
"Pagi...!" seru Dila saat masuk ke restoran yang masih sepi.
Arumi tersenyum menertawakan tingkahnya yang memberi salam pada barisan kursi dan meja yang tertata rapi. Dila melihatnya dan ikut menertawakan dirinya sendiri.
"Bukankah bersemangat itu sangat baik dilakukan untuk memulai hari?" ucap Dila beralasan.
Yudi dan Vero datang menyusul, mereka langsung ke tempat masing-masing. Vero sudah mengatakan pada Yudi ada pekerjaan penting yang harus dia lakukan di Melbourne Australia. Mereka harus meeting mendadak.
Yudi ke dapur sebentar untuk melihat apa Fajri sudah datang atau belum.
Dila dan Arumi hanya menatap mereka. Yudi kembali ke luar dan berdiri di hadapan Arumi dan Dila.
Dengan kedua tangan di pinggang, Yudi bicara.
"Kita meeting mendadak!" ucap Yudi.
"Meeting untuk apa?" tanya Arumi.
"Masuklah, nanti juga tahu. Aku mau menghubungi Fajri" ucap Yudi.
Namun dia tak jadi menghubunginya karena Fajri terlihat sedang berjalan menuju pintu masuk restoran.
"Itu dia sudah datang" ucap Yudi.
"Ada apa?" tanya Fajri yang kebingungan melihat mereka bertiga menatapnya.
"Apa penampilan ku hari ini berantakan?" tanya Fajri lagi.
"Meeting di ruangan Vero!" ucap Arumi.
Fajri menghela karena merasa diabaikan setelah ditatap dengan aneh.
Mereka berjalan menuju ruang kerja Vero. Terlihat Vero sedang merapikan tumpukan map.
"Kalian sudah kumpul?" ucap Vero.
Semua orang berdiri dan mendengarkan apa yang akan Vero katakan.
"Baiklah, aku akan pergi ke Melbourne siang ini" ucap Vero.
Arumi terkejut, matanya membulat dan menatap Vero yang juga menatapnya. Alisnya terangkat seolah bertanya.
~kenapa mendadak sekali? untuk apa ke melbourne?~ tanya hati Arumi.
Dila mengangkat kedua alisnya dan mengangguk. Fajri lebih terkejut lagi karena dia yang paling terakhir datang.
"Ada bisnis yang harus aku lakukan dengan seorang Direktur disana. Untuk waktu yang belum bisa aku katakan" lanjut Vero.
Arumi semakin kesal mendengar waktu kepergian Vero tak bisa ditentukan. Keningnya mengerut mengisyaratkan ketidaksukaannya pada berita mendadak ini.
__ADS_1
"Seperti biasa, Aku serahkan semua pada kalian. Restoran ini adalah milik kita semua. Jadi aku berharap kalian bisa menjalankannya dengan baik selama aku pergi. Masing-masing dari kalian akan bertangganggung jawab dua pekerjaan sekaligus, aku akan mulai dari Fajri. Yang lainnya bisa menunggu di luar. Terimakasih!" jelas Vero.
Semua orang keluar kecuali Fajri.
"Ok Faj, sekarang sebagian perkerjaan Arumi kamu handle, karena dia akan banyak duduk di sini melihat perkembangan restoran dan melakukan tugas ku. Tugas mu juga akan dibagi pada Dila agar dia juga belajar manajemen restoran ini. Ini yang harus kamu lihat" ucap Vero sambil memberikan sebuah map.
"Tunggu!" ucap Fajri sambil memegang map.
Vero terdiam menatapnya.
"Bisnis apa? kenapa mendadak? Apa ada masalah dengan restoran? Kita baik-baik saja kan?" tanya Fajri.
Vero tersenyum dengan semua pertanyaan Fajri yang menurutnya sangat menyiratkan bahwa dia memang sangat loyal terhadap restoran ini. Kekhawatirannya membuat Vero senang telah memilihnya menjadi manager restoran ini.
"Aku akan sedikit jujur padamu. Aku bertemu dengan orang ini dengan dasar bisnis, tapi...ada sedikit bumbu urusan pribadi di dalamnya. Yang tak bisa aku katakan pada siapapun termasuk pada Arumi. Karena kamu adalah teman terbaikku, jadi aku benar-benar berharap dukungan mu" ucap Vero.
Fajri yang punya sifat baik, tak pernah memaksakan kehendaknya untuk meminta orang lain menjelaskan, mengangguk dan tersenyum pada Vero.
"Ok, aku memang ga pernah dengar masalah pribadi mu selain tentang pacar mu Arumi. Tapi...aku berharap, suatu hari kamu bisa berbagi itu dengan aku" ucap Fajri.
Vero menghela nafas lega mendengar ucapan Fajri.
"Terimakasih bro! Kamu memang yang terbaik!" ucap Vero sambil memeluknya.
"Ok, sekarang siapa yang aku panggil?" tanya Fajri.
"Yudi sama Dila aja, sekaligus" ucap Vero.
Arumi masih kesal, dia menatap Fajri yang mengatakan bahwa Yudi dan Dila yang terlebih dahulu masuk. Mereka pun masuk.
"Ah...apa-apaan ini? Kenapa masuk ke sana serasa akan sidang skripsi?" ucap Arumi.
Fajri tersenyum, dia menepuk bahu Arumi.
"Nanti selesai bicara dengan Vero kita harus bicara juga ya!" ucap Fajri.
Arumi membulatkan matanya.
"Memang apa yang dia katakan padamu?" tanya Arumi.
"Ada, meski tidak banyak. Tapi pekerjaan ku bertambah karena pekerjaan mu dialihkan padaku" jelas Fajri.
"Apa?" Arumi masih belum mengerti.
"Sudah dulu ya! Aku mau ke kamar mandi!" ucap Fajri, dia berjalan terburu-buru ke kamar mandi.
Arumi masih bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Sementara di dalam, Vero menjelaskan tugas dari Yudi dan Dila.
"Dil, restoran ini adalah milik aku, Yudi dan Arumi. Kami mempertaruhkan uang, usaha dan harapan kami di tempat ini. Jadi...aku harap kamu bisa lebih profesional dalam bekerja, tugas mu masih sama, memperkenalkan restoran ini di sosial media. Tapi dengan tambahan, membantu Fajri mengawasi jalannya restoran. Kamu bisa minta Fajri mengatakan apa yang harus kamu lakukan setiap harinya" ucap Vero.
__ADS_1
"Baik Bos!" jawab Dila.
Yudi yang sedari tadi menatap Dila, tersenyum dengan semangat yang dimilikinya. Hampir terlihat sama dengan Rania.
"Ok, kamu bisa pergi. Persiapkan untuk kemungkinan terbaik hari ini!" ucap Vero.
"Siap Bos!" jawabnya lagi.
Kali ini Yudi tertawa dan Dila menatap wajah Yudi yang manis saat tertawa. Teringat dengan semalam, wajahnya dekat sekali dengan wajah Yudi yang mabuk. Dila merasakan jantungnya berdetak kencang. Wajahnya terasa panas saat melihat wajah Yudi.
"Silahkan!" ucap Vero menepuk bahunya.
Dila tersadar dan tersenyum, lalu pergi keluar mencari Fajri.
"Terimakasih sudah mengerti posisi ku ,Yud" ucap Vero.
"Santai...kita kan teman. Lagi pula, sebenarnya gue penasaran sama urusan lu ke Melbourne. Jujur, gue sempet ngira lu ngejar Rania ke sana. Karena yang gue dengar dia ada di Australia. Meskipun ga tahu pasti di mananya. Tapi ....gue menghargai lu sebagai teman sejati. Gue percaya, lu ga akan nyakiti Arumi dengan apapun. Jadi kali ini gue biarin lu pergi, nanti pas balik lu cerita apa yang terjadi, ok!" ucap Yudi.
Vero tersenyum, dia merasa di dukung sekaligus diancam dengan semua perkataan Yudi.
"Percayalah, apa yang aku lakukan ga pernah membuat perasaan ku sama Arumi berubah. Kita sama-sama tahu bagaimana aku jatuh cinta sama dia" ucap Vero.
"Ya, beruntungnya kamu yang bisa menyatakannya langsung dan mendapat balasan dari adek gua" ucap Yudi mengeluh soal Rania lagi.
"Ok, gue panggil Arumi ya!" ucap Yudi lagi.
Vero tersenyum dan mengangguk menatapnya yang pergi keluar.
~ya, lu harus nyesel Yud, karena gue ngga akan ngasih Rania yang begitu berharga sama cowok kayak lu. Tapi gue juga berharap lu bisa dapet cewek yang baik buat lu~ ucap hati Vero.
Arumi datang dengan wajah masam dan kesal. Vero tersenyum dan membuka tangannya lebar-lebar sebagai isyarat meminta pelukan dari Arumi.
Namun Arumi malah duduk di sofa dan melipat tangannya di dada.
Vero menurunkan tangannya dan menghampiri Arumi.
"Kamu cantik kalo lagi marah!" ucap Vero dengan menyentuh tangannya.
Arumi mendelik dan tak menghiraukan rayuannya.
"Jadi....apa yang harus saya lakukan Bos!" tanya Arumi dengan kesal.
Vero terdiam karena respon Arumi.
"Tugas kamu cuma percaya dan doain aku" ucap Vero.
Dia melepas tangannya dari tangan Arumi dan merubah posisi duduknya. Wajahnya menunduk menatap kedua tangannya yang dia mainkan sendiri. Arumi merasa bersalah menatapnya juga karena langsung marah tanpa bertanya apa yang sudah terjadi hingga Vero harus pergi.
"Sebenernya, aku cuma mau tahu pastinya kapan kamu pulang. Karena pasti berat banget kalo ngga ada kamu di sini" ucap Arumi.
__ADS_1
Vero melihat wajah Arumi yang masih kesal, namun terlihat manja dan cantik. Dia langsung mencium bibir Arumi dengan tiba-tiba. Arumi terkejut sehingga tangannya memegang lengan sofa yang ada dibelakangnya untuk menopang tubuhnya yang hampir jatuh.
Vero melepas ciumannya melihat Arumi yang hampir jatuh, dia membantu Arumi kembali duduk. Arumi terus menatap bibir Vero yang tadi menciumnya. Tanpa menahan, Arumi membalas ciumannya, Vero pun kembali memberikan cumbuannya.