
Vero dan Arumi mengunjungi Fachri dan Farhan di rumah sakit, sekaligus memeriksakan kandungan Arumi yang sudah menginjak minggu ke 36. Fachri dan Farhan yang sudah mulai normal dari berat hingga suhu badan akan segera keluar dari rumah sakit untuk beberapa hari ke depan.
Di ruang pemeriksaan.
"Bayinya sehat, ibunya sehat. Mau melahirkan secara normal atau sesar?" tanya dokter.
Arumi dan Vero saling memandang. Dengan berpegangan tangan mereka memutuskannya.
"Lahiran sesar dok, setelah bayi Fachri dan Farhan pulang saja" ucap Vero.
Arumi tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, untuk bayi Fachri dan Farhan sudah diperbolehkan di bawa hari senin ini. Kalian bisa menentukan tanggal lahir bayi kalian di selasa. Aku akan menjadwalkannya" jelas Dokter.
"Baiklah. Oh iya, aku tidak lihat Marcel, kemana dia? apa dia pindah rumah sakit?" ucap Vero.
Dokter Mira menatap Vero dan diam cukup lama. Dia menghela dan menundukkan pandangannya.
"Dia belum masuk lagi setelah menangani Rania. Mungkin dia merasa gagal sebagai dokter karena observasinya terhadap penyakit Rania tak selesai. Dia hanya meminta Dokter Brian menjaga dan menangani putra kembar Rania lewat telpon" jelas Dokter Mira.
Arumi dan Vero tak menyangka kepergian Rania juga membuat Dokter Marcel merasa sedih.
"Kami tak menyalahkan siapapun. Semua adalah takdir. Rania sudah cukup menderita, kini dia sudah tenang. Dia sudah tak akan merasakan sakit lagi" ucap Vero.
Arumi memegang tangan suaminya.
"Kami permisi Dok, terimakasih!" ucap Arumi.
Mereka keluar dan mampir ke ruang bayi untuk menengok Fachri dan Farhan. Mereka melihat Yudi dan Dila duduk dan sedang makan bersama. Arumi dan Vero saling memandang bertanya mengapa mereka terlihat sangat akrab.
Dila melihat kedatangan mereka kemudian berdiri menyambut mereka.
"Habis periksa ya? Gimana? Kapan lahirannya?" tanya Dila sambil menghampiri Arumi dan mengelus perutnya.
"Habis si kembar pulang. Selasa, kata dokter" ucap Arumi.
"Kapan kamu ke sini? Kenapa nggak ngasih tahu kakak? Trus meeting di mall siapa yang handle?" Vero mencari alasan agar Dila tak lama-lama bersama Yudi.
"Aku nunggu sampai siang, tapi kliennya nggak datang. Jadi aku ke sini" jawab Dila sebagai alasan.
__ADS_1
Arumi menghela, dia tak bisa meminta Vero untuk tak memperlakukan Yudi seperti itu. Tapi, dia sendiri punya hak untuk menjaga adiknya yang tinggal satu itu.
Vero mendekat ke jendela untuk melihat keadaan kedua keponakannya. Dia tersenyum melihat kedua keponakannya bergerak-bergerak dengan lucunya.
"Mereka pulang ke mana?" tanya Dila yang sudah berdiri di sampingnya.
Vero menoleh.
"Bu Vera, selain karena aku akan menanti kelahiran anakku, mereka juga akan menghibur Bu Vera yang masih drop karena kepergian Rania" jawab Vero.
"Aku pengen banget ngurus mereka, tapi, kayaknya nggak boleh ya?" ucap Dila merasa tidak percaya diri.
"Tentu saja boleh, kau bisa datang ke rumah Bu Vera setiap hari. Kau bisa melihat bagaimana repotnya mengurus bayi apalagi kembar" sindir Vero.
Dila memanjangkan bibirnya karena mendengar sindiran Vero.
"Ya...ya...aku tahu. Tapi aku akan tetap ikut merawat mereka. Ayah mereka juga sudah memberi izin" ucap Dila menyombongkan diri.
Vero menatap wajah Dila yang selalu terlihat senang jika melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Yudi.
"Maksudnya Yudi?" tanya Vero memastikan.
"Seharusnya kau hanya fokus pada Mall saja. Biarkan Fachri dan Farhan bu Vera dan bu Yuni saja yang urus" ucap Vero.
"Kita lihat saja, anak-anak akan menyukai ku. Mereka akan lebih senang bersama ku" Dila percaya diri.
"Ini keputusan ku, jangan ikut campur soal mengurus mereka. Bantu saja aku di perusahaan" Vero mengambil keputusan.
"Kaaaak!" Dila mengeluh.
"Kita pulang, ayah mereka akan di sini sampai mereka pulang ke rumah neneknya. Kau juga harus meeting, hubungi klien nya sekarang!" ucap Vero.
Arumi yang baru saja selesai bicara dengan Yudi pun berdiri perlahan. Yudi membantunya kemudian mengusap rambutnya.
"Yang happy ya, i love you!" ucap Yudi.
Arumi tersenyum dan mengangguk. Vero merangkul Arumi dari samping, sementara tangan yang satunya memegang tangan Dila yang terlihat kesal karena masih ingin tetap di sana bersama Yudi.
"Aku pulang, bilang sama si kembar, auntynya yang cantik datang ya!" ucap Dila pamit.
__ADS_1
"Ok" jawab Yudi dengan tersenyum.
###
Bondan sedang menatap Dina di hadapannya. Dina yang datang beberapa hari yang lalu untuk berziarah ke makamnya Rania. Dia tak bisa datang pada saat Rania meninggal karena tengah memproduksi drama musikal di London.
"Aku tidak mengerti kenapa dia menahan semua rasa sakit itu hanya untuk mempertahankan kandungannya. Dia bisa saja mengangkat kandungannya agar dia bisa selamat bukan. Bisa menjalani hidup dengan mu dan...."
Dina terus bicara, namun hatinya sedikit senang karena wanita yang dicintai Bondan sudah tidak ada. Dia akan lebih mudah mendekati Bondan lagi.
"Aku sangat menghargai keputusannya, meskipun dalam keadaan ingat dan tidak ingat akan jati dirinya, dia masih memperdulikan orang lain. Dia juga mungkin sudah lelah dengan semua yang terjadi dalam hidupnya" jawab Bondan dengan menatap foto Rania yang masih jadi hiasan di meja kerjanya.
"Kau menyesal sudah memintanya menjadi Dila dulu?" tanya Dina.
"Hmmm, sangat menyesal, tapi tetap aku bersyukur, karena dipertemukan dengannya. Mencintainya adalah hal terindah yang pernah aku alami" ucap Bondan dengan senyuman manisnya.
Dina menundukkan pandangannya kemudian tersenyum tersipu karena kini dia bisa melihat Bondan hanya untuk dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan anak-anaknya? Siapa yang mengurus mereka? Yudi tak mungkin mendapat hak asuh karena dia masih melajang. Kau sendiri sama saja"
Dina bicara sambil membuka pesan yang deringnya terdengar dari ponselnya. Bondan memperhatikan Dina.
~Aku harus menikah jika ingin bisa merawat anak-anak Rania. Jika menikah dengan Dila, meski dia sangat mirip dengan Rania, tapi dia takkan mau jika pernikahan hanya diatas kertas saja. Apa Dina mau melakukannya? Dia seorang aktris drama, dia mungkin bisa setuju. Dia juga temanku sejak kecil, dia pasti akan mengerti~
Bondan sangat ingin bisa merawat kedua anak Rania. Dia ingin tetap memiliki mereka sebagai obsesi cintanya terhadap Rania. Seperti kata Dina, siapapun tidak akan mendapatkan hak asuh mereka jika mereka masih lajang. Mereka harus menikah, setidaknya bisa memenuhi salah satu syarat dari beberapa syarat untuk bisa lulus sebagai orang tua asuh.
Bondan sedang berpikir untuk meminta Dina melakukan apa yang dia inginkan. Sama seperti dulu, yang dia lakukan pada Rania. Dia meminta nya untuk menjadi Dila. Sekarang dia ingin Dina juga menjadi istrinya dia atas kertas hanya untuk memenuhi obsesinya.
Akankah Dina menyetujuinya?
AKU BUKAN DIA
TAMAT
SAMPAI DISINI
Kelanjutan cerita Fachri dan Farhan, anak kembar dari Rania, akan dijadikan novel baru dengan judul AKU, KAU DAN DIA.
Terimakasih sudah membaca sampai tamat. Semoga diberikan keberkahan selalu. Amiiin.
__ADS_1
👐💙💙💙