
Dokter datang, Arumi mempersilahkannya masuk, Yudi juga ikut melihat ke depan pintu kamar. Namun Vero menutup pintunya, tak membiarkan seorang pun masuk ke sana.
Saat Yudi hendak kembali ke ruang tengah, Arumi menarik tangannya.
"Jangan pernah mengatakan apapun tentang hubungan mu dengan Rania selama kalian tinggal bersama. Rania akan mengerti, dia akan melupakan semuanya lagi. Jadi diamlah!" ucap Arumi.
Dia mulai lelah dengan semua kejadian dalam hidupnya. Semua berhubungan dengan hubungannya dengan Vero. Jika Yudi melakukan kesalahan satu kali lagi, Vero takkan pernah memaafkan mereka. Dengan itu pula hubungannya dengan Vero akan renggang, bahkan mungkin berakhir.
Dila berdiri hendak mencecar mereka dengan ucapan jahatnya. Arumi melebarkan tangannya dan menaruhnya di depan wajah Dila.
"Cukup! Aku tidak mau dengar lagi kata-kata menyakitkan dari mulutmu. Kau bisa kembali pada Yudi. Dan Rania akan kembali pada Bondan. Sederhana kan? Jangan buat seolah semua jadi rumit. Ok"
Dila menghela nafas, dia berpikir ucapan Arumi ada benarnya. Dia tak boleh mempermasalahkan apapun lagi. Semua akan kembali normal, dia akan membawa Yudi pergi dari Jakarta selamanya.
Yudi duduk dan masih memikirkan Rania, dia juga tak bisa tak memikirkan Dila yang terus menatapnya. Tapi hatinya tak tenang, ada hal yang dia takutkan. Tapi Yudi tak bisa mengatakannya pada Arumi yang memang tak mau mendengar apapun.
Tak lama kemudian, Vero keluar dari kamar dam langsung melancarkan bogem mentah ke wajah Yudi. Semua orang berdiri dan terkejut dengan apa yang Vero lakukan.
"Ada apa Vero? Kenapa kamu pukul dia?" Arumi meraih Yudi yang terjatuh.
Vero masih diam dalam amarahnya. Dia menatap Yudi dengan mata merahnya karena marah.
"Ada apa nak, kenapa kamu mukul Yudi?" tanya Bu Vera.
Vero mendekat dan bicara padanya dengan suara pelan, yang hanya bisa dia dan Arumi yang dengar.
"Bertahun-tahun aku memacari adik mu, dan aku tak pernah tak menghargainya sebagai wanita. Sekarang, baru dua bulan ku titipkan dia padamu, kau sudah membuatnya hamil?"
Arumi membelalakan matanya, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Rania hamil?" ucap Arumi.
Dila terduduk lemas membaca ucapan Arumi, Adit mengepal tak menerima perlakuan Yudi pada kakaknya. Bu Vera terduduk lemas dan Bu Yuni meraihnya agar tak jatuh.
Sementara itu, Bondan yang baru datang, menjatuhkan kotak hadiah yang dia bawa untuk Rania, saat mendengar ucapan Arumi.
__ADS_1
Adit meraih kerah baju Yudi dan memukulnya. Vero menahannya, Bondan ikut meraih tubuh Yudi hendak memukulnya.
"DIIAAAAMMMM! CUKUP, KALIAN SEMUA CUKUP!" Bu Vera berteriak histeris.
Semua orang diam menatapnya.
"Beraninya kamu menyentuh Rania ku, kau bajingan!" Bondan tak berhenti.
"Aku kira dia Dila, aku hanya..."
Pukulan Bondan mendarat di wajahnya.
"Tidak bisakah kau membedakan dia? Jelas dia adalah Rania. Kau juga harusnya bisa membedakannya dari kebiasaannya!" ucap Bondan hendak memukulnya lagi.
"Siapa yang bisa membedakan mereka? Aku juga tidak bisa, AKU TIDAK BISA!" Yudi berteriak.
"Lalu aku ini siapa? Rania? atau Dila?" ucap Rania yang berdiri di pintu kamar.
Mereka semua baru bisa berhenti setelah mendengar suaranya.
"Kamu Rania Ramadhania anak ibu, sini sayang kita pulang!" Bu Vera menangis mendekatinya dan membawanya.
"Bu, tunggu Bu. Dengarkan aku, aku nggak akan pernah ninggalin Rania Bu, apapun yang terjadi. Apapun keadaannya" ucap Bondan.
Langkah mereka terhenti, Rania hanya menatap ibunya yang berbalik pada Bondan.
"Jangan ganggu kami lagi, aku mohon!" ucap Bu Vera sambil menangis dan menyatukan kedua telapak tangannya.
Bu Vera menarik tangan Rania. Dia menatap Bondan dengan matanya yang hampir menangis. Seolah tak ingin berpisah dengannya. Tapi Bondan hanya diam, dia merasa perkataan Bu Vera adalah bentuk penyesalannya sudah bertemu dan mengenalnya.
Sementara itu, Vero melepaskan pegangan eratnya dari pakaian Yudi. Dia melepaskan dengan menghela. Dia menatap Dila adiknya, kemudian menariknya masuk ke kamar.
"Tidak kak, aku mau bicara sama Yudi. Aku mohon kak!"
Dila merengek karena tahu kakaknya akan melarangnya menemui Yudi lagi dengan cara menariknya ke kamar.
__ADS_1
"Bu Min, mana kunci kamar ini?" tanya Vero dengan berteriak.
Bu Min datang dengan tergopoh membawakan kunci dan memberikannya pada Vero. Dengan kesal, Vero mengunci Dila di kamar. Sementara itu dia berjalan kembali ke ruang tengah.
"Pergi kamu dari rumah ini, sudah tak ada tempat untuk mu di rumah ini" ucap Vero dengan menunjuk wajah Yudi.
Arumi terduduk, dia tak bisa berbuat apapun untuk membuat semuanya baik-baik saja. Dia berdiri hendak mengikuti Vero ke kamarnya. Namun Vero berbalik.
"Sebaiknya kamu bereskan semua kekacauan ini, batalkan semuanya. Itupun jika kamu mau melepaskan dia sebagai kakak mu dan tinggal bersama ku" ucap Vero kesal.
"Vero...aku...!" Arumi terbata tak bisa menjelaskan kesedihannya.
Dia menangis terduduk di lantai. Yudi menghampirinya dan membantunya untuk berdiri.
"Lepas! Pergi sana! Aku sudah bilang, jangan melakukan kesahalan. Sekarang kamu sudah menghancurkan rumah tangga ku karena keegoisan mu. Aku benci sama kamu Kak, aku benci!"
Yudi melangkah mundur, dia menatap Arumi dengan penuh penyesalan. Dia juga menatap pintu kamar Dila yang terdengar berteriak memanggil nama kakaknya untuk mengeluarkannya dari sana. Sesuatu yang dia takutkan terjadi, Rania hamil. Dia bahkan tak bisa menikahi Rania atau bahkan Dila sekalipun. Dia menyesali semua gaya hidup bebasnya.
Mereka meninggalkan rumah Ruby dengan hati yang hancur, entah itu Bondan ataupun Yudi. Kehadiran Dila yang mengukuhkan keberadaan Rania, dan kebahagiaan karena mereka masih hidup, menjadi hancur lebur.
Mereka menjadi terpisah dari orang yang mereka cintai. Jauh dari semua ekspektasi yang mereka bayangkan saat mereka merencanakan semua kebahagiaan bersama.
###
Vero menghubungi Pak Nurdin dan memintanya agar tak mempertemukan Rania dengan siapapun. Dia menitipkan Rania secara langsung, untuk menghargai Bu Vera juga agar Yudi dan Bondan juga tak begitu gencar untuk menemui Rania karena menghargai Bu Vera.
"Iya Pak, tolong, jaga Rania. Aku harus mengurus Dila. Dia sedang tidak bisa dikendalikan saat ini" ucap Vero.
"Babe bakal jaga Rania, tenang aja. Sebenarnya, ini momen yang seharusnya membahagiakan den, tapi babe ikut sedih dengan semua yang terjadi. Terutama Rania, dia bahkan nggak paham dengan semua yang terjadi" ucap Pak Nurdin.
"Saya tutup telponnya Pak" ucap Vero.
Pak Nurdin mengerti, Vero tak mau membicarakan itu dulu. Dan menutup telponnya. Pandangannya beralih pada Vera yang terus mengusap wajah Rania.
Bu Yuni menyentuh tangan suaminya yang masih melamun.
__ADS_1
"Huhhhfff, semua yang terjadi, sudah ada yang mengaturnya Yun!" ucap Nurdin.
Bu Yuni hanya menghela menatap Vera, Rania dan Adit yang duduk di satu sofa.