Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
33


__ADS_3

Kediaman Atmajaya ramai meski hanya kerabat dan kolega yang diundang, terlihat banyak orang yang datang. Anita tersenyum lebar, terlihat sangat senang sekali atas pertunangan antara Rania dan Beni.


Rania yang masih berdiri di depan cermin, menatap pada dirinya sendiri. Ada rasa kesal yang sulit untuk diungkapkan, pada dirinya, orang-orang yang dia sayang, Beni, Anita, Bondan bahkan pada pemikiran Dina yang pada akhirnya meragukan sikapnya.


~Siapa kau? Aku bahkan tidak tahu siap dirimu sebelumnya, tapi kenapa kau bisa membuatku menjadi berantakan seperti ini?~ ucap hatinya yang bicara pada bayangan nya di cermin.


Ponselnya berbunyi, pesan dari Dina terlihat.


[Sudah waktunya, cepat!]


Rania berdiri dan berjalan keluar. Dia melihat keadaan, memastikan tak ada siapapun di rumah. Rania berlari tanpa sepatunya ke atas, ke ruang kerja Anita.


Menatap ke seluruh tempat, mencoba menebak dimana Anita menyimpan berkas yang dia minta dari pesuruh yang selalu dia telpon. Rania melihat sebuah kotak aneh di meja dibelakang kursi Anita.


Rania mendekat dan membukanya, sebuah kotak klasik berisi kumpulan foto dan surat. Rania melihat sebuah foto keluarga. Wajahnya tak asing, dia pernah melihatnya di lukisan Beni.


Mata Rania membulat melihat wanita yang dia ketahui sebagai ibu Dila menggendong dua bayi kembar. Berdiri di sisi kanan, suaminya dan seorang anak laki-laki yang memegang selimut bayi yang didekatnya.


Sebuah tulisan tertera di belakang foto itu.


[Dira...ini keluarga mu, maafkan ibu karena menitipkan mu di keluarga lain. Aku ibu mu, kau punya saudari kembar dan seorang kakak yang sangat baik. Ibu selalu menyayangi mu]


"Kenapa? Kenapa mata ku meneteskan air mata membaca pesan ini?" gumam Rania.


Rania mengalihkan padangannya kemudian mencari kembali sesuatu yang akan membuatnya tahu lebih jelas. Dia melihat sebuah skema yang ditulis tangan.


Sebuah skema, foto dirinya, Dila dan Vero ada di sana. Foto kedua orang tua Dila juga ada, diletakkan berdampingan di sebelah atas. Sebuah garis antara foto saling berhubungan. Di bawah foto Vero tertulis "ANAK PERTAMA" dan sebuah tulisan tertulis dibawah fotonya dan Dila, "PUTRI KEMBAR".


Rania membelalak dan meneteskan air matanya. Sesuatu yang membuatnya sangat-sangat tak percaya. Dia menjatuhkan kotak itu dan tersadar dari diamnya. Dengan panik dia mengambil kotak itu dan merapikannya kembali.

__ADS_1


Kemudian dia melihat semua foto-foto Dila bersama Vero dan teman-temannya. Vero bersama Nurdin. Vera dan Aditya, juga Nuri bersama seorang pria. Rania menghapus air matanya dan berdiri.


"Apa ini?" gumamnya sambil menaruh semuanya seperti semula.


"Ya...benar!" suara Anita terdengar dari belakangnya.


Mata Rania tak berkedip karena terkejut.


"Kau dan Dila adalah saudara kembar. Pria yang bernama Vero Wardana adalah kakak kalian. Kalian bersaudara" ucap Anita.


Rania berbalik, air mata terus menetes saat melihat wajah Anita yang tersenyum padanya.


"Apa?" tanya Rania tak percaya.


"Aku mengetahui tentang mu dari Nuri, dia menunjukkan semuanya pada Ryan. Kemudian pada akhirnya aku tahu yang sebenarnya. Kalian bersaudara" jelasnya.


"Apa? Kami hanya mirip, kami bukan saudara kembar!" Rania mengelak dari semua kenyataan yang dia dapat.


Anita bicara sambil berjalan memutari Rania yang masih terluka hatinya juga merasa tak bisa menerima semuanya begitu saja. Anita berdiri di samping Rania dan berbisik.


"Tunangan dengan anakku Beni, menikah dengannya sampai aku mendapatkan semuanya. Kemudian jika kau ingin pergi, pergilah! Meski Beni bunuh diri, jangan pernah berbalik. Aku bisa mengurus pemakamannya sendiri"


Rania menatap mata Anita dengan tajam. Tak percaya dengan semua yang dikatakannya.


"Kenapa? Kau heran aku berbuat begini?" ucap Anita sambil tertawa.


Rania melihatnya tersenyum lebar seolah tak ada yang bisa menghalanginya mencapai tujuan.


"Dulu aku menjalani hidup yang lebih berat dari yang kau alami. Aku bahkan diperkosa dan dibuang oleh kedua orang tua ku. Aku mengandung anak pria iblis itu dan melahirkannya. Dengan susah payah aku membuat ayah Bondan menyukai ku. Ku kira hidupku akan nyaman dengan hidup bersamanya. Tapi takdir berkata lain, mereka malah mati dan meninggalkan sebuah perusahaan bangkrut ke tangan ku. Hanya orang tuamu yang tak punya hutang. Kakak mu meninggalkan Dila, adik mu, sendiri dan tak mengambil haknya hingga kini. Jadi aku yang lebih berhak mendapatkannya karena aku yang mengurus Dila semenjak itu. Dulu Dina yang sangat naif mau menandatangani sebuah kertas kosong yang membuatnya menyerahkan semua hartanya. Sekarang, karena kau tidak naif dan terlalu sok pintar, aku harus mengancam sekali lagi"

__ADS_1


Anita menghapus air mata Rania kemudian memegang wajahnya yang masih menangis.


"Ini semua salah ayah Bondan dan kedua orang tuamu yang menjadikan perjodohan untuk menyerahkan semua harta pada mu. Aku harus melakukan ini, aku sudah mengurus adik mu bertahun-tahun bukan?. Jadi lakukan semua yang aku inginkan, jika tidak...aku akan membabi buta dan membunuh semua nya, Vera, Aditya, Nurdin, Yuni, Nur, Yudi...juga Vero bahkan Bondan dan Beni sekali pun. Tentu saja aku juga bisa melakukannya hanya dengan sekali perintah dalam waktu yang sama, kemudian aku membiarkan mu hidup, menangis sendiri. Sama seperti aku dulu. SENDIRI" ucap Anita.


Rania melempar tangan Anita dengan wajah kesalnya. Dia kesal dengan semua ancaman yang membuat Rania tak bisa melawan. Bahkan meski tahu yang sebenarnya, dia tak bisa bertemu dengan kedua saudaranya.


"Hapus air mata mu! Acara akan kacau dan jika benar-benar kacau..kau tahu apa yang akan terjadi bukan?" ancam Anita.


Anita berjalan terlebih dahulu mendekati pintu, dia berhenti lalu menoleh sedikit ke arah Rania. Dia melempar sepatu Rania yang ditinggalkan di depan pintu kamarnya tadi. Rania menghapus air matanya, nafasnya menahan isak tangis. Dia memakai heelsnya dan berjalan mendekat pada Anita.


Mereka berjalan bersama, Anita tersenyum menatap semua tamu dan memegang tangan Rania. Beni yang berdiri dekat dengan Dina menatap Dila yanga sangat cantik di matanya. Beni tersenyum senang, hatinya sangat bahagia melihat Dila yang akan menjadi teman hidupnya.


Rania berjalan dan menghampiri Beni. Dengan lembut Beni memegang tangannya menyambut kedatangannya. Kemudian tangan Beni memeluk pinggangnya dan acara pun di mulai.


"Here's it, Beni Atmajaya and Dila Aryani Subagja engagement event is already to start" ucap pembawa acara.


Mereka membantu mengarahkan Rania dan Beni melakukan semuanya dengan sempurna. Dina terlihat masih celingak celinguk menatap ke arah pintu masuk. Sebuah mobil datang, Bondan dan Vero keluar dari mobil. Dina tersenyum lega melihat Bondan datang.


Rania dan Beni sudah bertukar cincin. Semua orang bertepuk tangan. Bondan dan Vero menjadi ikut bertepuk tangan dan merasakan riuh tamu undangan yang ikut berbahagia.


Beni mencium bibir Rania, dia tak bisa menolak karena Anita sedikit mendorongnya untuk tak mundur dari ciuman Beni.


Bondan terdiam menatap pemandangan yang membuatnya kesal sekaligus baru. Vero melihat ekspresi Bondan yang terlihat merah kesal juga tangannya yang mengepal.


Ciuman berakhir, Vero yang sedari tak bisa melihat sang wanita yang bertunangan memperlambat tepukkan tangannya. Menatap dengan matanya yang berkaca-kaca.


~RANIA!~ ucap hati nya memanggil.


Rania yang menghela setelah berciuman merasa ada yang memanggilnya. Matanya mencari, dia melihat Bondan berdiri mengepalkan tangannya. Namun perasaannya masih aneh, dia merasa bukan Bondan yang memanggilnya.

__ADS_1


~Lalu siapa yang memanggilku?~ ucap hatinya gusar.


Rania kemudian mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang berdiri tak jauh dari Bondan. Sekali lagi, Rania terkejut. Dia melihat Vero menatapnya dengan tangannya yang juga mengepal.


__ADS_2