Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
158


__ADS_3

Giliran Bondan yang masuk, matanya tak bisa menahan tangis saat menatap wanita yang sangat dicintainya terbaring dengan semua alat bantu terpasang di hidung dan tubuhnya. Tangan Bondan perlahan memegang tangan Rania dan mengeluskan ke pipinya.


"Kau ingat, dua kali kita dipertemukan di jalan itu. Saat pertemuan pertama, aku suka dengan semangat hidup mu, tapi aku melakukan kesalahan besar dengan meminta mu menjadi orang lain untuk obsesi ku. Kali kedua, kita bertemu dan aku masih jatuh cinta dengan wajah mu, senyum mu, juga semangat mu. Sampai sekarang aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku sudah terbiasa melihat dan hidup bersama mu. Jadi kau tahu kan apa yang harus kau lakukan? Aku mohon bertahanlah, kembali sehatlah! Bukankah kau ingin pergi ke Sidney bersamaku? Kita juga harus menyiapkan si kembar supaya keperluannya lengkap"


Bondan terdiam, Rania masih diam tak bergerak. Hanya suara alat-alat yang terpasang di tubuh Rania yang terdengar mengiringi jatuh air matanya.


"Baiklah, aku akan keluar. Kau istirahat ya, nanti aku kembali" ucap Bondan.


Semua orang menatapnya saat keluar. Bondan berusaha tersenyum tapi hatinya terlalu terluka karena melihat Rania sama sekali tak meresponnya.


Hingga malam tiba, tak ada yang pulang kecuali Arumi yang tak boleh lelah. Vero mengantarnya pulang dan kembali lagi ke rumah sakit setelah berganti pakaian.


Bondan dan Bu Vera menunggu di depan ruang ICU. Sementara yang lainnya menunggu di lobi dan mobil.


Suara mesin yang terpasang di tubuh Rania, terdengar lebih cepat dari ruang ICU. Bu Vera berdiri dan mendekat, matanya mulai menangis menatap hal dia takutkan.


Bondan menatap Dokter dan suster yang berlari masuk ke ruang ICU. Dadanya mulai terasa sesak, mata dan hidungnya terasa panas. Nafasnya mulai terengah menahan sedu sedan tangis yang terus dia tahan.


Terlihat Dokter memeriksa mata Rania yang tak merespon saat diberi penerangan dari senter miliknya. Bu Vera terduduk lemas, Bondan mencoba menahannya, tapi dia juga merasa lemas.


Dokter keluar, matanya menatap Bondan dan Bu Vera bergantian dengan wajahnya yang sedih. Dia menggelengkan kepalanya saja, dia sendiri tak sanggup mengatakan bahwa Rania sudah tiada.


Vero yang baru datang langsung meraih kerah jas putihnya dan menatap dengan matanya yang merah.


"Katakan padaku kalau dia baik-baik saja. Adik ku, baik-baik saja" ucap Vero sambil meneteskan air mata.


Dokter Marcel hanya menundukkan wajahnya. Vero lemas, tangannya perlahan melepas genggaman pada kerah baju Dokter Marcel.


Sementara itu, Bondan berjalan perlahan menuju ruang ICU. Tangannya mengusap wajah Rania dan menciumnya.


"I love you, aku sangat mencintai mu" ucapnya sambil mencium tangannya yang dingin, untuk yang terakhir kalinya.


Bu Vera datang menyusul kemudian memeluk tubuh Rania yang sudah kaku. Tangisnya pecah, banyak penyesalan yang dia rasakan.

__ADS_1


Tak berapa lama, yang lainnya datang dari lantai bawah. Tak ada yang tak menangis, terutama melihat Vero terduduk menangis histeris memanggil nama Rania beberapa kali.


Dila memeluk kakaknya dari belakang. Nuri bersembunyi di belakang Fajri dan menangis di punggungnya. Sementara Adit masuk dengan menegarkan diri menatap kakaknya. Dia ingin memastikan bahwa mereka salah.


"Kak, mereka menangis mengira kau sudah tiada" Adit menatap ke arah luar.


Dia mengalihkan pandangannya pada Rania karena tak ada jawaban.


"Kak, aku sudah bilang kalau kau sangat jelek jika terus tidur. Bangun kak, kau belum pernah naik pesawat yang aku kendarai kan. Bangun! Sekarang juga kita berangkat"


Tangan Rania ditariknya, namun Adit menjadi diam saat merasakan tangan kakaknya begitu dingin.


"Bagaimana bisa kau ikut terbang jika tangan mu sedingin ini kak, bagaimana?"


Aditya terduduk lemas di sisi ranjang. Kesedihan mereka menjadi tontonan sedih bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka pun ikut menangis.


###


Di ruang bayi.


"Pak, maaf. Tolong jangan mengambil foto atau video ya!" ucapnya.


Wajah Yudi terlihat kecewa. Tapi tatapannya beralih pada Dila yang berjalan perlahan mendekatinya.


"Dila! Sini, cepat! Kau bisa melihat mereka dari sini. Lihatlah! Mereka masih sangat kecil. Tapi kata dokter, mereka akan bertahan di inkubator. Aku akan merawatnya selagi Rania belum sadar. Dia pasti senang saat bisa melihat mereka"


Yudi terus bicara tanpa menatap wajah Dila yang sendu dan terus mengusap air matanya.


"Rania sudah pergi" lirih suara Dila.


Yudi terdiam, matanya masih menatap kedua putranya.


"Dia nggak bisa lihat anak-anaknya. Dia sudah pergi"

__ADS_1


Tangis Dila kembali pecah meskipun sedikit ditahan dengan kedua tangannya agar tak mengganggu ke ruang bayi.


"Jadi kau benar? Semua yang kau dan dokter takutkan benar terjadi. Dia pergi setelah melahirkan" ucap Yudi tanpa menatap Dila.


Dila hanya bisa menangis. Tak ada kata terucap, mereka berdua diam menatap anak-anak Rania dengan mata yang menangis tanpa suara.


###


Yudi mendekat ke ranjang Rania. Tubuhnya sudah ditutupi kain putih. Yudi membukanya perlahan. Dia melihat wajah Rania yang pucat dengan mata yang tertutup sempurna.


Tangan Yudi perlahan menyentuh tangan Rania. Wanita yang pernah menjadi bagian manis dalam hidupnya.


Bayangan saat Rania menyatakan cinta padanya di depan semua orang. Saat Rania melempar wajan karena terkejut oleh teriakannya.


Dia ingat saat Rania begitu butuh pelukannya saat ibunya melempar gelas ke arahnya dan melukai keningnya. Wajah Rania yang sangat dekat dengannya masih sama. Masih Rania yang sama yang dia kompres keningnya.


Yudi menangis juga saat mengingat dia tak bisa menahan Rania yang mengatakan bahwa dia akan pergi jauh. Yudi menggigit bibirnya menyesali diamnya saat itu.


Kemudian dia tersenyum saat ingat Rania yang mengajaknya bicara sebelum acara wisuda Dila diadakan. Bicara tentang keluarga yang pada akhirnya jadi pilihan terakhir hidup seseorang.


Namun di kembali menangis saat bayangan Rania yang sudah tidur bersamanya. Yudi menunduk mengusap wajahnya.


"Maafkan aku, maafkan aku Rania"


Hanya kata-kata itu yang terucap. Vero yang awalnya hendak mengusirnya dari sana menjadi terdiam mendengar Yudi hanya mengatakan kata "maaf" sambil menangis tersedu.


###


Sementara itu, Arumi sedang mengelus perutnya sambil menangis namun menahan diri agar tak terlalu larut dalam kesedihannya.


Teringat saat dia sangat cemburu pada Rania yang mendapat perhatian penuh dari Vero. Sementara dia diabaikan karena Rania dihamili Yudi.


Arumi menyesali kekesalannya, hal itu seharusnya tak pernah tersirat dalam pikirannya.

__ADS_1


"Jika aku tahu itu adalah masa terakhir hidup mu, aku takkan kesal dan mengikhlaskan Vero untuk selalu bersama mu. Seandainya saja aku tahu Rania, seandainya.."


Arumi mengusap air matanya yang terus mengalir. Bu Min datang untuk menenangkannya. Dia mengusap punggung Arumi yang kemudian menyandarkan dirinya ke bahu Bu Min kemudian menangis tersedu.


__ADS_2