Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
136


__ADS_3

Clara membawa Dila yang dibopong anak buahnya ke sebuah pesawat pribadi yang akan diterbangkan ke rumahnya di negara tetangga. Dia sudah sangat yakin, meskipun wanita yang dibawanya bukan Rania. Tapi wanita yang satunya sudah mati tertabrak di depan matanya.


Dia mengangkat wajahnya dengan angkuh menatap jendela pesawat yang mulai lepas landas. Takkan ada yang tahu siapa yang melakukan semua ini. Dia akan kembali ke Indonesia setelah kabar kematian wanita kembar itu mulai redup. Kemudian mengambil hati Bondan dan menjadikannya pendamping hidup.


Ponsel Clara berdering saat pesawat sudah di atas, dia lupa untuk mematikannya. Dengan terburu-buru dia mematikan telponnya yang sebenarnya adalah panggilan dari ayahnya, Sultan Ameer.


Pilot tiba-tiba keluar, dia menatap tajam pada Clara yang cukup ceroboh karena lupa mengubah ponselnya ke mode pesawat. Clara tersenyum bodoh membalas tatapannya.


"Dasar orang kaya bodoh!" gumam pilot itu.


Clara tak mendengarnya, jika dia mendengarnya mungkin pilot itu akan dia serang karena sifat Clara yang tak mau ditertawakan.


Sementara itu, Dila perlahan sadar. Dia membuka matanya karena merasa berada dalam pesawat saat mendengar sedikit gemuruh dan getaran. Dia menelan saliva saat melihat seorang pria duduk menungguinya.


Matanya beralih pada Clara yang duduk di depannya. Dila melihat, hanya ada dua orang pria yang ikut bersama mereka. Satu orang berdiri dekat kokpit, satu orang sedang duduk terkantuk menungguinya.


Dila melihat ke seluruh ruangan yang lumayan besar itu. Melihat sesuatu yang mungkin bisa dia gunakan untuk kabur. Dila melihat beberapa parasut yang biasa disediakan di pesawat. Kemudian menatap pintu pesawat. Dia punya ide untuk keluar dari sana dengan mendadak dengan menggunakan parasut.


~Tak apa jika mati, daripada aku harus melayani pria kayak genit teman si Clara itu~ ucap hati Dila.


"Tanyakan, kita sudah sampai mana!" ucap Clara.


Pria itu masuk ke kokpit, Dila merasa ini waktu yang tepat. Dia berdiri dan meraih parasut yang berada di belakang tempat duduk Clara dengan perlahan kemudian memakainya.


Berjalan perlahan menuju pintu dan hendak menekan tombol pintu untuk membukanya. Tiba-tiba anak buahnya keluar dari kokpit dan menatap Dila yang sudah siap dengan kepalan tangannya untuk menekan tombol itu.


"Tidak!" seru pria itu.


Dila membulatkan tekadnya, dia menekan tombol itu dan pintu terbuka. Namun karena pintu terbuka saat mereka masih terbang, pesawat menjadi tak seimbang. Mereka oleng miring ke kanan dan ke kiri.


Pintu pesawat itu belum terbuka sepenuhnya, harus di dorong terlebih dahulu. Tapi anak buah Clara sudah menyergap Dila, meski mereka juga ikut oleng.


Dila menunggu momen saat oleng ke arah pintu, dengan sekuat tenaga, dia membuka pintu dengan kedua kakinya. Dila seolah tenggelam ke sebuah kolam langit dan lenyap begitu saja dari pandangan mereka yang sedang mempertahankan posisinya agar tak membentur dinding pesawat.


Dila menatap langit di hadapannya, dia menelan saliva dan memejamkan matanya. Merasa sedang berada dalam sebuah adegan film aksi. Dia mengalaminya dan merasakan angin yang begitu kuat menerpa wajahnya. Menatap ke bawah, hanya sebuah bentangan laut di hadapannya.

__ADS_1


~Tidak apa-apa Dila, mati tenggelam atau matu dimakan hiu. Bukan mati dirudapaksa pengusaha hidung belang~ ucap hatinya.


Dila menarik tali untuk membuka parasutnya, seperti yang pernah dia lakukan saat dulu main bersama Marvin. Tubuhnya tersentak karena tarikan parasut yang mulai mengembang. Dila berusaha memegang tali dengan kuat.


Dia mulai menenangkan diri dan mengendalikan tali kemudi parasut ke kanan dan ke kiri. Meski dia juga tak terlalu ingat bagaimana caranya dia hanya mencoba berusaha mempertahankan diri. Dia masih berada di ketinggian yang masih jauh.


~Ah....aku kira laut itu sudah dekat!~ hatinya makin ketakutan.


Dila menatap sebuah pulau besar dan dirinya mendekati bibir pantainya. Namun besarnya angin membawanya menjauh, kemudian mendekat, kemudian menjauh lagi. Hingga dia jatuh di atas air yang cukup jauh dari bibir pantai.


Dila melepaskan parasut dari tubuhnya, kemudian mencoba berenang. Deburan ombak sesekali membawanya semakin jauh. Namun dia berusaha dengan kuat berenang kembali.


Akhirnya, lama bertahan di dalam air, Dila lemas, tubuhnya tersapu ombak yang dia sendiri tak tahu kemana karena hari mulai gelap. Dila tak kuat, lemas dan tak sadarkan diri.


###


Vero menatap wajah adiknya yang kepalanya di perban dengan banyak luka.


"Kami memangkas habis rambutnya, luka di kepalanya cukup berbahaya. Operasinya berhasil, tapi kami masih harus melakukan observasi setelahnya. Karena kemungkinan besar, operasi ini mempengaruhi kesadaran dan ingatannya" jelas Dokter.


"Maksud dokter?" tanya Vero.


Hanya Vero yang ada di ruang tunggu. Hanya satu orang yang boleh melihat dan menunggunya. Dia masih belum mengetahui diapa yang berbaring lemah di hadapannya. Apakah itu Rania atau Dila. Hatinya tetap hancur, seolah tersambar petir. Dia kehilangan kebersamaan dengan kedua adiknya yang terakhir dia lihat sedang membuat lelucon untuk menentukan siapa mereka.


Kini, dia pun kesulitan mengetahui dia Rania atau Dila. Karena dimatanya yang membedakan adalah cara mereka bicara dan bersikap.


Sementara itu, Arumi menunggu Bondan di ruangannya. Dia mulai dipindahkan ke ruang rawat. Tapi masih belum sadar sepenuhnya.


Matanya menatap wajah kakaknya yang pucat. Air matanya tak henti menetes mengingat hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi mereka.


###


Di luar rumah sakit, Yudi menunggu di kursi taman dan menatap gedung rumah sakit dengan sendu. Hela nafas keras berulangkali terdengar dari mulutnya. Semakin dia berpikir, semakin dia merasa sudah sangat kehilangan waktu.


Mengingat cerita dari Nuri bagaimana kejadian sebenarnya, membuat Yudi merasa terlambat datang. Banyak kata 'andaikan' yang tersirat di benaknya. Yang membuatnya menyesali semua yang terjadi. Dia bahkan tak bisa menentukan Dila atau Rania kah yang sekarang dia tunggu kesadarannya.

__ADS_1


Fajri datang mendekatinya. Dia membawakan kopi panas, untuk mereka minum selama menunggu di sana. Bersiap jika Arumi atau Vero tiba-tiba membutuhkan mereka.


"Apa ini Jri? Kenapa aku merasa sakit hati dengan situasi ini" ucap Yudi.


Fajri menatap wajah Yudi yang sedari tadi sudah menangis berulang kali. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Yudi yang memang tak ada jawabannya.


Mereka menghela nafas bersamaan, sambil mendongak menatap gedung rumah sakit.


###


Di rumah, Nuri sedang meninabobokan bayinya sambil membalas pesan Fajri yang mengatakan semua yang Yudi katakan. Nuri hanya bisa membalas dengan emoji sedih. Dia juga tak tahu harus berkata apa. Tapi dibandingkan dirinya, Vero dan Arumi pasti paling sedih.


Dia juga melihat bagaimana Bondan begitu marah dan mengejar mereka dengan penuh emosi. Mengebut sejak pertamakali menyalakan mobilnya.


Vera yang keluar dari kamarnya, melihat Nuri memainkan ponselnya.


"Ada kabar?" tanya Vera.


Nuri mendongak menatap Vera, karena dia sedang duduk di lantai. Dia menggelengkan kepalanya.


"Nggak ada Bu!" jawabnya lemah.


Nuri menyelimuti bayinya yang tidur di kasur bayi. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu dengan terburu-buru.


Tok Tok Tok!


"Ya, sebentar!" jawab Nuri sambil bangun.


Dia membuka pintu dan menatap Aditya yang terengah menatapnya.


"Adit!" ucap Nuri.


Adit mengalihkan pandangannya pada ibunya. Dia berlari dan menaruh tasnya di dekat kursi.


"Bu, Kak Nia. Apa dia...." Adit tak kuasa menanyakan pertanyaan yang sangat dia takutkan.

__ADS_1


Vera menangis lagi, dia memeluk Adit dan mengusap kepalanya. Tanpa bicara, mereka menangis tersedu.


Nuri pun tak kuasa menatap kesedihan mereka.


__ADS_2