Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
99


__ADS_3

Vero mengantarkan Dila, dia melambaikan tangannya pada adiknya yang berjalan menuju kampusnya itu.


Dia pergi menuju tempat sewa mobil untuk mengembalikan mobil dan pergi ke klinik sebelum ke bandara. Bertemu dengan Marvin yang sedang tugas siang.


"Jadi, kamu pulang ke Jakarta hari ini?" tanya Marvin memastikan.


"Ya, soal mobil, Dila bilang dia akan menemani mu hari minggu ini" jawab Vero.


"Sudahlah, aku tidak terlalu khawatir kapan diperbaiki, santai saja" ucap Marvin.


"Lalu, apa yang kamu khawatirkan? Dila?" Vero mencoba membaca ekspresinya.


Marvin tersipu, dia ketahuan menyukai Dila.


"Lakukan pendekatan saja dengannya, aku akan setuju jika dia bilang ya" ucap Vero sambil memegang bahunya.


Marvin tersenyum merasa sudah mendapat restu dari Vero.


"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Yudi?" tanya Vero menanyakan keadaan Yudi.


"Dia mulai membaik, dia sudah bisa pulang besok" jawab Marvin.


"Aku akan menjenguknya dulu, terima kasih Marvin!" pamit Vero.


"Tunggu dulu, bisakah kamu beritahu aku apa hubungan antara Yudi dan Dila?" Marvin menanyakan hal yang tidak mau Vero katakan.


"Teman, hanya seorang teman. Ok, aku pergi ya" jawab Vero sambil mengangguk dengan tatapan kosong.


"Ok, sampai jumpa lagi" jawab Marvin.


Marvin agak ragu dengan apa yang dikatakan Vero. Jelas sekali dia melihat Dila menggosok tangan Yudi saat pertama kali melihatnya membawanya kemari. Dia merasa mereka punya hubungan spesial.


Vero masuk ke ruangan tempat Yudi di rawat. Dia memakai ruangan yang berbagi dengan dua pasien lainnya.


"Hai Yud! Gimana, mendingan?" tanya Vero.


Yudi yang sedang kesulitan memakai kaos, berhenti dan menatapnya.


"Ya, lumayan. Aku sedang membiasakan diri" jawab Yudi.


Vero datang dan membantunya.


"Membiasakan diri tapi masih kesulitan mengenakan kaos" ucap Vero.


Yudi menggeliat memudahkan Vero yang membantunya.


"Ya, paling cuma seminggu lagi. Nanti juga hilang sendiri sakitnya" ucap Yudi.

__ADS_1


Vero duduk dan menaruh buah yang sudah di kupas yang dia bawa dari rumah. Dia menyiapkannya setelah Dila membuatkannya.


"Makanlah, aku membuatnya untuk mu" ucap Vero.


Yudi mengambil buah itu dan melahapnya. Vero menatapnya dan tersenyum.


~Aku masih belum bisa melupakan bagaimana kamu membuat kedua saudari kembarku terpuruk dan masuk dalam situasi yang sulit. Tapi, aku juga sangat mencintai Arumi. Hanya itu alasan ku masih menganggap mu teman~ ucap hati Vero.


"Terimakasih masih menganggapku teman meskipun hanya karena kau mencintai Arumi" ucap Yudi.


Vero mengangkat kedua alisnga merasa Yudi bisa mendengar suara hatinya.


"Oh ya, sama-sama. Aku akan pulang siang ini. Kau benar-benar tidak akan ikut?" tanya Vero.


"Tidak, sebulan lagi aku akan pindah ke Paris, leader ku mengajak team kami untuk membuka restoran di sana. Aku harus bekerja keras untuk itu" ucap Yudi.


"Ok, baiklah!"


Vero menatap sebuah kotak nasi di tempat sampah, dia mengira Yudi sudah memiliki pacar baru.


"Kau sudah pacar baru?" tanya Vero.


Yudi menggelengkan kepalanya dengan wajah polos dan mulut yang penuh makanan.


"Tidak, kenapa?" tanya Yudi.


"Oh itu, seseorang dari kamar sebelah membaginya, aku terima karena aku merasa lapar kemarin malam" jelas Yudi.


"Ouh, ok. Kalo begitu, aku pamit. Cepat sembuh" Vero menjabat tangannya.


Dia berjalan ke ambang pintu kemudian berbalik.


"Jangan lupa dengan janji mu!" ucap Vero mengingatkan janjinya yang takkan mengganggu Dila.


"Ouh tentu saja, aku akan selalu ingat" ucap Yudi langsung paham dengan ucapannya.


Vero pergi, Yudi masih menatap pintu yang dia tinggalkan. Matanya beralih pada kotak bekas itu. Dia tahu itu dari siapa, meski perawat mengatakan kotak nasi itu dari pasien ruangan sebelah.


Yudi menatap lagi buah yang sedang dia makan. Dia tersenyum lagi, dia juga tahu kalau buah-buahan itu Dila yang membuatnya.


Hubungan mereka terjalin cukup lama, tinggal bersama membuat mereka sangat tahu kebiasaan dan kesukaan masing-masing. Yudi masih menyesali hatinya yang tak pernah menyatakan cinta pada Rania. Namun dia lebih menyesali perilakunya yang selalu menyamakan Dila dan Rania.


Dia menghabiskan semua buah itu dan kemudian duduk membaca sebuah buku.


***


Dila mendapat pesan saat dia sedang kuliah, dia membacanya secara sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


[Aku akan masuk pesawat, hati-hati disana, we love you!] tulis pesan dari Vero.


Dila tersenyum, dia menaruh ponselnya di saku dan memutar pulpen. Dengan hati yang riang dia memperhatikan dosennya memberikan kuliah.


Malam tiba, Dila menyiapkan sesuatu, memasak dan menatanya ke sebuah kotak makan plastik. Dengan riang membungkusnya dan bersiap untuk pergi. Dila keluar dari rumahnya dan mengunci pintu.


Saat hendak berjalan ke arah lift dia melihat pintu rumah Marvin, dia tersenyum dan kembali melangkah. Sampai di bawah, dia memanggil taksi dan pergi menuju klinik.


Sampai di lobi rumah sakit, dia menaruh kotak makanan itu di kursi tunggu dan membuka ponselnya. Mengetik sebuah pesan dan meninggalkannya. Setelah pesan terkirim dan mendapat jawaban, dia berjalan kembali keluar rumah sakit.


Tak sengaja, Marvin yang baru mau pulang berpapasan dengannya. Mata Dila membulat seolah ketahuan.


"Hai, mau jenguk teman mu?" tanya Marvin.


"Ah, ya. Memberikan makanan kesukaannya" jawab Dila.


"Kamu mau pulang? Ayo, aku antar" ajak Marvin.


Dila merasa tak perlu diantar pulang, tapi dia merogoh sakunya dan melupakan dompetnya di taksi. Dia mengeluh.


"Ah, sialan!" Dila mengumpat.


"Kamu bicara kasar?" heran Marvin karena mendengarnya mengatakan kata kasar.


"Aku meninggalkan dompet ku di taksi" ucap Dila sambil tersenyum bodoh.


Marvin menertawakannya.


"Oh, dompet mu pasti takkan kembali, apa ada identitas di dalamnya?" tanya Marvin.


"Tidak, hanya ada beberapa lembar uang. Aku sangat bodoh!" keluh Dila.


"Kamu harus membeli dompet baru" ucap Marvin.


Kehilangan dompet di taksi sudah pasti takkan kembali. Marvin memastikan bahwa Dila tak kehilangan identitasnya yang mungkin dia taruh di dompet.


"Ayo!" ajak Marvin.


Dila terpaksa ikut, dia berjalan mengikuti Marvin. Sementara itu, Yudi yang sedang keluar dari kamar tak sengaja melihat pemandangan itu. Dia berbalik dan berjalan ke kamarnya, perawat memanggilnya dan mengatakan bahwa bingkisan yang ada di kursi tunggu adalah untuknya.


Yudi mengambilnya, dia melihat isi bingkisan itu setelah dia duduk di ranjangnya. Dia melipat bibirnya saat melihat menu yang ada di kotak makan itu. Mie ayam buatan Dila, dia membuat itu saat pertama kali memasak untuknya. Mie instan dengan rasa Mie ayam gerobak kesukaannya.


~Apa dia membawanya dari Jakarta atau sengaja membelinya di internet?~ tanya hati Yudi.


Dia melahapnya, sambil memikirkan pria yang bicara dengannya tadi.


~Kenapa dia masih mengirimkan makanan jika pria itu sedang mendekatinya? Aku harus pulang cepat besok, kalau tidak dia akan tetap berusaha mencari tahu tentangku~ ucap hati Yudi.

__ADS_1


__ADS_2