
Rania menginap di rumah sakit, Nuri masih terus bicara dan mengingat semua perkataan Anita padanya. Rania tak bisa meninggalkannya meskipun Fajri selalu ada di luar untuk menunggunya.
Bondan menatap jendela, menunggu taksi yang biasanya membawa Rania. Namun penantiannya sia-sia, Rania tak datang hingga pukul 12 malam. Sesekali dia menatap ponsel dan hendak menekan tombol panggil, namun dia mengurungkan niatnya dan selalu menghela.
~Aku tidak lebih penting dari sahabatnya~ ucap hati Bondan.
Sementara itu, tangan kiri Rania memegang tangan Nuri menjaganya tetap istirahat, kemudian tangan kanannya melihat kontak Bondan di ponselnya, hendak memberi kabar, namun dia merasa Bondan masih marah padanya.
~Dia mungkin masih marah, sama sekali tak bertanya kenapa aku belum pulang jam segini~ ucap hati Rania.
Keesokan harinya, Bondan pergi meeting bersama Beni dan Anita. Mereka datang pagi sekali, setelah sore kemarin Bondan tak sempat datang untuk memeriksa berkas yang akan dibahas di meeting kali ini.
Siena memberikan berkas yang diberikan Vero untuk dikopi. Bondan, Beni dan Anita membacanya. Beni mengangkat kedua alisnya, terkejut dengan semua yang dipaparkan dalam berkas itu.
Anita membulatkan matanya dan melempar berkas kemudian mengamuk.
"Kurang ajar!" seru Anita.
Bondan tetap diam, dia masih membaca hingga selesai.
~Berkas ini sama seperti berkas yang Siena berikan, darimana dia mendapatkannya?~ tanya hati Bondan.
Mata Bondan membelalak setelah dia membaca habis halaman terakhir, wajahnya menjadi terlihat sangat kecewa. Dia terlihat tak menyangka dengan semua yang terjadi.
Vero dan Wandy datang, Siena meminta Bondan dan Beni juga Anita untuk datang ke ruang meeting. Anita pergi, dia pulang dalam keadaan marah tak terkendali. Meja Bondan bersih dia sapu dengan tangannya. Beni hanya diam melihatnya, dia juga memperhatikan wajah Bondan yang membuatnya merasa hubungan antara Bondan dan Rania akan berakhir.
Beni berdiri, bukan menyusul ibunya pulang, dia merapikan jasnya dan mengajak kakaknya Bondan untuk cepat-cepat ke ruang meeting. Bondan berdiri dengan lemah, berjalan perlahan dengan memegangi berkas itu.
Sampai di ruang meeting, semua pemegang saham sudah menunggunya, Bondan menatap satu persatu dari mereka. Kemudian notulen membacakan rangkaian acara rapat pemegang saham itu.
Wandy memulai, dia mengatakan semua yang sudah terjadi dan semua kecurangannya.
"Aku, Wandy Coltin sebagai pengacara perusahaan Atmajaya Group, ingin menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya pada kalian para pemegang saham"
__ADS_1
Semua mata tertuju padanya, beberapa pemegang saham yang kurang menyukainya pun langsung berhenti acuh dan mulai mendengarkannya saat mendengar kata maaf.
"Aku sempat curang dan membiarkan kecurangan ini berlarut-larut hingga akhir bulan kemarin" lanjut Wandy.
Bondan masih bicara pada dirinya sendiri, dia menata semua kejadian dan laporan berkas-berkas yang diberikan padanya. Dari mulai perubahan besar dari pengeluaran, pendapatan hingga laporan kisaran besaran sahamnya.
"Saya dipaksa untuk mengubah kepemilikan perusahaan ini, yang awalnya dan seharusnya adalah Subagja Coorporation menjadi Atmajaya Group, di bawah tekanan Anita Atmajaya. Beliau dan saya melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan. Dan saya bersedia ditindak sesuai hukum yang ada" jelas Wandy.
Beni mengangkat kedua alisnya, wajahnya begitu tenang tanpa ketegangan, seperti peserta rapat yang lainnya.
Bondan menunduk, memejamkan matanya sejenak. Semua yang dikatakan Wandy membuatnya merasa runtuh. Mendengar bahwa ibunya melakukan sebuah hal yang kotor menurutnya.
"Jadi, kalian pasti sudah paham. Perusahaan ini adalah milik keluarga Subagja. Dan aku sebagai putra sulung keluarga Subagja, meminta ditegakkannya keadilan untuk Subagja Coorporation" ucap Vero.
"Kau mau Atmajaya Group berubah menjadi Subagja Coorporation?" tanya Beni.
"Ya, aku meminta kalian mengembalikan semua hak milik keluarga Subagja yang kalian ambil selama bertahun-tahun ini" ucap Vero menatap Beni.
Mata Vero melirik pada Bondan yang masih menunduk memegang berkas di mejanya.
Vero tersenyum menyeringai, dia membuka berkas bagian halaman ke empat. Dengan menunjukkannya, Vero menyuruh operator memperbesar melalui proyektor.
"Halaman ke empat dari berkas ini, lihat!" Vero mulai berdiri menjelaskan.
Beni membukanya, Bondan masih menghela nafas mengatur emosinya.
"Laporan hutang perusahaan ini dimanipulasi selama beberapa tahun, dimana sebenarnya hutangnya semakin membesar setelah kalian pindah ke Melbourne. Kalian telah dibodohi, hutang ini takkan lunas bahkan jika kalian menjual semua Mall dan aset kalian" jelas Vero.
Beni tersenyum dan menyandarkan tubuhnya kebelakang. Dia menghela keras, wajahnya sedikit menertawakan situasi ini.
"Jadi...ibu sudah berbuat curang selama ini?" ucap Beni.
Bondan berdiri dan menarik kerah kemeja Beni hingga dia berdiri.
__ADS_1
"Diam! Berhenti bicara, ibu ku tidak seperti itu! Jika pun dia melakukan hal itu, itu hanya untuk menyelamatkan perusahaan ini" ucap Bondan kesal.
Matanya menatap Vero dan Wandy bergantian.
"Aku akan memberikan semuanya pada kalian. Sekarang apalagi yang kalian inginkan?" tanya Bondan sambil melepaskan Beni.
Beni merapikan kemejanya dan duduk kembali.
"Kami hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya. Kami juga ingin mengalihkan jabatan mu pada anggota keluarga kami" ucap Vero.
"Ok, aku siap. Aku akan melakukannya, menyerahkan semua aset kami dan jabatan ku. Persiapkan dirimu, aku akan menyerahkannya dalam waktu satu bulan" ucap Bondan.
"Bukan aku" ucap Vero.
Bondan berhenti dari geraknya yang sudah berbalik hendak meninggalkan rapat.
"Tapi Rania, Rania Ramadhania Subagja, dia yang akan menggantikan mu untuk menjadi direktur utama perusahaan ini kedepannya" ucap Vero.
Bondan menelan ludahnya, dia tak berbalik. Hatinya hancur mendengar Rania yang akan menggantikannya. Dia berjalan keluar menuju ruangannya.
Vero melihatnya, dia paham dengan kekecewaan yang terlihat dari ekspresi Bondan. Namun melihat Beni yang masih duduk menyaksikan rapat, membuatnya merasa bahwa Beni sangat berbanding terbalik dengan Bondan.
Bondan memukul mejanya dan menatap ke arah fotonya bersama Rania yang tergeletak di lantai karena dilempar Anita. Dia benar-benar kecewa dengan semua yang terjadi padanya ini. Kekecewaan besar terhadap orang sangat dicintainya.
Sementara itu, Rania pulang dan mendapati Anita sedang menelpon Ryan di kantornya. Dengan keras, dia membuka pintu dan melabrak Anita.
"Apalagi? Apalagi yang akan kamu lakukan pada Nuri? Apa tidak cukup kamu merusak wajah dan mentalnya? Lakukan semua padaku, kalau memang tujuan mu adalah aku, lakukan semua padaku" ucap Rania dengan kesal.
Anita menyeringai menertawakan sikap setia kawan Rania.
"Jika aku melakukannya padamu, tidak akan seru dan tidak akan membuatmu sangat sakit seperti ini" ucap Anita mendekat padanya.
"Kenapa kamu begitu benci sama aku dan keluargaku? Apa alasannya?" tanya Rania dengan amarahnya.
__ADS_1
Anita menatap wajahnya yang dekat, tersenyum dan terlihat senang dengan amarah Rania.