
Dila menatap wajahnya sambil mengeringkan rambut dengan hair dryer di depan cermin. Dia mengingat wajah Yudi yang pucat pasi, lemah tak berdaya.
Kemudian muncul semua kenangan manis yang terjadi antara mereka. Dila menunduk dan menaruh hair dryernya.
"Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Dila pada dirinya di cermin.
Dila membuka ponselnya dan menghubungi Vero.
"Kakak dimana? Aku lapar, kita makan siang" tanya Dila.
"Aku di.....ya, nanti sebentar kakak datang ya, tunggu di bawah saja" ucap Vero.
Vero masuk ke ruangan Yudi. Dia melihat Yudi tidur. Vero keluar lagi dan menitipkan Yudi pada perawat. Setelah itu dia pergi ke apartemen.
Dila menunggu sambil bermain ponselnya. Dia mulai masuk grup sekolah dan beberapa geng terkenal di kampus. Beberapa orang langsung jadi temannya.
Bruno juga menghubunginya kembali setelah Brian mengatakan pertemuannya kembali tadi. Sayangnya Bruno tak di Amerika, dia ada di London dan menetap di sana.
Dila tersenyum menatap chatnya dengan Bruno, mereka selalu punya cerita tentang kebersamaan mereka. Bruno menyarankan padanya untuk berkunjung ke rumah Brian karena dia baru saja mempunyai bayi yang lucu.
Vero melihat senyum di wajah Dila, dia merasa sudah sangat tepat menyembunyikan soal Yudi padanya.
"Wih, dah punya temen nih!" ucap Vero.
Dila tersenyum manis, dia menunjukkan foto Bruno pada Vero.
"Teman lama, dia di London sekarang. Kemarin aku bertemu kakaknya..." Dila berhenti bicara mengingat hal itu tak seharusnya dia ceritakan.
Vero menunggunya melanjutkan cerita, namun Dila mengaitkan tangannya ke lengan kakaknya.
"Aku kan lapar, kenapa disuruh cerita" keluh Dila.
Vero tersenyum melihat wajah manja adiknya.
"Maaf, ayo, aku juga lapar" ajak Vero.
~Kakak nggak cerita karena nggak mau aku tahu tentang Yudi, jadi aku juga nggak akan cerita~ ucap hati Dila.
Mereka pergi menuju restoran, Dila menunjuk restoran dimana dia menemukan Yudi. Selain memang hanya restoran sphageti, dia juga ingin tahu kabarnya.
"Di sini?" tanya Vero.
"Ya, bolehkan?" tanya Dila sambil membuka seatbeltnya.
"Tentu saja boleh, ayo!" Vero juga ikut turun.
Mereka masuk dan memesan. Saat menunggu pesanan, seorang pengunjung di sebelahnya bertanya pada pelayan tentang kejadian tadi pagi. Dila bersiap dan mendengarkan. Namun pelayan menjawab tidak tahu dan bukan wewenangnya untuk bicara.
Dila kecewa, dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Awalnya dia akan menanyakan hal itu pada Brian, namun Vero keburu datang dan menjemputnya.
~Kalau tidak hari ini ya nanti kalo kak Vero dah balik!~ keluh hati Dila.
__ADS_1
Vero juga mendengarkan pertanyaan pelanggan itu, dia berusaha acuh.
~Ouh, Yudi bekerja di sini~ Vero mengambil kesimpulan.
"Kak!" seru Dila.
"Hhmm?" Vero terkejut.
"Aku ke toilet dulu!" ucap Dila.
"Ouh, ok!" jawab Vero tersenyum.
Dila berdiri dan berjalan menuju toilet. Dia masuk ke toilet setelah memeriksa tak ada orang di salah satu ruangannya.
Selesai, Dila keluar cuci tangan. Dua orang pelayan wanita membicarakan kejadian tadi pagi.
"Ya sangat menyeramnkan, bagaimana bisa seseorang bisa melakukan semua ini pada temannya sendiri " ucap salah satu pelayan itu.
"Syukurlah polisi sudah bisa menyelesaikan kasus ini, pelaku sudah ditangkap dan kita bisa tenang" timpal temannya.
~Ouh, dia dikerjai temannya. Syukurlah sudah dapat tersangka~ ucap hati Dila.
Dila tersenyum pada mereka dan keluar dari toilet. Vero menunggunya, makanan sudah datang.
Dila menyantap hidangannya dan memuji rasanya pada Vero.
"Wah, ini enak sekali" ucap Dila.
Vero hanya tersenyum.
"Tidak, hanya saja. Nanti jangan terlalu sering kemari ya!" ucap Vero.
"Kenapa?" tanya Dila heran meskipun dia tahu alasannya.
"Nggak ada alasan. Hanya saja, meskipun kamu tinggal di Amerika, kamu harus jaga pola makan kamu. Jangan makan sphageti terus" jelas Vero.
"Ok!" Dila mengangkat kedua alisnya dan juga bahunya.
"Oh ya, Arumi membatalkan permintaannya dan mengizinkan kakak menemuinya sepulang dari sini" ucap Vero senang.
"Idih, kakak bucin banget!" ucap Dila mengernyitkan wajahnya.
"Biarin!" jawab Vero bertingkah seperti anak kecil.
"Trus kapan kakak pulang?" tanya Dila.
"Besok aja ya, soalnya kakak juga lagi ada tender baru, jadi harus nemenin Bondan nanganin semuanya" ucap Vero.
"Yaaaah! Padahal aku mau ajak kakak jalan-jalan dulu ke Fruitland Museum. Disana bagus banget buat foto-foto" keluh Dila.
"Nanti, sekalian kakak ajak Rania sama Arumi ok!" Vero berjanji.
__ADS_1
"Janji ya bawa mereka!" Dila menagih kelingking kakaknya.
"Ok, aku janji!" ucap Vero mengaitkan kelingkingnya di kelingking Dila.
Dila mengajak Vero kembali berbelanja. Dengan memilih dan memilah. Dila akhirnya membeli beberapa keperluan yang sangat dia butuhkan.
"Penggorengan? Mau masak di rumah?" tanya Vero.
"Hmm, belajar" jawab Dila sambil menunjukkan buku resep yang baru dia beli juga.
"Wah, kok tumben?" Vero ragu.
"Mau nyaingin Rania, dia serba bisa. Kayaknya kalo kuliah lagi dia bakal sukses deh Kak" saran Dila.
Vero menatap sebuah celemek cantik yang terpajang di konter.
"Ya, itu oleh-oleh yang cantik buat Rania" ucap Dila mengomentari diamnya.
"Arumi suka nggak ya?" tanya Vero meminta saran.
"Jangan, dia nanti ngira kakak kembali padanya hanya untuk dibuatkan masakan" ucap Dila sambil tertawa.
"Dasar kamu ini, tapi iya juga, kadang apa yang dia pikirin itu jauh dari yang kita pikirin" timpal Vero mengomentari sifat Arumi.
Sampai di kasir, seorang pria berdiri di belakang Dila, mengantre. Dia memperhatikan Dila yang barang bawaannya seperti sepasang suami istri yang baru memulai rumah tangga.
"Pasangan serasi!" ucapnya berkomentar.
Dila menoleh, dia menatap ke arah lain mencari orang lain yang diajaknya bicara. Namun hanya ada dia, di belakang pria itu tak ada lagi yang mengantre.
"Siapa? Aku?" tunjuk Dila pada dirinya sendiri.
"Ya, kalian berdua" ucapnya dengan senyum manis.
"Oh, nggak. Bukan, dia kakak ku tercinta" jawab Dila.
Pria itu mengangkat dahinya dan mengucapkan kata maaf tanpa suara. Dila memeluk lengan Vero, sambil melangkah maju mendapat giliran.
Satu per satu barang yang dia beli ditauh di meja scan kasir. Beberapa jatuh dan pria itu membantu mengambilkan. Wajah Vero baru terlihat olehnya.
"Kamuu..." pria itu ingat pernah bicara dengannya namun lupa tempatnya.
Vero membulatkan matanya, dia mengingat dokter yang membantu merawat Yudi.
"Hai dokter, apa kabar? Hahaha" tawa Vero terasa aneh.
Vero memberikan kartu banknya pada Dila kemudian menyuruhnya membayar. Vero tetap berdiri dekat pria itu saat Dila maju melangkah.
"Adik ku tidak boleh mengetahui tentang Yudi" bisik Vero.
Dokter Marvin mengerutkan dahinya dan menanyakan alasan dengan tanpa suara.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, sampai jumpa lagi!" bisik Vero sambil melambaikan tangannya.
Marvin tersenyum meskipun heran, dia juga melambaikan tangannya saat mereka pergi.