Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
83


__ADS_3

Beni mengendap-endap masuk ke rumah Davin. Setelah dia benar-benar memastikan bahwa anak buahnya lah yang terekam video amatir itu.


Dia melihat ke kanan dan ke kiri, membaca situasi. Beberapa orang sedang memeriksa CCTV yang dia rusak di halaman.


Dia menatap sebuah pintu, merasa seolah itu adalah pintu kamar Davin. Karena ada anak buah Davin yang kembali masuk, diapun terdorong untuk bersembunyi di ruangan itu.


Ruangan besar itu hanya sebuah kamar, namun sangat elegan. Beni memeriksa namun tak ada orang disana. Suara penjaga melapor di telpon terdengar, Beni menempelkan telinganya di pintu.


"Pak, Bu Anita datang" ucapnya.


Mata Beni membulat


~Anita mana? Momy kah?~ tanya hati Beni.


"Baik Pak!" ucapnya lagi.


Entah apa yang diperintahkan, penjaga itu keluar lagi. Beni mengintip dari lubang kunci. Davin turun dari tangga dan menyambut tamunya.


"Anita ku sayang!" seru Davin.


Dia mencium pipi Anita dengan mesra.


"Mari-mari sayang, masuk dan duduklah!" ajak Davin ke kamarnya.


Beni buru-buru bersembunyi di belakang ranjang yang divannya berukuran besar itu.


Anita masih diam dan terlihat ketakutan.


"Kau datang diwaktu yang tepat, aku mau menceritakan semua kepuasan ku atas ide mu" ucap Davin memujinya.


Anita tersenyum, dia belum mengatakan apapun sehingga Beni tak tahu, Anita itu ibunya atau siapakah.


"Karena kau memberi ide untuk meniduri Rania dan memberikan alamatnya, aku sekarang merasa sangat puas, selain aku bisa balas dendam pada Yudi, aku juga bisa membuat Vero pengusaha brengsek itu pelajaran" ucap Davin.


Beni mendengar jelas semuanya, dia buru-buru merekam semua pembicaraan mereka.


"Kau sangat puas? Kalau begitu mana uang ku? Aku butuh uang itu, semua aset uang aku kumpulkan beku, wanita sialan itu tak membiarkan aku mendapatkannya dengan mudah" ucap Anita.


Beni mendengar suara ibunya, air matanya menetes, dia sangat kecewa meskipun tahu bahwa ibunya jahat, tapi kenyataan yang dia dapat membuat dia sangat sedih dan marah.


"Kau mau uang?" tanya Davin.

__ADS_1


"Ya, aku membutuhkannya" jawab Anita.


Davin tersenyum, dia membuka resleting celananya.


"Kalau begitu bekerjalah dulu" ucap Davin sambil memberi kode pada Anita.


Anita menelan ludahnya, merasa enggan melakukannya. Namun dia sangat membutuhkan uang itu. Diapun melakukan permintaan Davin.


Beni yang bersembunyi sudah tak tahan mendengar suara mereka berhubungan. Dia merasa kesal dengan ibunya. Dia menatap senjata yang dia ambil dari laci Davin.


~Ini saat yang tepat, aku akan membunuh mereka berdua~


Beni mengirimkan video yang dia rekam dari ponselnya ke Bondan. Kemudian dia keluar dari tempat persembunyiannya dan mengejutkan mereka.


Anita dan Davin yang tanpa busana langsung menyelimuti tubuh mereka dan saling menjauh. Mereka menatap Beni yang memegang senjata dengan rasa takut.


Beni menatap mereka dengan mata merah dan wajahnya yang sangat marah. Dia siap menembakan peluru ke tubuh mereka.


"Momy jahat, aku kira momy nggak akan ngelakuin hal jahat sama perempuan karena momy juga perempuan. Tapi wanita jahat tetaplah wanita jahat" ucap Beni.


Dia menembakkan peluru ke dada dan perut Anita sebanyak tiga kali. Anita terkapar dengan teriakan histerisnya. Davin terkejut dan bersembunyi di kamar mandi. Dia tak bisa memanggil anak buahnya karena mereka selalu pergi jika dia sedang dilayani seperti itu.


Beni melakukan panggilan video saat menembak, Bondan melihat semua kejadian itu. Dia mematikan ponselnya dan menghubungi Saga untuk segera pergi bersamanya ke rumah Davin.


Dengan gusar dia mengendarai mobil, bayangannya tak bisa lepas dari sosok wanita yang ditembak Beni.


~Itu Momy, iya, itu momy~ ucap hati Bondan.


Sampai di rumah Davin, polisi sudah datang dan memeriksa tempat itu. Bondan turun dengan rasa takut di hatinya.


"Beni! Mana Beni?" tanya Bondan.


Petugas polisi melarangnya masuk, namun saat Saga datang dan meminta mereka untuk mengizinkan dia ikut masuk, mereka pun memberikan jalan.


Bondan berjalan melihat beberapa orang sudah tertangkap. Dia tak tahu yang mana yang bernama Davin. Dia mencari dan hanya mencari Beni juga ibunya.


Dia berjalan menuju tempat yang ditunjukkan seorang polisi. Dia masuk dan melihat Beni terkapar tak bernyawa di lantai.


"BENI!"


Bondan berteriak dan memeluknya, dia menangis memanggil-manggil nama Beni dalam pelukannya.

__ADS_1


"Bangun Ben, kenapa? Kenapa kamu nekat begini Ben?"


Beberapa saat kemudian, Bondan ingat dengan wanita yang ditembak Beni. Dia melepas pelukannya dan melirik ke ranjang yang tak jauh dari tempat Beni terkapar.


Bondan melihat ibu tirinya juga tak bernyawa terbaring di ranjang tanpa busana hanya tertutup oleh kain sprai. Saga mendekat dan menyentuh bahunya, mencoba mendukungnya secara moril.


"Kembalilah, aku akan membereskan semuanya" ucap Saga.


Bondan menerima pesan dari Vero. Dia melihat ada pesan juga dari Beni. Dengan rasa penasaran dia membuka dan melihat isi video itu.


Rasa hancur tak percaya dan merasa sangat kecewa, dia terduduk dekat jenazah Beni. Menangis tersedu, menangisi semua yang telah terjadi. Menyesali telah mengabaikan semua ucapan Rania yang kini menjadi korban.


Saga tak mengerti dengannya, dia melihat ponsel Bondan dan membelalak. Namun dia merasa lega, tak harus bersusah payah mencari bukti. Dia hanya perlu mencari Davin saja yang berhasil kabur.


Bondan kembali ke rumah sakit, Vero menatapnya karena bajunya terdapat noda darah. Dila yang sudah datang membawa makanan untuk mereka, menghampirinya yang hampir jatuh.


"Hati-hati!" ucap Dila sambil memegang lengan Bondan.


Bondan menatap wajah Dila, dia melepaskan tangan Dila dengan perlahan kemudian duduk. Kemudian Vero datang menanyakan video yang Beni kirim padanya.


Mereka bicara berdua cukup lama, Bondan menceritakan semua yang dia lihat di rumah Davin. Dia juga meminta maaf atas kesalahan yang dibuat ibunya yang menyebabkan kemalangan yanga terjadi pada Rania.


Vero sangat marah, dia kesal pada Bondan yang sejak awal selalu membela ibu tirinya. Dia diam tak menjawab permohonan maafnya.


Arumi dan Dila melihat Bondan begitu tulus memohon maaf.


~Maafkan dia Kak, aku mohon. Ini kesempatan ku untuk bisa kembali dekat dengannya~ ucap hati Dila.


Bondan berdiri, dia pamit dan hendak pergi.


"Arumi dan Dila sibuk mengurus Rania, Beni sudah pergi. Bisakah kamu bantu aku mengurus perusahaan?" ucap Vero yang ikut berdiri.


Bondan menatap wajah Vero, dia mengangguk.


"Aku hanya minta waktu saat nanti setelah pemakaman Beni dan Ibuku" pinta Bondan.


Vero mengangguk, Bondan pamit lagi kemudian pergi.


Arumi mendekat dan memegang lengan Vero.


"Meski tahu wanita itu jahat, dia masih menyebutnya ibunya" ucap Vero.

__ADS_1


"Sama seperti Rania, meskipun Bu Vera jahat padanya, dia selalu berharap ibunya menyayanginya. Sekarang harapannya terkabul meski harus terjadi hal seperti ini dulu" timpal Arumi.


"Aku harap ini semua cepat berakhir" harap Vero.


__ADS_2