?" seru Arumi.


Dila merespon dengan datar.


"Aku tidak ikut, aku gak enak badan!" ucap Dila.


"Siapa yang mau mengajakmu!" ucap Vero yang memasukkan sesuatu ke tasnya.


Dila terheran dengan jawaban kakaknya yang terdengar bercanda. Kemarin dia sudah begitu marah karena dia selalu berharap pada Yudi.


"Iya, kami pergi bertiga saja. Kau istirahatlah. Kau juga harus mengurus kelulusan mu besok" ucap Rania.


Dila mendelik pada Rania, teringat saat Yudi tersenyum padanya, dan tak sama sekali mengucapkan selamat padanya.


Rania sedikit tersinggung dengan respon Dila. Dia hendak menyusulnya ke kamar, namun Arumu memintanya membantu merapikan tasnya. Rania menghapus perasaan tak enaknya. Dia tersenyum pada Arumi dan kakaknya.


Vero melihat cara Dila merespon Rania. Dia masuk ke kamarnya dan bicara.


"Ada apa lagi?" tanya Vero pada Dila yang baru saja keluar dari kamar mandi mengganti pakaiannya.


"Apa kak?" Dila menjawab dengan kesal.


"Kenapa mendelik pada Rania? Kali ini salahnya apa?" tanya Vero yang sudah kesal dengan sikap Dila akhir-akhir ini.


"Tanyakan padanya, apa yang dia lakukan bersama Yudi di kampus sebelum acara wisuda mulai? Yudi bahkan nggak datang untuk ngucapin selamat sama aku. Dia ngomong apa sama Yudi? Apa dia minta Yudi buat jauhin aku? haaah? Apa maksudnya?" Dila meninggikan nada suaranya.

__ADS_1


Vero kesal dengan ucapannya, dia menampar Dila hingga suaranya terdengar keluar. Rania dan Arumi membuka pintu dan melihat Dila sudah terduduk di ranjang sambil menangis.


"Kamu sedang sedang punya hubungan dengan Marvin tapi masih saja bilang suka sama Yudi. Bukan....."


"Ya....aku suka sama Yudi, aku cinta sama dia dan nggak akan pernah berubah!" Dila berdiri seolah menantang kakaknya.


Vero mengangkat tangannya lagi. Dia mengurungkan niatnya dan keluar.


"Marvin udah mutusin aku, Kak"


Ucapan Dila menghentikan langkah Vero. Dia berbalik.


"Itu karena kamu terus menyukai Yudi saat kamu masih bersama Marvin" tunjuk Vero pada wajahnya.


"Aku salah kak, aku salah karena nggak bisa move on darinya" jawab Dila.


"Kamu tahu kamu nggak bisa move on dari Yudi kenapa kamu terima Marvin?" teriak Vero.


Dila terdiam, dia baru mengerti dengan maksud kakaknya.


Rania terdiam, dia juga sedang mengalami hal itu saat ini. Arumi menaruh tangannya di bahu Rania untuk membuatnya tak tersinggung. Rania menoleh dan keluar.


"Sekarang kamu malah nyalahin Rania lagi? Dia bahkan nggak tahu kamu masih berharap sama Yudi, sebelum aku bicara kemarin" ucap Vero karena melihat Rania keluar.


Dila diam tak berkutik.


"Aku nggak keberatan tentang siapa yang kamu cintai. Tapi aku keberatan dengan kamu yang membohongi diri kamu, Marvin dan keluarganya. Sampai kapan kamu begini? Sampai kapan kamu seenaknya dengan perasaan orang lain?"


Vero terengah, dia mengambil nafas lagi.


"Sekarang Marvin menyerah karena sikap kamu, nanti jika kamu sama Yudi lagi, apa kamu bisa jamin dia nggak akan menyerah kayak Marvin?"


Vero jongkok di hadapan Dila dan memegang tangannya.


"Kami ini keluarga mu, Rania sangat sayang sama kamu, kakak juga. Mau itu Yudi atau siapapun, kamu nggak bisa terus maksain perasaan kamu terhadap mereka. Itu sama saja kamu melukai mereka. Itu hubungan yang nggak sehat. Sama halnya dengan kamu yang selalu nyalahin orang atas kekesalan kamu. Hubungan mana pun nggak akan sehat"


Dila mengusap air matanya. Vero keluar menyusul Rania yang turun dan berdiri sendiri di depan taman dekat parkiran. Sementara Arumi menjelaskan semua maksud Vero yang sudah dia dengar darinya saat mereka berkemas.

__ADS_1


Dila menunduk malu, Vero tak mempermasalahkan cintanya pada Yudi. Tapi hanya kesal pada sikap Dila yang selalu tak peduli dengan perasaan orang lain. Dia melepas Yudi karena merasa Marvin membutuhkannya, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Yudi yang saat itu sudah kembali padanya.


Saat dia bersama Marvin, dia masih saja berharap Yudi kembali padanya, tanpa peduli pada perasaan Marvin yang sedih selalu melihatnya berharap pada Yudi. Dila menangis di pelukan Arumi.


"Rania bicara soal aku sama Yudi. Dia membantu membujuk Yudi untuk pulang ke Jakarta membantu aku di restoran. Tapi dia hanya tersenyum, nggak ada respon lain. Rania bilang, dia hanya bisa membantu sampai di situ. Aku minta maaf kalau permintaan ku pada Rania membuat jadi salah paham padanya" jelas Arumi.


Dila mengerti, dia kesal pada dirinya yang harus selalu dijelaskan segala halnya. Dia tak bisa berpikir positif terhadap apapun.


"Yudi pergi malam ini, Marvin bilang dia akan terbang malam ini" ucap Dila sambil menangis.


Arumi hanya bisa menunduk, dia tak bisa mencegahnya, dia tak bisa memaksakan keinginannya pada Yudi.


Sementara itu, Vero mencari Rania dan melihatnya duduk di kursi taman. Vero mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Huhhfff! Dia harus terus dimarahi!" keluh Vero.


Rania menghela nafas, dia tak mengatakan apapun.


"Kita ke atas lagi? Dia mungkin sudah mengerti!" ajak Vero.


"Aku tidak tersinggung dengan kecemburuan Dila. Aku cuma merasa sedang dalam posisi yang sama dengannya" ucap Rania.


Vero menatapnya, dia tersenyum mengingat semua yang terjadi di Jakarta.


"Lalu, apa keputusan mu?" tanya Vero dengan sedikit menggodanya.


"Kaaak! Aku sudah bilang, biar takdir yang bekerja" jawab Rania.


"Huuh kamu ini, udah paham diri sendiri tapi masih ngeyel" ucap Vero dengan mencubit pipi adiknya.


"Sakit kak!" keluh Rania.


Vero memeluknya dari samping. Rania menyandarkan kepalanya di bahu Vero. Setelah beberapa saat menikmati sore di taman itu, mereka kembali ke apartemen.


Rania membuka pintu dan mendapat pelukan dari Dila secara tiba-tiba. Dia hampir terjatuh ke belakang, namun Vero menahannya. Saat mengetahui Dila memeluk Rania, Vero jadi ikut memeluknya.


Arumi menatap mereka di dalam dengan melipat tangan di dada. Dia mendelik seolah cemburu pada Vero, kemudian tersenyum. Vero berucap akan memeluknya nanti, tanpa suara. Dia lega, segala kesalahpahaman antara kakak beradik itu selalu tak lama dan bisa selesai di hari yang sama.

__ADS_1


__ADS_2