Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
117


__ADS_3

Marvin sampai di rumah Jason, dia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya. Mengetuk pintu beberapa kali hingga seseorang membukanya.


"Hai Marvin. Lama nggak ketemu!" sapa Jessie.


Jessie, ibu tiri Marvin yang membukanya. Marvin menatap malas dan masuk tanpa bicara. Jessie menghela nafas dalam mengendalikan diri melihat sikap anak tirinya yang tak berubah.


Jessie menyusul Marvin yang meletakkan makanan yang Dila minta berikan. Jessie membukanya tanpa bicara. Marvin yang mengambil minum melirik padanya.


"Dila yang memberikannya" ucap Marvin.


Jessie mencicipi dan menyukainya.


"Enak!" ucap Jessie.


Marvin berjalan hendak pulang, namun dia melihat foto pernikahan Jessi dan Jason dipajang di meja.


"Kenapa foto itu dipajang di sana?" tanya Marvin kesal.


Jessie menghampiri dan melihat Marvin hendak melempar foto mereka. Jason turun dari lantai atas dari kamarnya. Mereka berdua menahan Marvin.


"Aku sudah katakan jangan disimpan dekat foto ibuku!" teriak Marvin.


Jason berhasil mendapatkan fotonya, tapi Marvin berusaha mendapatkannya kembali.


"CUKUP!" teriak Jessie.


Marvin berhenti dan menatap kesal padanya. Sementara Jason menyembunyikan foto mereka di laci.


"Cukup Marvin, aku muak dengan sikap mu!" ucap Jessie.


"Muak? Seharusnya aku yang muak pada kalian!" Marvin menunjuk mereka berdua.


"Kenapa? Apa karena aku menikah dengan ayahmu?" Jessie menjadi marah.


Jason memeluk Jessie agar dia tak lepas kendali. Jason tak mau Marvin mengetahui alasan mereka bersama.


"Tidak Jason, Marvin sudah keterlaluan!" Jessie mengamuk.


"Tidak, Marvin pergilah!" seru Jason.


Seperti biasanya, Marvin merasa penting untuk mengalah dan pergi.

__ADS_1


"Tidak Marvin, berhenti di sana! Yang kau tahu hanya ibu mu yang dikhianati oleh kami. Padahal sebaliknya!" teriak Jessie.


Jason menutup mulutnya, dia berharap Marvin tak mendengarnya. Tapi Marvin berhenti melangkah dan berbalik.


"Apa maksudmu?" tanya Marvin dengan matanya yang memerah karena menahan tangis.


Jason mendorongnya untuk keluar karena tak bisa membuat Jessie diam.


"Kau pikir kami selingkuh dari ibu mu kan?" lanjut Jessie sambil terengah karena mengelak dari Jason.


Jason berhenti mendorong Marvin, dia menyerah dan lelah.


"Jelaskan apa maksud mu?" teriak Marvin.


"Yang sebenarnya terjadi adalah dia yang merebut Jason dariku. Dia yang membuatku dan Jason terpisah karena keegoisannya" Jessie tak bisa menahan lagi.


Jason selalu bilang untuk tak mengatakan apapun pada Marvin tentang cinta segitiga mereka. Namun Jessie merasa lelah dengan sikap Marvin yang tak pernah menghormatinya karena berpikir telah selingkuh dengan Jason sebelum ibunya meninggal.


"Egois? Kau bilang ibu ku egois?" ucap Marvin melemah.


"Ya, dia yang menyakiti ku, Jason dan dirinya sendiri" lanjut Jessie.


Marvin bersandar di dinding. Jessie duduk dan Jason hanya diam terpaku.


Marvin terpaku.


"Kau selalu menyalahkan aku yang bersama ayah mu saat ibu mu sakit. Tapi kau tak pernah mencari tahu apa yang terjadi. Ibu mu bahkan membawa sifat egoisnya hingga mati. Dia membuatku menderita bahkan hingga aku kembali pada Jason setelah puluhan tahun lamanya. Kau, sikap mu dan semua pemikiran mu tentang ku yang kau sebut perebut suami orang"


Jessie menangis mengusap wajahnya. Jason mendekatinya dan memeluknya. Marvin menatap mereka, tapi yang dia lihat bukan Jason dan Jessie, melainkan Dila dan Yudi.


Ya, dia teringat dengan sikap egoisnya yang masih menahan Dila bersamanya, meskipun tahu bahwa yang Dila inginkan adalah bersama Yudi.


Marvin berjalan keluar meninggalkan mereka dengan langkah yang berat. Wajahnya sendu dan merasa sangat menyesal. Dia masuk ke mobil dan duduk sejenak menatap jalan di depannya.


~ibu, jadi selama ini aku salah?~ ucap hati Marvin.


Dia menyalakan mesin mobil dan melaju ke apartemen.


###


Yudi memeluk Dila sebagai pamit, dia juga mencium keningnya. Dila melambai kemudian masuk kembali dengan senyum di bibirnya. Dia berencana akan mengatakan semuanya pada Marvin. Dia akan putus dengan Marvin malam ini.

__ADS_1


Dila menunggu Marvin di rumahnya sambil duduk di sofa dan menonton tv. Tak lama kemudian Marvin datang dan membuka pintu. Dia melangkah dan melepas sepatunya kemudian berhenti saat menatap Dila yang sedang duduk di sofa.


Marvin berlari dan memeluknya. Dila terkejut, dia mendengar suara Marvin yang mulai menangis. Tangannya mengusap kepala hingga punggungnya. Tanpa bertanya, Dila berusaha membuat Marvin meluapkan kesedihannya meskipun dia tak mengerti.


Beberapa menit berlalu, Marvin berbaring di pangkuan Dila yang mengusap kepalanya. Marvin tenang dan cukup nyaman karena Dila tak begitu banyak bertanya padanya apa yang terjadi.


Sementara Dila sedang berpikir bagaimana caranya dia bisa mengatakan putus pada Marvin jika keadaannya begini. Dila jadi bingung sendiri.


Tak lama, Marvin mulai bicara.


"Aku bersalah pada Jessie" ucap Marvin.


Dila menatapnya.


"Aku selalu mengatakan bahwa dia merebut ayah dari ibu ku. Tapi ternyata sebaliknya" lanjut Marvin.


"Semua orang bisa salah paham, itu wajar. Ini adalah momen manis antara kalian bertiga. Bersyukurlah kamu bisa menyesal lebih awal" ucap Dila.


Dia tak begitu mau tahu terlalu dalam tentang masalah Jason dan Jessie.


"Aku sendirian kemarin dan sangat membutuhkan mu. Kau mengisi hidupku dengan wajah ceria mu. Kini aku bisa kembali bersama ayah ku. Kembali akur" ucap Marvin.


Dila sedikit tak paham dengan ucapan Marvin.


"Tapi Dila, aku benar-benar ingin bersamamu. Meskipun sekarang aku tak sendirian, kumohon jangan tinggalkan aku" ucap Marvin yang bangun dan menatapnya.


Marvin memegang dan mencium tangannya. Dia terlihat sangat takut Dila meninggalkannya. Dila juga menatapnya dengan perasaan yang sangat bersalah. Marvin memeluknya lagi dengan erat. Dila semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa.


###


Dila bersiap untuk tidur. Dia sudah membersihkan diri dan memakai krim malamnya. Dia duduk di ranjang dan menatap ponselnya. Dia mengingat ciuman Yudi yang sangat menyiratkan perasaan Yudi yang juga sangat ingin bersamanya.


Dila memejamkan mata dan menghela nafas dalam. Dia juga ingat wajah Marvin yang begitu tak bisa melepasnya.


"Astaga! Apa yang harus aku lakukan?" ucap Dila.


Tak mungkin baginya kembali menjalin hubungan dengan Yudi jika dia tak melepaskan Marvin. Tapi, jika dia melepaskan Marvin, dia takut Marvin akan down dan mencoba melakukan hal aneh seperti Beni. Dia tak mau ada Beni kedua dalam hidupnya.


Dila memutuskan untuk mengatakannya pada Yudi. Dia menelponnya dengan hati berat.


Tak ada jawaban dari Yudi yang masih bekerja dan ponselnya. Dila meninggalkan pesan suara untuknya.

__ADS_1


Yudi tersenyum senyum saat bekerja. Dia mengingat ciuman Dila padanya. Dia senang, sudah lama hal itu dia rindukan. Hal yang dia sadari saat dia tinggal di Amerika. Dia merindukan Dila, orang selalu bersamanya dalam keadaan apapun.


__ADS_2