Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
132


__ADS_3

Rania menatap Clara dan Bondan bergantian. Bondan mendekat dan berusaha menjelaskan.


"Sayang, aku bisa menjelaskan. Ini nggak seperti yang terlihat" ucap Bondan terengah.


Rania diam saja, dia sedang berusaha berpikir jernih. Tapi dia tak bisa berpikir dan hanya menundukkan tatapannya ke arah lantai.


Bondan meraih tangannya.


"Sayang!" Bondan berusaha lagi.


Rania menghapus air matanya dan mengambil tas kertas miliknya. Kemudian meraih kembali tangan Bondan.


"Ayo kita pulang, kita makan malam di rumah kan?" ucap Rania pada Bondan.


Clara terkejut dengan respon Rania yang seolah tak peduli. Bondan menghela nafas dalam, dia lega Rania percaya padanya, tapi sedikit khawatir karena kekasihnya itu terlihat seolah tak punya rasa cemburu padanya.


"Ini akan jadi malam kedua kami, jika kau tak datang mengganggu!" seru Clara.


Rania berhenti melangkah, begitupun Bondan. Rania berbalik dan menatap Clara yang menancapkan kedua tangannya di pinggang. Pandangannya beralih pada mata Bondan.


"Apa itu benar?" tanya Rania kali ini dia tak menangis.


"Tentu saja tidak benar!" seru Vero dari arah luar.


Rania dan Bondan menatapnya, begitupun Clara.


"Bondan hanya mabuk karena taruhan itu, dia malah meracau tentang Rania, kamu yang bertanya-tanya siapa Rania. Aku sengaja tak jawab karena hari itu juga aku sedikit mabuk" Vero menjelaskan dengan yakin.


Arumi membulatkan matanya menatap Vero saat mendengarnya. Vero mengalihkan pandangan menghindari tatapan mata Arumi.


Rania menatap Clara dengan mengangkat sebelah alisnya. Clara mengalihkan pandangannya karena dia tahu yang dikatakan Vero benar.


"Aku akan melupakan kejadian ini, kalian juga. Ayo pulang!" ucap Rania.


Dia menarik keras tangan Bondan yang menurut padanya. Vero dan Arumi menatap Clara dengan sinis. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Rania yang bersikap aneh menurut mereka.


Mereka mengikuti Rania dan Bondan menuju lift. Rania melepas tangan Bondan saat pintu lift tertutup dan mulai turun.


Bondan menelan salivanya, dia senang Rania percaya padanya dan menghiraukan Clara. Tapi dia sedikit heran karena Rania sama sekali tak berekspresi apapun setelah melepas tangannya.


Sampai di dekat mobil Vero, Arumi memeluk Rania, pamit pulang untuk memastikan EO pernikahan menangani semua dengan baik. Rania tersenyum dan melambai pada mereka. Kemudian ekspresi wajahnya berubah saat dia menatap Bondan.


Bondan menundukkan pandangannya karena memang merasa salah. Rania hendak melangkah menjauhinya dan mobilnya. Bondan menarik tangannya.


"Mau kemana?" tanya Bondan.


Rania berbalik dan mendorongnya.


"Kamu pikir setelah kejadian tadi aku mau diantar pulang sama kamu?"


Rania baru meluapkan kekesalannya. Nafasnya tersengal menahan emosi. Bondan merasa lega setelah Rania mengeluarkan amarahnya.

__ADS_1


"Dia seperti itu karena mendapat sinyal dari kamu. Kamu pasti udah bikin dia terpesona sama manisnya sikap kamu sama semua wanita. Makanya dia berani ngelakuin itu" lanjut Rania, masih dengan marahnya.


Bondan meraih tangannya.


"Jadi kamu cemburu! Akhirnya..." ucap Bondan sambil senyum senang.


Rania semakin kesal, dia membuang tangan Bondan dan langsung berjalan lagi. Bondan menyusulnya, di menarik tangan Rania kemudian memaksanya masuk ke mobil sambil memaksanya memakai sabuk pengaman. Tentu saja Rania menolak dan hendak menepis lagi.


"Diam, atau ku cium nih!" Bondan yang wajahnya tepat di depan Rania, mengancamnya.


Rania terdiam, wajahnya sedikit mundur agar tak mau menerima ciumannya karena masih kesal.


Bondan berlari mengitari mobil dan cepat-cepat masuk ke kursi kemudi, takut Rania keluar lagi dari mobilnya. Tapi dia melihat Rania masih duduk dan melipat tangannya di dada dan menatap ke arah lain dengan wajah kesalnya. Bondan tersenyum, masih dengan perasaan senangnya karena Rania cemburu.


Sampai di rumah Bondan, setelah mereka hanya diam di sepanjang perjalanan, Rania tak keluar hingga Bondan membukakan pintu untuknya. Bondan tak bisa membujuknya lagi, dia hanya sangat senang Rania yang selama ini terlihat cuek, begitu kesalnya karena kejadian ini. Bondan meraih tangannya, Rania keluar sambil memegang tas kertasnya.


"Kamu beli makanan apa buat makan malam?" tanya Bondan sambil mencari kunci rumahnya.


"Aku buat, bukan beli" jawab Rania pelan.


Bondan menunduk dan menatap wajahnya yang tingginya memang di bawahnya, dia tersenyum.


"Buat? Waaahhh pantesan aja kamu marah. Ternyata karena takut makanannya nggak jadi aku makan. Bukan karena cemburu" ucap Bondan memancing emosinya lagi, sambil berjalan masuk.


Rania berjalan cepat menuju dapur, dia menaruh tasnya di meja.


"Tentu saja aku cemburu, dia lebih cantik dari ku. Kau tak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya aku karena takut tergoda olehnya" ucap Rania membelakanginya.


"Aku tahu, aku bisa bayangkan" dia mengambil nafas panjang.


"Aku juga merasakan hal itu saat aku tahu dari kakak mu bahwa Saga gencar mendekati mu. Kau yang tak bisa bayangkan betapa aku takut jika takdir tak mempertemukan kita lagi. Aku harus bagaimana lagi?" keluh Bondan.


Rania menyesal, dia tak sangka Bondan juga cemburu karena Saga.


"Vero bilang kamu selalu menyiapkan makanannya. Sementara aku, makan sendiri ditemani foto mu yang hanya bisa ku pandangi saja" keluhnya lagi.


Rania menunduk merasa bersalah. Tapi sedetik kemudian dia mengangkat wajahnya.


"Kenapa jadi aku yang merasa bersalah!" serunya.


Rania memangku tangannya di pinggang.


"Seharusnya sekarang kamu yang minta maaf, karena dipeluk Clara dan.."


Bondan menatapnya, Rania canggung dan merasa kikuk. Bondan meraih tangannya.


"Sebenarnya Clara itu memang cantik" ucap Bondan.


Rania melepas tangan Bondan dan memukul lengannya.


"Tapi, cuma Rania ku yang cantiknya luar dalam" puji Bondan sambil meraih kedua tangannya.

__ADS_1


Bondan memeluknya, Rania memeluk pinggang Bondan.


"Makasih ya" ucap Bondan.


"Untuk cemburu, tapi jangan pernah meragukan perasaanku. Aku nggak akan pernah bisa berpaling dari mu. Karena aku sangat mencintaimu" ucap Bondan dalam pelukan Rania.


"Sayang!" ucap Rania.


"Hmmm?" jawab Bondan singkat, yang masih nyaman di pelukannya.


"Aku lapar!" ucap Rania.


Bondan menghela nafas, dia melepaskan pelukannya dan menunduk.


"Ok, kita makan sekarang" Bondan mengalah.


Rania mengambil piring dan sendok. Bondan menyiapkan gelas dan air. Mereka makan di teras atas, sambil melihat pemandangan kota.


"Masakan mu selalu enak!" ucap Bondan.


"Oh ya, padahal dulu aku sangat tidak mengerti cara memasak" jawab Rania.


"Memangnya kamu nggak diajarin ibu masak?" tanya Bondan.


"Tidak, aku belajar masak dari Yudi. Meski galak, dia adalah chef yang sangat andal. Dia sangat pandai memasak apapun" ucap Rania, memuji Yudi dengan ekspresi mengingat momen dulu.


Bondan memutar-mutar garpu di piring.


"Jujur, kadang aku iri pada Yudi. Sepertinya dia yang paling lama bersama mu dan paling mengenal mu" ucap Bondan.


"Tidak, kau yang paling lama" jawab Rania dengan mulut penuh makanan.


Bondan menatapnya merasa ucapannya seperti keluar begitu saja tanpa berpikir.


"Aku hanya menjadi partner kerjanya, dia tak pernah menyukai ku, karena pekerjaan ku yang sembrono" lanjut Rania.


Bondan terheran, karena yang dia dengar dari pembicaraan Arumi dan Vero, mereka selalu mempermasalahkan perasaan Yudi pada Rania.


"Kemarin, saat di Harvard, aku bicara dengannya agar dia pulang membantu Arumi di restoran. Dia bahkan tak menatap ku, hingga aku mengatakan bahwa kita akhirnya akan kembali pada keluarga kita. Kemudian di menelpon, tapi ini rahasia" ucap Rania sambil menurunkan nada suaranya.


Bondan mendekatkan telinganya saat Rania menarik bajunya.


"Dia bilang akan kembali saat dia sudah memiliki sesuatu yang bisa dia berikan pada Dila. Dia akan memberi kejutan untuk Dila"


Rania mengangkat kedua alisnya berkali-kali.


"Aku sangat kesulitan menjaga rahasia ini, jadi jangan sampai bocor. Ok!" dia membuat bulatan oleh jemarinya.


Bondan tersenyum, dia merasa sudah salah karena cemburu pada Yudi. Sementara Rania begitu polos dengan semua yang terjadi. Pemikirannya sederhanadan selalu berpikir semuanya akan baik pada akhirnya.


Bondan semakin merasa beruntung dipertemukan kembali dengannya.

__ADS_1


__ADS_2