
Wandy masuk ke mobil nya dan menatap ke depan, menatap Anita yang pergi meninggalkan Ryan sendirian.
Wandy menghela nafas mengingat semua yang dikatakan Anita. Semua yang dia ketahui tentang Wandy akan dia ungkapkan. Dia berpikir, dia tak salah. Semua orang akan paham keadaannya. Dia melajukan mobil menuju kantornya.
Sampai di kantor, Vero sudah di sana menunggunya. Wandy menatap Vero sejenak mengingat kesalahannya pada keluarganya. Vero tersenyum dan melangkah menghampirinya.
"Om, aku sudah memutuskan!" ucap Vero.
Wandy mengangkat kedua alisnya.
"Kita bicara di dalam" ajak Wandy.
Mereka bicara cukup lama.
###
Di rumah sakit.
Rania datang dan masuk, tersenyum pada Nuri yang masih memejamkan matanya. Perawat nya menghampiri dan menceritakan perkembangannya.
"Terimakasih! Kamu bisa istirahat selagi saya di sini" ucap Rania.
"Makasih bu!" jawab perawat itu.
Dia pergi meninggalkan Rania yang sedang merapikan bunga di pot meja.
"Nuri! Aku mau cerita banyak, aku harap kamu bisa dengar" ucap Rania.
Dengan wajah sedih dan tangan menggenggam tangan Nuri, Rania menceritakan semua yang dia alami di Australia. Menceritakan apa yang belum sempat dia katakan karena mereka selisih paham tentang Ryan.
"Aku sangat berharap kamu bisa cepat sembuh, semoga semua yang aku pikirkan tidak benar-benar terjadi. Jika terjadi, Bondan dan Beni akan terluka tahu ibunya seperti itu"
Sementara itu, Yudi datang. Sambil berjalan sambil melihat keadaan sekitar. Dia memperlambat langkahnya saat mendekati ruang rawat Nuri. Dari kaca pintu, dia melihat seseorang duduk dekat Nuri.
Hatinya mengatakan itu Rania. Untuk memastikan, dia membuka pintu perlahan dan berdiri di belakang Rania.
Rania yang menyangka itu perawat yang tadi hanya bicara dan tak menoleh.
"Ada yang tertinggal Sus?" tanya Rania.
"Kamu di sini?" ucap Yudi.
Wajah Rania berubah pucat, tubuhnya sedikit terperanjat, dia sangat terkejut mendengar suara Yudi yang sangat dia kenal. Genggaman tangannya terlepas dari Nuri dengan perlahan, dia berdiri dan berbalik. Matanya membulat menatap Yudi yang juga menatapnya.
"Aku tahu, Nuri.....karena dia kecelakaan. Itu alasan kemarin kamu kesini kemarin kan? Dan aku yakin kamu pasti kesini lagi" ucap Yudi menegaskan dugaannya.
__ADS_1
Rania diam tanpa kata. Sementara Yudi menatapnya dari ujung rambut hingga kakinya dengan heran. Dia sangat terlihat seperti Dila. Meski riasan yang masih ciri khas seorang Rania.
Mereka keluar dan duduk di kursi tunggu. Saling diam, Rania menunduk tak tahu apa yang harus dia katakan. Yudi menatapnya dengan rasa yang sangat sulit untuk diungkapkan.
~Apa ini? Kenapa aku sangat begitu senang melihat mu ada di hadapanku? Rasanya ingin memeluk mu...tapi...ini sangat berbeda dengan saat aku melihat Dila sebagai dirimu. Aku begitu mudah memeluk dan mencium nya. Lantas mengapa seolah ada dinding kokoh yang menghalangi ku melakukannya padamu?~
Hatinya terus bicara, tapi bibirnya tetap diam.
"Apa kabarnya Arumi?" tanya Rania memecah hening.
"Baik! Dia sangat baik!" jawab Yudi dengan cepat.
"Kau pindah ke restoran Vero?"
"Ya...Davin semakin menyebalkan"
Tatapan Yudi tak bisa lepas dari wajah Rania yang sebentar menatap sebentar menunduk saat bertanya padanya.
"Kamu sudah ketemu Vero kan? Dia pasti sangat merindukan mu" ucap Yudi.
Rania tersenyum dan mengangguk. Yudi ikut tersenyum terpesona melihat Rania.
Di suasana yang menyenangkan bagi Yudi itu, Dila sudah berdiri cukup lama tak jauh dari sana, memperhatikan ekspresi Yudi yang terlihat sangat senang bertemu Rania.
Wajah Dila merah padam dan mulai tak bisa mengendalikan diri. Dia tak tahan melihat mereka saling tersenyum, Dila mendekat dengan marahnya, dia menarik tangan Rania yang terkejut menatap kedatangannya kemudian menamparnya dengan keras.
Dila menangkis tangan Yudi.
"Puas hah! Senang kamu melihat Yudi sumringah menatap kamu? Apa yang akan kamu katakan? Kamu mau bilang jangan khawatir Yudi...aku adalah saudara kembar Dila, aku akan selalu bertemu dengan mu. Kita akan merahasiakan perasaan kita dari Kak Vero kakakku, hah!"
Rania membulatkan matanya, menghela tak dapat mencegah Dila mengatakan hal yang tak ingin dia sampaikan dulu pada Yudi.
Yudi menatap Dila dengan mengerutkan dahinya, terkejut dengan semua pernyataan bahwa mereka saudari kembar juga adik Vero.
"Kalian dan Vero bersaudara? Keluarga Subagja?" ucap Yudi tak percaya.
Dila berbalik dan menatap Yudi. Dia tak tahu kalo Rania belum mengatakannya. Dila yang awalnya ingin merendahkan Rania, kini terlihat sangat jahat di mata Yudi karena menampar Rania.
"Yud! aku...." Dila kelimpungan.
"Kamu rahasiain ini dari aku?" ucap Yudi.
"Aku...."
"Sejak kapan?" tatapan Yudi menurun ke bawah.
__ADS_1
"Yud!" Dila berusaha tetap menyangkal.
"Aku pasti terlihat sangat bodoh" ucap Yudi lagi.
"Bukan begitu!"
Yudi tersenyum dalam kesalnya. Dila memegang tangan Yudi untuk membujuknya.
"Sayang aku mohon. Aku ngga bermaksud kayak gitu!" Dila berusaha menyangkal.
Rania menunduk mendengar panggilan Dila pada Yudi.
Dila berbalik dan menatap Rania dengan kesal.
"Ini semua gara-gara kamu!" ucap Dila dengan menunjuk pada Rania.
"Dia bahkan ngga ngucapin sepatah kata pun" ucap Yudi menarik tangan Dila.
Mereka pergi meninggalkan Rania yang masih terdiam.
Yudi sangat marah, dia membawa Dila ke parkiran.
"Sayaaang!" ucap Dila.
"Apa alasannya?" tanya Yudi.
"Apa?" Dila tak mengerti pertanyaan Yudi.
"Apa alasan kalian menyembunyikan ini dari aku?" tanya Yudi memperjelas.
Dila menghela, dia memejamkan matanya sejenak merasa kesal karena ini momen yang salah untuk memberitahu semuanya.
"Kak Vero sudah nyuruh untuk bilang, tapi...aku takut kamu balik lagi sama Rania si menyebalkan itu" ucap Dila dengan nada kesal di ujung kalimatnya.
Yudi diam, mendengar Dila takut dia akan berharap kembali pada Rania, dia juga tak bisa menyangkalnya. Hatinya begitu bahagia melihat Rania ada di dekatnya sekarang. Namun apa mau dikata, kini dia sudah terlajur menjalin hubungan dengan Dila. Rania pun sudah bersama seseorang yang terlihat mencintainya kemarin, mungkin sudah tak ada lagi Yudi di hati Rania. Pikir Yudi.
Dila duduk di trotoar menangis, merasa bahwa Yudi memang sangat senang melihat Rania yang akan selalu ada dekat dengan mereka. Namun Yudi memegang bahunya, kemudian jongkok di hadapannya.
"Maafkan aku, aku hanya memastikan orang yang kemarin aku lihat adalah Rania. Kamu tahu kan, aku, Vero dan Rania...kami punya ikatan yang cukup kuat dalam beberapa tahun, tapi...meski sulit, aku akan membuat tembok kokoh sebagai batasan antara aku dan Rania"
Yudi memeluk Dila mencoba membuatnya tak menangis lagi.
Rania yang menyusul mereka, melihat pemandangan itu. Dia tersenyum.
~Yudi selalu bisa membuat seseorang tenang saat bersamanya~ ucap hati Rania.
__ADS_1
Rania berbalik dan kembali ke rumah sakit. Yudi melihat Rania yang berlalu saat memeluk Dila.
~Astaga! Apa ini? Kenapa aku memeluk Dila namun merasa tak bisa melepaskan Rania?~ bisik hati Yudi..