Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
58


__ADS_3

Malam tiba, Bondan pulang dan langsung mencari Rania. Namun dia tak menemukannya. Dia juga mencari Beni untuk memastikan mereka tak pergi bersama. Saat dia masuk ke kamar Beni, Bondan menemukan Beni sedang melukis. Bondan tertegun dengan apa yang dia lihat. Beni melukis Bondan dan Rania yang sedang memakai pakaian pengantin.


Bondan menatap aneh pada Beni. Dia yang awalnya ingin menanyakan keberadaan Rania, mengurungkan niatnya.


"Maaf! Aku mau tanya kemana Momi, tapi kurasa dia ada di ruang kerja" ucap Bondan.


Beni tak merespon, dia masih terheran karena Bondan tak mengetuk pintu.


"Apa dia nyari Rania? Oh iya, Rania pasti ke rumah sakit!" ucap Beni.


Beni meneruskan lukisannya. Sementara Bondan berjalan keluar menuju mobilnya sambil bergidik dengan sikap Beni yang menurutnya sangat menakutkan.


"Aku memang meyakini dia bisa menerima dan menghadapi semua ini, tapi kenapa aku merasa merinding melihatnya melukis kami dengan pakaian pengantin!" gumamnya.


Sambil masuk ke mobil, Bondan menelpon Rania.


###


Di rumah sakit.


"Syukurlah Nuri sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Aku sudah menyewa perawat khusus untuk intens merawatnya" ucap Vero.


Rania yang diam memegang tangan Nuri, mendengarkan semua ucapan kakaknya. Namun matanya tak bisa lepas dari Nuri. Rania sangat berharap sebuah keajaiban terjadi dan membuat Nuri sembuh total.


"Abang ngerti perasaan kamu, berdoa saja semoga proses penyembuhannya lancar" ucap Vero.


Rania dan Vero keluar agar Nuri istirahat. Mereka duduk di kursi di lorong.


"Apa kata polisi?" tanya Rania.


"Banyak tumpahan minyak tanah di sana, kebakaran itu disengaja. Mereka sedang memperbaiki rekaman CCTV yang baru aku pasang tempo hari. Semoga rekamannya membuahkan hasil" ucap Vero.


"Ya...semua nya harus ada jawabanya, kenapa Nuri ada di sana. Oh...ya! Apa ada seseorang yang menanyakan Nuri?" tanya Rania baru teringat.


"Seseorang?" Vero tak paham.


"Iya, seorang pria. Dia pacar Nuri. Seharusnya dia datang mencarinya" ucap Rania.


Mata Rania membulat saat pikirannya berkata bahwa kebakaran dan kecelakaan Nuri mungkin disebabkan oleh Ryan kekasihnya.


Bondan menatap heran pada ekspresi wajah Rania.


"Ada apa?" tanya Vero.


"Tidak! Tidak mungkin!" ucap Rania.


"Apanya yang tidak mungkin?"


"Ryan adalah pria simpanan Anita" ucap Rania.


Rania dan Vero saling menatap. Mereka berdua memikirkan hal yang mungkin saja terjadi.


"Tapi...belum ada bukti, jika tidak dari CCTV, maka kesaksian Nuri adalah yang utama" ucap Vero.


Beberapa saat kemudian, suara pria bicara dengan seorang wanita terdengar mendekat.


"Itu Yudi!" ucap Rania.


Tak berapa lama,


"Bro!" seru Yudi pada Vero.

__ADS_1


Vero menoleh dengan mata yang membulat.


~Astaga Yudi melihat Rania!~ ucap hati Vero.


"Ada kabar!" ucap Yudi.


Vero melirik ke arah Rania duduk, namun dia sudah tidak ada. Rania sudah berjalan dengan cepat masuk ke ruang rawat orang lain. Dia bersembunyi dengan memohon pengertiannya dari yang menjaga ruangan itu.


"Kabar apa?" tanya Vero merespon dengan wajah khawatir.


"CCTV!" jawab Yudi sambil menghampiri Vero.


Dila menyusul dari belakang setelah memperbaiki sepatunya.


"Ouh...bagaimana?"


"Aku lihat tadi kak Vero lagi ngobrol, sama siapa?" tanya Dila.


Mata Vero membulat, dia senyum dan memikirkan apa yang harus dia katakan.


"Ouh.....tadi....ada seorang keluarga pasien nanya kantin dimana. Hehe..."


Dila mengerutkan dahinya merasa ada yang aneh dengan sikap Vero. Yudi kembali membahas tentang CCTV. Mereka bicara hingga beberapa lama. Rania yang masih diam di ruangan orang lain sudah merasa sangat malu karena dia masih diam di dekat pintu.


Vero yang mendengarkan Yudi bicara juga tak bisa melupakan Rania yang masih ada di dalam ruangan lain.


"Aku lapar! kita bicara sambil makan" ucap Vero.


Berharap Yudi dan Dila mau ikut bersamanya ke kantin, agar Rania bisa pulang.


Kemudian tak berapa lama Bondan datang dan menanyakan ruang rawat Nuri. Suster menunjukkan nya pada Bondan, dia pun langsung menuju lift. Vero dan Yudi juga Dila pun sedang turun untuk makan.


Bondan tak sabar menunggu, lift yang disebelahnya terbuka dan kosong, dia masuk dan langsung menuju lantai dimana Nuri dirawat. Belum sampai di tempat yang dituju, Bondan sudah bertemu dengan Rania yang berjalan sambil merapikan pakaian dan tas nya tanpa melihat ke depan.


"Makanya kalau jalan itu lihat ke depan!" ucap Bondan.


"Kamu memang sengaja kan?" ucap Rania.


Dia mencubit tangan Bondan yang memeluk pinggangnya.


"Sudah ku bilang aku akan antar, kenapa pergi sendiri?" tanya Bondan.


Rania melirik, dia lega karena Vero sudah membawa Yudi dan Dila pergi dari sana sehingga tak bertemu dengan Bondan.


"Lama! Jam besuk nya sudah lewat. Jadi aku pergi sendiri" jawab Rania.


"Gimana kabar Nuri? Sakit apa dia?" tanya Bondan.


Rania berhenti berjalan dan menarik Bondan ke tangga darurat karena melihat lift naik, takutnya Vero dan Yudi juga Dila kembali .


Bondan terkejut dan menatap dengan heran padanya.


"Ada apa?"


"Banyak yang harus aku katakan. Tentang aku...dan tentang keluarga ku"


Bondan tak mendengarkan Rania bicara. Dia hanya melihat bibir Rania yang berwarna pink. Dalam suasana hening di tangga darurat itu, Bondan merasa waktu yang tepat untuk mencium Rania. Karena beberapa waktu ini mereka tidak punya waktu untuk berduaan.


Bondan mendekat dan memeluk pinggang Rania. Dia mencium bibir Rania yang masih bicara. Rania terkejut, namun tak menolak nya.


Beberapa saat berciuman, Rania berhenti dan memegang wajah Bondan.

__ADS_1


"Ada yang harus aku katakan" ucapnya sambil menghela.


"Nanti saja, kita baru punya waktu berdua saat ini. Sebentar saja" pinta Bondan.


Dia mendekatkan lagi bibir nya pada Rania yang masih tetap ingin bicara.


"Sebentar saja!" ucap Bondan.


###


Vero makan dengan tangan yang sibuk mengirimkan pesan untuk Rania. Dila merasa Vero tak sedang fokus dengan apa yang mereka sampaikan.


"Kak Vero lagi ngga fokus ya?" tanya Dila.


"Haaah? ngga juga. Aku denger kok! Dari rekaman terlihat kalo Nuri datang setelah memecahkan jendela dengan batu kan? Dia terlihat berusaha memadamkan api. Beberapa saat kemudian datang pria menyusulnya, kemudian kamera terbakar" jelas Vero.


Yudi dan Dila terkesan dengan kefokusan Vero. Dia terlihat tak mendengarkan. Namun sangat paham detilnya.


"Cari tahu dari sudut CCTV yang ditempel dekat ruangan ku. Dari sana mungkin terlihat sesuatu" ucap Vero.


Yudi merasa baru teringat dengan letak CCTV itu. Dila malah tak tahu.


"Berarti selama ini kakak melihat pekerjaan kami di restoran?" ucap Dila baru menyadarinya.


"Tentu saja, aku mengawasi kalian. Juga pengunjung" jawab Vero.


Dila mengerutkan dahinya karena merasa sudah tertipu. Vero tersenyum dan mengusap kepala Dila dengan manja. Yudi melihat pemandangan itu dengan mengangkat salah satu alisnya karena heran.


"Kalian seperti aku dan Arumi" ucap Yudi.


Dila merubah ekspresi nya, Vero hanya tersenyum.


"Ya....karena kalo kayak pacar nanti kamu kalah saing" ucap Vero.


Dila tersenyum mendengar ucapan Vero.


"Wah...kamu setuju ucapan Vero?" tanya Yudi setelah melihat senyuman Dila.


"Tentu saja, kak Vero adalah kriteria pria idaman semua wanita. Mapan, baik, tampan dan bertanggung jawab. Dia juga punya prinsip tentang cinta. Apalagi yang kurang coba?" ucap Dila memuji kakaknya.


"Ah..ya..ya..aku tidak mapan, tidak punya prinsip" ucap Yudi kesal.


"Sudah....sudah....jangan baperan" ucap Dila.


Vero melihat raut bahagia di wajah Dila.


~Aku harap kamu bisa menjaga Dila dengan baik~ ucap hati nya.


Mereka kembali ke lobi setelah makan. Di saat bersamaan Bondan dan Rania keluar dari tangga darurat. Langkah Rania terhenti saat di hadapannya Yudi menatapnya. Sementara Vero dan Dila membelakangi sedang menunggu lift.


Bondan menarik tangan Rania kemudian memeluknya sambil meminta maaf karena tak mendengarkannya tadi.


Rania masih diam dalam tatapan Yudi yang diam tanpa kata. Bondan mengajaknya langsung keluar. Rania menunduk memalingkan wajahnya dari Yudi.


Yudi menelan ludah dan mengalihkan pandangannya pada Dila yang ada di hadapannya. Dila tersenyum manis dengan mengangkat kedua alisnya bertanya ada apa dengannya. Yudi tersenyum dan menggelengkan kepala, meski dalam benaknya dia berpikir baru saja melihat Rania.


"Aku nunggu di parkiran ya!" ucap Yudi.


Di sela percakapan Vero dan Dila mereka menatap Yudi kemudian mengangguk. Yudi berjalan menuju parkiran motornya.


Matanya mencari Rania ke arah sekeliling rumah sakit. Kemudian dia melihat Rania sedang memunggu di dekat motornya terparkir. Langkah Yudi dipercepat kemudian melambat saat benar-benar hampir dekat dengan Rania.

__ADS_1


Rania melirik ke arah datangnya Yudi. Dengan mata yang membulat, Yudi memastikan penglihatannya menatap wajah Rania. Dia hendak menyapanya, namun mobil datang, kemudian Rania dengan terburu-buru masuk dan meninggalkan nya.


Yudi termangu menatap kepergian mobil yang ditumpangi Rania.


__ADS_2